IQRA

Setiap orang bisa dan harus berubah.

Percayalah kita akan menemukan jawaban, jika kita berusaha mencarinya.

Saya selalu bertanya, apa passion saya sebenarnya? Apa profesi yang tepat untuk saya?

Pertanyaan ini mengajarkan saya dua hal:
1. Agar saya selalu menanyakan untuk orang-orang terdekat saya, apa pilihan studi yang mereka ambil sudah dipikirkan baik-baik? Apakah mereka sudah tahu betul dunianya seperti apa?
2. Agar saya belajar mempertanggungjawabkan konsekuensi dari pilihan yang saya ambil.

Dahulu saya adalah anak bodoh, yang nemilih jurusan tanpa pertimbangan yang benar-benar matang. Saya sebatas tahu, saya ingin masuk kedokteran, maka saya harus belajar. Tapi saya tidak tahu jika masuk kedokteran itu artinya saya harus belajar setiap saat, sepanjang hidup saya. Hal yang membuat saya berulang kali menyerah adalah, karena:

1. Ilmu yang saya pelajari mudah sekali menguap
2. Saya takut menjadi dokter yang tidak amanah
3. Saya merasa diri saya tidak layak menjadi dokter

Kelak jika saya punya anak, saya harus membimbing dan menggali sejauh apa dia mengerti tentang pilihannya.

Berbagai perasaan beradu menjadi satu. Awal masuk kedokteran, rasanya senang sekali kelak bisa menjadi dokter. Lalu, setelah masuk ke dunia profesi, saya bertanya pada diri, “Bisakah saya menjadi dokter? Bisakah saya melayani dan bermanfaat dengan ilmu yang saya miliki?”

Halo ilmu.. Dimanakah kamu? Hal ini membuat saya kehilangan seluruh kepercayaan diri yang biasa saya miliki. 

Akhirnya saya menemukan jawabannya .

A. Manusia diwajibkan untuk mencari ilmu dan beramal

Imam Syafi’i mengatakan, ilmu itu tidak akan didapat kecuali dengan enam perkara:
1. Kecerdasan
2. Antusias (terhadap ilmu)
3. Kesungguhan
4. Harta (bekal)
5. Bergaul dengan guru
6. Waktu yang panjang

Itu artinya, saya sedang diuji apakah saya akan tetap berikhtiar atau tidak? Sejauh ini saya hampir menyerah karena saya tidak sadar ilmu itu didapat dengan waktu yang panjang. Dear syetan, I’m stronger than you fufuuu~

B. Belajar itu sulit, sekolah itu sulit. Ketika sekolah dan belajar menjadi mudah, berarti ada yang salah dengan sistemnya. (dr DF)

Kita juga perlu bergaul dengan guru untuk mendapatkan ilmu. Pertemuan saya dengan dokter DF di stase anestesi adalah pencerah dari suramnya saya memandang masa depan. Cmiw..

He said, “Lamun teu hese lain diajar ngarana.” (Kalau tidak sulit, bukan belajar namanya.)

I see.. Berarti kesulitan yang saya alami termasuk bagian dari proses belajar. #clear

Lalu, mengapa semua rasanya sulit? Mengapa materi itu mudah sekali menguap?

Beliau bilang, “Don’t take things for granted. Iqra! Bacalah!” Tidak perlu dihafal tapi harus dipahami betul-betul dengan analogi yang membuat kita mengerti.

Neurologi (ilmu syaraf) adalah ilmu yang paling mental keluar dari otak saya. Tapi, ketika stase anestesi, saya harus tahu pengaruh obat yang diberikan pada sistem syaraf manusia. Salah satunya, dimanakah obat aneatesi X bekerja? Apakah di syaraf simpatis atau parasimpatis? 10 minggu belajar neurologi tidak ada ilmu yang menempel sedikitpun. Tapi dengan proyeksi yang lebih aplikatif, otak saya mau berusaha lebih untuk menyederhanakan materi dan membuatnya mudah diterima oleh nalar.

So, Iqra.. Bacalah. Pahami bukan hanya sekedar menerima apa yang dimakan. Kunyah, lalu telan dan rasakan ia sampai jatuh ke dalam lambung.

C. Suruh siapa masuk kedokteran?

Dokter DF again:

Apakah manusia boleh lupa? Boleh

Apakah dokter boleh lupa?? Krik krik.. Jelas tidak boleh

Apakah dokter itu manusia? Bukan.. Dokter bukan manusia. Karena itu dokter tidak boleh lupa.

Lalu, suruh siapa masuk kedokteran?

Satu hal yang saya akhirnya mengerti. Bukan saatnya lagi menyesali keputusan yang telah dibuat. Karena, sebagai orang dewasa kita harus bertanggung jawab dengan pilihan kita.

Sekarang saya sadar betul dan telah ikhlas menerima jika kedokteran adalah bidang yang sulit. Tapi, apakah kita memilih garis datar pada EKG (asistol/meninggal) atau kita memilih garis up and down (manusia hidup)?

Tentu kita lebih senang melihat up and down dalam EKG. Up and down itulah yang membuat kita hidup. Kesulitan dan kemudahan itulah yang membuat kita hidup.

Takdir saya di kedokteran. Betapa banyak sekali kemudahan yang Allah berikan dan membuat saya bertahan di dunia ini. Semua kesulitan itu bermula dari kepala. Hanya diri sendiri yang bisa mengubahnya.

Dan, pertemuan dengan dokter DF benar-benar mengubah “ruh” saya seutuhnya.

Dulu, banyak hal yang membuat saya tidak nyaman menjadi seorang dokter muda a.k.a dek koas. Tapi sekarang saya merasa dunia koas itu begitu menyenangkan. Dulu saya merasa stres karena saya merasa tidak mendapatkan apa yang saya inginkan ketika koas. Entah itu ilmu atau tindakan. Tetapi stase anestesi mengajarkan kepada saya, “apa yang bisa saya berikan sebagai koas?”

D. Tentang syukur
Stase-stase sebelum ini sempat membuat saya frustasi karena semua selalu tentang “bersaing” untuk mendapatkan pasien atau tindakan. Tapi stase anestesi ini benar-benar membuat saya sadar bahwa semua bukan tentang segala hal yang harus kita dapat, tapi tentang apa yang bisa kita berikan untuk orang lain?

Di ruang operasi, saya belajar tentang memberikan apa yang kita bisa. Entah dengan membantu pasien masuk ke ruangan OK atau ke ruang pemulihan, entah dengan membantu monitoring pasien, atau sesederhana menjelaskan kepada keluarga pasien apa yang harus mereka lakukan?

Saya merasa sangat bahagia. Saya merasa lega karena telah melepas segala tekanan yang saya berikan pada diri sendiri.

Semua tidak melulu soal mendapat tindakan. Iqra, bacalah. Kita bisa belajar dengan melihat dunia di sekitar kita.

Residen anestesi mengajari saya tentang:
– Memberikan penjelasan kepada pasien dan keluarga sebelum tindakan yang diberikan, tanpa formalitas, dengan penjelasan yang baik
– Mereka orang-orang mandiri, bukan tuti alias tukang titah. Mereka mengurus pasien sejak pasien datang ke OK, mengambil obat dan alat, mempersiapkan obat dan alat, hingga mengantarkan pasien ke ruang pemulihan.

Meski itu adalah tuntutan profesi mereka, tapi saya melihat dengan kepala sendiri, bagaimana mereka bertanggung jawab saat merawat dan menangani pasien? Entah itu senior atau junior, mereka bekerja sebagai tim untuk pasien.

Sebagai koas anestesi, disana saya pun melihat, mereka begitu maksimal dengan peran mereka. Kitapun, harus maksimal dengan apa yang bisa diberikan.

Sejak saat itu saya enjoy ketika jaga tugas saya menjadi front office yang menerima telepon dan memberikan penjelasan pada keluarga pasien. Saya pun enjoy ketika jaga kita menjadi kurir untuk mengambil alat dan obat. Karena, disana saya belajar bekerja sebagai team. Kita bersama adalah team yang bekerja di OK, dan kita harus saling mengisi agar pasien ditangani dengan baik.

Cuma di anes, lu ngerasa rela ga tidur saat jaga karena lu ngeliat sendiri residen ga tidur jagain pasien, tanpa ngeluh.

E. Ada enak dan tidaknya (dr DF)

Semua tentang bagaimana cara kita memandang suatu hal?

Iqra, bacalah.

Ilmu itu milik Allah.. Berdoalah pada yang memiliki ilmu.

Pastikan kita membaca, iqra.

Dear Idung, saatnya berhenti berpikir tentang apa yang bisa didapatkan? Mulailah berpikir apa yang bisa diberikan?

Belajarlah bukan hanya dari textbook, tapi juga dari lingkungan sekitar.

Are you ready to fight?

Saatnya memberikan yang terbaik dari diri, dari hati.

Wassalam..

#takehomemessage:
Yakinlah bahwa kita bisa memberikan manfaat dari profesi yang kita jalani. ­čÖé

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s