Kelak

Kukira ini reaksi hormonal. Saat aku mulai menyadari, bahwa kelak aku tidak akan lagi memikirkan diri sendiri.

Kelak aku tidak bisa bangun sesukaku, tanpa perhitungan.
Kelak aku tidak bisa memasak sesukaku, kapanpun aku mau.
Kelak aku pun tidak bisa sesuka hati menumpuk cucian tanpa dicuci atau meninggalkan kamar dalam kondisi berantakan.
Kelak, semua yang kubaca dalam teori harus diterapkan dalam keseharian.

Kelak, aku tidak boleh mengeluarkan semua yang ada di kepala sesuka hati.
Mungkin aku harus meredam segala emosi dan mengubahnya menjadi energi untuk mencuci atau membersihkan rumah.

Apa salahnya jika ini adalah reaksi hormonal? Sebagai perempuan, tubuhku dibanjiri hormon estrogen, yang bisa membuat diriku yang egois dan pemarah berubah melunak ketika sedang membahas anak-anak atau urusan rumah tangga.

Fitrah perempuan adalah menyayangi. Sadar atau tidak, perempuan yang manja sekalipun bisa berubah menjadi seseorang yang mandiri jika itu demi kebaikan keluarga.

Dan aku merasa, di tengah segala ketidaksiapanku, aku akan terus belajar dan berusaha. Aku tidak akan berhenti. Aku tidak perduli meski semua orang berkata, “Sudahlah, masih banyak waktu.” Namun aku akan terus mencicil langkah-langkah. Karena aku ingin menjadi orang yang menyenangkan dan membahagiakan ia yang mau berjuang bersamaku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s