Penerimaan Pasangan : Kunci Waras Berumah Tangga

Suami wa sabar dan baek banget. Melihat cinta seseorang itu dari yang sederhana ae. 

Ceritanya saya sering banget males masak nasi sejak hamil ini.  Apalagi cuci piringnya. Jadi sempet ada fase saya sarapan mie bahkan mie cup saking malesnya.  Delivery mahal, kalau saya harus jalan keluar lebih mager lagi. 

Suami saya ga pernah marah walaupun kemageran saya ini sudah parah banget. Ia menyarankan saya membeli nugget, kentang, atau frozen food lainnya. Ya paling nda bukan makan mie lagi lah ya. Bahkan kalau beliau sedang pulang ke Indramayu, seringnya malah saya yang disiapkan makan oleh suami. 🙈

Kadang saya sarapan sereal plus susu hamil. Alhamdulillah sekarang sejak di rsud mencari makanan jauh lebih mudah. Kalau pagi atau siang bisa makan ala rumahan di kantin.  Walau mahal tapi ya kalau masak sendiri kan ribet ya cin.  :p

Suami juga sabar banget dan nerimo kalau saya males beres-beres kamar.  Biasanya nanti saya beres-beres kalau sudah super hancur dan saya sendiri merasa ini sudah harus dibereskan.  Wkwkwk. Alhamdulillah beliau ga rewel.

Kesabaran suami ini membuat saya tetap waras dan tetap happy menjalani hari-hari di IGD RSUD. Saya juga tetap senang mengandung dan mendidik buah hati. Sekarang saya sudah mulai membaca buku lagi sedikit-sedikit.  Beliau tidak pernah memaksa saya harus ini atau harus itu.  Yang penting harus makan bergizi, kurangi mie,  tidur cukup, kalau pulang malem harus naik becak.  Suami saya sesimple itu.

Saya ga pernah diminta melakukan apapun untuk mendidik buah hati dalam kandungan saya. Paling kalau saya sudah tidak pernah tilawah, suami selalu mengingatkan. Suami memberikan kepercayaan dan kebebasan pada saya, alhamdulillah. Cara suami membuat saya semakin cinta dan semakin berusaha lagi untuk memperbaiki diri sedikit demi sedikit.

Terima kasih Kakanda.  Unch :* 

Komunikasi Nyeni dalam Rumah Tangga 

“Komunikasi pasangan suami istri itu seni. Dan kita perlu menyampaikannya dengan nyeni.”

Perempuan itu sering kali tidak fokus ketika bicara, padahal suami begitu telaten mendengarkan. Suatu hari saat saya ingin berkeluh kesah, ternyata saya menyampaikan begitu banyak masalah.  Termasuk kekhawatiran saya di masa depan yang belum terjadi. Suami yang sedang merenungkan solusi dari sebuah masalah yang saya ceritakan, saya malah menambahkan kekhawatiran saya yang lainnya.  Dan itu membuat suami tiba-tiba terdiam, “Dipikirinnya satu-satu dong!” Kata Beliau. Astagfirullah, saya cepat-cepat mengingat kesalahan saya.

Ternyata apa yang disebutkan dalam buku  Men are from Mars, Women are from Venus itu benar. Ya Allah rasanya mau nangis. Kelalaian saya, saking asyiknya bercerita karena suami saya begitu sabar mendengarkan ternyata kebablasan.  Btw buku saya di pinjam siapa ya? Mau baca tapi tidak ada. Huaaa.  Perlu beli lagi ini sih.  Di dalam bukunya disebutkan bahwa, ” perempuan senang sekali berbicara mengenai masalah. Padahal seorang laki-laki selalu memikirkan satu masalah sampai selesai, sebelum berpindah pada masalah berikutnya. ”

Bukan hanya soal memahami karakter pria dan wanita, memahami tentang karakter individu juga penting. Suami dan saya sama-sama tidak suka didikte, maka budaya saling menasehatinya pun berbeda.  Suami memang tipe observer, analis, jadi Ia tidak pernah menyuruh saya sesuatu yang menekan saya. Ia hanya menyuruh saya untuk tilawah kalau saya sedang lalai, menyuruh saya naik becak kalau saya sedang lelah untuk jalan kaki.  Ia juga hanya menyuruh saya agar minum susu setiap hari, minum madu sebelum berangkat ke RS, dan menyuruh saya mengurangi mengkonsumsi mie instan.

Sisanya, Ia tahu bahwa menasehati saya tidak membuat saya berubah. Karena saya tipe orang yang berubah hanya jika hatinya sudah tergerak.  Maka Ia tidak bicara melalui kata-kata, tapi melalui hatinya.  Ia tidak mendikte, melainkan memberikan keteladanan sebagai imam di dalam keluarga. 😭😭😭😭😭😭

Ia memulai dengan berlatih shaum sunnah saat kami memulai rumah tangga, kemudian Ia menjaga shalat dhuhanya. Apalagi saat usia kehamilan saya bertambah, Ia menambah lagi porsi tilawah hariannya. Belum lagi karena saya memintanya mengirimkan rekaman suaranya mengaji, tilawahnya pun semakin bertambah. Padahal awalnya rekaman suara ayahnya mengaji itu agar menambah kekopongan tilawah saya. Huhu.  Ternyata kiriman rekamannya yang sudah 1 juz itu membuat saya merenung, dalam.

Teladannya menampar saya. Kehadiran janin di dalam kandungan juga membuat saya semakin tergerak, “Ayo kita harus mendoakan Ayah yang sedang bekerja, berjuang jauh!” Jabang bayikpun sering menendang ketika waktu shalat untuk mengingatkan, ataupun ketika mendengarkan tilawah. Tandanya Ia senang jika orang tuanya dekat dengan Allah S.W.T.

Maka kami bertiga, saya, suami, dan jabang bayik pun bekerja sama untuk saling bersinergi. Bapak mendayung di kanan, Ibuk dan jabang bayik mendayung di sebelah kiri.  Ya Allah, betapa nikmat rizkiMu.  😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭

Satu lagi yang akhir-akhir ini menampar saya.  Saat melakukan video call, suami bilang, “Yang kasurnya rapih.” Biasanya memang banyak barang yang ada di tempat tidur. Suami saya tidak melihat barang-barang yang tergeletak di bawah.  Saya langsung menelan ludah.

Wahh.. Ternyata suami saya senang ya, dengan suasana yang rapih.  Walau Ia tidak bilang secara langsung. Ia juga tidak pernah mengomentari kamar jika sering kali berantakan.  Tapi rasanya senang sekali ya, jika bisa membahagiakan suami, minimal dengan suasana kamar yang rapih dan nyaman. Ini mengingatkan saya jika selama ini masih memiliki mental anak kos, seenaknya sendiri.  InsyaAllah ini adalah reminder, sebelum saya benar-benar menjadi Ibu, mindset saya harus berubah. Sebelumnya bermental anak kos, sekarang harus menjadi istri, ibu, yang memiliki tugas sebagai manager rumah tangga.

Ya lagi-lagi suami saya begitu pinter dan nyeni ya ketika bicara.  Meski jarang bicara, ga bawel, sekalinya ngomong aduuuuuuuuuu maaaaak.  Hihi. Kok jadi malu sendiri ya. Terima kasih ya pak suami yang ganteng, untuk selalu sabar, untuk selalu membimbing istri dan jabang bayik. Betapa bersyukurnya kami memiliki pak suami sebagai iman di dalam keluarga.  

.

.

.

.

.

Dari istri yang selalu kesengsem sama dirimu & Jabang bayik yang ngefans sama tilawah bapaknya. 

.

.

Ps: We love youu… (eh ini si baby nitip tendangan cinta. ❤ Wkwk langsung nendang dia.)

 

    My Happy Preggo Diary 

    Alhamdulillah, mengandung itu rasanya nikmat banget. Setelah melewati fase berat di trimester pertama,  sekarang mulai menikmati fase indah.  Si kecil mulai semakin aktif bergerak, mulai dari gerakan mengetuk perut santai, sampai menendang heboh sahabekna ala pemain bola.

    Tendangannya itu juga bentuk komunikasi. Kalau lapar si kecil menendang dalam tempo reguler dan cukup keras. Kalau kesal tendangannya sekali hantam.  😂 Biasanya kalau ditinggal teleponan sama nenek atau ayahnya tanpa loude speaker atau saat saya senggang tapi tidak mengajaknya bicara. Yang paling gemas adalah saat mendengarkan suara rekaman mengaji ayahnya,  Ia bergerak girang heboh, ke kanan dan ke kiri.

    Semakin lama baby ibok semakin mirip ayah.  Mulai dari ngambek saat lapar dan juga protes saat mendengar lagu yang Ia tidak suka.  Kadang setelah rekaman ayahnya suka terputar lagu berikutnya, biasanya lagu Indie yang menurut baby, “Naon sih?” Wkwkwk.  Curiga si dia bakal girang banget kalau didengarkan lagu-lagu ayahnya. 😂

    Sekarang juga saya sudah enak makan dan enak minum susu hamil. Sayangnya, sekarang mulai tidak bisa makan banyak karena perut semakin terdesak. Jalan kaki juga mulai berat karena bobot saya sudah naik 6kg ++. 😂 Kata suami, langsing saya hanya bertahan selama dua bulan pernikahan.  Malah sekarang suami yang makin ramping dan terlihat semakin sehat. Hihi.

    Rasanya nikmat sekali, jalan ngageboy rada ngajegang sembari memegang perut yang semakin terasa teregang dan sesak. Apalagi dua hari ini rasanya otot, kulit, dan jaringan di perut sangat teregang dan ngilu. Tapi ngilunya mengingatkan saya bahwa di kecil berarti sedang tumbuh. Apalagi sekarang sudah memasuki usia 19 minggu.

    Sejak menginjak usia 4 bulan saya semakin aktif mengajaknya berbicara dan bercerita. Saya ajak Ia saat hendak shalat wajib atau shalat sunnah. Adanya baby ini membuat saya dan suami lebih bersyukur lagi kepada Allah. Si kecil juga memotivasi kami untuk lebih banyak beribadah. Bukan hanya itu, pekerjaan saya di rumah sakit pun terasa lebih mudah. 

    Si kecil jarang sekali mengeluh jika saya cuek atau terlalu sibuk.  Biasanya saat jam makan saya molor terlalu lama saja Ia mulai protes.  Sisanya, saya merasa bebas aktif bergerak dan beraktivitas. Saya juga merasa lebih semangat karena saya ingin menanamkan semangat bekerja dan belajar kepada baby yang ada di dalam kandungan. Rasanya berbeda, semangatnya juga berbeda. Saya jauh lebih ceria meski banyak kesibukan.

    Suami pun banyak memberikan support kepada saya dan baby. Ia rutin menghubungi saya baik via telpon ataupun video call. Perhatiannya membuat saya lebih semangat lagi. Pendidikan anak bagi kami bukan hanya tugas Ibu, tapi juga tugas bersama.  Baby harus sejak dini mengenal dan berinteraksi dengan ayahnya.  Maka kami mulai menyalakan loud speaker saat mengobrol via telepon ataupun video call. Saya pun setiap hari memperdengarkan suara ayahnya. Iki lo nak, bapak yang sayang banget sama kamu.  :*

    Anak-anak Palestina itu diberi pendidikan Alquran sejak dalam kandungan. Berbeda dengan Ibu Yahudi yang katanya belajar ilmu pengetahuan ataupun matematika saat hamil agar anaknya pintar. Ngitung duit mah nanti juga bisa ya, nak? Wkwk. Jadi yang penting mendidik agar jadi anak sholeh saja dulu. Nanti mau apa saja yang penting bisa bermanfaat. Kalau nanti kamu jadi dokter bedah risiko tidak ditanggung ya. Wkwk. Soalnya baby banyak terpapar kasus bedah selama menemani saya di IGD. Hihi.  

    Harus semangat nih hap hap happ!! Tilawah saya masih kendor. Baca buku juga masih kendor. Pokoknya temenin Ibuk ya sayang. Kita sama-sama belajar supaya lebih deket lagi sama Allah. We love you anak Ibukk dan ayah!!  😘 

    Kami & Baby A 

    Baby A masih tidur.  Biasanya Ia suka sekali menguping Ayah dan Ibunya bicara. Saat saya sedang bersama Ayahnya, geraknya menjadi sangat aktif.

    Gerak Baby A selalu saya nantikan, begitu pun suami.  Kami sering mengajaknya berbicara ataupun memintanya menendang. Mungkin kekuatan kaki Baby A saat itu belum cukup untuk membuat getaran yang Ia buat terasa. Sering juga saya menggerakan perut seolah membuat gempa sembari berkata, “Gempa!! Gempa!!” Suami lalu memasang muka cemas, khawatir. Haha.

    Tapi ternyata Baby A memberikan kejutan saat tasyakuran 4 bulanan.  Ia menendang untuk pertama kali. Saya pun membisiki suami. Sejak hari itu Baby A sudah mulai aktif bergerak.  Kami pun mulai lebih banyak berbicara dengan Baby A.  

    “Assalamualaikum baby A.. Jagain Bunda ya, selama Ayah kerja jauh.” Kata suami, pada rekaman suaranya untuk Baby A. Saya percaya bahwa pendidikan anak sejak dini bukan hanya memerlukan peran Ibu, tapi juga Ayah. Bagaimana pun anak juga perlu merasakan disayangi Ayahnya. Meskipun Ayah Baby A sedang jauh, kami berusaha tetap mencukupi kebutuhan baby A akan ayahnya.  

    Baby A adalah keajaiban dan penyejuk dalam rumah tangga saya bersama suami. Allah ternyata menyiapkan rencana yang begitu baik.  Ternyata kehamilan saya dipercepat, sehingga saat suami harus kembali bekerja di tempat jauh, kini ada jagoan yang berusaha menjaga dan menemani Bundanya.

    Kehadiran Baby A di keluarga, menjadi pemicu agar saya dan suami semakin giat beribadah. Karena kelak Ia bukan mendengarkan perintah, tetapi melihat teladan dari sikap kami sehari-hari. Saat ini Baby A suka sekali menendang dengan keras bila didengarkan murattal.  Ayahnya begitu senang mendengar cerita saya, “Baby A sholeh.” Kata suami saya terharu. 

    Insya Allah jadi anak sholeh ya nak.  Kita sekeluarga akan selalu berusaha jadi keluarga yang sholeh.  Semoga kehadirannya yang masih di dalam kandungan ini dapat terus membuat orang tuanya bersyukur dan lebih mendekatkan diri pada Allah Yang Maha Kuasa. Amin.. 

    .

    .

    .
    IGD RSUD Indramayu, 5 Juli 2017 

    In 18 weeks of pregnancy 

    Drama Ditinggal Ke Proyek

    Bombay kali ini cukup panjang. Mengingat baru pertama kali ditinggal jauh oleh suami setelah menikah. Dulu waktu suami masih di Manado, tetapi status kami belum menikah, rasa sedihnya masih dalam batas wajar. Tapi kali ini ditinggal beliau itu benar-benar berat rasanya. 

    Saat malam rumah sudah mulai tenang. Tanpa terasa air mata mengalir setelah mendengar kabar suami sudah landing. Apalagi ketika sampai di kosan. Melihat setiap sudut yang berisi kenangan bersama beliau membuat saya menangis. Melihat selimut yang Ia rapihkan saya menangis. Saat sudah reda, melihat piring yang Ia selalu cucikan untuk membantu saya, saya pun menangis. Saat melihat sajadah, yang kami gunakan berjamaah pun mengingatkan saya tentang suami. Kamar mandi dan pewanginya yang baru saja Ia ganti. Bon laundry yang telah Ia bayar, “Yang bonnya Aa taro di sini ya.” Katanya sambil menunjukkan letaknya.  Pakaian bekas pakai pun beberapa sengaja saya sisakan agar saya bisa mencucinya sendiri dengan tangan.

    Sambil tiduran dan terisak, saya ajak bicara baby di dalam kandungan, “Bundanya kangen sama Ayah.” Baby pun meresponnya dengan tendangan yang sangat keras. Jedukkkk!!  Baby A pun pasti sudah mulai rindu dengan Ayahnya.

    Banyak sekali kebaikan yang telah dilakukan oleh suami. Belum lagi pengorbanan yang diberikan. Sampai sesaat sebelum pulang pun suami selalu berusaha membuat saya bahagai. Alhamdulillah.  Terima kasih banyak ya Allah, atas karunia yang Engkau berikan.  

    Ya Allah, semoga perpisahan ini hanya sementara. Semoga kami sekeluarga bisa saling menjaga dan mendoakan. Semoga kelak kami bisa bersama dan tinggal satu rumah. Semoga waktunya segera tiba ya Allah.  Amin..  

    Syukurlah hari ini saya sudah mulai jaga malam. Terlalu banyak kenangan di kamar kosan yang membuat saya selalu teringat suami.  Apalagi tempat tidur, tempat saya selalu terbius tidur di ketek suami. Yuk semangat baby!  Bantuin bundanya doain Ayah ya!  

    Hari – Hari Spesial Bersama Suamik 

    Baper banget rasanya waktu suamik kembali ke Sulawesi. Sejak H-1 lebaran suamik menemani saya di Indramayu karena harus jaga hampir setiap hari ketika libur lebaran. Sekarang suamik harus berjuang lagi di perantauan.  :”

    Mamih, atau Ibu mertua, hampir selalu bercerita mengenai kehidupannya bersama Alm. Pak Bambang. Meski belum pernah bertemu rasanya saya mengerti dari mana datangnya sifat baik super romantis yang ada pada suamik saya.

    Saat suamik menemani lebaran tanpa libur saya, Ia betul-betul full mendampingi saya.  Ia menemani saya tidur saat post jaga.  Ia memasak nasi dan menyiapkan lauk untuk sarapan atau makan siang. Terkadang suamik juga menyiapkan bekal untuk saya jaga malam.

    Betapa senangnya karena suamik bisa menemani saya berangkat dan pergi bekerja.  Saya selalu tidak sabar untuk segera pulang karena suamik akan segera menyambut saya. Kadang suami menjemput ke RS atau menunggu di kosan.

    Alhamdulillah Allah memberikan rizki untuk bersama suamik pada 10 hari terakhir ini. Entahlah bagaimana bisa ada orang sebaik dan setulus suami. H-1 lebaran Ia datang, membawa berbagai makanan titipan. Mulai dari ketupat, opor, sampai berbagai macam kue. Setelah sahur suami langsung tancap gas ke Indramayu. 

    Rizki dari Allah juga saya mendapat tugas jaga malam saat hari lebaran.  Jadinya saya punya kesempatan shalat Ied bersama dengan suami kesayangan. Pada malam takbiran pun kami keluar untuk melihat pawai di jalan raya.  

    Setelah shalat Ied di Alun-Alun Indramayu. Foto diambil di depan Mesjid Agung Indramayu

    Suamik benar-benar membantu meringankan beban saya di kosan. Ia membantu saya mencuci piring atau memasak karena saya lebih banyak tidur untuk menyimpan energi. Barulah saat jadwal jaga saya mulai lebih normal pekerjaan rumah tangga seperti mencuci sudah bisa saya lakukan.  Tapi sejak saya hamil suami benar-benar sigap.  Bahkan selimut yang kadang saya tunda untuk dilipat juga seringnya lebih dulu dirapihkan oleh suami.

    Suami pun membantu saya membeli oleh-oleh ketika saya masih harus jaga. Saya merasakan betul bagaimana saya dan suami saling bekerja sama agar bisa menyelesaikan pekerjaan. Akhirnya tanggal 30 Juni saya baru bisa libur. Kesempatan itu saya gunakan untuk mudik ditemani suami tercinta.

    Kami silaturahmi ke Pamanukan, dilanjutkan silaturahmi ke Lembang. Keesokan harinya kami ada acara Tasyakur 4 bulanan si kecil. Saat pengajian itu pula saya akhirnya bisa merasakan tendangan jagoan di dalam kandungan.  Jedukkk!!! Tiga kali iya memberikan kejutan.

    Setelah tasyakur 4 bulanan baby A

    Tidak sampai disitu, saat saya menginap di hotel bersama suamik, si kecil sering kali menendang perut saya dengan kencang. Tapi bila dipanggil atau didekati oleh Ayahnya, justru Ia malah diam. Hahaha.  Dasar.
    Tibalah saat suamik harus pergi kembali ke Sulawesi.  Sedih sekali rasanya karena selama di Jakarta suami bisa lebih sering pulang. Rasanya berat. Saya pun tak kuasa mewek sedih sambil memeluk suami.  Mudah-mudahan suami dimudahkan dalam pekerjaan dan segala urusannya, dijaga selalu oleh Allah.  Semoga saya dan baby A bisa selalu sehat dan dilindungi oleh Allah.  Aamiinn… 

    Sebelum misua kembali ke hutan

    Suamik 911

    My all day booster. 

    Kemaren malem bikin gemes banget deh misua.  Gara-gara  pengen beli bahan buat okonomiyaki, si dia bilang, “Yang okonomiyaki kan bala-bala.” Langsung semangat masak menurun. Wkwk. Karena di Indramayu masih terbatas jenis makanannya.  Jadi waktu ngidam itu kadang harus berkreasi sendiri. Sejak hamil memang ngidamnya makanan Mbandung, which is susah didapetin di sini.  Makanya suka mellow dan menanti nanti, kapan pulang ke Bandung?

    Pinternya suami, setelah bikin bete pagi-pagi merayu, waktu ditanya kapan mau eksekusi resep makanan?  Katanya, “Gimana istri kesayangan Aa aja.” Tuh kan.  Emang paling tahu cara bikin istrinya ga bete lagi.  Wkwkwkwk.

    Suami juga pinter merayu istri yang tiba-tiba impulsif pengen beli nachos yang emang aga mihils di instagram. Kabita sih gara-gara nonton Ok Food. Hehe.  Suamik bilang, “Mau ga dipesenin lagi JnC cookiesnya?” 

    Cookies yang terkenal itu memang enak sih. Dan setengah harga nachos bisa dapet sekilo cookies endes yang makannya bisa berhari hari.

    Di malam hari suamik siaga dengan sabar meladeni istrinya yang mengeluh karena complaint ke bapak kosan soal kloset indak digubris.  Sebel ga sih kloset tau-tau ada cairan kuning dan pas disiram fesesnya keluar dari dalem? Saya minta coba mungkin udah penuh septic tanknya.  Bapaknya keukeuh dan maksa nyiram-nyiram air pake ember dan bilang, “itu mah lumut aja.” 

    Waktu saya bilang itu kotoran pak keluar.  “Ya itu kan karena tekanan aja dari dalam.” jawab beliau.  Ya menurut ngana aja penyebabnya apa sampai feses nongol lagi ke permukaan?

    Andai bapak merasakan abis sarapan nikmat pake telor nasi anget dan boncabe tau-tau niat BAK dapet jackpot pupita yang refluks. Keluar lah lagi seluruh sarapan ituu.  :((( 

    Ini ujian kesabaran yaa. :”” 

    Syukurlah ada suami yang selalu sabar menyimak.  Mulai menyimak hal penting sampai urusan yang paling penting yaitu makanan ena ena yang selalu kami bahas di DM instagram. Suamik juga tidak pernah bosan mengingatkan istrinya buat yoga. Hihi.  Suami kesayanganqu memang selalu romantis dengan caranya ya. Bikin makin cinca dehhh… Sunn…. Sun dong yang. (apa sih? Wkwk) 

     .

    .

    .
    *Tulisan sederhana, dari seorang istri yang selalu bahagia karena usaha, pemberian, dan perhatian suaminya.*

    .

     .

    .
    14 Juni 2017

    Di bulan suci Ramadhan 

    Haluuu, Anak Ibu! 

    Haluu anak Ibuu!!! Selama baby bala-bala dalam kandungan ini masih suka galau manggilnya Ibu/Bunda/Ibun. 

    Sekarang saya mulai sering menyapa Bayik, seperti “Haluu anak Bunda. Kita makan dulu yaa. Kamu lagi bobo enggak?”

    Ayahnya mungkin masih malu-malu untuk berbicara dengan baby yang tidak nampak wujudnya itu. Tapi setiap ada kesempatan pulang Ayahnya selalu kiss-kiss perut yang sudah mulai membesar. Berbicara dengan baby ini adalah upaya untuk mendidiknya sejak dini.

    Kalau orang Yahudi giat belajar ketika mengandung, orang Palestina rajin membaca Alquran dan menghafalkannya. Berarti, baby itu merespon apa yang dilakukan Ibunya.  Awalnya saya ingin mengajarkan banyak hal, entah itu bahasa atau ilmu pengetahuan sejak dalam kandungan.  Tapi setelah direnungkan, cukuplah saya menanamkan kecintaan Bayik yang tengah di kandung pada Allah dan Alquran. 

    Alhamdulillah setelah menikah saya diberi suami yang begitu perhatian dan bertanggungjawab. Allah juga memudahkan suamik dalam mencari nafkah.  Saya pikir, ujian rumah tangga ada pada diri saya sendiri. Mau dibawa kemana pendidikan anak-anak kelak? Jujur ingin punya anak sholeh itu ujiannya sangat berat.

    Akhirnya saya menentukan bahwa hal pertama yang harus saya tanamkan pada anak-anak adalah kecintaannya terhadap agama. Walaupun langkahnya berat dan tersendat, tapi inilah pilihan saya. Pelan-pelan, usaha mendidik anak shaleh ini juga membuat saya lebih berusaha meningkatkan amal ibadah dan juga ilmu.  Maka sesulit apapun harus dilewati setiap anak tangganya.

    Minggu depan insyaAllah baby ulala akan mulai diberi pendengaran oleh Allah.  Aaaak :”” harus mulai bersiap. Semoga nanti bisa banyak bercerita dan membuat Bayik Bunda mendengar yang baik yaa.  :”” 

    Ramadhan Pertama Bersama Suami 

    Tulisan kali ini tidak beraturan dan tanpa gagasan, tapi berisi kebahagiaan yang didapat oleh seorang istri biasa dari suaminya yang luar biasa.  
    .

    .

    Ramadhan kali ini spesial pake telor, ada suami, ada juga baby yang lagi glendotan di dalem perut. Awal ramadhan alhamdulillah bisa dijalankan bersama suami. Tiga hari di bulan ramadhan yang ga akan pernah terlupakan. 

    Ibuk Hoek, Suamik Siaga

    Ternyata menjelang trimester dua ini mual muntah masih ada.  Kalau-kalau telat makan snack atau makan berat, pasti langsung pusing kleyengan dan mual muntah.  Alhamdulillah suamik super baik hati mau terjun membantu istrinya yang cupu ini. Hehe. Saya memutuskan untuk tidak berpuasa, menimbang kondisi yang gampang banget pusing dan mual kalau telat makan.  Well,  nda shaum bukan berarti ga menikmati beribadah di bulan ramadhan juga kan..

    Well, ini beberapa kenang-kenangan supaya saya bisa ingat betapa baiknya suami saya. Ini bisa jadi cerita juga kelak buat anak-anak, betapa ayahnya baik banget dan begitu sayang sama anaknya bahkan jauh sebelum dia lahir.  

    H-1 Ramadhan

    Tadinya saya ingin membuatkan suami es campolay berikut makanan beratnya. Apadaya ternyata kami ketiduran dan bangun di sore hari. Suami saya orangnya ga bisa nahan laper, jadi kasian kan kalau ga ada makanan. Hari itu saya masak nasi, memanaskan lauk yang sudah saya masak sehari sebelumnya.

    Suami justru yang membuatkan saya es timun suri pakai susu dan sirup campolay.  Jadi malu.  🙈 Alhamdulillah punya suami sholeh banget.  Waktu itu saya kebagian menggoreng ayam dan tempe tepung, sedangkan suami inisiatif tinggi memotong sayuran. Bangga banget dong, akhirnya yang masak sayur sop malah suami. Mau latihan masak katanya. Bikin sayur sop for the first time, tapi langsung jago. Hihi. 

    Akhirnya makanan jadi mepet dengan shalat isya.  Suamik pun berangkat tarawih terburu-buru. Hihi. Saya tarawih di rumah.  Pulang suami tarawih, saya lanjut masak nasi dan memanaskan daging yang telah saya masak sebelumnya dan dimasukkan freezer. Fyuuh tiba-tiba sudah jam 10 malam. Rasanya malam itu chaos. Maklum amatir. 

    H 1 Ramadhan

    Sahur aman damai karena malamnya nasi dan lauk sudah siap. Jadi hanya perlu manasin lauk aja.

    Siangnya saya ada deadline membuat NHW kuliah online IIP.  Jadinya, karena otak saya rempong ga bisa memikirkan hal lain, suami turun tangan mengambil buku catatan saya dan pulpen.  Sembari mengerjakan tugas suami mencatat menu makanan yang akan kita siapkan. (FYI ini menu masak jadi berubah e.c suami datang lebih awal dan tinggal lebih lama.  Jadi perlu belanja dan atur menu lagi). 

    Suami mencatat menu buka dan sahur plus bahan yang diperlukan.  (Unchhh pinter banget suami gemeskuu).  Tidak lupa suami membantu mencatat keperluan kosan yang saya sebutkan sembari nugas. Superbbb sekali kesayangku :* . 

    Dulu saya selalu mengerjakan semua hal sendiri, memikirkan semua sendiri.  Lalu sekarang saya punya seorang partner yang bisa menyalurkan dan menterjemahkan pikiran rempong saya. Sungguh sesuatu. Belum lagi suami sama-sama intuitif. Diajarkan sekali cara memotong bahan dan bumbu apa saja yang diperlukan Ia langsung bisa. Kerjasama dengan suami benar-benar membuat pekerjaan lebih cepat dan kami bisa makan tepat waktu.

    Saya kira jadi perempuan segala bisa itu hebat.  Tapi ternyata bekerja sama dengan suami sangat membahagiakan. Senang sih bisa menyiapkan semua keperluannya. Tapi saat terasa gempor, sungguh bantuan suami luar biasa membantu.  Saya juga senang bisa bekerja bersama sembari berinteraksi dengan suami.

    Sore hari, akhirnya saya dan suamik jalan-jalan ke Yogya. Niatnya mau belanja keperluan di kosan dan sayuran buat di masak. Ternyata, ya Allah.. Penuhnya sampai-sampai mulai hipoglikemi. Sebenarnya kami belanja tidak terlalu lama karena sudah ada list. Tapi tetap saja suasana yang ramai membuat saya mabuk. Jadinya, ketika sedang belanja keperluan suami di lantai atas, akhirnya saya sudah kleyengan. Syukurlah segera diselamatkan dengan nasi katsu plus sebotol teh pucuk. Ehehehe.

    Pulang ke kosan, kami kesorean untuk menyiapkan makanan berbuka. Jadinya rempong deeh.  Tapi syukurlah setelah rempong suami suka dengan makanan yang dibuat.  Terutama Ia suka martabak telur yang saya buat. Sebelum tarawih suami mengutamakan untuk membelikan saya obat.  Karena hari itu benar-benar mual dan obat saya sudah habis. Unchh suami siaga. ❤

    Malam hari saya hendak menyiapkan makanan untuk sahur.  Suami saat itu sedang flu. Karena saya memanaskan minyak di penggorengan yang ada airnya, tiba-tiba muncul percikan minyak dan suara keras, “Ctakkkk!!!”. Suami yang sedang mengerjakan tugas kantor langsung turun tangan, “Mau bikin apa sih yang?” Dengan muka bete karena lagi sakit tapi lelah.  “Matiin dulu kompornya.” 

    Saya masak di kamar dengan kompor portable. Mungkin karena apinya terlalu besar jadi minyaknya cepat sekali panas. Hehehe.. Akhirnya setelah dibantu suami saya bisa memanaskan makanan dengan benar. Wkwkwkwk. 

    H2 Ramadhan  

    Sahur pake daging semur + sop ya mayan lah ya.

    Buka masak sayur asem, ayam goreng, tempe mendoan,  plus sambel kecap.  Suami paling suka menu ini.  Katanya paduannya pas.  Lucu deh, saya kebagian masak tempe mendoan, suami yang menggoreng ayam.  Kyaaaaa. Bagi saya, sikap suami saya ini sangat romantis.  Ia ingin selalu meringankan beban saya. :””” Oppa Saranghae ❤❤❤

    H3 Ramadhan

    Karena suami paling suka gorengan, dan saya lupa beli tahu, jadinya untuk sahur saya membuat martabak mie.  Hehe.  Sebenarnya karena nasi sisa buka tidak terlalu banyak.  Supaya suami bisa tetap kenyang.  Xixi. Maaf ya yang. >< Katanya gapapa, walau martabak mie mah bisa bikin sendiri.  Tapi kalau martabak yang sudah jadi pas baru bangun tidur itu lebih enak.  😂
    Tidak terasa setelah subuh suami sudah harus kembali ke Jakarta. Hiks.

    Setiap suami harus pergi lagi pasti saya nangis cirambay berkala di kosan.  Setiap pertemuan dengan suami selalu saja ada hal kecil yang begitu berkesan terutama bagi saya yang sering ditinggal pergi.  Perhatiannya, bantuannya,  sikap inisiatifnya, semuanya merecharge energi dan membuat saya lebih bahagia dan semangat di hari berikutnya.

    Setelah suami pergi, barulah saya terpikir tentang menu takjil untuk berbuka puasa. Huhuu.  Sedih. Ini jadi pengingat mudah-mudahan kalau suami pulang nanti bisa lebih prepare lagi buat makan sama cemilannya.

    Terus kepikiran, betapa bersyukurnya saya punya suami yang berusaha membahagiakan saya dan memenuhi kebutuhan saya.  Ia berusaha menghadirkan dirinya utuh baik ketika jauh ataupun sedang bersama saya. Walau kegiatan yang kami kerjakan bersama di rumah itu sederhana tapi sangat ngena buat saya. Kebayang selama ini setiap pulang suami selalu siap pakai masker kemudian tempur di wc yang mudah sekali bau.  :””  

    Cinta itu kata kerja. Ia hadir dari usaha, hadirnya fisik dan hati. Cinta juga dihadirkan suami saya melalui tindakan-tindakan sederhananya yang membuat saya takjub. Akhirnya saya sering tiba-tiba cirambay sendiri. Sesayang itu saya dengan suami. Kali ini cirambaynya saking senengnya.  Hehee. Dasar lebay.

    Mungkin kata-kata aja ga bisa membalas kebaikan suami.  Semoga saya bisa membahagiakan suami, mendidik buah hati kami,  dan menjadi istri yang membuat mata dan hatinya tentram. Amin.. 

    .

    .

    .

    Indramayu, hari ke 4 Ramadhan

    30 Mei 2017

    Kepada suami:

    Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

    Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu

    Kepada api yang menjadikannya abu


    Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

    Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan

    Kepada hujan yang menjadikannya tiada


    (Aku Ingin – Sapardi Djoko Damono)

    Indikator Profesionalisme Perempuan

    #NHW2 Matrikulasi IIP Batch 4

    Well.. Sungguh ya matrikulasi IIP ini semakin hari semakin membuat menarik nafas. Apalagi Nice Homework yang kedua ini ya. Diriku sampai lama sekali merenung dan tidak tahu harus mulai dari mana. Syukurlah ada anjuran dari awal untuk menanyakan bebrapa indicator kepada pasangan, jadi ga pusing sendiri deh. Walau suamik juga pas ditanya perlu waktu untuk menjawab.

    Apa sih, indikator perempuan professional sebagai :

    • Individu
    • Istri
    • Ibu

    Bismillah, semoga indikator yang dibuat bisa jadi awal yang mengingatkan tugas saya sebagai perempuan professional itu seperti apa. 
    Indikator Individu

    1. Meningkatkan amalan yaumi

    2. Menambah ilmu sbg istri

    3.Menambah ilmu sbg Ibu

    4.Meningkatkan profesionalisme sbg dokter

    5.Bisa memanage waktu dengan keluarga
    Indikator Istri
    1.Bisa menjaga penampilan

    2.Rukun dengan mertua

    3.Menjaga silaturahmi dengan keluarga suami

    4.Berkomunikasi dengan cara yang baik

    5. Cemburu pada saat yang tepat

    6. Selalu bisa memberikan perhatian kepada suami
    Indikator Ibu

    1. Mendidik anak menjadi sholeh sholehah

    2.Menjadi teladan akhlak yang baik

    3.Tidak mudah marah, tapi tegas

    4. Menjadi pendamping belajar anak

    5. Mendidik anak menjadi mandiri