Oase

Ramadhan kali ini kurasa memiliki nuansa berbeda. Aku merasa Allah begitu dekat dan berbicara melalui berbagai hal. Amalan yaumiku masih belum baik, usahaku kurang maksimal. Tapi aku bersyukur karena ramadhan kali ini sangat mengubah hidupku yang sebelumnya banyak menjalankan rutinitas.

Setiap hal jika sudah menjadi rutinitas itu akan membuat pekerjaan yang dilakukan kehilangan “ruh”nya. (HG, Konsulen Radiologi)

Kegiatan koas sebelumnya bagai sayur tanpa garam. Aku bangun di pagi hari, memasak air panas karena udara Lembang itu dingin. Brrrr.. Setelah sarapan, pagi-pagi aku langsung berangkat. Waktu di angkot satu jam menjadi kesempatanku untuk belajar karena malam hari aku terlalu lelah untuk membaca. Di rumah sakit, biasanya antusiasku untuk belajar tidak begitu banyak, sehingga aku kurang memanfaatkan waktu dan kesempatan yang ada.

Tapi ramadhan kali ini aku mendapatkan pencerahan, sebuah penyegar dari kehidupan koas yang selama ini hambar tawar. Bermula dari pertanyaan yang membingungkanku tentang, akan menjadi apakah aku nanti? Karena sekedar jawaban ingin menjadi dokter sudah terlalu dingin tak bernafas.

Allah membimbingku dan menjawab dengan sebuah buku yang dulu pernah kubeli namun belum pernah kubaca, Zero to Hero karya Ust Sholihin Abu Izzudin. Banyak hal yang ku garisbawahi dalam bukunya. Banyak ayat dari kalam Allah yang sampai ke dalam hatiku. Banyak pula teladan dari orang-orang muslim yang memiliki karya yang hebat yang menginspirasi.

Buku tersebut mengingatkanku banyak hal:
1. Bagaimana interaksiku dengan Allah selama ini?
2. Bagaimana interaksiku dengan Alquran?
3. Bagaimana interaksiku dengan orang tua?
4. Akan menjadi muslimah seperti apakah aku nanti?
5. Bagaimanakah aku akan memanfaatkan waktu yang telah diberikan Allah?
6. Apa yang akan kulakukan agar menjadi “siap” setiap saat Allah akan memanggilku kembali ke sisi-Nya?
7. Bagaimana aku harus meningkatkan totalitas agar kelak bisa berprestasi di dalam profesi yang akan dijalani?

Aku bersyukur karena ramadhan ini begitu indah. Meski aku malu karena aku banyak terlena pada pertengahan ramadhan. Tapi ramadhan kali ini aku senang sekali karena ramadhan memberikanku nikmat dalam mengatur waktu.

Meski ramadhan, aku harus tetap koas, bangun pagi hari dan pulang sore hari. Ramadhan kali ini adalah oase dari hidupku yang “kering”. Setelah sahur aku memang harus bersiap berangkat ke rumah sakit, sehingga ramadhan ini memberikan pencerahan bahwa ‘ini loh Dung, cara memanfaatkan waktu meski kamu harus koas’.

Aku amat sangat bersyukur. Aku jadi tahu bagaimana menghadapi jadwal-jadwal koas yang akan menjebakku terperangkap dalam rutinitas. Rutinitas itu hantu.

Alhamdulillah.. Terima kasih ya Allah.. Atas ramadhan yang indah.

Terima kasih karena Engkau banyak mengingatkanku untuk memberikan “ruh” dalam setiap hal yang dilakukan. Engkau juga mengingatkanku atas pentingnya kualitas.

Bukan tentang berapa banyak tilawah harianku, tapi berapa banyak ayat yang masuk ke dalam hatiku?

Bukan hanya tentang memenuhi target amalan harian, tapi tentang seberapa banyak aku bisa melakukan amalan dari hati, dengan ikhlas, hanya untuk Allah?

Karena yang terpenting adalah meningkatkan kualitas interaksiku dengan Allah.
Karena yang terpenting sebenarnya adalah  membersamai Alquran dalam setiap nafas.

Maka nikmat mana yang kau dustakan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s