SpRT

Setiap kali orang bertanya, kamu mau jadi spesialis apa?

Saya menjawab, saya mau jadi spesialis rumat tangga.
Kebayakan dari mereka kaget, tapi teman-teman yang sudah mengenal saya pasti tahu alasannya.

Bagi saya, menjadi spesialis rumah tangga adalah hal penting, karena:
1. Ingin menjaga anak-anak dari api neraka
2. Ingin melahirkan dan mendidik profesor dan ahli yang akan bermanfaat bagi umat di dunia

Terus, kenapa kamu masuk kedokteran?
Mungkin kalau tidak masuk kedokteran, saya ga bakalan terlalu concern jadi ibu profesional. Setelah masuk kedokteran, saya baru tahu pentingnya seorang ibu dalam pengasuhan anak. Kalau saya berada di jurusan yang lain, mungkin saya akan lebih sibuk dengan profesi saya dan punya pandangan yang berbeda.

Lalu bagaimana dengan status dokter yang akan diraih nanti?
Meskipun di dalamnya up and down, banyak hal di kedokteran yang menarik minat. Saya suka bertemu dan berinteraksi dengan pasien. Kedokteran juga bisa jadi lahan dakwah. Selain itu ilmunya saya sangat suka.  Sejauh ini, saya ingin mengambil spesialis minor agar tetap menambah ilmu dan juga menambah skill, selain itu saya mulai tertarik memiliki klinik keluarga, yang nantinya saya akan memegang fungsi managemen, sedangkan fungsi pelayanan akan saya delegasikan pada dokter lain yang saya percaya.

Kontroversial
Pilihan saya memang sulit dimengerti, tapi setiap orang berhak memiliki pilihan. Sulit sekali menjelaskan terutama pada orang tua. Tapi, dari lubuk hati yang paling dalam, saya hanya ingin anak-anak nanti jadi profesor, jadi peneliti, jadi penemu, jadi ahli, bukan hanya budak korporat. Saya ingin mereka menghasilkan kaya bukan hanya menjadi manusia-manusia konsumtif. Tentu saja saya ingin mereka lebih baik dari saya.

Selain itu, terkadang pemikiran saya yang visioner tidak bisa dimengerti oleh orang lain. Saya juga tidak terlalu pandai mengkomunikasikannya. Jadi, mungkin saya hanya perlu membuktikan hasil dari pilihan saya nanti. Bismillah

Jadi, mau berhenti jadi dokter atau gimana?
Tidak, saya akan tetap menjadi dokter. Hanya saja, saya ingin mengurangi jam praktek dan menggantinya dengan jam kerja di bagian managemen. 🙂

Kedokteran bagi saya adalah trigger untuk selalu belajar. Entah belajar untuk keilmuan ataupun untuk mengasah empati dan kepekaan terhadap sesama. Saya tetap ingin menjadi dokter yang bermanfaat. Tapi saya ingin membuat sayap-sayap perpanjangan agar manfaatnya bisa lebih luas dan saya tetap memiliki waktu yang berkualitas bersama keluarga.

Saat ini, waktu koas saya manfaatkan untuk mencari departemen apa yang saya suka. Selain itu saya juga mulai mencari lahan mana yang nantinya memerlukan saya atau tempat mana yang memerlukan saya. Karena yang pasti, hanya menjadi klinisi yang duduk di kursi membatasi manfaat yang bisa kita berikan. Entah nantinya saya akan aktif di organisasi atau yayasan, yang pasti saya ingin menjadi seorang dokter muslimah yang bermanfaat.

Ingin Jadi Contoh
Mengapa saya perlu repot-repot menjadi aktivis? Intinya, saya tidak ingin mendikte anak-anak saya kelak. Sebaliknya, biarkan mereka melihat apa yang orang tuanya lakukan.

Saya merasa bersyukur telah dididik dengan sangat baik oleh orang tua saya. Oleh karena itu, saya ingin melahirkan generasi-generasi yang jauh lebih baik dari saya, kalau bisa jumlahnya lebih banyak. Semoga dikuatkan.

Amin

*Sebuah kontemplasi, dari dek koas yang bercita-cita jadi dokterpreneur, spesialis rumah tangga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s