Sebuah Sejarah, Sebuah Titik Balik

Tahun 2010 adalah titik balik dari kemalasan saya. Bermula ketika teringat obrolan aki pada saat saya kelas 3 SMP dan gagal masuk SMA 2,  “kamu tuh pinter, tapi buat apa datang ke tempat les kalau di rumah tidak dipelajari lagi.”kata Aki.

Tulisan ini didedikasikan untuk mama, untuk Aki, untuk bu Kuswati. Mereka orang-orang hebat yang telah “menegur” dan membuat saya sadar.

Kalau diingat-ingat lagi, mama begitu baik sampai-sampai mengalokasikan dana yang cukup besar untuk memasukkan saya ke berbagai tempat les.

TK – SD

(non akademik)

Ketika kelas dua sekolah dasar, saya mulai mengikuti les mental aritmatika sampai kelas enam. Pada saat yang sama, saya mengikuti les bahasa inggris beberapa bulan saja karena Miss Irene, guru saya saat itu harus kuliah ke luar negeri.

Lucunya, karena orang tua saya bosan (miris) anaknya menari dindin badindin sejak TK hingga kelas empat SD, kelas lima saya mulai belajar menari, yang pertama di sanggar tari, kemudian pindah privat pada seorang pengajar tari yang sudah pernah pentas di luar negeri. Widiiihh~ saya belajar dua atau tiga jenis tari jaipong. Barulah saat mendekati ujian kelas 6 mama mendaftarkan saya les privat a.k.a bimbel.

(akademik)

Saya tidak pernah mengerjakan PR, tidak pernah belajar di rumah. Jika diberi instruksi untuk belajar malah pura-pura membaca buku lalu tertidur dengan wajah tertutup oleh buku. Di sekolah, selalu selamat dalam perlajaran bahasa indonesia karena senang membaca buku cerita dan matematika karena modal ikut les aritmatika. hehe. Dan yang penting kedua pelajaran itu ga perlu banyak belajar. Asal mengerti intinya, yang lain pasti bisa.

SMP – SMA

Saat kelas 2 SMP, saya kembali mengikuti les bahasa inggris sampai kelas satu SMA. Tetapi karena tidak pernah dipakai, tidak pernah dipahami baik-baik, tidak dilatih, dan tidak pernah dipelajari lagi setelah keluar kelas, jadilah bahasa inggris tetap abal-abal. lalala~

Begitupun dengan akademik, ikut bimbel dari kelas kelas 3 SMP sampai kelas 3 SMA. tapi ketika guru sedang menjelaskan, pikiran saya lebih banyak jalan-jalan. Pulang ke rumah biasanya sudah lelah jadi tidak mengulang pelajaran. Hasilnya : tettoottt.. dodolnya, karena ketika SMA hanya terfokus mempelajari apa yang ada di snmptn, di kelas jadi skip sekali. hahaha.  ujian nasional aja super tegang gara-gara soalnya dasar-dasar gitu, sedangkan soal snmptn kan njelimet dan banyak triknya. Tapi ya dari situ saya sadar selama ini hanya belajar apa yang ada di atas pohon dan lupa ada batang dan akar di bawahnya.

Keledai jatuh dua kali, lama-lama jadi kedelai.

1. Tidak diterima SMA 2 Bandung bahkan SMA 1 Bandung
2. Gagal masuk fk negeri tahun 2010


Titik Balik

Tahun 2010 adalah titik balik dari kemalasan saya. Bermula ketika teringat obrolan aki pada saat saya kelas 3 SMP dan gagal masuk SMA 2,  “kamu tuh pinter, tapi buat apa datang ke tempat les kalau di rumah tidak dipelajari lagi.”kata Aki.

Jelas-jelas wejangan aki itu benar. Tapi tetap saja cucunya ini keras kepala dan tidak mendengarkan. Ditambah, ketika kelas dua SMA, wali kelas saya, bu Kus, memanggil saya ke depan kelas.
le : (wah dipanggil nih. gara-gara bikin tugas nebeng nama doang).
bu Kus : Kamu kenapa sih? ngasal sekali orangnya.
le : (cuma bisa diem)
bu Kus : Kamu ini sebenarnya bisa tapi malas. Harusnya kamu itu kuliahnya ke ITB, ke kedokteran. Ibu sudah bilang sama papa kamu. kamu tuh ada kemampuan tapi ga ada niat.

Ya waktu itu sih cuek-cuek saja mendengar komentar beliau. Tapi ketika gagal masuk FK, barulah saya sadar. “ngapain aja selama ini? kenapa saya lempeng-lempeng doang ga pernah mau peduli sama pelajaran?”

Gitu deh, saya dulunya adalah anak yang datang ke sekolah, tapi pikirannya tidak di sekolah. anak yang di rumahnya lebih banyak main dan tidak pernah belajar. Baguuus!!! bshsnajsvcafakwo!!!!!

Ok fine. Saya sadar betul dimana kesalahan saya.

1. Pikiran saya jalan-jalan ketika sedang di ruang belajar
2. Saya sendiri tidak membuka diri dan mencoba mengerti ketika sedang belajar, jadi ya pelajaran hanya numpang lewat saja
3. saya tidak pernah mengulang kembali pelajaran di luar kelas

Saat tidak lulus FK saya banyak merenung dan menyadari apa yang salah dan apa yang seharusnya dilakukan. Jadilah akhirnya saya mengatur waktu untuk mulai mempelajari semua pelajaran yang diujiankan di SNMPTN dari awal, dari dasar. Karena ketika kita mengerti dari dasar, mau dijungkir balikkan pasti kita akan bisa. Yang penting itu memiliki basic yang baik. Alhamdulillah, lulus FK Unpad via SNMPTN..

Jalan masih membentang panjang, ini hanya permulaan. Selamat datang di kehidupan yang sebenarnya! 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s