Orang Baik

Aku harus memujimu, ku akui itu. Aku kagum dengan caramu menjaga perasaan perempuan. Kamu tidak pernah bilang suka, kamu tidak pernah menjanjikan akan datang. Kamu hanya bilang, “jika ada yang datang padamu, kamu ridhoi akhlak dan agamanya, terimalah nanti jadi fitnah.”

Aku hanya bisa tersenyum mendengarnya, terasa sesak, tapi aku bangga. Aku sangat bahagia mengenal orang sepertimu.

Kamu yang kukira acuh, ternyata begitu perhatian dengan caramu, kamu yang memiliki banyak pemikiran baik.

Sesekali kamu bicara meluap-luap tentang keinginanmu untuk berbagi dengan orang yang tidak mampu. Di lain hari kamu bercerita jika berbicara dengan orang yang hidupnya susah itu membuatmu menjadi orang yang lebih bersyukur.

Aku suka pemikiranmu yang jujur dan sederhana. Tentang kerelaanmu sarapan dengan roti dan susu jika kelak aku sudah kehabisan ide dengan olahan telur.

Banyak kebiasaanmu yang sulit untuk kulakukan. Kebiasaan makanmu yang sederhana, kesukaanmu untuk makan hemat di rumah dibandingkan makan mahal di cafe-cafe cantik. Kamu sangat sederhana, pelit, dalam bahasaku.

Tapi itulah kebaikanmu yang tidak dimiliki orang lain, kamu yang begitu istiqamah menabung karena ingin membelikan rumah untuk keluargamu berlindung.

Begitu banyak kebaikan darimu yang aku baru tahu. Dan sekarang aku juga ingin menjadi orang yang baik sepertimu. Karena akan senang sekali jika kita bisa berbagi kebahagiaan dengan orang lain, seperti katamu.

Advertisements

One thought on “Orang Baik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s