Telepati

-Sekilas Waled – komunikasi absurd dengan mamang mie goreng langganan.

Via SMS
Le: Bang, pesen kwetiau ga pedes 1, kwetiau pedes 1, bihun goreng ga pedes  1, bihun goreng pedes 2. Dianter ke asrama.

Beberapa menit kemudian dapet SMS balesan dari bang Tubil. Biasanya doi langsung dateng bawa pesenan gitu.

Bang tubil: gimana

Maksudnya “gimana” apa ya? Oh mungkin bang Tubil ga ngerti alamatnya dimana?

Le: Bang, pesen kwetiau ga pedes 1, kwetiau pedes 1, bihun goreng ga pedes  1, bihun goreng pedes 2. Dianter ke asrama waled yang baru.

Bang tubil: kwitiw

Innalillahi.. Kwitiw apa? Becanda ini sih.. Terus tiba-tiba Jas, temen sekamar, reflex bilang, “Oh mungkin kwetiaunya habis. Yaudah tadi yang mesen kwetiau ganti mau pesan apa?”.

Akhirnya saya langsung sms lagi buat mesen mie goreng karena kwetiaunya kayanya habis. Dan bener aja.. Ga lama bang Tubil dateng bawa pesenan kita. Tapi yang bener aja, masa kita harus nebak-nebak maksud SMS bang Tubil apa? Hahaha. Ya kali harus pake bahasa kalbu atau pake telepati. Hahahaa.. Syukurlah ada Jas yang sudah sangat mengerti bang Tubil.

Cita – Cita Sederhana

image

Cita-cita kita mungkin sederhana…

Aku membayangkan jika kelak setelah shalat malam kita tidak bisa tidur menunggu shalat subuh. Mungkin saat itu aku sedang menanak nasi, merendam pakaian dan membersihkan rumah. Saat adzan berkumandang, kamu mulai sibuk membangunkan kakak untuk shalat berjamaah di mesjid, sedangkan aku dan adik shalat berjamaah di rumah.

Aku suka sekali melihatmu sibuk mondar-mandir menyiapkan anak-anak sekolah, karena aku masih memasak untuk menyiapkan bekal makan siang. Sesekali aku melihatmu kesal, tapi kamu tetap berusaha sabar dan membantu anak-anak dengan gemas.

Cita-citaku mungkin sederhana, tetapi kini aku tahu ternyata kita memiliki cita-cita besar. Aku ingin memastikan kamu dan anak-anak di rumah dengan nyaman, sedangkan kamu ingin memastikan aku dan anak-anak aman dan terjamin kesejahteraannya. Lalu kita ingin menghidupkan malam-malam dengan tilawah al-quran. Karena malam hari, kitalah guru mengaji anak-anak di rumah.

Terima kasih telah merahasiakan semua kelelahan kita di depan anak-anak. Karena mendidik mereka cita-cita kita bersama kan? Lalu kita akan memetik hasilnya suatu saat nanti, insha Allah.

Dan aku kembali ke dunia nyata, kembali bertanya mengenai berapa lembar tilawah hari ini? Sudah rapihkah kamar dan isi lemari? Sudahkah menjaga kesehatan dan menjaga apa yang dimakan? Karena kelak bukan hanya tentang kita, iya kan?

Jejaring Waled

Diberi wedjangan oleh dr. Tatan, spesialis anak yang dulu juga punya target nikah pas koas. #toss

Bertemu Prof Isi, bidan senior yang punya dua anak hafidzah, yang berpesan, “niatkan mencari ilmu karena Allah dan berdoalah agar anak-anak nanti berilmu dan bisa hafidz quran”.

#mantepgan

Jejaringnya bikin baper, kan?

Ingin Bicara

Aku melihatmu begitu berbeda dari biasanya. Kamu lebih banyak bicara. Kamu lebih berusaha memberikan senyum dibandingkan biasanya.

Aku tahu apa yang kau rasa, sepertinya aku pun sama. Kita sama-sama tahu.

Kamu lebih banyak bicara.
Tidak biasanya kamu memberikanku semangat untuk hal-hal yang tidak penting. Aku tahu kamu hanya ingin lebih banyak bicara.

Apakah kamu tahu, aku pun menginginkan hal yang sama sejak lama?

Aku, kamu, keangkuhan yang kita miliki kelak akan sampai pada puncak sebelum ia jadi isak.

Aku tahu kita sama-sama saling merindukan.

Aku tahu kita butuh lebih banyak bicara.
Saat ini kita saling menunggu dengan harap.

Sempit yang Melapangkan

Saat paling sempit yang melapangkan.

Ketika kita tidak mampu melakukan apa-apa lagi, syukurlah ternyata itu tanda jika Allah sedang merindukan doa-doa kita.

Awalnya mungkin menyesakkan, tetapi apa yang belum kita miliki, ternyata mengingatkan kita dengan apa yang sudah kita miliki?

Syukurlah kita masih memiliki orang tua yang lengkap.
Syukurlah kita masih memiliki keluarga yang perduli pada kita.

Saat-saat menyesakkan adalah sebuah penyegaran, agar kita tidak lupa untuk mengurai senyum bagi keluarga dan teman-teman terdekat.

Syukurlah karena Allah memberikan momen untuk lebih dekat denganNya. Syukurlah Allah membuka lebar pintu interaksi denganNya. Syukurlah karena sesungguhnya hidup kita hanya untuk beribadah kepadaNya. Syukurlah jika sebuah sesak berganti menjadi nafas-nafas yang segar, yang lebih tegar.

Karena bersama kesulitan ada kemudahan. Insha Allah..

Untuk Anak Ibu

image

Untuk Anak Perempuan Ibu

Ibu akan menceritakan, sebuah kisah yang bisa menjadi salah satu pertimbangan kalian dalam memilih jodoh. Teman Ibu bilang, bapak sudah menyukai Ibu sejak lama. Tapi Ibu acuh, tidak begitu tertarik. Lalu bapak menjadi sosok yang begitu bernilai di mata Ibu, saat ia datang bukan hanya mengobral kata, tetapi bapak datang mengajukan diri untuk menemani Ibu dalam perjalanan dunia akhirat.

Memilih bapak tidak lantas membuat hidup Ibu menjadi lebih mudah. Namun, sejak awal banyak hal yang merubah Ibu. Mengenal bapak membuat Ibu tidak konsentrasi meski sudah berusaha berdoa aga ditenangkan hatinya. Tapi bapak begitu melekat, hingga Ibu takut perasaan Ibu pada bapak membuat Allah murka. Semakin lama mengenal bapak, semakin Ibu mengenal dan mendekat pada Allah.

Memilih bapak, membuat hidup Ibu menjadi seperti menaiki roller coaster. Banyak masalah-masalah yang akhirnya muncul. Namun, saat Ibu melihat sorot mata bapak yang teduh, saat Ibu melihat bapak yang tidak banyak bicara tapi tetap berdiri setia mendukung, Ibu akhirnya menemukan alasan, mengapa harus bersama bapak? Karena meski hidup Ibu menjadi lebih menegangkan, Ibu menemukan ketenangan, sakinah, bersama bapak.