Sekolah Formal(itas)

Sekolah formal selama ini rasanya hanya formalitas. Saya datang ke sekolah, mencontek jika ada PR, mengerjakan soal yang saya suka, mengobrol di kelas, jajan, lalu kembali ke rumah. Begitu rutinitas setiap hari.

Oke, mungkin sekolah tidak semuanya buruk. Ada beberapa hal yang saya suka:

1. Ketika saya diajarkan etika oleh bu guru yang cantik ketika TK
2. Ketika pak Radi, guru SD saya mengajarkan tentang “tinja”
3. Ketika bu Tutih membuat saya suka bahasa Indonesia, membuat saya banyak membaca dongeng di kelas, lalu menjual buku fotokopi cerita 1001 malam
4. Ketika SMA, pak Amir tidak pernah memaki jika nilai Kimia tidak bagus. Beliau hanya berusaha mengajarkan ilmu yang beliau miliki, membuat kita terbiasa mencatat hingga Kimia menjadi lebih mudah diterima

Sekolah itu tidak menyenangkan. Karena kita harus menghafal semua. Jarang sekali kita diminta untuk menghayati atau memahami.

Iri sekali, ketika menonton TV, mengapa anak-anak di luar negeri begitu antusias ketika belajar tentang dinosaurus atau tentang planet di langit? Atau mengapa anak SD di pelosok Jawa tahu mengapa bagian depan pesawat dibuat lonjong?

Lalu, apa sebenarnya tujuan sekolah?
– Sekolah SD agar lulus dan bisa masuk SMP
– Lulus SMP agar bisa masuk SMA
– Lulus SMA agar bisa kuliah
– Lulus Kuliah agar bisa bekerja
– Bekerja agar bisa mapan
– Mapan agar bisa menikah

Begitulah kira-kira.

Sebagai seorang anak (yang saat ini berusia 20++) saya menyayangkan banyak waktu yang terbuang karena, tidak pernah saya mendengar jika kita sekolah agar menjadi manusia yang terdidik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s