DSOnya Baby Hui 

Baby Hui ini selama hamil senang sekali jajan.  Alhamdulillah Ayahnya diberi kemudahan rizki oleh Allah ya, Nak.  Banyak dokter yang berjasa sekali selama kehamilan Baby Hui ini. 

Sejak awal hamil saya kontrol kehamilan di Indramayu dengan dokter Mirza.  Beliau perempuan, nama aslinya Hanifah Mirzani.  Orangnya kalau ditanya sangat responsif dan jawabannya sangat menenangkan.  Saat sempat ngeflek di awal kehamilan, beliau menyuruh saya bedrest 1 minggu.

Sejak harus bedrest, saya pulang dulu ke Lembang. Waktu itu saya dijemput olsh Kakek dan Nenek ke Indramayu. Di Lembang, saya diperiksa oleh dr. Farid. Jajan besar Kakak Hui dimulai.  😆

Akhirnya ujian pertama bisa dilalui.  Saya kembali ke Indramayu dan kontrol dengan dokter Mirza. Masuk kehamilan 23 minggu, tiba-tiba saya kontraksi. Saat itu dokter Mirza sedang tidak praktek.  Jadinya saya periksa sementara ke dokter Wahyudi.  Surprisingly, dokter Wahyudi juga komunikatif,  responsif,  dan asyik. Indramayu punya DSO yang oke-oke ya.  😆

Hanya satu kali saja saya kontrol dengan dokter Wahyudi. Karena kontraksi yang terus berlanjut, saya memutuskan untuk cuti dan pulang ke Lembang. Saya kembali periksa dengan dokter Farid.  Dua tiga hari observasi di rumah, kontraksinya malah memburuk. Akhirnya saya dirawat di RSIA Buah Hati selama satu minggu.

Kontraksinya betul-betul bandel dan sulit hilang. Setelah pulang obat yang diminum pun sangat banyak, mulai dari obat penghilang kontraksi, obat penguat minum, dan obat yang dimasukkan ke dalam anus.  Maknyus sekali, bisa jajan 800rb untuk dua minggu. Padahal sudah dipotong biaya dokter dan usg. 😆

Alhamdulillah Baby Hui masih bisa dipertahankan.  Satu kali saya kontrol ke fetomaternal.  Seharusnya saya kontrol ketika kehamilan belasan minggu. Karena berbagai hal, baru bisa kontrol waktu kehamilan 30 minggu. Periksa dengan dokter Setyorini, kondisi baby alhamdulillah baik.  Jadi saya bisa kembali kontrol ke DSO umum.

Menjelang kehamilan 9 bulan, setelah berunding dengan dokter Farid, saya dan keluarga memutuskan untuk bersalin di RSHS. Karena di sana fasilitasnya lengkap, dokter syaraf saya juga ada di sana.  Jadi rasanya cukup tenang kalau bersalin di RSHS.  

Saya akhirnya berkonsultasi dengan dokter obgyn yang waktu saya koass mereka tengah mengambil residensi. Kira-kira, dokter siapa yang bisa oncall bersalin normal di RSHS? Karena sewaktu saya koass, jarang sekali konsulen yang membantu persalinan normal.  Yang direkomendasikan oleh dua orang DSO kenalan saya adalah dokter Anita dan dokter Ruswana.

Dua-duanya adalah dokter konsultan fertilitas.  Mungkin karena sering menangani anak mahal jadi lebih sabar saat harus on call ke RSHS ya. Hihi. Asumtif! Dan akhirnya, saat ingin kontrol ke RSHS, dokter Anita sedang tidak ada. Yasudah, karena dokter Ruswana sedang praktek pada hari itu, bismillah saja periksa dengan beliau. Daripada saya memilih dokter lain dan belum tentu juga dokternya bersedia menolong persalinan secara normal. Periksa ke dokter Anita di lain hari juga membuang waktu dan tenaga, kan? Barangkali takdirnya harus lahiran dengan dokter Ruswana ya.  😆

Nah, dokter Ruswana ini sudah senior ya ternyata. Dulu waktu koass sepertinya saya belum pernah morning report dengan beliau.  Beliau orangnya tenang dan murah senyum. Orangnya juga sangat santai. Kondisi saya dianggap tidak ada penghalang persalinan sama sekali.

Saat diperiksa, berat Baby Hui sudah cukup.  Usia kehamilan juga sebentar lagi masuk aterm atau cukup bulan.  Lalu kepalanya sudah mulai masuk pintu panggul.  Jadi dokternya dengan santai bilang bisa dicoba persalinan normal. Alhamdulillah. Nanti saya kembali kontrol setelah dua minggu.

Sebelumnya ada DSO yang menyarankan persalinan secara caesar. Melahirkan secara caesar lebih rendah tingkat stresnya, juga tidak mengalami nyeri hebat seperti lahiran normal.  Tetapi, nanti proses penyembuhannya akan lebih lama dibandingkan melahirkan normal. Kalau melahirkan normal itu istilahnya, setelah keluar bayi semua nyerinya hilang.

Jadi kita usahakan melahirkan normal dulu ya, Kak!  Walau saya sempat ragu, nanti saya bisa mengedan tidak ya?  Saya bisa mengatur nafas tidak ya? Sekarang jalan kaki sedikit saja sudah engap. Semoga saja nanti kita mendapat pertolongan Allah ya Kak! Kehamilan Kakak saja sudah keajaiban dari Allah. Semoga persalinan nanti juga dimudahkan.

Anak mahalnya Ayah Bunda, sehat-sehat ya!  Sebentar lagi kita ketemu!

.

.

.

.

#30DWC #Jilid9 #Squad9 #Day29 

Advertisements

Kaki Kecil yang Mulai Berlari

Kak, kelak setiap perkembangan Kakak akan selalu kami nantikan.  Saat Kakak bisa mengangkat kepala, kami akan bersorak bertepuk tangan.  Saat Kakak bisa tengkurap, berguling, duduk, semua akan membuat kami bahagia.

Bila Kakak sudah merangkak, pasti kami akan mulai khawatir bila Kakak terkena ujung meja atau terbentur lemari. Tapi melihat Kakak sudah bisa bergerak kesana kemari sudah sangat menyenangkan. Apalagi saat Kakak mulai belajar berjalan. Ayah dan Bunda akan excited sekaligus merasa gugup.

Langkah demi langkah akhirnya Kakak akan bisa berjalan. Mulanya Kakak berusaha sekuat tenaga mengejar kami, hingga nanti Ayah dan Bunda akan dibuat sibuk. Kakak akan berlari, kami akan berpura-pura mengejar Kakak. Lalu akan ada saat dimana Kakak berlari dan sudah tidak sanggup kami kejar.

Jika Kakak nanti seperti Bunda, sepertinya Kakak akan suka berlari. Dulu saat sekolah dasar, Bunda sering ikut lomba lari. Walau tidak sering juara.  Saat kuliah Bunda juga hobi sekali berlari, dengan niat ingin menguruskan badan.  Walau akhirnya gagal ya.  Tapi Bunda tetap suka berlari. Karena lari adalah olahraga paling hemat.

Kakak, Bunda dan Ayah begitu menanti Kakak. Apalagi Ayah, walau diam sebenarnya Ayah begitu perduli dengan Kakak.  Kelak, Ayahlah yang akan memapah Kakak ketika belajar berjalan. Ayah juga akan mengejar Kakak sekuat tenaga saat Kakak berlarian kesana dan kemari.  

Berlarilah, Kak!  Langkahkan kaki kecilmu kemana pun Kakak mau. Ayah dan Bunda akan selalu berada di belakang, mendukung Kakak sepenuh hati.

.

.

.

.

#30DWC #Jilid9 #Squad9 #Day28

Meninggal Saat Persalinan 

Kemarin, teman SMA saya meninggal dunia. Almarhumah sebelumnya sama-sama sedang hamil. Menurut cerita teman yang berkunjung ke rumah duka, Alm keluar flek pagi tadi, lalu dibawa ke rumah sakit. Alm sedang mengandung usia kehamilan 8 bulan. Kondisi tersebut termasuk ke dalam persalinan prematur.  

Menurut keterangan teman, Alm sempat dibawa ke Tiga RS sebelumnya, namun ditolak (mungkin karena keterbatasan ruangan atau fasilitas).  Hingga akhirnya keluarga membawa Alm ke RSHS. Di RS, dilakukan persalinan secara normal. Saat pembukaan 7, asma Alm kambuh. Sehingga bayi yang ada di dalam kandungan kekurangan oksigen, lalu meninggal dunia. Seingat saya, Alm sempat dirawat di RS ketika hamil beberapa bulan lalu karena asmanya kambuh. 

Bayi tersebut akhirnya dilahirkan dengan bantuan vakum.  Setelah bayi lahir Alm mengalami atonia uteri atau kontraksi rahim yang buruk,  sehingga Alm mengalami perdaraham hebat. Dokter memutuskan untuk melakukan pengangkatan rahim, namun sebelum operasi dilakukan, nyawa Alm tidak tertolong.

Akhirnya saya pun penasaran dan mencari referensi mengenai asma yang terjadi pada kehamilan. Karena saat sekolah kedokteran dulu, jarang sekali saya menemukan pasien asma yang kambuh saat melahirkan. Jadi, jika asma saat hamil tidak terkontrol, risiko yang terjadi salah satunya adalah persalinan prematur.

Saya sendiri bingung, kenapa tiba-tiba Alm melahirkan prematur? Ternyata kalau sesuai literatur, penyebabnya karena asmanya.  Lalu saat sedang persalinan, tiba-tiba asmanya kambuh.  Saya cari, jarang sekali pasien asma yang kambuh di tengah persalinan.  Jadi keadaanya cukup langka, sekitar 1% pada pasien asma yang sedang hamil saja.

Tapi bisa dibayangkan, stres persalinan yang dialami pasien memicu kekambuhan penyakitnya.  Kemudian, faktor asma akan menyebabkan kekurangan oksigen. Kondisi ini bisa menyebabkan gangguan kontraksi pada rahim.  Jika melihat wajah Alm yang pucat, mungkin ada penyerta berupa anemia juga. Jadi hipoksia jaringan atau kekurangan oksigen ini menyebabkan Alm mengalami atonia uteri. (Melihat kondisi perut Alm yang besar, saya dan mama curiga penyebab atonianya ditambah dengan polihidramnion. Tapi wallahualam, saya tidak tahu pasti penyebab kematiannya.)

Atonia uteri atau rahim tidak bisa berkontraksi dengan baik ini menyebabkan perdarahan setelah persalinan.  Perdarahannya biasanya terjadi begitu cepat dan hebat. Hitungan menit pasien kehilangan darah begitu banyak. Satu-satunya cara untuk menolong pasien adalah menghilangkan penyebab perdarahan, yaitu mengangkat rahimnya.  Namun biasanya kondisi pasien sudah sangat buruk, sehingga nyawa pasien sulit ditolong bahkan sebelum operasi dilakukan.  

Mungkin berbeda cerita jika atonia uteri terjadi saat persalinan caesar.  Ketika kontraksi terus menerus memburuk, dokter bisa langsung mengangkat rahimnya.  Toh pasien sudah di ruang operasi,  perut pasien juga sudah dibuka. Jadinya waktu perdarahan bisa diminimalkan.

Terbayang saat persalinan normal.  Jika terjadi atonia uteri maka pihak dokter harus menghubungi ruang operasi untuk persalinan cito.  Belum lagi persiapan darah untuk menggantikan darah yang hilang tidak bisa secepat itu.  Naik ke ruang operasi pun memerlukan waktu. Benar-benar atonia uteri itu seperti dokter yang harus menjinakkan bom dalam hitungan menit.

Pasien Mama pun pernah ada yang dirujuk ke RSHS karena IUFD. Kemudian setelah melahirkan pasien mengalami atonia uteri. Selama dua minggu pasien tidak sadar dan dirawat di ICU.  Transfusi yang didapat pun mencapai 44 labu.  Betul-betul Allah lah yang berkuasa terhadap hidup dan mati seseorang. :” 

Semoga Allah memudahkan jalan hamba-hambanya melalui tangan-tangan para tenaga medis, perawat, bidan, dan para dokter SpOG. Semoga Allah memberkahi pekerjaan tenaga kesehatan. Amin..  

Take home messages:

  1. Pahami kondisi kesehatan, jika memiliki kehamilan berisiko, disarankan untuk pemeriksaan kehamilan di RS. 
  2. Sebaiknya memiliki dokter tetap, sehingga dokter tersebut sudah mengetahui kondisi kesehatan kita.
  3. Lebih baik lagi, kunjungi tempat kontrol secara tetap, agar kondisi kita sudah tercatat di rekam medis.  Jika ingin pindah dokter di RS yang sama, catatan kita pun sudah ada.  Ini memudahkan dokter dan mempercepat keputusan tindakan untuk pasien.  
  4. Jika kita berpindah dokter atau datang ke fasilitas kesehatan,  selalu utarakan penyakit penyerta yang diderita.
  5. Pilih tempat bersalin sesuai dengan budget dan kondisi medis. Jika tidak ada penyakit penyerta yang mengkhawatirkan, di fasilitas kesehatan mana saja tidak masalah. Bila memiliki penyakit penyerta, sejak trimester ketiga kita sudah harus mencari RS tempat kita akan bersalin. Mungkin kita akan mulai pindah dokter untuk ANC atau periksa kandungan di dokter kandungan yang ada di RS tersebut. Agar saat bersalin kondisi kesehatan kita sebelumnya sudah diketahui oleh pihak dokter dan RS.
  6. Rumah sakit tipe A (RSHS, RSCM, Sardjito, dll)  itu bukan rumah sakit percobaan ya. RS tipe A itu artinya punya dokter yang lengkap sampai subspesialis.  Fasilitas kesehatan RS tipe A juga paling lengkap. Jadi kalau kondisi medis keluarga ada yang memerlukan penanganan di RSHS, jangan ragu.  Mungkin di sana akan banyak ditangani oleh residen, tapi apakah RS lain mampu menangani? Tenang saja, residen selalu mendapat supervisi untuk tindakan dari konsulen atau subspesialis ko.

    Semoga pengalaman teman saya ini bisa diambil hikmahnya oleh kita semua. Mudah-mudahan Alm khusnul khatimah, suami dan keluarga yang ditinggalkan pun dapat diberi kesabaran.  

    Pengaruh Keluarga Terhadap Kesehatan Seseorang

    Terkadang kita tidak bisa membuat keputusan untuk diri sendiri. Misalnya saja karena tidak ada biaya, keluarga menolak pasien operasi dan membawa pasien pulang. Atau pasien kanker stadium akhir dibawa keluarga berobat ke alternatif.  Man dan money menjadi penentu seseorang punya pilihan atau tidak.
    Tidak semua orang beruntung, memiliki supporting system yang memiliki pemikiran yang sama. Tidak semua orang juga memiliki kondisi finansial yang cukup. Jika kondisi keuangan minim, sokongan dari keluarga juga tidak ada, kita bisa apa? Jadi, apakah pilihan hanya bisa dibuat bagi kalangan berduit?

    Saat ini, ternyata penting sekali bisa mandiri secara finansial.  Uang menentukan power yang dimiliki seseorang. Bukan berarti uang adalah segalanya. Tapi kekurangan uang bisa membuat posisi seseorang menjadi lemah.

    Banyak sekali contoh dilapangan tentang pengaruh kondisi keuangan dan dukungan keluarga terhadap kesehatan seseorang. Misalnya saja, pasien yang berhenti berobat karena keluarga sudah tidak bisa lagi membiayai ongkos pulang pergi rumah sakit. Biaya kesehatan mungkin ditanggung BPJS, tapi terkadang keluarga harus menginap di sekitar RS. Jadi keluarga memutuskan untuk menghentikan pengobatan pasien karena sudah tidak sanggup dengan biaya akomodasi.

    Selain biaya, pendidikan dan kepercayaan keluarga juga sangat berpengaruh. Jika keluarga lebih percaya dengan pengobatan alternatif, bisa jadi di tengah pengobatan pasien justru dibawa ke alternatif. Sayangnya, dalam kasus yang bisa ditangani, pengobatan alternatif ini menunda penyembuhan. Tidak jarang pasien justru kembali setelah kondisinya sangat buruk dan tidak tertolong.

    Pada kondisi kasus-kasus terminal atau yang sudah tidak ada harapan, datang ke alternatif adalah pelarian dan penyangkalan terhadap kondisi yang dialami pasien. Padahal jika di rumah sakit, setidaknya saat menghadapi sakit yang tidak tertahankan menjelang ajal, pasien bisa mendapat obat penahan nyeri. Kesembuhan itu adalah kehendak Allah, sebagai manusia kita berikhtiar sebaik-baiknya.  Jalur medis itu insyaAllah adalah ikhtiar terbaik, tentu diiringi dengan doa pada Sang Pencipta.

    Begitu besar pengaruh keluarga terhadap hidup dan mati seseorang. Semoga kita semua bisa menjadi keluarga yang bijak. Jangan sampai waktu diskusi keluarga terlalu lama sampai pasien tidak tertolong. Jangan sampai hasil diskusi keluarga membawa mudharat yang lebih besar untuk pasien.  

    .

    .

    .

    .

    #30DWC #Jilid9 #Squad9 #Day27

    Ada Saat Kita Akan Berdiri

    Aku berusaha menjaga tubuh agar tetap berdiri.  Aksa sudah gila apa? Pertanyaannya betul-betul to the point. Cepat-cepat aku ke toilet sambil menahan agar Ia tidak melihat pipiku yang mulai memerah.

    Kami berjalan menuju meja kami tanpa sepatah katapun.  Rasanya betul-betul awkward, tapi jujur aku senang. Selesai makan, aku dan keluargaku memutuskan untuk pulang lebih dulu. Ayah berjalan di depan ditemani oleh Aksa.  Entah apa yang mereka bicarakan? Ayah menepuk-nepuk bahu Aksa, tampak air mukanya begitu senang.  Aksa mencium tangan Ayah sebelum Ayah masuk ke dalam mobil..

    “Sampai ketemu ya, Fira!” Kata Aksa sambil memamerkan senyum menawannya. Ia pun mencium tangan Ibu. Berasa calon mantu saja.  

    Di mobil Ayah dan Ibu hanya cengengesan. “Maaf Pak Bu, ada apa ya?” Tanyaku menyelidik.  Begitulah jika pasangan sudah memiliki chemistry.  Mereka bisa berbicara melalui tatapan ataupun bahasa tubuh saja.

    “Pilihan Ayah Oke kan, Bu?” Tanya Ayah sambil mengedipkan mata pada Ibu. Ya ampun, jangan-jangan hari ini memang sudah diagendakan. Ya Allah Ayah!!

    “Habisnya susah sekali mau mengenalkan kamu dengan Aksa.  Dia itu murid kesayangan Ayah. Sebelum dia course sering operasi bareng Ayah itu.” Jawab Ayah. “Coba saja dulu Fira. Feeling Ayah dia akan cocok dengan kamu.” Sambung Ayah.

    Apakah aku dan Aksa ditakdirkan untuk berjodoh? Perkenalan kami begitu cepat. Apakah jodoh berkaitan dengan lamanya waktu saling mengenal? Rasanya aku ragu. Bertahun-tahun hubunganku dengan Adi saja bisa berakhir.

    ***

    Tidak lama setelah perkenalan kami di Cafe, ada seseorang yang sedang berdiri di depan pintu.  Aku baru saja pulang dari klinik.  Oh my! Itu kan Aksa.  What should I call him by the way? Pastinya Ia jauh lebih tua, kan?  

    “Assalamualaikum Fira. Baru aku mau mencet bel.” Katanya.  

    “Waalaikumsalam, Ka.  Ayo masuk!” Ajakku.

    “Ka banget nih? Panggil Mas aja!” Jawabnya sambil garuk-garuk kepala. Ketombean, Mas? 

    “Oh, Mas Aksa orang Jawa ternyata.” Kataku basa-basi.  Tidak tahu apa yang harus aku bicarakan.

    “Iya aku orang Jawa. Ibu ada Fir? Malu kalau berkunjung enggak izin dengan yang punya rumah.” Katanya sopan.  Waw! Pantas saja Ayah bilang Aksa orangnya berbeda. 

    “Sebentar ya, Mas. Aku panggil Ibu dulu.” Kataku sambil mencari Ibu di belakang. 

    Rasanya jantung mau lepas dari tubuh. Orang ganteng dan sopan ada di rumahmu Fira!! Mimpi apa kamu semalam? Kamu masih sanggup berdiri kan, Fir? Rasanya ingin berteriak saking tidak percayanya.

    Terburu-buru aku mencari Ibu. Aku berlari memeluknya. “Ada Mas Aksa, Bu! Ganteng!” Ibu tersenyum sambil geleng-geleng kepala.

    Tidak selamanya kita jatuh. Akan ada saatnya seseorang mengajak kita berdiri dan membimbing kita berjalan perlahan. Jika ini adalah takdir, mudahkan ikhtiar kami ya Allah! 

    .

    .

    .

    #30DWC #Jilid9 #Squad9 #Day26

    Cerita Menjelang Akhir Kehamilan 

    Hi, Kak! Tinggal sebentar lagi loh Kakak tinggal di dalam perut. Alhamdulillah selama kehamilan Kakak, Bunda ngerasa happy.  Ayah juga selalu support, jadi rasanya semua berlalu, ngalir begitu saja.

    Kata orang, nanti pas Kakak sudah lahir Bunda akan kangen masa-masa Kakak masih di dalam perut.  Tendangan pertama Kakak itu kerasa banget waktu pengajian 4 bulanan. Kakak juga pemalu banget, sering enggak mau gerak kalau diajak ngobrol sama yang Kakak enggak akrab.

    Selama dalam kandungan, Kakak cerdas banget. Bisa diajak main, Kakak bisa diajak ngobrol.  Kalau ada Ayah, sebelum tidur pasti kita berdua main dulu sama Kakak. Ayah akan nempelin tangannya di perut Bunda, ngusap-ngusap, terus nanti Kakak gerak-gerak.

    Semakin besar usia kehamilan, Kakak semakin kesulitan bergerak. Dulu Kakak bisa menendang bebas, sekarang Kakak hanya bisa gerak sedikit saja. Kadang Kakak geraknya ritmik, kalau Bunda baca katanya Kakak lagi cegukan. Terasa betul Kakak semakin gendut, tulang rusuk kanan Bunda sering jadi korban.  Lututmu, Nak!!!  Rasanya ngilu-ngilu nikmat.

    Semua yang Bunda rasakan hanya akan menjadi kenangan.  Tapi enggak akan pernah terlupakan, Sayang. Rasanya begitu menyenangkan.  Mungkin karena sudah terlewati, jadi yang tersisa adalah kenangan manis. 

    Tinggal satu minggu lagi untuk menentukan apakah Kakak Hui punya kesempatan lahir pervaginam atau harus caesar? Bunda masih belum merasa tegang.  Akhir-akhir ini Bunda sering mengajak Kakak ngobrol, “Jangan dulu lahir ya, Kak! Bunda belum selesai beres-beres perlengkapan Kakak.” 

    Perlengkapan Kakak semua Bunda yang cuci, Bunda setrika. Tidak pernah Bunda sesemangat ini.  Inginnya semua dikerjakan sendiri. Botol ASI dan pompa ASI juga perlu disterilkan.  Masih banyak sekali PR Bunda, Nak!

    Kakak yang sabar ya.  Bertahan sebentar lagi di dalam perut. Kalau sudah 3Kg baru boleh meluncur ya! Sepertinya Kakak sudah mulai ingin keluar ya. Sekarang kontraksi Bunda semakin sering. Ada juga rasa nyeri yang tajam di bagian pelvis, mungkin karena persiapan untuk meregang.

    Semoga kita berdua diberi kemudahan oleh Allah ya, Kak. Amin..  

    .

    .

    .

    .

    #30DWC #Jilid9 #Squad9 #Day25

    Jatuh Bebas

    Tiga hari akhirnya aku beristirahat di rumah sakit. Dua bulan setelahnya aku menyibukkan diri dengan praktek klinik maupun aktivitas sosial. Tanpa disadari, rasa sakit dan semua perasaanku pada Adi pun berlalu.  

    Brunch yuk, sambil ngobrol santai.” Kata Ayah sambil memandangi Ibu.  Cara beliau memandangi Ibu, membuatku ingin sekali bisa memiliki suami seperti Ayah. Acara makan di luar adalah salah satu cara Ayah untuk menebus kesibukannya.  

    Kami pun makan di sebuah cafe di daerah Dago.  Saat memanggil pelayan, pandanganku terfokus pada pemandangan di sebrangku. Terlihat seorang laki-laki berkacamata tengah sibuk mengibas-ngibas pakaiannya yang basah. Sepertinya pelayan tidak sengaja menumpahkan pesanannya.  

    Tampak laki-laki itu tidak marah sama sekali. Berkali-kali pelayan itu meminta maaf, Ia tersenyum tidak mempermasalahkan. Kebaikan hati seseorang bisa terlihat ketika ada hal yang menyebalkan seperti ini.

    Ada berbagai jenis jatuh. Ada jatuh apes seperti kandasnya cintaku. Ada jatuh sakit. Ada jatuh hati seperti Ayah pada Ibu dan Ibu pada Ayah.  Kalau ini apa namanya ya? Rasanya seperti turun ke bawah, meluncur dengan cepat karena gravitasi bumi.

    Sosok disebrangku menangkap mataku yang sedang kagum melihatnya. Seketika pandangannya bergeser pada Ayah. Ia mengangguk kemudian mendekat ke arah kami. Mampus! “Assalamualaikum, Prof! Eh Ibu.  Damang, Prof?” Tanyanya santun.

    “Kamu lama ga kelihatan, sudah beres coursenya?” Tanya Ayah. Ehm.. Mungkin Ia murid Ayah dulu semasa residensi.

    “Alhamdulillah sudah Prof. Sekarang saya biasa keliling lagi kejar setoran. Hehe.” Jawabnya sambil tersenyum memamerkan giginya yang rapih.

    “Kamu sama siapa ke sini? Gabung saja sini!” Ajak Ayah. 

    “Aduh, malu atuh Prof.  Saya kebetulan sama orang tua.” Jawabnya. Tapi karena Ayah memaksa, akhirnya Ia memanggil keluarganya untuk duduk bersama kami. Ayahku dan Ibuku berkenalan dengan orang tuanya.  Ini siapa sih by the way? 

    “Ini loh Fira, murid Ayah yang sudah lama mau Ayah kenalkan itu.” Kata Ayah. Laki-laki disebelahku menggangguk, tersenyum.

    Ya ampun! Ini kan yang dulu aku kihat di kedai kopi.  Kok bisa?? Ah!!! Pantas saja potongan rambutnya kali ini beda. Sumpah kalau dari dekat gini makin ganteng! 

    “Kenalkan saya, Aksa.” Ia memperkenalkan dirinya.  Ketika aku hendak mengulurkan tangannya untuk bersalaman, Ia menahan kedua tangannya di dada.  Oh bukan muhrim. 

    “Saya Fira.” Kataku. 

    “Iya tahu kok. Prof sudah sering cerita. Saya juga sering lihat foto kamu di instagram. Eh! ” Sepertinya Ia sedang keceplosan. Ia menutup mulutnya. Aku menahan tawa. 

    “Sepertinya kalian cocok ya. Bagaimana kalau dijadikan saja? Hahaha.” Canda Ayah.  Orang tua Aksa pun ikut tertawa. 

    Aksa menjatuhkan garpunya ke lantai karena grogi. Tidak sanggup menahan malu aku pun izin ke toilet. Saking salah tingkahnya aku menginjak rokku sampai terjatuh. Ayah dan Ibu semakin tertawa, begitu pun dengan orang tua Aksa. 

    Aku pun dengan cepat berusaha bangkit. Syukurlah posisi jatuhnya tidak terlalu memalukan. Ayah dengan lebay meminta Aksa mengantarku sampai depan toilet. Sesampainya di depan pintu Ia tiba-tiba bertanya, “Fira, kalau kita mencoba untuk lebih saling mengenal, mau?” Tanyanya pelan, tanpa basa-basi. 

    Ya Allah, tolong! Rasanya seperti jatuh bebas! Apa ini?? 

    .

    .

    .

    #30DWC #Jilid9 #Squad9 #Day24

    ‘Nikmatnya’ Akhir Trimester Tiga

    Suami tertawa puas sekali melihat kaki saya yang super bengkak.  Jika dipencet, kaki saya akan mendelep lalu tidak lama akan kembali seperti semula. Seharian itu saya lebih banyak berjalan kaki daripada biasanya. Pagi hari saya ke Kecamatan, sorenya saya dan suami ke Ace Hardware.

    Saya banyak sekali berjalan untuk menuju tempat shalat dan untuk berjalan ke parkiran.  Rasanya shock sekali melihat punggung kaki yang begitu bengkak. Kaus kaki dan sendal sepatu saja menghasilkan bekas cetakan di kaki, bentuknya benar-benar lucu. Malamnya saya mengganjal kaki dengan bantal agar posisinya jauh lebih tinggi dari kepala.

    Pada minggu ke-34 menjelang 35 ini keluhan kehamilan benar-benar memuncak. Berat sekali rasanya untuk berjalan. Badan juga terasa nyeri jika berubah posisi dari duduk ke berdiri. Berubah posisi saat tidur pun tidak bisa sekaligus. Jika ingin turun dari tempat tidur, saya harus miring dulu, aga membungkuk, menumpu badan dengan tangan untuk mengangkat badan, baru menurunkan kaki.

    Tidur pun rasanya tidak nyaman.  Karena saya tidur dengan posisi miring, pasti saat terbangun satu sisi tubuh akan kesakitan. Lalu saya akan berganti tumpuan pada sisi badan lainnya.  Efek ini dirasakan karena saya berbobot terlalu besar. Selain ini, saya kurang bergerak karena masih khawatir terjadi kontraksi. 

    Sekarang sedikit demi sedikit saya memaksakan untuk berjalan kaki dan beraktivitas. Walau pada akhirnya kaki saya akan bengkak.  😆 Ayah saya saja begitu khawatir saat melihat saya keberatan saat naik tangga. Beliau bahkan menyarankan saya untuk caesar saja karena khawatir tidak bisa mengedan. Hahaha. 

    Selain kesulitan saat bergerak, saya juga mengalami sesak nafas.  Mungkin karena bobot tubuh berlebih ditambah dengan anemia saya. Rindu sekali bisa bergerak lincah seperti semula. Suami bahkan menirukan cara saya berjalan, lucu sekali. Hahahaha!

    Bobot saya ini menjadi bahan lawakan kami berdua.  Sekarang BB saya sudah naik sekitar 21kg. Hal ini terjadi pasca saya diungsikan ke Lembang sejak hamil 23 minggu.  Saya banyak makan junkfood dan minuman manis karena balas dendam tidak bisa mencari makanan tersebut saat di Indramayu.

    Salahnya, saya membebaskan diri untuk memakan makanan yang tidak sehat. Saya tetap makan indomie dan gorengan.  Cilok dan cireng yang pantang saya makan pun dengan bebasnya saya makan. Akhirnya saya menikmati “hasil” yang begitu nikmat, badan sakit-sakit semua. 😩😩😩

    Pelajaran ini berguna jika saya diberi kesempatan untuk bisa hamil berikutnya ya.  Ternyata makan makanan yang bergizi dan berolahraga itu penting sekali. Terbayang, bagaimana caranya menurunkan 20kg++ seperti semula ya? Help me suamikkk!!!  😱😱😱

    Jalani, nikmati, syukuri! Ambil hikmahnya untuk lain kali. Sekarang waktunya tersenyum memandangi hasil konsepsi yang bergerak lincah di dalam perut. Berbahagialah karena sebentar lagi ada Baby Hui yang akan lahir ke dunia. Yang penting, tetap tenang dan berdoa agar dimudahkan ketika persalinan.

    .

    .

    .

    .

    #30DWC #Jilid9 #Squad9 #Day23

    Indonesia, Sayapmu Patah

    Rasanya, Indonesia tidak lagi menjadi negara demokrasi. Issue yang ada terkait dengan pemerintah dianggap sebagai pemberontakan dan yang dianggap provokator harus dipenjarakan. Belum lagi adanya UU ITE yang mengekang kebebasan berpendapat di media sosial.

    Negara demokrasi seharusnya mengizinkan warga negara berpartisipasi dalam perumusan, pengembangan, dan pembuatan hukum.  Warga negara juga memiliki hak setara dalam pengambilan keputusan yang dapat mengubah hidup mereka. Bisa dilihat bahwa saat ini demo yang menjadi ciri khas pemerintahan demokrasi dibungkam. Kini pemerintah yang berkuasa lah yang berhak menentukan arah suara masyarakat.

    Masih ingatkah ketika sebuah pidato Gubernur baru Jakarta menyebutkan kata pribumi? Kita bisa melihat bagaimana Gubernur baru ini dijatuhkan hanya karena menyebutkan kata pribumi. Sebenarnya, siapakah pribumi? 

    Ketika masa kolonial Belanda, pribumi dipakai sebagai istilah untuk inlanders, salah satu kelompok penduduk Hindia Belanda yang berasal dari suku-suku asli Kepulauan Nusantara.  Saat itu, keturunan Cina, India, Arab, Eropa, maupun campuran sering dikelompokkan sebagai non-pribumi. Walaupun mereka lahir dan tumbuh di Indonesia.  

    Menurut mantan Wakil Presiden Indonesia, Bapak Try Sutisno, “Jangan terpancing isu pribumi, non pribumi. Itu dulu buatan Belanda supaya dipecah-pecah,” ujar Pak Try,  dalam diskusi di kantor Para Syndicate, Jakarta, Kamis (26/10/2017).

    Beliau mengatakan bahwa perbedaan kelas warga asli Indonesia dan keturunan, saat itu berhasil membuat masyarakat Indonesia saling menyerang. Penjajah memanfaatkan kesempatan ini untuk menguasai Indonesia. Sepertinya, kali ini oknum di belakang layar tengah tersenyum lebar. Karena mereka berhasil menyulut warga Indonesia dengan sebutan pribumi.

    Menurut Mantan Presiden Indonesia, BJ Habibie, Indonesia pernah memiliki masa yang kelam.  Nama bangsa Indonesia pribumi memiliki strata terendah di luar negeri.  Namun itu sudah berlalu. 

    “Saat ini sudah tidak ada lagi warga pribumi maupun nonpribumi. Yang ada hanyalah warga negara Indonesia, bangsa Indonesia.” Kata Habibie dalam pidatonya di Ballroom Gandaria City Mall, Sabtu (28/10/2017).

    Aku, kamu, kita semua adalah warga negara Indonesia. Jangan biarkan kita diarahkan oleh orang-orang di belakang sana yang memecah belah persatuan. Kita semua berhak bersuara untuk Indonesia. Hidup demokrasi!  

    .

    .

    Sumber: 

    .

     .

    .

    #30DWC #Jilid9 #Squad9 #Day22