Pertemuan

Pertemuan kita itu takdir. Selama ini aku hanya melihatnya di media sosial. Ah betapa irinya. Kita sama-sama satu angkatan, dia sudah pergi ke luar negeri dan keliling Indonesia, aku masih terjebak di Jatinangor dengan beban studi tiada akhir.

Aku masih ingat kita pernah sama-sama begadang sampai malam hingga menginap di tempat bimbel. Aku masih ingat kita yang selama ini orang asing menjadi lebih deket. Aku masih ingat saat kita shalat berjamaah dan memohon agar Allah memberikan kita kelulusan SNMPTN. Sebelumnya belajarku biasa-biasa saja, tapi melihatmu begadang begitu, aku merasa harus lebih total dalam usahaku.

Jujur aku tidak tahu, jika keinginan kamu untuk kuliah di ITB hanya untuk memuaskan gengsimu yang tidak lulus kedokteran UGM. Aku tidak tahu bahwa kamu masih ingin berhenti bahkan hingga detik ini, dari kampus yang selama ini menurutku lebih baik dan cocok untukku.

Pertemuan kita itu takdir. Siapa yang menyangka kita bisa saling mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi? Kamu melihat aku begitu tertekan kuliah di kedokteran, padahal aku sendiri yang memutuskan untuk masuk kedokteran. Katamu, bagaimana di kedokteran?

AKU:

Aku bilang, dulu aku memilih kedokteran tidak dengan pertimbangan yang matang. Setelah aku masuk, justru aku baru tahu banyak hal yang menarik di luar sana. Setiap kali ada anak SMA yang memintaku saran, aku selalu bilang, “Coba pertimbangkan baik-baik. Cari tahu lagi jurusan apa saja yang ada.”

Kamu tahu, aku masuk kedokteran hanya untuk memuaskan kekecewaanku yang gagal lulus SMA tujuanku. Hanya itu. Sungguh niat yang bodoh. Lalu ketika aku masuk, disana aku merasa linglung karena semua orang seolah menekanku untuk mengabdi. Padahal aku tidak mengerti. Tujuanku hampa. Aku tidak akan melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan tujuanku. Dan semua yang aku lakukan tidak pernah maksimal.

KAMU:

Kamu bilang, apa yang aku lihat di media sosial tidak seperti yang kubayangkan. Kamu memang pergi ke Cina untul pelatihan dan bahkan ditawari beasiswa oleh Prof. Lalu kamu menolaknya karena kamu belum yakin dengan apa yang kamu lakukan.

Kamu pulang ke Indonesia, lalu mendapat wedjangan dari dosenmu yang selalu mendengarkan keluh kesahmu. “Kamu itu berada disini sudah ada yang mengarahkan. Walau manusia telah memiliki niat, tetap saja Allah yang mengarahkan langkah kita.”

Lalu kamu ingat betapa mudahnya kamu lulus ITB. Betapa mudahnya kamu mendapat beasiswa. Ketika nilaimu hancurpun kamu bisa membalik keadaan.

Kamu ingat bagaimana kesempatan-kesempatan yang kamu miliki untuk mendapatkan proyek. Kamu ingat betapa semua yang kamu lakukan selalu membawamu kembali ke jurusanmu. Kamu bilang, aku memang terlahir untuk menjadi anak lapangan. Aku tidak selembut itu untuk menjadi dokter.

AKU :

Aku menggarisbawahi, “Apa yang kita lakukan itu sudah ada yang mengarahkan.”

Ah, kamu tahu? Berulangkali aku berpikir untuk pindah jurusan, tetapi tidak pernah kulakukan. Akhirnya aku bertahan dan menjadi seperti saat ini. Sekarang semua seolah lebih jelas. Aku jadi ingat, belajarku selama ini tidak pernah maksimal, tetapi Allah selalu memberikanku nilai yang baik dengan mudah. Aku jadi ingat betapa lancarnya semua proses yang kujalani hingga akhirnya bisa lulus.

Jika memang bukan takdirku di kedokteran, seharusnya aku tidak berada disini sejak lama.

Dan pertemuanku denganmu adalah takdir dari Allah, agar kita selalu bersyukur atas karuniaNya, atas segala rizki dan kemudahan yang selama ini Allah berikan. Lalu saat ini semua menjadi jelas. Kita sudah terlalu lama melihat kebelakang. Kita sendiri yang membuat prestasi kita “tertahan” oleh ego kita sendiri.

Ah malam yang baik, malam ganjil ramadhan ke 29. Sungguh malam yang 1000x lebih baik yang memberikan kita kesadaran atas rasa penasaran kita. Akhir pembicaraan kita sama-sama berjanji, ketika kita bertemu kelak, kita telah menjadi orang yang total dalam profesi kita, berprestasi dalam profesi yang dijalani, dan kita akan saling menceritakan betapa menarik dan menyenangkannya profesi yang dijalani.

Sampai bertemu lagi, kamu. šŸ™‚

image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s