Dua Cerita dari Poli Psikiatri

Cerita Satu

Tidak akan ada orang yang menyangka jika seorang wanita cantik nan elegan ini datang ke psikiater, alias dokter jiwa. Karena penasaran akhirnya saya ikut mendengarkan konsultasi antara beliau dengan dokter Ade.

Sebut saja wanita ini adalah Bu Mawar, Ibu memang karena sudah menikah, dan sudah menjadi Ibu dari dua orang anak. Suami beliau adalah seorang polisi. Saat ini Bu Mawar sedang menjalani kehidupan sebagai mahasiswi sekaligus sebagai seorang ibu rumah tangga.

“Ada keluhan apa Bu Mawar?”Tanya dokter Ade.

“Saya tidak bisa tidur dok.” Jawabnya. Dapat terlihat raut wajahnya yang sangat kusut, nampak sedih dan juga kelelahan.

“Sudah berapa lama ibu tidak bisa tidur? Apa ibu sulit memulai tidur atau sering terbangun ketika tidur?”

“Saya sulit memulai tidur sudah dalam satu bulan ini.”

Bu Mawar juga merasa lemah dan mudah lelah. Beliau merasa sedih terus menerus sepanjang hari. Setelah beberapa saat, akhirnya Bu Mawar menceritakan kisahnya yang bisa dibilang cukup dramatis. Beliau mengaku sudah tidak tahan dengan pernikahan yang dijalankan. Saat ini beliau juga tidak mengurus anaknya, sehingga anak-anak lebih banyak dirawat oleh pembantu. Apa yang membuat Bu Mawar begitu tidak bahagia dengan pernikahannya? Jahatkah suaminya? Ternyata bukan itu masalahnya.

Bu Mawar menikah ketika baru saja lulus sekolah menengah. Tentu saja beliau tidak sempat kuliah karena langsung dijodohkan oleh orang tua. Karena beliau ingin menghormati orang tua, makanya beliau menuruti keinginan mereka.

“Saya merasa tertekan, karena saat itu saya begitu muda dan memiliki tanggung jawab yang sangat besar. Saya juga akhirnya mencoba kuliah, sudah mencoba ke dua universitas namun merasa bosan hingga akhirnya keluar di semester pertama. Saat ini saya juga sedang kuliah, namun masih mandek di skripsi.” Tambah Bu Mawar.

Bu Mawar merasa tidak nyaman sejak awal menikah. Padahal kini anak beliau yang paling besar sudah berusia 10 tahun. Artinya, sudah sebelas tahun ini beliau memendam perasaannya hingga akhirnya beliau mengalami depresi. Bu Mawar tidak kuat menceritakan masalahnya hingga menangis di dalam ruangan.

Sulit memang untuk menangani masalah beliau, karena masalahnya sebenarnya ada pada beliau sendiri. Sudah empat kali beliau datang ke dokter psikiater yang berbeda namun tetap kembali dan kejadian yang sama terulang kembali.

Sebenarnya, Bu Mawar akan terus mengalami masalah yang sama jika beliau hanya datang ke psikiater lalu meminum obat yang diberikan. Karena, penyebab dari depresi yang dialami beliau belum diselesaikan.

Masalah dalam diri Bu Mawar adalah :

  1. Beliau tidak siap dengan pernikahan
  2. Beliau tidak mengkomunikasikan kesulitannya pada suami (karena suami sibuk), dan juga pda keluarga (karena merasa takut)

Intinya, jika ingin mengembalikan kondisi Bu Mawar menjadi lebih baik, beliau harus turut serta membawa suaminya. Tentu saja agar suaminya tahu sebenarnya apa yang dirasakan oleh Bu Mawar.

Miris sekali melihat kondisi beliau. Masih muda, cantik, namun hidupnya tidak bahagia. Beliau merasa jika pernikahan ini membuatnya tidak bisa kuliah dan memiliki karir. Sungguh drama sekali. Intinya memang, menikahlah ketika sudah siap. Kedewasaan bukan hanya dilihat dari umur tapi memang dari mentalnya. Sudah siapkah seseorang yang asalnya sendiri, bisa sesuka hati sendiri kemudian harus mengurus orang lain, harus mengurus anak-anak dan segala tek-tek bengek rumah tangga?

Sedih sekali. Padahal beliau sudah memiliki anak. Namun kedewasaannya masih tertinggal pada saat usianya belasan tahun. Saya sendiri tidak tahu bagaimana kelanjutan cerita beliau karena harus segera bimbingan. Yang jelas, jika seseorang mengalami masalah yang berkaitan dalam rumah tangga, peyelesaiannya juga harus melibatkan kedua pasangan. Mereka yang tahu masalahnya, mereka juga yang tahu bagaimana menyelesaikan masalahnya, bukan hanya dengan obat-obatan dan juga psikiater.

 

Cerita Dua

Pasien saya berikutnya adalah seorang pria yang mengeluhkan sakit perut dan cegukan yang sudah terasa selama 6 bulan. Sudah lebih dari 10 dokter ia kunjungi, dokter spesialis penyakit dalam, super spesialis gastro, bahkan berbagai pengobatan alternative juga tidak menyembuhkan penyakitnya. Ini adalah kali ketiga ia mengalami sakit yang sama. Bahkan pada saat 2010 sakitnya dirasakan hingga satu tahun.

Pasien datang ke poli jiwa dengan rujukan yang berasal dari poli gastro. Hasil pemeriksaan fisik dan juga lab beliau menunjukkan hasil yang baik. Tidak ada kelainan pada hasil endoskopi beliau. Biasanya, jika tidak ditemukan masalah dalam fisik, penyebab gejala pasien dapat berasal dari perasaan atau masalah yang pasien pendam.

Ada apa dengan pasien ini?

Sebut saja Bapak Jajang. Usianya kini sudah 41 tahun, masing single. Tiga kaka beliau, serta dua adik beliau sudah menikah. Lalu kini adiknya yang bungsu berencana untuk menikah pada tahun ini. Pak Jajang ini orangnya memang pendiam, sehingga keluarga tidak pernah mendengar masalah yang dialami beliau. Pak Jajang ini orangnya pemalu, jarang sekali mengikuti kegiatan rapat RT atau acara kumpul kaluarga. Tentu saja beliau malas karena selalu datang pertanyaan tentang jodoh kepada beliau.

Adik beliau tidak pernah tahu apakah beliau memiliki kehendak atau keinginan untuk menikah. Beliau juga terlihat tidak pernah dekat dengan lawan jenis.

Dokter Neljun dengan sangat halus menanyakan apa yang sedang dipikirkan atau diinginkan oleh beliau sehingga beliau menjadi risau? Tidak perlu banyak menunggu beliau langsung menceritakan keinginan terbesar yang beliau rasakan, yaitu ingin segera berkeluarga. Selama ini beliau tidak pernah menceritakan keinginannya kepada siapapun. :”)

Dokter Neljun memotivasi pasien agar tidak kehilangan semangat karena masalah beliau adalah karena beliau terus diam dan tidak mencari ataupun minta dicarikan. Setiap orang diciptakan berpasangan bukan? Pengobatan Pak Jajang ini akan diberikan pengobatan dan juga psikoterapi. Dan yang paling penting adalah, Pak Jajang mendapatkan dukungan dari keluarga agar beliau dapat kembali sehat dan juga dapat beraktivitas kembali seperti semula.

 

Satu pasien tidak ingin menikah, yang satu ingin menikah, ada pula pasien yang tidak jadi menikah hingga mengalami depresi berat yang membuatnya memiliki niat untuk bunuh diri. Dramatis sekali memang stase Jiwa ini.

Namun ada hikmah yang bisa saya ambil..

Menikahlah ketika memang sudah merasa siap, baik fisik, mental, finansial, dan juga spiritual

Tidak perlu terburu-buru, tapi jangan menunggu terlalu lama

Jodoh itu tentu tidak akan kunjung tiba jika tidak diusahakan. Minimal dapat berusaha dengan mencari kenalan dari teman, tetangga, atau saudara

Hehehe.. peace love and gaul

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s