Proses Pembelajaran Hidup

Setiap orang memiliki jalan yang berbeda. Saya bersyukur telah ditempa sedemikian rupa.

Sore itu guru saya tidak bisa hadir. Beliau digantikan dengan seorang guru yang sangat talkative, Mrs Y. Saya berada di kelas conversation, di level paling rendah, level 1. Tidak heran, karena saya terlalu malas percuma saja bertahun-tahun les tapi ilmunya tidak dipakai ya hasilnya kosong. Heu.. Jadi saya pikir, selagi masih ada kesempatan, saya ingin kembali belajar. 🙂

Saya berbicara banyak hal dengan Mrs Y. Beliau kaget, baru pertama kali beliau mengajar murid level 1 dengan kemampuan bicara seperti saya. Wah, saya bersyukur sekali. Memang semenjak les saya merasa percaya diri saya meningkat dan saya tidak ragu untuk banyak berbicara meski bahasanya masih belepotan. Saya sadar, belajar di tempat les seminggu dua kali itu sangat tidak cukup. Saya berusaha meluangkan waktu untuk mendengarkan lagu –lagu dalam bahasa Inggris, membaca novel bahasa Inggris, menonton film tanpa subtitle sembari melatih pendegaran saya dan juga mencoba menulis sedikit-sedikit dalam bahasa Inggris. Saya menyelipkan sesi “belajar” saya dalam waktu luang, baik ketika istirahat, sembari menunggu, atau ketika dalam perjalanan menggunakan angkot. Saya merasa bersyukur karena ternyata hal-hal yang saya lakukan sedikit membuahkan hasil. Saya harus belajar dan berusaha lebih giat lagi. 🙂

Percakapan saya dengan Mrs Y saat itu cukup jauh, sampai membahas bagaimana akhirnya saya memilih untuk menunda kuliah satu tahun dan berjuang agar bisa masuk FK Unpad. Mrs Y berkata, “ Sudah lama saya mengajar, tetapi baru kali ini saya bertemu murid kamu.”

“Saya tidak tahu bagaimana proses hingga seseorang yang muda seperti kamu bisa memilih jalan hidupnya sendiri dan tahu apa yang harus dilakukan untuk mendapatkan tujuannya.”lanjut beliau.

Degg.. Saat itu saya sadar, segala proses dalam hidup saya membuat saya menjadi “sekeras” ini. Saat saya tidak diterima di SMA 2 dulu, sedih sekali rasanya tidak bisa mendapatkan apa yang diinginkan. Belum lagi saat itu orang tua bercerai. Rasanya mati rasa sekali. Sekolah SMA pun saya hanya menjalani hari tanpa banyak belajar. Hingga akhirnya saya tidak bisa lulus SNMPTN, rasanya saya menjadi orang yang gagal. Namun saya mencoba mengevaluasi diri. Apa yang salah pada diri saya?

Saya ingat, saya yang dulu adalah orang yang tidak perduli dan tidak dekat dengan keluarga. Saya juga belajar tanpa arah dan tujuan. Saya berdoa kepada Allah untuk memudahkan jalan saya. Dan Alhamdulillah saya mendapatkan hal yang lebih besar dibandingkan dengan lulus SNMPTN. Saya mendapatkan keluarga saya dan juga saya mendapatkan pelajaran dalam hidup. Entahlah sejak itu rasanya pikiran saya menjadi lebih tajam. Jika kita memiliki sebuah tujuan, kita harus tahu hal apa yang diperlukan untuk mencapai tujuan itu. Saya belajar proses untuk mendapatkan sesuatu itu diperlukan usaha dan juga doa.

Saya sadar, terdapat hikmah dibalik orang tua yang sibuk. Karena orang tua terlalu sibuk hampir semua keputusan harus saya buat sendiri, memilih tempat les sendiri, membeli buku sendiri, membeli formulir ujian sendiri, semua saya lakukan sendiri. Saya juga terbiasa untuk pergi seorang diri dan berbelanja seorang diri. Semua hal itu membuat saya menjadi orang yang lebih mandiri.

Setelah mengingat hal itu, saya sadar betapa semua yang terjadi dalam hidup saya sebelumnya menjadikan saya seseorang yang berbeda. Banyak orang yang mengira saya akan gagal, menjadi anak dari orang tua yang bercerai, tidak kuliah pula. Justru saya dapat membuktikan bahwa setiap orang memilki hak untuk menentukan hidupnya sendiri. Apakah kita memilih berjuang untuk berhasil atau hanya diam meratapi hidup?

Tidak bosannya juga saya berterima kasih kepada Aki yang begitu saya kagumi. Mungkin kita setipe, tetapi kata-kata Aki tidak akan pernah saya lupakan. “Belajar itu di rumah, les itu Cuma tambahan aja. Kalau mau pinter pulang les semua pelajaran diulang lagi.”

Alhamdulillah saya memiliki Aki yang sangat hebat. Semoga kelak saya bisa menjadi cucu Aki yang bermanfaat bagi orang lain. Amin..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s