Kesan yang Mendalam

Seseorang pernah bilang, ” Hati hanya bisa disentuh oleh hati “. Jujur, kerasa banget Allah mengetuk pintu hati saya melalui adek-adek kesayangan yang luar biasa. Padahal saya orangnya tiis dan ga peka banget, tapi mereka termasuk orang-orang yang mengubah saya jadi orang yang lebih peka.

10557022_935480199803793_2018319515925276796_o

Pengen banget bisa jadi orang yang bermanfaat di sisa umur yang Allah kasih. Mudah-mudahan pertemuan ini bukan hanya jadi kenangan aja, tapi akan meninggalkan ilmu yang amalannya ga terputus.

Ya Allah.. Semoga hamba sehat selalu, dikuatkan fisiknya, supaya bisa terus nemenin dan sama-sama belajar dengan adek-adek yang luar biasa unyu ini.

Terima kasih ya Allah.. Atas kasih sayang yang ga pernah terputus, Semoga ukhuwah kami selalu terjaga.. Amiin..

Makasih banyak Lulu, Dewi, Ayu, Gita, Lia, Helida, Yani, Amel, Vera.. Kalian luar biasa :”)

A Counscious Incompetence Phase

Reading and writing are very good to increase our knowledge and confidence. I don’t know why, in my country, school and college never push us to make a good habit. Students in America, they were pushed to write many essays, but they were asked to make simple essays likes about their dreams, about family, about their experience.

Some great books are made with a simple plot. They didn’t have to make something complicated to read. They made easy reading books so we could finish it in a day. They made simple stories, but theirs become a best seller in international. Wow…

“From a simple step to another great step.”

First, I thought that to be fluent in English I should try to write a serious essay. But, I know that’s a wrong idea. To be a native, I should learn like a baby learns.

Continue reading

I never know if someone could stay and change the way I do. I rarely involved my feelings when choosing something. I didn’t think how people might feel or people might see. But I know I have to see something from a different perspective.

We don’t have to say anything we want or we have to say. We have to wait and thinking how they feel at first.

Mati itu Mudah

Ketika mengikuti salah satu materi prakoas, saya dan teman-teman ditantang untuk menahan nafas selama 60 detik. Peserta diminta untuk berdiri. Jika sudah tidak tahan menahan nafas, peserta boleh duduk. Tentu saja satu persatu peserta berguguran. Hanya beberapa orang yang masih bertahan. Tentu saja orang-orang yang duduk begitu merasa “tersiksa” hingga saat bernafas kembali, tarikannya amat kuat dan dibarengi dengan kelegaan yang luar biasa.

“Tidak bernafas dalam satu menit saja rasanya tidak enak bukan?” Tanya seorang konsulen yang menjadi pengisi materi tersebut.

Mudah sekali untuk mati.

Continue reading