Ayah

image

Mendadak terlintas, apa jadinya hidup saya tanpa ayah?

Saya baru mengenal Ayah pada usia 17 tahun, ketika akhirnya mama memutuskan untuk menikah dengan ayah.

Entah bagaimana jadinya hidup saya tanpa ayah?

Saya akan kehilangan teman berdiskusi dan berdebat. Mungkin dunia tidak akan ramai dan menyenangkan lagi.

Mendadak saya termenung. Jika tidak ada ayah, mungkin saya tidak akan masuk kedokteran. Mungkin saya tidak akan memiliki rasa percaya diri untuk mencapai segala tujuan. Disaat tidak ada satupun orang yang yakin saya mampu lulus, ayahlah yang selalu mendukung. Ayah yang memberikan dukungan dan kepercayaan.

Disaat kemungkinan lulus menipis, Ayah bilang, tidak apa-apa, masuk kedokteran swasta saja, Ayah dan mama akan menabung.

Saat akhirnya saya lulus, betapa bahagianya bisa datang bersama Ayah mengunjungi kampus. Betapa bahagianya uang tabungan Ayah tidak perlu masuk ke kantong universitas swasta. Senang sekali hari itu pergi diantar ayah.

Entahlah bagaimana jadinya hidup saya tanpa ayah? Ujian-ujian di kedokteran selalu membuat saya frustasi dan down. Saya akan menelepon Ayah lalu menangis terisak. Suara ayah selalu jadi bagian paling menenangkan.

Maaf anak ayah yang perempuan ini bukan seorang penurut.

Ketika ingin meminta izin untuk pergi dengan teman, dibandingkan mendengar kekhawatiran mama yang tiada akhir, saya lebih memilih untuk meminta izin pada ayah. Bicara jujur tanpa sembunyi-sembunyi pada ayah selalu menenangkan.

Entahlah bagaimana jadinya hidup saya tanpa ayah?

Ketika saya beranjak dewasa, kebutuhan untuk berdiskusi begitu meningkat. Ayahlah yang selalu menjadi solusi atau kadang pengingat jika ada pertimbangan yang luput dari pikiran.

Ayah pun selalu bisa dijadikan teman ketika bicara mengenai masa depan, baik mengenai karir ataupun jodoh. Ayah selalu jadi laki-laki paling gentle yang tidak ingin anak perempuannya disakiti laki-laki. Ayah pula lah yang banyak memberikan kisi-kisi mengenai isi pikiran dan bagaimana memperlakukan laki-laki.

Betapa beruntungnya saya memiliki ayah. Ayah selalu menjadi tempat saya bergantung.

Maaf ayah, Icha belum bisa membalas kebaikan ayah. 😦

Betapa beruntungnya.. Memiliki teman yang bisa dipercaya, menjadi teman berdebat, berdiskusi, dan teman tertawa.

Icha baru sadar, baru pertama kali Icha menemukan orang yang benar-benar memahami Icha.. Ayah tahu sekali jalan pikiran Icha, keras kepalanya Icha, dan bagaimana menyikapi berbagai ide Icha yang random.

Bicara dengan ayah selalu melegakan. Jika tidak ada ayah, Icha tidak tahu harus berbicara kepada siapa?

Terima kasih banyak ayah, selalu ada untuk Icha
Terima kasih telah menjadi ayah Icha

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s