Enjoy The Phase

If you want it, you got it. You just got to believe. Believe in yourself. – Lenny Kravitz

“Semoga menyenangkan koasnya Ca!” oknum A.

Dan bener aja ternyata koas itu menyenangkan. Walaupun awal-awal cukup membuat stres karena koas segitu gabutnya. Hahaha. Sampe bingung mau ngapain. Terkadang bisa ada dua waktu buat bobo siang segala. Ckckck.. Dua hari ini juga liburan di rumah ga ngapa-ngapain. Biasanya ada aja yang harus dibaca supaya ga cengo kalo lagi perseptoran. Dua hari ini bener-bener santai. Baru dipake baca-baca paling pas hari minggu malem. Huehehe.

Selamat datang di jebakan batman!!!

Waktu yang tersedia di koas itu sangat dinamis, membuat mahasiswa bingung dan terjebak memang. Banyak waktu kosong namun koas hanya bisa berkeliaran dekat-dekat dengan RSHS. Koas juga harus waspada dengan panggilang mendadak dari perseptor atau dari LO. Jadwalnya juga sangat dinamis. Terutama jika mendapat perseptor yang rajin hingga waktu pulang jam setengah empat dipangkas hingga jam lima sore. Gagal sudah semua rencana sore itu. Nananana… Maka dari itu, koas memang harus sabar dan jeli memanfaatkan waktu.

Setiap stase, punya kesibukan yang berbeda-beda. Beberapa stase tidak memiliki jadwal jaga malam. Jadi sorenya bisa digunakan untuk berbagai kegiatan yang kita mau. Mau olahraga mangga, mau dipake belajar mangga. Tapi sayangnya saya sendiri masih terlena hingga lupa berolahraga. Aaaaa tidak bisa dibiarkan ini.

Tapi suka sih dengan gaya belajar koas ini. Karena nilainya ga pure dari ujian. Kegiatan sehari-hari juga ada nilainya. Ga kaya S.Ked yang penilaiannya lebih kejam. Hehe. Apalagi saya tipe belajarnya kinestetis. Jadi seru aja ga harus duduk berjam-jam mendengarkan lecture atau apapun itu lah. Perseptoran juga mirip-mirip tutorial sebenanrnya. Bedanya, masing-masing sudah mengisi kepalanya terlebih dahulu, jadi diskusinya lebih efektif tidak segaring waktu jaman S.Ked. Entahlah, rasanya saya selalu dapat kelompok yang ambisius, yang bilang belum belajar tapi udah baca textbook. Pffft… Tapi syukurlah jadi nambah ilmunya juga. Yeaay…

Sekarang memang harus lebih serius. Terserahlah ya mau dibilang ambis atau apa. Yang jelas, sekarang setiap orang harus mengisi amunisi sebanyak mungkin sebelum nanti akan berperang sendirian. Kalau misalnya malas-malasan pas koas, yang rugi ya diri sendiri. Karena nanti di lapangan bisa saja kita hanya seorang diri yang harus menangani pasien dan bertanggung jawab seluruhnya.

Terkadang saya takut karena belum punya banyak ilmu. Banyak juga orang yang menuntut saya untuk memiliki kemampuan seperti seorang yang profesional. Ya awalnya sih saya minder, tapi sekarang saya lebih nerimo aja, toh emang saya masih abal-abal juga kan. Saya sadar ko belum bisa apa-apa, pelajaran juga lupa-lupa. Tapi inilah kesempatan saya untuk salah. Untuk try and trial sebelum akhirnya benar-benar terjun ke lapangan. Kalau saya masih bodoh ya sekarang lah waktunya saya bodoh dan harus belajar lebih baik lagi. Bahkan saya juga tidak bisa berbuat bodoh di depan orang tua saya yang semuanya adalah orang kesehatan. Hemeeehhh

Betapa beruntungnya masih memiliki pendengar setia. Yang mendengarkan kebodohan saya, kedong-dongan saya yang luar biasa. Hehe.. Tapi penerimaan itu lah yang membuat saya tidak akan menyerah dan akan lebih semangat lagi. Terima kasih udah bikin saya ga banyak ngeluh dan lebih tegar menghadapi koas ini. Hehehe..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s