Nikmat – Sengsara Beda Tipis

image

image

Koas di Waled membuka mata tentang tipisnya perbedaan antara nikmat dan sengsara. Koas Unpad atau residen yang notabene markasnya di RSHS pasti ngerti perbedaan lingkungan dan pritilan yang sangat drastis antara RSHS dan RSUD jejaring. Kalo dari sisi koas, kira-kira gini deh..Cekidot!

Surga sama neraka (RSHS) cuma gimana persepsi

Kamu tau ga apa pekerjaan utama koas?

“Kata kang Pes, pekerjaan utama koas adalah stand by.” Jeremy.

Heaaaaaa… Pekerjaan utama kita-kita ya stand by. Kalo jaga palingan jadi kurir atau observasi TNRS gitu-gitu doang. Ya gitu lah koas. Bahkan dorong pasien dari IGD ke Kenanga aja jadi rebutan. Wkwkwk. Karena nanti bisa mampir beli minum dulu atau duduk ngelurusin kaki.

Surga sama neraka beda-beda tipis.

Sebelum saya jadi koas, saya melihat RSHS adalah sebuah RS yang tidak layak dan sangat menakutkan. Setelah ke daerah, ternyata RSUD itu mengerikan. Jika mau melahirkan disana, saya akan bilang, “masuk lagi dek.. Jangan lahiran disini.” wkwkwk

Ternyata.. RSHS yang selama ini saya pandang sebelah mata itu memiliki standard yang sangat baik, ya jangan dibandingkan dengan RS swasta lah kalau kau guna BPJS. Tapi sebagai rumah sakit negeri, sesungguhnya saya terharu dengan kualitas pelayanan di RSHS.

Di RSHS:
– Penanganan pasien itu sesuai protap, sesuai indikasi. Jadi pasien ditangani dengan sesuai, meminimalkan penanganan yang tidak perlu dan merugikan.

Di RSHS, lau ga akan ngeliat pasien diare dehidrasi derajat ringan diinfus. Lau juga ga akan liat pasiennya dikasih Amox. Ngasih antibiotik sembarangan itu haramm..

– Jelas antara on atau off. Kapan kita steril dan engga itu jelas dan cukup baik. Mencampur obat juga pakai gloves. Tindakan-tindakan juga pakai gloves a.k.a sarung tangan. Aman untuk pasien, aman untuk tenaga kesehatan juga.

Jejaring Oh Jejaring

Dilepas kaya burung
Di jejaring, koas melakukan kegiatan yang biasa dilakukan oleh residen. Di RSHS, koas itu seolah anak-anak yang berbaris paling belakang di barisan ke 10 saat melihat peragaan konsulen tanpa panggung. Kadang suaranya saja tidak terdengar. Hanya bisingnya. Ketika residen melakukan tindakan, kamilah kurir yang menerima pesanan, “Dek ambilin spuit ke depo.. Dek dek dek dek……. ”

Begitulah koas.

Begitu kami ke jejaring, barulah kami mengerti. Oh ini yang dilakukan residen pas di RSHA.. Oh iya waktu itu cara yang bener itu gini.. Oh.. Oh… Oh itu pernah dibahas di RSHS. Oh itu yang waktu itu diajarin dokter Endah.. Ah gila walau bimbingan ga nyampe sejam isinya keluar semua.

Bersyukur bisa belajar si RSHS. Walau pekerjaan utama koas Unpad itu observer, alhamdulillah ilmunya ada yang nyangkut, sehingga ketika di jejaring ilmunya bisa diterapkan.

Saya ga kebayang kalau saya ga di RSHS dulu. Entah ilmu apa yang akan saya bawa.

Salah satu dokter internship asal UNDIP yang saya temui di waled bilang, “Lihat dua kali artinya udah pernah ngelakuin. Jadi yang ketiga langsung coba aja.”

Ketika kami di Jejaring, bismillah..

Minim materi

Ketika di jejaring, bimbingan tidak lebih sering dibandingkan di RSHS. Wa bingung koas-koas disini belajarnya gimana?

Di RSHS, walau terlantar, walau lebih banyak stase mesko, wa bersyukur karena meski terpaksa terkadang kita membuat status atau datang ke poli meski sejam dua jam. Kadang kita datang bimbingan dengan residen meski malas-malasan. Kadang kita berdiri cengo malas melihat residen yang sedang memeriksa pasien. Ah tapi Allah mungkin memang menitipkan amanahnya kepada kami. Bagaimanapun kami berusaha menolak, Allah tetap menyisipkan ilmuNya.

Alhamdulillah ketika bertemu pasien kami berkata dalam hati.. “oh ini…”

Semacam love-hate relationship sama RSHS.

Syukurlah meski hati dan pikiran menolak, mata ternyata merekam semua kejadian di RSHS. Alhamdulillah alhamdulillah..

Idealnya memang:
1/2 di RSHS , 1/2 di Jejaring

Sumpah di jejaring itu tindakan sih oke banget. Cuma memang ilmunya kurang kalau kita ga rajin-rajin luar binasa sih ya.

Di RSHS itu meski kita belajarnya dilepas kaya ayam, kita dipaksa buat belajar sendiri dengan memaksimalkan semua sumber daya. Entah itu dari turunan, dari google, dari buku hitam, apapun diberdayakan. Pendidikan dokter 3.5 tahun tidak menyisakan ingatan tentang ilmu. Menguapppop. Tapi ternyata 3.5 itu pola pikir kami dibentuk. Kami memang cepat lupa, tapi kami dibiasakan agar cepat mencari tahu ketika lupa. Kami juga dibiasakan mencari sumber yang benar  entah dari WHO, depkes, permenkes.. Dll.

Ketika koas, kami dipaksa berpikir DD alias differential diagnosis. DDnya apa dek? DDnya apa? Begitu terus. Dibantai!!!!! Ketika membuat laporan kasus bagian anamnesis selalu menjadi bagian yang paling lama dibahas.

Sebagai dek koas mediocre, awalnya saya sedih karena hanya menjadi ampas sisa perasan. Wkwk. Tapi setelah ke jejaring, syukurlah ternyata koas Unpad diberikan kemampuan untuk merekam meski hanya sekilas melihat. Keterbatasan berlatih skill harus kami asah lagi nanti dengan meningkatkan jam terbang ketika praktek. Keterbatasan di RSHS bagaimanapun caranya harus diakali agar kami tetap bisa menjadi dokter yang qualified.

Dijaga kepalanya dek, jalani meski hanya jadi observer. At least fotokopi bahan manapun yang diperlukan, karna lau ga akan tahu kapan kitab tidak suci itu akan berguna. Gunakan selalu jaringan dengan signal internet minimal 3G, google itu indra kita yang keenam. Wkwk.

See, swallow, and digest..

Dek koas, post MDE Dep. Anak

15.10.2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s