Berkat Mama

Ini semua berkatmu Mama..

Pukul tiga pagi, aku masih berdiri menunggu order dari chief jaga. Pasienku bermacam-macam, ada yang dibacok lehernya, ada yang dibacok kepalanya, ada yang luka bakar tersengat listrik, ada pula pasien cholangitis yang seluruh badannya kuning.

Pukul tiga pagi, aku masih semangat meski harus mondar-mandir. Bau darah sekarang sudah tidak lagi membuatku mau pingsan Ma. Aku sudah tidak takut lagi jika harus mengambil darah pasien. Aku sekarang menjadi anakmu yang berani.

Pukul tiga sore, aku tertawa dengan teman-teman, menertawakan pengalaman-pengalaman di stase sebelumnya. 2/3 perjalanan koas sudah terlewati. Saat ini tinggal menunggu beberapa bulan hingga Allah mendengar janjiku dan teman-teman untuk menjadi dokter yang amanah.

Ini semua berkatmu Mama..

Aku yang selama ini selalu mengeluh karena kesibukanmu, tapi begitulah cara Allah menempaku menjadi mandiri. Tanpamu aku belajar melakukan semua hal sendiri. Aku harus bisa pergi kemanapun sendiri, menyiapkan semua keperluanku sendiri. Mama membuatku menjadi orang yang sangat mengandalkan intuisi.

Sekarang aku mengerti rasanya menjadi mama. Saat aku selesai jaga malam, aku harus kembali koas di pagi hari hingga sore. Saat pulang ke rumah aku seperti bangkai berjalan dengan muka sangat lusuh. Aku sempat makan roti. Aku sempat pula menyapamu dan ayah. Tapi aku tidak ingat apa-apa lagi setelah aku tidur.

Ada seseorang yang membuka pintu, tapi ruangan sangat gelap. Siapa itu orang asing kenapa membuka pintu? Aku melihat seseorang tersenyum. Saat pagi aku baru sadar jika itu mama. Aku tidur tanpa menutup gorden, tanpa menyalakan lampu, tanpa mengenakan selimut. Total tidur hari itu 15 jam baru bisa membuat ruhku kembali secara utuh. Aku seperti bangkai yang berada di rumah. Hanya ragaku saja yang ada, tapi aku tidak benar-benar hadir.

Melihatku pulang, mama terlihat senang. Anaknya sebentar lagi akan menjadi dokter. Tapi pulang ke rumah dengan kesadaran 10% membuatku sedih. Aku ingin sekali berbincang-bincang dengan mama dan ayah seperti hari-hari sebelumnya.

Tapi saat ini aku sudah lebih rajin belajar Ma. Sebentar lagi ujian. Aku tidak punya waktu banyak untuk belajar karena fase setelah jaga merusak total hariku setelahnya. Temanku Syifa bilang, “Belajarlah lebih serius ketika ada waktu, karena kita tidak punya banyak waktu untuk mengulang materi di stase sebelumnya. Kita harus belajar materi di stase yang sedang dijalani. Ketika membaca pun harus sungguh-sungguh dan dimengerti.”

Mama tahu, Allah memudahkan seluruh pekerjaan dan studiku. Meski sebentar, aku berusaha membaca ataupun mengerti materi yang akan dipresentasikan. Akupun benar-benar hadir ketika bimbingan, bukan hanya raga tapi juga menyertakan jiwa. Aku hanya ingin menjadi pribadi yang bukan hanya bisa mendapatkan nilai. Aku ingin menjadi orang yang sungguh-sungguh ketika belajar ataupun ketika menerapkan ilmu. Dan yang penting aku harus baik kepada siapapun. Semoga itu bisa membuatmu bangga. Karena, Mama jarang sekali menyuruhku belajar, mungkin hanya setahun dua kali. Tapi Mama berjuta-juta kali bilang, “Jadilah orang baik. Baiklah kepada siapapun.”

Ma, aku adalah orang yang selama ini selalu marah karena kesibukanmu dengan pasien-pasien. Nampaknya saat ini aku baru mengerti, jika punya ibu baik, artinya aku harus siap berbagi kebaikanmu dengan orang lain.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s