Motherhood Life : A Little Chaos 

Being a doctor is not as hard as being a mom and a wife.

Marriage life that I knew is just a theory. In fact, I did every chaos. I woke up late, I felt sleepy, I couldn’t make my baby not to cry. I ended up the same in the next day.

I thought, being a pregnant wife was easier than being a nursing wife. I have to pump my breast, but I still have to take care of my husband.  In fact, he took care everything for us by himself.  All I could do was collect my breast milk.

I have to accept, that my daughter is really close with her grandparent than her parents.  I really, really sad.  She scared when he far away from home. From my parents home.  My parents home is the safest place that she knows. I saw her smile from 160km  far away.  Only from my cellular phone.

Saw her grow healthily and happily with my parents, that makes me really glad. Alhamdulillah.  My husband and I agree, that our priorities are my daughter safety and health. So we should keep our ego, our weakness, our wants to keep her safe in our hug.

Thanks to Allah that He gives me a dad that loves her grand daughter very much.  He hugs her after work, he feeds her, makes her fell asleep, calms her when she cries.  My dad does everything to make my daughter happy.  I don’t know how to thank him.

When I was sad, I thought that my husband would have the stronger sadness than me.  He should far away from home, from his wife, from his lovely daughter.

I always ask, would my daughter need me? Would she love me? 

When I am looking for the answer, I remembered when I lived with my grandparents in my childhood.  Living with them didn’t make me forget about who my parents were. But my husband and I should remember that being a biological parent is not making us a mom and dad.

Our love, our hard work, our care, and our pray for our child that makes us a true parent. 

I said to myself, “Dont be sad because being a parent is a lifetime process.” 

This just a beginning.  Cheers! 

Advertisements

Membawa ASIP Jarak Jauh Part II

[Membawa ASIP Perahan Satu Minggu]

Bermodalkan mahzab ASIP boleh tidak dibekukan selama 3-8 hari, akhirnya saya mencoba membawa ASIP yang saya kumpulkan selama satu minggu.

Saya menggunakan tas Soleil ukuran 24L. Saya gegabah membeli cooler bag ukuran sangat besar. Karena keterbatasan stok ice gel dan khawatir banyak space kosong, akhirnya saya menjejalkan cooler box ukuran 5L. Wkwk. Sebesar itu volume cooler bagnya. Kalau kata Yolan, bayi pun bisa saya masukkan dalam cooler bag. Haha.

Penampakan cooler bag berisi cooler box dan ASIP (berasa baso beranak)

Susunan cooler bag:

1. Dua buah blue ice pack di dasar wadah plastik, dua buah blue ice pack untuk di atas wadah

2. Empat buah ice gel untuk berada mengelilingi wadah

3. Wadah plastik diisi ASIP lalu di lakban

4. Cooler box : dasarnya diberi 1 buah ice gel, lalu ditaruh ASIP. Tengahnya diberi 1 buah ice gel, ditaruh ASIP lagi, terakhir diberi 1 ice gel lalu ditutup

5. Rongga kosong diisi dengan kresek

6. Terakhir semua saya tutup dengan handuk kering

7. Pastikan tas tersleting dengan benar

Perjalanan sekitar 5 jam Indramayu-Lembang. Saya bawa tiga buah ASIP yang terpaksa dibekukan karna kulkas kosan penuh, tapi belum beku maksimal. Saat saya tiba di rumah, ASIP bekunya sebagian mencair tapi masih ada titik bekunya. ASIP cair lain alhamdulillah dingin dan aman. ASIP cair perahan lebih akhir saya taruh chiller. Perahan awal saya taruh freezer.

ASIP beku yang mencair saya taruh di chiller untuk dikonsumsi dalam 24 jam. Setelah dilihat warna dan dicium baunya, alhamdulillah ASIP masih segar dan bisa diminum.

ASIP akhirnya aman dan selamat di perjalanan, ditaruh di kulkas rumah 

Awalnya saya sempat takut ditertawakan orang rumah karena membawa tas yang sangat besar. Apalagi bawaan saya sangat berat. Ice pack dan ice gel saja beratnya sudah 7.1Kg. Belum termasuk cooler box dan ASIPnya. Tapi semua pengorbanan terbayar saat melihat kulkas yang dibelikan suamik untuk anak dan istrinya terisi ASIP. Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. Apalagi melihat anak minum ASI. Duhh rasanya tenang dan bahagia. 

Selama kita yakin dan berusaha, percayalah Allah akan memberikan rizki ASI untuk anak kita. Semangat mom!

Membawa ASIP Jarak Jauh Part I

Saya LDR dengan baby. Akhirnya dengan suami kami berusaha agar bisa tetap memberikan ASI.  Saya kirim ASIP dua kali dengan bis, satu kali saya bawa sendiri saat pulang ke rumah.  ASIP yang dibawa sengaja dalam kondisi cair agar lebih mudah dibawa.  ASIP bisa tidak dibekukan sekitar 5 hari.  Jadi maksimal ASIP harus saya kirim dalam 5 hari.  Pusing, Shay! Kalo mikirin ASIP beku takut cair. 😂

Ini dia, cara dan alat tempur saya membawa ASIP-ASIP:

1. Cooler bag prenagen (produk sponsor)

Cooler bag gratisan ini saya gunakan untuk mengirim ASIP Indramayu-Lembang.  Saya keluarkan ASIP dan ice gel jam 2 pagi, lalu sampai di rumah pukul 9 pagi. 

Susunan :

  • Cooler bag
  • Lapisi cooler bag dengan alumunium foil (bisa juga dengan koran). Waktu itu saya belum punya koran
  • Ice gel di semua sisi (1 buah merk gabag medium, 1 buah two angels besar, 1 buah two angels medium, dan 1 buah ice gel bka) 
  • ASIP dimasukkan dalam tupperware (sekitar 16 plastik ukuran 100cc), tutup kotaknya. Gunanya agar plastik ASIP tidak pecah terkena ice gel. 
  • Ice gel kecil 2 buah di atas tupperware
  • 5 plastik ASIP di atas tupperware (Diusahakan seminimal mungkin plastik yang bersinggungan langsung dengan ice gel. Supaya mommy enggak nangis kalau ASIPnya pecah. 😂)
  • 1 buah ice gel medium bka dan 1 buah ice gel kecil bka di atas plastik ASIP
  • Rongga kosong saya isi kresek digulung (seharusnya diisi koran) 
  • Terakhir saya beri kain lap kering di atas susunan ice gel terakhir.  (bisa juga dengan koran) 

Review: setelah melewati 7 jam perjalanan,  hanya 1 buah ice gel bka ukuran kecil yang sedikit mencair. Sisanya masih beku.
2. Cooler box merk Claris 5 Ltr

Saya membawa cooler box ini untuk perjalanan Indramayu-Bandung- Lembang via tol Cipali ke Pasteur. Saya mengeluarkan ASIP dan ice gel sekitar pukul 1 siang, baru sampai rumah jam 7 malam. Ini pun kondisi menjelang malam tahun baru.  Jadinya Bandung-Lembang super macet.  Bersyukur ada Babang Grab Bike yang mau menerima orderan saya.

Here we go susunan cooler box saya.

  • Cooler box diberi ice gel di sisi bawah dan sekelilingnya.  Di bawa cukup dengan ice gel medium.  Sisi kanan dan kiri masing2 dengan ice gel kecil bka, dua sisi yang lebar cukup dengan ice gel bka/gabag medium.  (Seharusnya cooler box dilapisi koran dulu supaya lebih tahan dingin)
  • 10 plastik ASIP saya taruh dengan posisi berdiri di tengah-tengahnya. Ini pun sudah sesak berhimpitan. Supaya tidak tumpah.  Cooler box Claris/puku ini kurang muat banyak sejujurnya. Tapi cooler box memang lebih tahan dingin.
  • Taruh ice gel medium di atas ASIP
  • Isi rongga kosong dengan kresek plastik yang digulung. (Sebaiknya dengan koran) 
  • Terakhir taruh lap kering di atas ice gel medium sebagai lapisan terakhir. 
  • Tutup cooler box, lalu semua sisinya diberi lakban agar mengurangi jalan udara masuk.
  • Bungkus cooler box dengan kresek supaya lebih mudah dibawa.

Review :

Setelah 6 jam keluar dari kulkas, semua ice gel baik yang kecil atau medium masih beku sempurna.  Prok prok prok!  The power of meminimalkan rongga kosong dan mengurangi ice gel bersinggungan langsung dengan udara.  Koran, kresek, kain lap, dan lakban itu penting sekali saudara-saudara.  

Saran :

  • Pastikan semua ice gel dalam keadaan belum maksimal.
  • Prinsipnya semakin sedikit rongga kosong dalam cooler bag/ cooler box, ice gel tidak akan mudah mencair.
  • Koran bisa digunakan sebagai insulator tambahan
  • Kain lap bisa mengurangi paparan udara langsung terhadap ice gel/ice pack
  • Lakban berguna agar cooler box tertutup rapat dan mencegah banyak udara masuk melalui sela-sela.  
  • Ice gel beku lebih lama dibandingkan dengan ice pack berisi air biasa. Review tentang ice gel dan ice pack saya baca di sini .
  • Ice gel yang saya pakai merk: gabag, bka, dan two angels. 1 buah merk g-cool kurang recommended karna plastiknya tipis dan nampak fragile. Yang lainnya sejauh ini performanya oke. 

Saya sedang menunggu pesanan cooler box 10L dan cooler bag merk soleil 24L. Was-was sebentar lagi mau kirim ASIP.  😆 Kalau ada kesempatan saya share performa dua alat tempur baru ini ya.  

Semoga bermanfaat ya, Moms.  LDR dengan anak bukan halangan untuk bisa memberikan ASI.  

Perpisahan Sementara :” 

Mungkin ini cara Allah membantu saya.

Tiba-tiba saja saya harus berangkat internship satu bulan lebih awal.  Sedih sekali rasanya. Saya tidak bisa membawa Aisha ke Indramayu karena tidak mendapatkan pengasuh. Jadinya Aisha dititipkan pada keluarga di Lembang.

Sejak awal, ASI saya begitu sedikit. Jadinya saya dan suami memutuskan untuk memberikan tambahan susu formula sembari saya berusaha untuk pumping. Aisha tetap mau menyusu langsung, hanya saja Ia akan mengamuk ketika ASI saya sudah sulit dihisap.  Ini karena sejak hari pertama Aisha minum dengan dot yang mudah dihisap.

Tapi begitulah Allah menuliskan takdir. Aisha tetap menyusu secara langsung ditambah dengan susu botol, entah ASI perah atau susu formula.  Terbayang bagaimana bila selama ini Aisha tidak pernah minum dot? Tentu Ia akan merasa kehilangan karena selama ini hanya menyusu pada Ibunya. Saya pun akan sangat berat meninggalkan Aisha.

Kini saat saya harus pergi, justru saya yang sangat sedih. Karena Aisha tidak lagi menyusu langsung pada saya. Berat sekali hati ini meninggalkan Aisha. Tapi saya dan suami percaya bahwa Aisha sementara lebih baik dititipkan pada keluarga.

Sejak lahir, Aisha begitu disayangi semua orang.  Anggota keluarga berebut untuk bisa menggendong Aisha. Awalnya saya sedih karena merasa hanya jadi Ibu susuan, tapi lama-lama saya sadar ini untuk kebaikan kami berdua. Agar Aisha tidak terlalu bergantung pada saya, dan agar saya bisa melepas Aisha pelan-pelan pada keluarga.

Saya tidak maksimal menyusui Aisha, tetapi Allah menciptakan perasaan yang sulit untuk dijelaskan. Beberapa hari terakhir saya sering mencium Aisha ketika menggendongnya sembari saya bilang, “Aisha nanti jangan rewel dan mimik susu yang banyak. Aisha nanti baik-baik di Lembang.”

Dulu saya sempat ingin mulai memprogram memiliki momongan ketika pertengahan Internship, agar saya tidak melahirkan di tengah dinas. Tapi Allah memberikan takdir yang terbaik,  saya hamil di awal internship. Hamil Aisha juga begitu banyak ujian, sehingga saya harus izin dalam waktu yang sangat lama. 

Syukurlah pembimbing memberikan banyak kebijakan agar saya bisa mempertahankan kandungan.  Hingga akhirnya Aisha bisa lahir dengan selamat. Alhamdulillaah.

Sekarang saya harus kembali bertugas. Kira-kira masih 26-28 minggu lagi masa internship saya di Indramayu. Semoga saya bisa terus memberikan ASI untuk Aisha, sebagai rasa sayang saya yang melampaui kata. 

Baik-baik ya Aisha, nanti setelah Bunda selesai Internship, Aisha bobo sama Bunda lagi ya.

Aisha digendong Uu

Cerita Persalinanku 

Ini adalah hal paling berani yang pernah saya lakukan seumur hidup. Tidak ada rasa takut, biasa saja. Mungkin ada sedikit kegalauan karena sebentar lagi status saya akan berubah.

Sehari sebelum operasi, saya ditemani oleh suami. Kami merasa seperti honeymoon. Jika di Kamojang, harga satu hari di RS bisa untuk sewa dua malam. Adanya suami membuat saya bahagia sekali. Kami berusaha berdua sebelumnya, melahirkannya pun saya ingin dibersamai oleh suami.

Keluarga semua hadir pukul setengah Lima pagi untuk memberikan dukungan.  Ya Allah, terharu rasanya. Pukul Lima pagi saya didorong ke COT lantai 3, ruangan yang tidak asing lagi bagi saya. Suster mengganti pakaian saya dengan baju OK. Suami dipanggil oleh residen anestesi untuk menandatangani SIO. Residen obgyn menghampiri saya, ternyata dokter Dias, yang dulu bersama ketika saya masih koas. Syukurlah tidak ada orange mencolok mata yang berkeliaran.  Pastinya ini sudah jam koas-koas anes berada di mesko.

Residen anes yang semalem visit pun menghampiri saya.  Akhirnya saya didorong ke ruang OK 303, ruang yang juga tidak asing lagi. Bagaimana rasanya operasi ya? Mbaksel bilang, tidak sakit tapi seperti ada orang membuat adonan di atas perut.  Rasanya isi perut kita diuwek-uwek.

Dokter Radian, dokter anestesi yang menjadi DPJP menjelaskan bahwa saya akan dicoba untuk dibius spinal sebanyak dua kali.  Jika gagal, maka saya harus dibius umum.  Sempat khawatir gagal dibius karena bobot tubuh saya yang maksi itu. Dokter bilang agar saya tidak banyak bergerak, takut bila jarumnya patah.  Saya pun berusaha untuk bersabar ketika terasa jarum kecil mulai menusuk area di antara dua tulang belakang.

Syukurlah perlahan efek bius mulai terasa. Kaki saya mulai kesemutan, lama-lama terasa berat ketika diangkat.  Saya pun tidak tahu saat dokter obgyn mencoba menguji rasa sakit di atas kulit. Syukurlah sekali dibius langsung berhasil. Saya pun merasa mual-mual dan refleks ingin muntah.  Saya memalingkan muka ke kanan lalu muntah.  Tapi karena sejak semalam sudah puasa jadi tidak ada makanan atau minum yang keluar. Dokter lalu menambahkan dosis obat mual via IV. 

Saya pikir saya berubah jadi orang yang lebih sabar.  Saya jadi kuat ketika diinfus, ketika dibius. Juga menjadi berani saat akan dioperasi. Perawat OK mulai berbicara bahwa operasi akan dimulai. Bismillahirrahmanirrahim.. 

Dokter residen anes meminta saya untuk menghirup nafas dari selang oksigen.  Saya hanya berusaha bernafas agar cukup oksigen untuk baby.  Saya menunggu dan menunggu, perut rasanya seperti diaduk-aduk. Lalu terdengar dokter Ruswana berkata, “Normal, lengkap!”

Alhamdulillah.. Terdengar suara tangisan. Bayi merah saya dibawa ke arah kanan untuk dibersihkan. Saya menangis sejadi-jadinya, alhamdulillah..alhamdulillah.. Ternyata ini jalan yang terbaik untuk melahirkan bayi kecil saya. Terharu sekali melihat bayi saya yang putih dan sedang menangis. Kepalanya bulat, rambutnya keriting seperti Papanya.  Bahagia sekali melihat bayi saya bisa lahir dengan selamat. Residen anes pun memberikan kasa untuk menghapus air mata yang semakin deras. 

Saya begitu menikmati tangisan bayi saya. Setelah lama akhirnya residen anak membawa bayi saya untuk mendekat. Saya cium pipinya dan mengatakan nanti kita akan kembali bertemu.  Residen anak pun membawa bayi saya keluar dari lantai OK yang dingin.  

Bayi sudah lahir, tidak ada lagi beban. Saya hanya diam menunggu dokter kembali menutup perut saya. Cukup lama ternyata, awalnya kontraksi rahim saya sedikit kurang bagus. Setelah selesai menjahit rahim, dokter Ruswana pun pamit dan menyerahkan sisanya pada residen.  Saya pun akhirnya ngobrol dengan mereka sepanjang sisa operasi.

Persiapan operasi dan pembiusan dimulai pukul 5.40. Operasi dimulai pukul 6 pagi, lalu lima menit kemudian putri kecil saya lahir.  Pukul 7 operasi selesai lalu saya dibawa ke ruang pemulihan.  Menggigil rasanya setelah efek obat bius hilang.  Tapi tidak ada apa-apanya karena bayi saya sudah lahir.  Alhamdulillah. 

Pukul 9 pagi saya akhirnya dijemput menuju ruang perawatan. Seluruh keluarga sudah menunggu di depan. Saya pun menyambut mereka dengan senyuman dan tangan yang melambai-lambai. 

Aisha Arka Nafisa.. 

Permata yang berharga Ari & Rizka, yang penuh energi, riang gembira, dan menjadi penerang keluarga.
Semoga anak Bunda dan Papa bisa jadi anak sholehah ya..

Aisha saat dibawa dari ruang OK, tapi begitu brojol ga bengkak gini mukanya 😅

Pertama kali rooming in sama Aisha

Pertama kali Aisha digendong Papa 😍

OOTD waktu tasyakuran aqiqah

Aisha usia 3 minggu, 14 Desember 2017

DSOnya Baby Hui 

Baby Hui ini selama hamil senang sekali jajan.  Alhamdulillah Ayahnya diberi kemudahan rizki oleh Allah ya, Nak.  Banyak dokter yang berjasa sekali selama kehamilan Baby Hui ini. 

Sejak awal hamil saya kontrol kehamilan di Indramayu dengan dokter Mirza.  Beliau perempuan, nama aslinya Hanifah Mirzani.  Orangnya kalau ditanya sangat responsif dan jawabannya sangat menenangkan.  Saat sempat ngeflek di awal kehamilan, beliau menyuruh saya bedrest 1 minggu.

Sejak harus bedrest, saya pulang dulu ke Lembang. Waktu itu saya dijemput olsh Kakek dan Nenek ke Indramayu. Di Lembang, saya diperiksa oleh dr. Farid. Jajan besar Kakak Hui dimulai.  😆

Akhirnya ujian pertama bisa dilalui.  Saya kembali ke Indramayu dan kontrol dengan dokter Mirza. Masuk kehamilan 23 minggu, tiba-tiba saya kontraksi. Saat itu dokter Mirza sedang tidak praktek.  Jadinya saya periksa sementara ke dokter Wahyudi.  Surprisingly, dokter Wahyudi juga komunikatif,  responsif,  dan asyik. Indramayu punya DSO yang oke-oke ya.  😆

Hanya satu kali saja saya kontrol dengan dokter Wahyudi. Karena kontraksi yang terus berlanjut, saya memutuskan untuk cuti dan pulang ke Lembang. Saya kembali periksa dengan dokter Farid.  Dua tiga hari observasi di rumah, kontraksinya malah memburuk. Akhirnya saya dirawat di RSIA Buah Hati selama satu minggu.

Kontraksinya betul-betul bandel dan sulit hilang. Setelah pulang obat yang diminum pun sangat banyak, mulai dari obat penghilang kontraksi, obat penguat minum, dan obat yang dimasukkan ke dalam anus.  Maknyus sekali, bisa jajan 800rb untuk dua minggu. Padahal sudah dipotong biaya dokter dan usg. 😆

Alhamdulillah Baby Hui masih bisa dipertahankan.  Satu kali saya kontrol ke fetomaternal.  Seharusnya saya kontrol ketika kehamilan belasan minggu. Karena berbagai hal, baru bisa kontrol waktu kehamilan 30 minggu. Periksa dengan dokter Setyorini, kondisi baby alhamdulillah baik.  Jadi saya bisa kembali kontrol ke DSO umum.

Menjelang kehamilan 9 bulan, setelah berunding dengan dokter Farid, saya dan keluarga memutuskan untuk bersalin di RSHS. Karena di sana fasilitasnya lengkap, dokter syaraf saya juga ada di sana.  Jadi rasanya cukup tenang kalau bersalin di RSHS.  

Saya akhirnya berkonsultasi dengan dokter obgyn yang waktu saya koass mereka tengah mengambil residensi. Kira-kira, dokter siapa yang bisa oncall bersalin normal di RSHS? Karena sewaktu saya koass, jarang sekali konsulen yang membantu persalinan normal.  Yang direkomendasikan oleh dua orang DSO kenalan saya adalah dokter Anita dan dokter Ruswana.

Dua-duanya adalah dokter konsultan fertilitas.  Mungkin karena sering menangani anak mahal jadi lebih sabar saat harus on call ke RSHS ya. Hihi. Asumtif! Dan akhirnya, saat ingin kontrol ke RSHS, dokter Anita sedang tidak ada. Yasudah, karena dokter Ruswana sedang praktek pada hari itu, bismillah saja periksa dengan beliau. Daripada saya memilih dokter lain dan belum tentu juga dokternya bersedia menolong persalinan secara normal. Periksa ke dokter Anita di lain hari juga membuang waktu dan tenaga, kan? Barangkali takdirnya harus lahiran dengan dokter Ruswana ya.  😆

Nah, dokter Ruswana ini sudah senior ya ternyata. Dulu waktu koass sepertinya saya belum pernah morning report dengan beliau.  Beliau orangnya tenang dan murah senyum. Orangnya juga sangat santai. Kondisi saya dianggap tidak ada penghalang persalinan sama sekali.

Saat diperiksa, berat Baby Hui sudah cukup.  Usia kehamilan juga sebentar lagi masuk aterm atau cukup bulan.  Lalu kepalanya sudah mulai masuk pintu panggul.  Jadi dokternya dengan santai bilang bisa dicoba persalinan normal. Alhamdulillah. Nanti saya kembali kontrol setelah dua minggu.

Sebelumnya ada DSO yang menyarankan persalinan secara caesar. Melahirkan secara caesar lebih rendah tingkat stresnya, juga tidak mengalami nyeri hebat seperti lahiran normal.  Tetapi, nanti proses penyembuhannya akan lebih lama dibandingkan melahirkan normal. Kalau melahirkan normal itu istilahnya, setelah keluar bayi semua nyerinya hilang.

Jadi kita usahakan melahirkan normal dulu ya, Kak!  Walau saya sempat ragu, nanti saya bisa mengedan tidak ya?  Saya bisa mengatur nafas tidak ya? Sekarang jalan kaki sedikit saja sudah engap. Semoga saja nanti kita mendapat pertolongan Allah ya Kak! Kehamilan Kakak saja sudah keajaiban dari Allah. Semoga persalinan nanti juga dimudahkan.

Anak mahalnya Ayah Bunda, sehat-sehat ya!  Sebentar lagi kita ketemu!

.

.

.

.

#30DWC #Jilid9 #Squad9 #Day29 

Kaki Kecil yang Mulai Berlari

Kak, kelak setiap perkembangan Kakak akan selalu kami nantikan.  Saat Kakak bisa mengangkat kepala, kami akan bersorak bertepuk tangan.  Saat Kakak bisa tengkurap, berguling, duduk, semua akan membuat kami bahagia.

Bila Kakak sudah merangkak, pasti kami akan mulai khawatir bila Kakak terkena ujung meja atau terbentur lemari. Tapi melihat Kakak sudah bisa bergerak kesana kemari sudah sangat menyenangkan. Apalagi saat Kakak mulai belajar berjalan. Ayah dan Bunda akan excited sekaligus merasa gugup.

Langkah demi langkah akhirnya Kakak akan bisa berjalan. Mulanya Kakak berusaha sekuat tenaga mengejar kami, hingga nanti Ayah dan Bunda akan dibuat sibuk. Kakak akan berlari, kami akan berpura-pura mengejar Kakak. Lalu akan ada saat dimana Kakak berlari dan sudah tidak sanggup kami kejar.

Jika Kakak nanti seperti Bunda, sepertinya Kakak akan suka berlari. Dulu saat sekolah dasar, Bunda sering ikut lomba lari. Walau tidak sering juara.  Saat kuliah Bunda juga hobi sekali berlari, dengan niat ingin menguruskan badan.  Walau akhirnya gagal ya.  Tapi Bunda tetap suka berlari. Karena lari adalah olahraga paling hemat.

Kakak, Bunda dan Ayah begitu menanti Kakak. Apalagi Ayah, walau diam sebenarnya Ayah begitu perduli dengan Kakak.  Kelak, Ayahlah yang akan memapah Kakak ketika belajar berjalan. Ayah juga akan mengejar Kakak sekuat tenaga saat Kakak berlarian kesana dan kemari.  

Berlarilah, Kak!  Langkahkan kaki kecilmu kemana pun Kakak mau. Ayah dan Bunda akan selalu berada di belakang, mendukung Kakak sepenuh hati.

.

.

.

.

#30DWC #Jilid9 #Squad9 #Day28

Meninggal Saat Persalinan 

Kemarin, teman SMA saya meninggal dunia. Almarhumah sebelumnya sama-sama sedang hamil. Menurut cerita teman yang berkunjung ke rumah duka, Alm keluar flek pagi tadi, lalu dibawa ke rumah sakit. Alm sedang mengandung usia kehamilan 8 bulan. Kondisi tersebut termasuk ke dalam persalinan prematur.  

Menurut keterangan teman, Alm sempat dibawa ke Tiga RS sebelumnya, namun ditolak (mungkin karena keterbatasan ruangan atau fasilitas).  Hingga akhirnya keluarga membawa Alm ke RSHS. Di RS, dilakukan persalinan secara normal. Saat pembukaan 7, asma Alm kambuh. Sehingga bayi yang ada di dalam kandungan kekurangan oksigen, lalu meninggal dunia. Seingat saya, Alm sempat dirawat di RS ketika hamil beberapa bulan lalu karena asmanya kambuh. 

Bayi tersebut akhirnya dilahirkan dengan bantuan vakum.  Setelah bayi lahir Alm mengalami atonia uteri atau kontraksi rahim yang buruk,  sehingga Alm mengalami perdaraham hebat. Dokter memutuskan untuk melakukan pengangkatan rahim, namun sebelum operasi dilakukan, nyawa Alm tidak tertolong.

Akhirnya saya pun penasaran dan mencari referensi mengenai asma yang terjadi pada kehamilan. Karena saat sekolah kedokteran dulu, jarang sekali saya menemukan pasien asma yang kambuh saat melahirkan. Jadi, jika asma saat hamil tidak terkontrol, risiko yang terjadi salah satunya adalah persalinan prematur.

Saya sendiri bingung, kenapa tiba-tiba Alm melahirkan prematur? Ternyata kalau sesuai literatur, penyebabnya karena asmanya.  Lalu saat sedang persalinan, tiba-tiba asmanya kambuh.  Saya cari, jarang sekali pasien asma yang kambuh di tengah persalinan.  Jadi keadaanya cukup langka, sekitar 1% pada pasien asma yang sedang hamil saja.

Tapi bisa dibayangkan, stres persalinan yang dialami pasien memicu kekambuhan penyakitnya.  Kemudian, faktor asma akan menyebabkan kekurangan oksigen. Kondisi ini bisa menyebabkan gangguan kontraksi pada rahim.  Jika melihat wajah Alm yang pucat, mungkin ada penyerta berupa anemia juga. Jadi hipoksia jaringan atau kekurangan oksigen ini menyebabkan Alm mengalami atonia uteri. (Melihat kondisi perut Alm yang besar, saya dan mama curiga penyebab atonianya ditambah dengan polihidramnion. Tapi wallahualam, saya tidak tahu pasti penyebab kematiannya.)

Atonia uteri atau rahim tidak bisa berkontraksi dengan baik ini menyebabkan perdarahan setelah persalinan.  Perdarahannya biasanya terjadi begitu cepat dan hebat. Hitungan menit pasien kehilangan darah begitu banyak. Satu-satunya cara untuk menolong pasien adalah menghilangkan penyebab perdarahan, yaitu mengangkat rahimnya.  Namun biasanya kondisi pasien sudah sangat buruk, sehingga nyawa pasien sulit ditolong bahkan sebelum operasi dilakukan.  

Mungkin berbeda cerita jika atonia uteri terjadi saat persalinan caesar.  Ketika kontraksi terus menerus memburuk, dokter bisa langsung mengangkat rahimnya.  Toh pasien sudah di ruang operasi,  perut pasien juga sudah dibuka. Jadinya waktu perdarahan bisa diminimalkan.

Terbayang saat persalinan normal.  Jika terjadi atonia uteri maka pihak dokter harus menghubungi ruang operasi untuk persalinan cito.  Belum lagi persiapan darah untuk menggantikan darah yang hilang tidak bisa secepat itu.  Naik ke ruang operasi pun memerlukan waktu. Benar-benar atonia uteri itu seperti dokter yang harus menjinakkan bom dalam hitungan menit.

Pasien Mama pun pernah ada yang dirujuk ke RSHS karena IUFD. Kemudian setelah melahirkan pasien mengalami atonia uteri. Selama dua minggu pasien tidak sadar dan dirawat di ICU.  Transfusi yang didapat pun mencapai 44 labu.  Betul-betul Allah lah yang berkuasa terhadap hidup dan mati seseorang. :” 

Semoga Allah memudahkan jalan hamba-hambanya melalui tangan-tangan para tenaga medis, perawat, bidan, dan para dokter SpOG. Semoga Allah memberkahi pekerjaan tenaga kesehatan. Amin..  

Take home messages:

  1. Pahami kondisi kesehatan, jika memiliki kehamilan berisiko, disarankan untuk pemeriksaan kehamilan di RS. 
  2. Sebaiknya memiliki dokter tetap, sehingga dokter tersebut sudah mengetahui kondisi kesehatan kita.
  3. Lebih baik lagi, kunjungi tempat kontrol secara tetap, agar kondisi kita sudah tercatat di rekam medis.  Jika ingin pindah dokter di RS yang sama, catatan kita pun sudah ada.  Ini memudahkan dokter dan mempercepat keputusan tindakan untuk pasien.  
  4. Jika kita berpindah dokter atau datang ke fasilitas kesehatan,  selalu utarakan penyakit penyerta yang diderita.
  5. Pilih tempat bersalin sesuai dengan budget dan kondisi medis. Jika tidak ada penyakit penyerta yang mengkhawatirkan, di fasilitas kesehatan mana saja tidak masalah. Bila memiliki penyakit penyerta, sejak trimester ketiga kita sudah harus mencari RS tempat kita akan bersalin. Mungkin kita akan mulai pindah dokter untuk ANC atau periksa kandungan di dokter kandungan yang ada di RS tersebut. Agar saat bersalin kondisi kesehatan kita sebelumnya sudah diketahui oleh pihak dokter dan RS.
  6. Rumah sakit tipe A (RSHS, RSCM, Sardjito, dll)  itu bukan rumah sakit percobaan ya. RS tipe A itu artinya punya dokter yang lengkap sampai subspesialis.  Fasilitas kesehatan RS tipe A juga paling lengkap. Jadi kalau kondisi medis keluarga ada yang memerlukan penanganan di RSHS, jangan ragu.  Mungkin di sana akan banyak ditangani oleh residen, tapi apakah RS lain mampu menangani? Tenang saja, residen selalu mendapat supervisi untuk tindakan dari konsulen atau subspesialis ko.

    Semoga pengalaman teman saya ini bisa diambil hikmahnya oleh kita semua. Mudah-mudahan Alm khusnul khatimah, suami dan keluarga yang ditinggalkan pun dapat diberi kesabaran.  

    Pengaruh Keluarga Terhadap Kesehatan Seseorang

    Terkadang kita tidak bisa membuat keputusan untuk diri sendiri. Misalnya saja karena tidak ada biaya, keluarga menolak pasien operasi dan membawa pasien pulang. Atau pasien kanker stadium akhir dibawa keluarga berobat ke alternatif.  Man dan money menjadi penentu seseorang punya pilihan atau tidak.
    Tidak semua orang beruntung, memiliki supporting system yang memiliki pemikiran yang sama. Tidak semua orang juga memiliki kondisi finansial yang cukup. Jika kondisi keuangan minim, sokongan dari keluarga juga tidak ada, kita bisa apa? Jadi, apakah pilihan hanya bisa dibuat bagi kalangan berduit?

    Saat ini, ternyata penting sekali bisa mandiri secara finansial.  Uang menentukan power yang dimiliki seseorang. Bukan berarti uang adalah segalanya. Tapi kekurangan uang bisa membuat posisi seseorang menjadi lemah.

    Banyak sekali contoh dilapangan tentang pengaruh kondisi keuangan dan dukungan keluarga terhadap kesehatan seseorang. Misalnya saja, pasien yang berhenti berobat karena keluarga sudah tidak bisa lagi membiayai ongkos pulang pergi rumah sakit. Biaya kesehatan mungkin ditanggung BPJS, tapi terkadang keluarga harus menginap di sekitar RS. Jadi keluarga memutuskan untuk menghentikan pengobatan pasien karena sudah tidak sanggup dengan biaya akomodasi.

    Selain biaya, pendidikan dan kepercayaan keluarga juga sangat berpengaruh. Jika keluarga lebih percaya dengan pengobatan alternatif, bisa jadi di tengah pengobatan pasien justru dibawa ke alternatif. Sayangnya, dalam kasus yang bisa ditangani, pengobatan alternatif ini menunda penyembuhan. Tidak jarang pasien justru kembali setelah kondisinya sangat buruk dan tidak tertolong.

    Pada kondisi kasus-kasus terminal atau yang sudah tidak ada harapan, datang ke alternatif adalah pelarian dan penyangkalan terhadap kondisi yang dialami pasien. Padahal jika di rumah sakit, setidaknya saat menghadapi sakit yang tidak tertahankan menjelang ajal, pasien bisa mendapat obat penahan nyeri. Kesembuhan itu adalah kehendak Allah, sebagai manusia kita berikhtiar sebaik-baiknya.  Jalur medis itu insyaAllah adalah ikhtiar terbaik, tentu diiringi dengan doa pada Sang Pencipta.

    Begitu besar pengaruh keluarga terhadap hidup dan mati seseorang. Semoga kita semua bisa menjadi keluarga yang bijak. Jangan sampai waktu diskusi keluarga terlalu lama sampai pasien tidak tertolong. Jangan sampai hasil diskusi keluarga membawa mudharat yang lebih besar untuk pasien.  

    .

    .

    .

    .

    #30DWC #Jilid9 #Squad9 #Day27

    Ada Saat Kita Akan Berdiri

    Aku berusaha menjaga tubuh agar tetap berdiri.  Aksa sudah gila apa? Pertanyaannya betul-betul to the point. Cepat-cepat aku ke toilet sambil menahan agar Ia tidak melihat pipiku yang mulai memerah.

    Kami berjalan menuju meja kami tanpa sepatah katapun.  Rasanya betul-betul awkward, tapi jujur aku senang. Selesai makan, aku dan keluargaku memutuskan untuk pulang lebih dulu. Ayah berjalan di depan ditemani oleh Aksa.  Entah apa yang mereka bicarakan? Ayah menepuk-nepuk bahu Aksa, tampak air mukanya begitu senang.  Aksa mencium tangan Ayah sebelum Ayah masuk ke dalam mobil..

    “Sampai ketemu ya, Fira!” Kata Aksa sambil memamerkan senyum menawannya. Ia pun mencium tangan Ibu. Berasa calon mantu saja.  

    Di mobil Ayah dan Ibu hanya cengengesan. “Maaf Pak Bu, ada apa ya?” Tanyaku menyelidik.  Begitulah jika pasangan sudah memiliki chemistry.  Mereka bisa berbicara melalui tatapan ataupun bahasa tubuh saja.

    “Pilihan Ayah Oke kan, Bu?” Tanya Ayah sambil mengedipkan mata pada Ibu. Ya ampun, jangan-jangan hari ini memang sudah diagendakan. Ya Allah Ayah!!

    “Habisnya susah sekali mau mengenalkan kamu dengan Aksa.  Dia itu murid kesayangan Ayah. Sebelum dia course sering operasi bareng Ayah itu.” Jawab Ayah. “Coba saja dulu Fira. Feeling Ayah dia akan cocok dengan kamu.” Sambung Ayah.

    Apakah aku dan Aksa ditakdirkan untuk berjodoh? Perkenalan kami begitu cepat. Apakah jodoh berkaitan dengan lamanya waktu saling mengenal? Rasanya aku ragu. Bertahun-tahun hubunganku dengan Adi saja bisa berakhir.

    ***

    Tidak lama setelah perkenalan kami di Cafe, ada seseorang yang sedang berdiri di depan pintu.  Aku baru saja pulang dari klinik.  Oh my! Itu kan Aksa.  What should I call him by the way? Pastinya Ia jauh lebih tua, kan?  

    “Assalamualaikum Fira. Baru aku mau mencet bel.” Katanya.  

    “Waalaikumsalam, Ka.  Ayo masuk!” Ajakku.

    “Ka banget nih? Panggil Mas aja!” Jawabnya sambil garuk-garuk kepala. Ketombean, Mas? 

    “Oh, Mas Aksa orang Jawa ternyata.” Kataku basa-basi.  Tidak tahu apa yang harus aku bicarakan.

    “Iya aku orang Jawa. Ibu ada Fir? Malu kalau berkunjung enggak izin dengan yang punya rumah.” Katanya sopan.  Waw! Pantas saja Ayah bilang Aksa orangnya berbeda. 

    “Sebentar ya, Mas. Aku panggil Ibu dulu.” Kataku sambil mencari Ibu di belakang. 

    Rasanya jantung mau lepas dari tubuh. Orang ganteng dan sopan ada di rumahmu Fira!! Mimpi apa kamu semalam? Kamu masih sanggup berdiri kan, Fir? Rasanya ingin berteriak saking tidak percayanya.

    Terburu-buru aku mencari Ibu. Aku berlari memeluknya. “Ada Mas Aksa, Bu! Ganteng!” Ibu tersenyum sambil geleng-geleng kepala.

    Tidak selamanya kita jatuh. Akan ada saatnya seseorang mengajak kita berdiri dan membimbing kita berjalan perlahan. Jika ini adalah takdir, mudahkan ikhtiar kami ya Allah! 

    .

    .

    .

    #30DWC #Jilid9 #Squad9 #Day26