Sharing (Taubat) Koas Anestesi

Semoga tulisan ini bisa bermanfaat untuk orang-orang yang sudah kecemplung basah di kedokteran atau sedang berusaha keluar tapi kemungkinan untuk keluar dalam waktu dekat tidak bisa, dan untuk orang-orang yang mempertanyakan takdirnya di kedokteran. Bagi profesi di luar kedokteran, semoga bisa menjadi renungan, agar kita mampu melihat sudut lain mengenai profesi yang sedang dijalani. Agar kita tidak melulu mengeluh betapa tidak sesuainya jurusan dengan passion yang kita miliki. Kita akan bicara tentang menjadi seseorang yang dewasa, yang mempertanggungjawabkan setiap keputusan yang diambil. Dan kita tidak lagi menjadi orang yang hanya mampu berbicara dan mengeluh, tapi kita mencoba membuat tindakan-tindakan dan perubahan-perubahan yang lebih bermakna.

Di stase anestesi, saya lebih banyak mengamati.
Stase anestesi, mengubah pandangan saya 180 derajat mengenai profesi kedokteran. Anda tahu, jika pola pikir kita, isi kepala kita, dapat mengubah seluruh fisiologis tubuh kita dan membuat kita bisa berubah dan melakukan hal-hal mustahil?

Saya tidak mau menjadi orang munafik. Berulang kali saya berpikir untuk menyerah dan meninggalkan profesi ini. Tapi, stase anestesi memberikan saya kaca mata baru yang membuat saya memiliki mindset yang berbeda.

1. Kita dokter, bukan tukang AC

Saya dulu benci jika orang-orang menuntut saya untuk bisa menjawab semua pertanyaan mereka mengenai kedokteran. Lalu, preseptor saya yang luar binasa, dokter Dedi Fitri Yadi bilang:

– Kamu dokter apa tukang AC? Kira-kira orang bakal nanya tentang AC ke kamu ga? Kalo mereka nanya-nanya ke kamu tentang AC kamu bakal jawab apa? Pasti bakal bilang, “lah tanya aja ke tukang AC. Mana saya tahu.”

– Kalo orang nanya-nanya kedokteran ke kamu, pasti kamu harus tahu dong, segala hal tentang kedokteran. Karena kamu dokter, pasti mereka nanyanya ke kamu. Seperti kamu pasti bakal nanya detail tentang AC ke tukang AC, mereka pun bakal nanya hal detail tentang kedokteran ke kamu, dan kamu harus tahu segala hal.

Clear? Yes. Kamu akan jadi dokter, wajar dong kalau kamu harus tahu segalanya. Selama ini mindset saya salah. Saya berusaha keras belajar tanpa benar-benar memahami, tanpa “ruh”, tanpa curiosity.

Saya akan jadi dokter, saya harus tahu segala hal tentang kedokteran. OK!! 😀

2. Menjadi dokter yang bertanggung jawab

“Menjadi dokter itu, tidak boleh salah.”

“Jangan sampai kamu nanti salah memberikan obat kepada pasien.” dokter DF

Manusia tempatnya khilaf. Tapi dokter bukan manusia kan?

Belajarlah sungguh-sungguh.

“Aduh tadi salah..” (TIDAK BOLEH)

Belajarlah sungguh-sungguh sekarang. Karena ketika sudah menjadi dokter, kesalahan-kesalahan kita akan menjebloskan kita ke penjara. Dan sadar atau tidak, kesalahan kita dan seluruh perbuatan kita akan dipertanggungjawankan di depan Allah Yang Maha Kuasa.

3. Poker face

“Dok, mengapa residen anestesi tidak seperti residen departemen lainnya? Mereka bekerja dengan tenang, mereka tidak marah-marah pada junior dan juga koas, padahal mereka selalu bekerja di bawah tekanan?” tanya saya pada dokter DF.

Beliau bilang, apa yang akan terjadi jika dokter anestesi terlihat panik saat membius? Pasti dokter bedah dan yang lainnya akan ikut panik kan? Itulah mengapa kita selalu mengenakan topeng. Meski kita sedang lelah atau sedang panik sekalipun, kita harus tetap terlihat tenang. Pendidikan anestesi akan membuat kami menjadi orang yang selalu mengenakan topeng, lalu kami lama-lama akan berubah menjadi orang yang dingin.

Residensi anestesi itu sangat melelahkan. Mereka selalu hidup dalam tekanan yang tidak bisa mereka tunjukkan. Itulah mengapa mereka sebenarnya sering bermain musik dan bernyanyi tidak senada, berteriak seperti orang gila, atau nongkrong di cafe ngopi-ngopi dan ngobrol sampai lewat tengah malam, atau mereka futsal, itulah cara mereka melepaskan berbagai tekanan yang dirasakan.

Pekerjaan anestesi itu sangat melelahkan. Ketika sedang jaga, operasi bisa berlangsung hingga pagi hari, dan mereka harus memonitor pasien setiap saat. Apalagi residen semester awal, pekerjaannya lebih banyak lagi.

Sebagai koas, saya melihat dokter anestesi begitu tenang dan ramah. Nada tinggi pun keluar hanya jika ada hal-hal yang perlu diperhatikan, terkait dengan keselamatan pasien. Mereka terlihat saat tenang, meski sebenarnya mereka dalam keadaan sangat panik.

Saya belajar, agar kita tidak meluapkan emosi kita pada orang lain yang tidak bersalah. Saya belajar agar kita bisa menguasai emosi kita sendiri. Saya belajar agar kita tidak mengorbankan perasaan orang lain untuk lelah dan kepanikan yang kita rasakan. Saya belajar bahwa risiko harus kita tanggung sendiri. Kita harus memanage diri kita sebaik-baiknya. Benar juga, bukan tanggung jawab saya dokter lelah karena residensi dokter. Dokter yang memilih itu kan?

Ini juga menjadi pelajaran bagi saya, bagaimana saya harus memanage rasa lelah dan stres yang dirasakan? Karena saya kelak harus menjaga perasaan keluarga saya di rumah, juga rekan-rekan kerja saya. Saya harus bertanggung jawab untuk pilihan saya sendiri.

4. Belajarlah saat ini, belajarlah ilmu-ilmu siap pakai

Saya selalu berpikir, saya akan ikut PTT agar saya memiliki ilmu lebih dan menjadi dokter yang penuh skill. Selama ini, saya koas santai-santai ae, kan nanti belajar lagi pas lulus jadi dokter. (Prrrrrtttttt, dokter DF menunjukkan gaya memotong leher)

Saat saya lulus, semua orang hanya tahu jika saya telah lulus menjadi dokter. Mereka tahu, dokter yang telah lulus artinya sudah bisa memeriksa dengan baik, sudah memiliki ilmu dan juga keahlian.

Saya pun awalnya ragu, saya butuh PTT sepertinya. Saya merasa ilmu saya ketika S.ked itu tidak cukup, dan kemampuan saya ketika koas pun kopong. Saya terlalu banyak mencari pembenaran.

Ketika lulus dan praktek, saya harus bisa menangani pasien. Walau perlu konsul, saya harus memiliki arahan saya harus konsul pada siapa. Jangan menunda-nunda. Belajarlah ilmu siap pakai ketika koas. Karena ketika lulus, kita pun harus menjadi dokter siap pakai.

5. Tidak mereka status, tanpa gawat residen

Saya suka sekali dengan lingkungan kerja anestesi. Tidak banyak kepura-puraan disana. Jika pasien hanya memerlukan anestesi lokal, mereka tidak akan melakukan bius umum. Jika pasien tidak memerlukan intubasi, mereka tidak akan melakukan itu. Jika pasien belum siap naik karena belum puasa 6 jam penuh, mereka tidak mau memulai operasi.

Mereka menolak pasien-pasien yang memang tidak siap untuk dibius. Mereka siap memulangan pasien kembali ke ruangan untuk memperbaiki kondisi terlebih dahulu. Mereka sangat bertanggung jawab dan memperdulikan pasien mereka. Mereka mungkin dingin, tetapi memiliki kehangatan hati.

6. Memanusiakan manusia

Mereka bicara dengan baik kepada pasien. Mereka memperlakukan pasien dengan baik saat pasien dalam keadaan sadar atau dalam keadaan tidak sadar. Mereka benar-benar memanusiakan manusia.

Ketika stase lain, yang saya pikirkan adalah tindakan, tindakan, dan tindakan. Hingga saya kesal sendiri karena seringnya saya tidak mendapatkan apa-apa. Bekerja dengan residen anestesi membuat saya belajar arti melayani. Saya belajar dari mulai menerima pasien, mengantar pasien ke tempat tidur, mempersiapkan alat-alat, menjelaskan tindakan apa yang akan dilakukan, bahkan belajar cara memindahkan pasien dengan sangat hati-hati ketika pasien selesai operasi dalam kondisi setengah sadar.

Saya merasa apa yang dikerjakan begitu menyenangkan. Saya senang meskipun hanya hal-hal kecil yang bisa saya lakukan. Mungkin orang akan berpikir, “gue jadi babu cuma ngambilin alat atau obat doang”. Dude, betapa bersyukurnya kita masih bisa menyumbangkan tenaga, menyumbangkan langkah kita atau tangan kita untuk menulis saat residen teman kita bekerja sedang berkonsentrasi memantau kondisi pasien.

Di anes kita belajar bertanggung jawab, bukan hanya menjadi “tukang” yang hanya haus tindakan. Ingin memberikan tindakan pada pasien, artinya kita harus melayani pasien sejak datang hingga pasien dibawa ke ruang pemulihan. Di OK, dokter dan perawat tidak banyak. Senang sekali bisa membantu memindahkan pasien, mendorong bed atau mencari bed agar bisa membawa pasien ke ruang pemulihan, atau mendorong bed ke ruang pemulihan. Senang sekali bisa bekerja bersama sebagai tim dengan mereka. Meski sebagai koas kopong baru tenaga yang bisa saya berikan.


7. Belajar menyeluruh, tanpa terlihat mengeluh

Selama ini, saya hanya antusias ketika mempelajari materi yang saya suka. Orang mungkin memandang dokter anestesi itu mudah, kerjanya tinggal membius dan memberikan obat saja. Tapi ternyata dokter anestesi itu harus tahu segala hal. Mereka harus tahu anatomi dan fisiologi sejak bayi dalam kandungan sampai orang tua yang sudah keriput. Mereka juga harus tahu patofisiologi berbagai penyakit dan juga tentang farmakologi. Karena orang dengan penyakit A, belum tentu bisa dibius sama seperti penyakit B.

Hal yang sama juga perlu dimengerti oleh dokter umum. Semua pasien dari berbagai kelompok usia dengan beraneka ragam penyakit akan datang pada dokter umum. Meski memang tidak semua detail mampu dihafal, tetapi hal-hal inti harus dimengerti dan tidak boleh dilupakan.

8. Kamu tidak bisa menunggu nanti untuk menjadi bisa

“Bisa infus ga dek?” kata salah satu CR anestesi ketika jaga di ruang resusitasi. “Nanti habis lulus langsung jaga klinik dong ya?”

Di dalam hati saya mengatakan, pokoknya mau PTT dulu, pengen belajar banyak dulu. Saya merasa tidak percaya diri untuk bisa langsung praktek ketika lulus.

Omongan dokter Budi memang benar, program sarjana dan program profesi itu ada, agar kita bisa menjadi dokter siap pakai. Bagaimanapun caranya, kita harus mampu bekerja sebagai dokter ketika lulus nanti.

Lalu lagi-lagi saya harus mengoreksi isi kepala saya.

#pokoknya gimanapun caranya, saya harus punya ilmu supaya ketika lulus saya siap bekerja
#pokoknya gimanapun caranya skill saya harus mampu digunakan ketika lulus nanti

Jangan terus menerus membuat pembenaran untuk menunda.

9. Kita harus memilih kelak kita akan menjadi dokter seperti apa

Pikirkan baik-baik akan menjadi dokter apa. Hampir semua departemen di seluruh dunia memiliki karakter dan lingkungan kerja yang sama. Ketika kita memilih suatu spesialisasi, bersiaplah karena kita akan menjadi bagiannya dan kita akan menjadi seperti mereka. Pikirkan baik-baik. (dr DF)

10. Dokter anes dan isi kepalanya

Pemikiran saya berubah setelah dibimbing oleh dokter DF dan bekerja di lingkungan anestesi Unpad. Ternyata, residen pun mengalami hal yang sama dengan saya. Kata dokter Arto, salah satu residen anes, beliau bisa berpikir seperti saat ini setelah dicerahkan pikirannya oleh salah satu konsulen anes. Semua konsulen begitu, wajar saja residennya juga memiliki pola pikir yang baik.

Anestesi itu memperlajari manusia secara utuh. Anestesi mengajarkan agar kelak saya bisa menjadi dokter yang baik, bukan hanya sebagai tukang.

11. Dokter anes dengan tuhan, recharge diri, tentang hidup mati

Seperti halnya hp akan mati jika tidak direcharge. Kita pun harus merecharge diri. Allah lah yang menyembuhkan, yang memiliki kehendak. Kita manusia harus berusaha sebaik-baiknya.

Saya selalu ingat, dokter anestesi meminta pasien dan atau keluarga pasien berdoa terlebih dahulu. Karena entah mereka bisa bangun kembali atau akan tertidur selama-lamanya.

12. Bekerja menggunakan hati

Sedingin apapun dokter anestesi. Mereka bekerja menggunakan hati. Saya melihat sendiri interaksi dan perlakuan dari residen anestesi. Saya pun, harus bisa menjadi dokter yang melayani dengan hati. Hati lah yang membedakan manusia dengan robot.

13. Belajar dari lingkungan

Iqra, bacalah. Tidak semua hal bisa dipelajari dari buku. Banyak hal yang bisa dipelajari ketika kita memperhatikan hal-hal disekitar kita.

14. Bagaimana agar belajar menjadi menyenangkan

Mengapa dokter DF itu berbeda dari yang lain? Mengapa beliau membuat kedokteran terdengar menyenangkan? Mengapa beliau sangat menikmati profesinya? Mengapa saat beliau mengajar atau sedang melakukan tindakan pada pasien beliau begitu memiliki “ruh”?

Iqra, bacalah. Beliau selalu berusaha melakukan segala cara agar membuatnya mengerti. Membaca buku saja tidak membuatnya paham, maka beliau akan memaksa membuat analogi dan lainnya, yang membuatnya tidak perlu menghafal, tapi membuatnya mengerti. Beliau bahkan pernah memelihara ular, agar dapat membedakan gigitan ular berbisa dan tidak. Beliau pun melakukan eksperimen dengan memasukkan tangannya yang dilapisi pelindung, untuk melihat bentuk dari gigitan ular. Beliau juga melihat perilaku ular saat memangsa, apakah ia mematuk dengan cepat atau ia melahap perlahan lalu meremas tubuh mangsanya?

Iqra, jangan hanya membaca tanpa memahami. Insha Allah cepat lupa, kata dokter DF.

Beliau selalu menyederhanakan hal-hal rumit dengan logika yang dapat dicerna dirinya sendiri.

Selama ini, saya hanya mencoba satu cara: membaca satu kali –> bosan/tidak mengerti/ mengantuk –> tutup buku –> lupa/ menguap/ ingat sebagian

Saya harus dan akan menemukan cara belajar saya sendiri. Yang jelas membaca biasa saja tidak cukup.

Saya bosan dan tidak mau terus menerus menjadi pemalas yang bangga akan kemalasannya. Saya harus berusaha agar saya bisa mengerti apa yang harus saya pelajari.

15. Bicara itu mudah

Berbicara memang mudah. Usaha kita tentu akan berliku, tidak mulus. Tapi kita akan mendapatkan apa yang kita niatkan, apa yang benar-benar kita usahakan.

16. Apakah anda tertarik menjadi bagian dari anestesi?

Ilmunya sangat menarik, lingkungan kerjanya juga cukup menarik. Tapi banyak pertimbangan lain yang harus dipikirkan untuk memilih spesialisasi apa yang akan diambil. Saya tidak mau membeli kucing dalam karung. Saya harus mencoba dan terjun langsung untuk bisa merasakan bagian yang akan saya geluti kelak.

17. Kembali kepada pilihan masing-masing

Ingin menjadi apa? Kembali pada pilihan masing-masing.

Ingin belajar seperti apa? Seberapa dalam? Kembali pada pilihan masing-masing.

Tapi, ketika kita telah memilih suatu bidang untuk digeluti, konsekuensi kita adalah menguasai bidang tersebut. Ketika akhirnya kita memilih untuk pindah haluanpun, bersungguh-sungguhlah dengan pilihan tersebut.

Semoga Allah melindungi dokter-dokter anestesi yang someah. 😥

You rock guys! Idung pamit. Terima kasih untuk semua ilmu yg pernah diajarkan

Idung akan berusaha agar menjadi seorang dokter yang amanah, yang bisa memberikan manfaat untuk orang lain. Meski saat ini Idung masih harus mencari bidang apa yang tepat untuk Idung atau bidang yang benar-benar Idung suka yang akan Idung geluti seumur hidup sampai mati. Yang jelas Idung ga akan pernah berhenti belajar dan berjuang.

Do what you love, and love what you do.

Wassalam, semoga bermanfaat

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s