Hangatnya Ukhuwah

1432950594685“… Dan Allah mempersatukan hati para hamba yang beriman. Jikapun kau nafkahkan perbendaharaan bumi seluruhnya untuk mengikat hati mereka, takkan bisa kau himpunkan hati mereka. Tetapi Allah-lah yang telah menyatupadukan mereka…” (Q.S Al-Anfaal [8] : 63)

 

Proses Pembelajaran Hidup

Setiap orang memiliki jalan yang berbeda. Saya bersyukur telah ditempa sedemikian rupa.

Sore itu guru saya tidak bisa hadir. Beliau digantikan dengan seorang guru yang sangat talkative, Mrs Y. Saya berada di kelas conversation, di level paling rendah, level 1. Tidak heran, karena saya terlalu malas percuma saja bertahun-tahun les tapi ilmunya tidak dipakai ya hasilnya kosong. Heu.. Jadi saya pikir, selagi masih ada kesempatan, saya ingin kembali belajar. 🙂

Saya berbicara banyak hal dengan Mrs Y. Beliau kaget, baru pertama kali beliau mengajar murid level 1 dengan kemampuan bicara seperti saya. Wah, saya bersyukur sekali. Memang semenjak les saya merasa percaya diri saya meningkat dan saya tidak ragu untuk banyak berbicara meski bahasanya masih belepotan. Saya sadar, belajar di tempat les seminggu dua kali itu sangat tidak cukup. Saya berusaha meluangkan waktu untuk mendengarkan lagu –lagu dalam bahasa Inggris, membaca novel bahasa Inggris, menonton film tanpa subtitle sembari melatih pendegaran saya dan juga mencoba menulis sedikit-sedikit dalam bahasa Inggris. Saya menyelipkan sesi “belajar” saya dalam waktu luang, baik ketika istirahat, sembari menunggu, atau ketika dalam perjalanan menggunakan angkot. Saya merasa bersyukur karena ternyata hal-hal yang saya lakukan sedikit membuahkan hasil. Saya harus belajar dan berusaha lebih giat lagi. 🙂

Percakapan saya dengan Mrs Y saat itu cukup jauh, sampai membahas bagaimana akhirnya saya memilih untuk menunda kuliah satu tahun dan berjuang agar bisa masuk FK Unpad. Mrs Y berkata, “ Sudah lama saya mengajar, tetapi baru kali ini saya bertemu murid kamu.”

“Saya tidak tahu bagaimana proses hingga seseorang yang muda seperti kamu bisa memilih jalan hidupnya sendiri dan tahu apa yang harus dilakukan untuk mendapatkan tujuannya.”lanjut beliau.

Degg.. Saat itu saya sadar, segala proses dalam hidup saya membuat saya menjadi “sekeras” ini. Saat saya tidak diterima di SMA 2 dulu, sedih sekali rasanya tidak bisa mendapatkan apa yang diinginkan. Belum lagi saat itu orang tua bercerai. Rasanya mati rasa sekali. Sekolah SMA pun saya hanya menjalani hari tanpa banyak belajar. Hingga akhirnya saya tidak bisa lulus SNMPTN, rasanya saya menjadi orang yang gagal. Namun saya mencoba mengevaluasi diri. Apa yang salah pada diri saya?

Saya ingat, saya yang dulu adalah orang yang tidak perduli dan tidak dekat dengan keluarga. Saya juga belajar tanpa arah dan tujuan. Saya berdoa kepada Allah untuk memudahkan jalan saya. Dan Alhamdulillah saya mendapatkan hal yang lebih besar dibandingkan dengan lulus SNMPTN. Saya mendapatkan keluarga saya dan juga saya mendapatkan pelajaran dalam hidup. Entahlah sejak itu rasanya pikiran saya menjadi lebih tajam. Jika kita memiliki sebuah tujuan, kita harus tahu hal apa yang diperlukan untuk mencapai tujuan itu. Saya belajar proses untuk mendapatkan sesuatu itu diperlukan usaha dan juga doa.

Saya sadar, terdapat hikmah dibalik orang tua yang sibuk. Karena orang tua terlalu sibuk hampir semua keputusan harus saya buat sendiri, memilih tempat les sendiri, membeli buku sendiri, membeli formulir ujian sendiri, semua saya lakukan sendiri. Saya juga terbiasa untuk pergi seorang diri dan berbelanja seorang diri. Semua hal itu membuat saya menjadi orang yang lebih mandiri.

Setelah mengingat hal itu, saya sadar betapa semua yang terjadi dalam hidup saya sebelumnya menjadikan saya seseorang yang berbeda. Banyak orang yang mengira saya akan gagal, menjadi anak dari orang tua yang bercerai, tidak kuliah pula. Justru saya dapat membuktikan bahwa setiap orang memilki hak untuk menentukan hidupnya sendiri. Apakah kita memilih berjuang untuk berhasil atau hanya diam meratapi hidup?

Tidak bosannya juga saya berterima kasih kepada Aki yang begitu saya kagumi. Mungkin kita setipe, tetapi kata-kata Aki tidak akan pernah saya lupakan. “Belajar itu di rumah, les itu Cuma tambahan aja. Kalau mau pinter pulang les semua pelajaran diulang lagi.”

Alhamdulillah saya memiliki Aki yang sangat hebat. Semoga kelak saya bisa menjadi cucu Aki yang bermanfaat bagi orang lain. Amin..

Pribadi

Setiap orang memiliki kepribadian masing-masing. Ketika saya membaca bagian pertama buku karya Hamka yang berjudul “Pribadi”, saya teringat dengan satu sosok yang membuat saya kagum dengan pribadinya.

Jika Hamka mengatakan, pribadi yang kuat dapat terlihat mungkin hanya dengan memandangnya, saya pikir saya pernah melihatnya.

Entah harus seperti apa saya mendeskripsikan sosok yang satu ini. Yang jelas, melihatnya saja sudah menimbulkan “respect” dari diri saya. Diamnya membuat saya malu karena selama ini saya menyia-nyiakan banyak waktu untuk belajar. Ketika ia mulai berbicara, semakin saya malu karena begitu banyak hal yang sudah ia lakukan sedang saya hanya seoonggok daging pemalas.

Pribadi yang sangat menarik.
Pribadi yang mampu menasehati dengan keteladanannya.
🙂

Hanya Syarat

Kita dididik dari kecil untuk sekolah dan  kuliah di universitas terbaik untuk mendapatkan materi yang nilainya tinggi. Lalu lahirlah sarjana-sarjana minim keterampilan karena mereka tidak tahu jika penghasilan tidak hanya ditentukan melalui tingginya nilai raport atau IPK.

Apalah artinya sekolah SD, jika itu hanya prasyarat masuk SMP?

Apalah artinya sekolah SMP, jika itu pun hanya syarat masuk SMA?

Apalah artinya masuk SMA, jika itu hanya prasyarat masuk kuliah?

Apalah artinya kuliah, jika kuliah itu adalah syarat untuk mendapatkan penghasilan yang tinggi?

Seolah semua pendidikan yang kita tempuh itu hanya untuk mendapatkan uang, mendapatkan uang dari sebuah instansi atau perusahaan maksud saya.
Jika tujuan utamanya adalah uang, mengapa kita hanya diajarkan untuk sekolah, masuk sekolah maksud saya, tanpa diajarkan bagaimana caranya mencari uang? Lalu akhirnya kita tidak berdaya karena yang dimiliki hanya ijazah dengan IPK yang tertera.

A Cup, Kenya Sangana and I

image

I love coffee, but I love the cup more. I wish I could keep it in the display window. Today I tried one of the Starbucks reserve coffees, Kenya Sangana.

It has bright acidity. It tastes like black currant and Assam tea notes because they give some complementary flavors such as fresh citrus, caramelized sugar and dried fruit.

The taste is so funny, but I think I love Indonesian coffee more because some of them has a stronger taste.

By the way, I really hope to save the cup. But my sister touched it after she ate some fried tofu. 😦

Terjebak dalam Zona Nyaman

Suatu hari saya ditanya oleh seorang teman,

“Gimana koas?”

Saya jawab, “Asik ko.”

“Lagi stase apa sekarang? Lagi sibuk-sibuknya ya pasti?” tanyanya lebih lanjut.

“Koas itu santai ko. Apalagi stase-stase besar.” jawab saya.

“Koas itu bukannya susah ya?” tanyanya penasaran.

“Koas itu enak banget malah. Lebih susah dan menderita pas S.Ked. Belajarnya juga ga banyak. Apa yang dibaca bisa diliat langsung di pasien.”

Saat itu teman saya berpikir saya termasuk tipe orang yang ‘baca dikit juga koasnya ngerti’. Padahal saya sadar sebenarnya keingintahuan saya memang rendah, sepertinya.

Koas itu memang menyenangkan, tidak banyak  beban belajar seperti waktu S.ked. Hanya saja, sepertinya saya terlalu berleha-leha. Koas lain mungkin berambisi untuk lulus stase dengan nilai A, bagi saya bisa lulus sudah cukup. Lalu tanpa sengaja saya membuka materi Lentera for Muslimah yang membahas tentang seorang muslimah yang memiliki nilai A hampir di semua stase yang dilewati. Malu sekali rasanya. Bukan karena tidak memiliki nilai A, tapi karena tidak memiliki semangat belajar seperti itu.

Saya ingat ketika belajar untuk SNMPTN dulu, saya mempersiapkan diri sebaik mungkin. Padahal saat ini tanggung jawab saya bukan hanya untuk lulus ujian stase ato lulus dengan gelar dokter saja. Sekarang saya dihadapkan dengan tanggung jawab pasien-pasien yang menggantungkan harapannya untuk saya.

Dunia koas adalah zona nyaman. Rasanya seperti masa SMA, ketika pulang koas langsung nonton TV di rumah, lalu tidur. Waktu membaca biasanya saya lakukan di sela-sela jam koas. Saya bisa tidur nyaman dari pukul 10 sampai pukul 4.30 pagi. Jujur saat ini saya merasa sangat tidak berguna.

Akan menjadi apa saya selanjutnya? Jalan karir apa yang akan saya ambil? Apakah saya akan tetap mempertahankan kemalasan saya yang sangat parah ini?

Malu sekali rasanya. Tapi bisakah jadi menjadi dokter dengan cara belajar yang terlalu santai seperti ini? Jelas saya ragu.

Kapankah saya akan berubah?

Semangat berubah, semangat jadi lebih baik. Berubahlah, segera!

#renungan