Pelajaran Berharga dari Stase Jiwa

Stase Jiwa adalah stase yang sangat menyenangkan. Ilmunya memang jauh berbeda dengan neurologi yang begitu “ilmiah”. Ilmu jiwa atau psikiatri ini benar-benar “special”, unik, dan luar biasa di luar nalar. Hahaha.. Sulit sekali bagi saya untuk mempelajari dengan logika. Tapi memang ilmu kejiwaan ini akan membawa kita kepada sisi lain yang ada pada manusia, sesuatu yang abstrak pada awalnya, tetapi begitu fundamental.

Seseorang dikatakan sehat apabila berada pada kondisi sejahtera secara fisik, mental atau jiwa, sosial, spiritual, dan produktif secara sosial ekonomi.
Kuliah dengan Prof Tuti rasanya adalah kuliah paling berkesan sepanjang hidup saya. Beliau adalah orang yang mengajarkan saya apa pentingnya belajar atau bertemu dengan seorang expert. Mungkin benar kita bisa mempelajari sebuah materi dari buku bacaan atau dari internet, tetapi kita belajar “ruhnya” pada saat kuliah. Merinding sekali saya. Prof Tuti saat itu memberikan materi tentang Doctor-Patient Realtionship. Tapi rasanya saya mendapatkan ilmu yang sangat jauh, bukan hanya mendengarkan slide yang bisa dibaca sendiri di rumah.

Hargailah jiwa setiap pasien. termasuk jiwa pribadi kalian. (Prof Tuti)

Di stase jiwa saya belajar untuk menghargai jiwa pribadi saya sendiri. Tiga orang guru saya mengatakan hal yang sama, baik itu pembimbing saya dokter Santi, Prof Tuti, ataupun dokter Neljun. Mereka selalu menegaskan agar ada ilmu yang dibawa setelah kita keluar dari stase jiwa. Minimal, kita menjadi orang yang dapat menghargai jiwa setiap orang, termasuk jiwa kita sendiri. Inilah yang membedakan karakter setiap dokter atau setiap orang. Orang yang sehat jiwanya tentu akan memperlakukan orang lain dengan baik. Tentu saja saya memanfaatkan kesempatan untuk bisa berkonsultasi dengan dokter jiwa. Saya mencoba tes kepribadian juga. Sangat menarik dan membuat saya lebih berkaca.

Saya memang orang yang kaku, dan tidak pandai bergaul. Apalagi karena saya terlalu kaku saya menjadi mudah marah dengan keadaan yang tidak sesuai dengan keinginan. I should be more flexible of course. “Kasian dong anak kamu nanti. Kalo ibunya marah-marah terus. You should change that bad personality.”

Saya orangnya terlalu hitam atau putih. Sebelumnya dipikiran saya hanya ada suka atau tidak suka. Jarang sekali saya berada di tengah-tengah. Sekarang saya belajar menjadi orang yang lebih santai, lebih toleransi, dan tentu saja lebih fleksibel. Saya tidak mau marah karena hal-hal kecil. Misalnya saja, saya sadar teman saya sering terlambat ketika kita akan pergi bersama. Makanya, untuk urusan jalan-jalan, saya belajar untuk santai. Tapi untuk urusan kuliah, saya berusaha untuk datang tepat waktu. 

Tidak selamanya kita harus memilih hitam atau putih. Untuk itu Tuhan menciptakan abu-abu. (dr Neljun)

Belajarlah dengan hati. (Prof Tuti)

Aduh Prof.. Speechless..
Merindiiing… walaupun demotivasi ketika stase jiwa tapi saya begitu mendapatkan “sesuatu” untuk bekal saya menjadi dokter. Sekarang saya memandang belajar bukan hanya sebagai beban karena menghadapi ujian saja, tetapi karena belajar adalah kewajiban, karena kelak saya harus membawa banyak bekal sebagai seorang dokter.

Bermanfaatlah dalam hidup kalian. (Prof Tuti)

Duh Prof.. saya tidak tahu kata-kata apa lagi yang harus saya ucapka. Setuju sekali dengan apa yang diucapkan oleh Prof. Ingin sekali saya dapat memberikan manfaat dalam hidup. Minimal untuk orang-orang di sekitar saya dulu. :’)

Jadilah orang yang lebih banyak mendengarkan. (Prof Tuti)

Itulah mengapa seseorang diciptakan dengan dua telinga dan satu buah mulut. Sungguh menenangkan jika orang lain dapat mendengarkan masalah yang sedang kita alami. Minimal, dengan mendengarkan kita dapat membuat seseorang lebih lega dan mengurangi beban hidupnya.

HIndarkan kalimat negatif yang keluar dari mulut kita. Apa yang kita ucapkan haruslah bermanfaat. (Prof Tuti)

Berpikir dua kali sebelum kita berbicara kepada orang lain. :”) Malu sekali karena sering bicara terlalu spontan.

“Jadilah orang yang tangguh.” lanjut Prof Tuti.

Apapun kondisi fisik kita, OK!
Apapun kondisi mental kita, Ok!
Apapun kondisi lingkungan atau sosial kita, Ok!

Kita harus bisa menerima kondisi apapun dan tetap berjuang dengan keterbatasan yang ada. Prof Tuti sempat di ICU 3 minggu karena mengalami stroke. Walau dengan keterbatasan yang ada beliau tetap semangat hingga akhirnya bisa berjalan kembali meski sebagian tubuhnya sudah tidak berjalan sempurna.

Kita harus menjadi orang yang bersyukur
Hari demi hari, lakukan dengan sebaik-baiknya
Jangan terlalu memikirkan apa yang ada di depan, hingga tidak memperdulikan hari ini
Lakukan yang terbaik untuk hari ini
Step by step, jalani sebaik-baiknya setiap hal yang sedang dijalani
Lakukan yang terbaik pada setiap fase kehidupan
(Prof Tuti)

Barakallah Prof.. Terima kasih banyak atas ilmu yang telah Prof berikan. Setelah saya membuat planning, sekarang saatnya merealisasikan rencana tersebut satu persatu. Insha Allah saya akan berusaha. Saya akan lebih fokus pada setiap hal yang saya jalani, saya ingin menjadi sebaik-baiknya pembelajar. Saya ingin melakukan yang terbaik pada setiap hal yang saya lakukan. Semoga ilmu yang telah Prof berikan mendapatkan balasan dari Allah S.W.T. Aamiin..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s