Mati itu Mudah

Ketika mengikuti salah satu materi prakoas, saya dan teman-teman ditantang untuk menahan nafas selama 60 detik. Peserta diminta untuk berdiri. Jika sudah tidak tahan menahan nafas, peserta boleh duduk. Tentu saja satu persatu peserta berguguran. Hanya beberapa orang yang masih bertahan. Tentu saja orang-orang yang duduk begitu merasa “tersiksa” hingga saat bernafas kembali, tarikannya amat kuat dan dibarengi dengan kelegaan yang luar biasa.

“Tidak bernafas dalam satu menit saja rasanya tidak enak bukan?” Tanya seorang konsulen yang menjadi pengisi materi tersebut.

Mudah sekali untuk mati.

Ketika seseorang kekurangan oksigen akibat gangguan mekanik (pembekapan, tersumbat benda asing, pencekikan, penjeratan, atau akibat gantung diri), rendahnya kadar oksigen dalam darah dan tingginya kadar karbondioksida akan merangsang bagian otak yang menjadi pusat pernafasan sehingga menyebabkan peningkatan frekuensi nafas, percepatan nadi, peningkatan tekanan darah, dan juga menyebabkan pucat pada muka dan juga tangan.

Peningkatan karbondioksida selanjutnya akan merangsang system syaraf pusat, sehingga akan menyebabkan kejang, pelebaran pupil mata, serta penurunan denyut jantung dan tekanan darah. Setelah itu, terjadi penurunan kerja dari pusat nafas hingga nafas terhenti, kesadaranpun mulai menurun. Pada fase akhir, terjadi kelumpuhan pusat pernafasan secara menyeluruh.

Yang menakjubkan, keseluruhan gejala yang disebabkan oleh gangguan mekanik hingga menyebabkan kematian tersebut hanya berlangsung 4-5 menit.

Perlu waktu 4-5 menit hingga seseorang dapat meninggal akibat kekurangan oksigen.

Mati itu begitu mudah.

Kapan saja seseorang bisa mengalami kemungkinan untuk tidak lagi hidup di dunia. Setiap hari terjadi kecelakaan lalu lintas. Kita bisa saja menjadi salah satu korbannya, entah ketika kita sedang megendarai kendaraan sendiri atau ketika menjadi penumpang kendaraan umum. Bahkan kali ini kecelakaan pesawat terjadi hingga jenazahnya pun tidak dapat ditemukan sama sekali.

Mati itu begitu mudah.

Kita bisa saja tertabrak ketika sedang menyebrang jalan atau semudah mati akibat makanan masuk ke saluran nafas hingga menyebabkan kematian.

Mati itu begitu mudah.

Lima menit sungguh begitu berarti.

Lalu, mengapa kita tetap diizinkan hidup hingga saat ini? Padahal dalam waktu sekejap nyawa bisa saja dicabut.

Mati itu mudah. Setiap hari seseorang memiliki kemungkinan untuk mati, entah pada empat menit yang keberapa nyawa seseorang akhirnya direnggut , entah ketika empat menit ia sedang belajar menuntut ilmu, atau ketika empat menit berikutnya ia sedang duduk santai ongkang-ongkang kaki.

Mati itu mudah. Sebuah bukti nyata atas kekuasaan Sang Pencipta untuk membuat makhluk ciptaanNya masih dapat bernafas hingga saat ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s