Sabar dan Syukur

Semoga kita bisa menjadi orang bijak.

Teman saya, Poppy bilang, “Syukur itu bukan hanya sebatas hamdalah.” Rasanya kalimatnya begitu jlebbb. Saya jadi ingat hari-hari saya diisi dengan banyak keluh kesah. Padahal bisa jadi ada banyak orang yang berdoa untuk berada di posisi saya saat ini.

Kalau kata teh Kiki Barkiah, syukur juga bisa ditunjukkan dengan shalat dan tilawah kita. Ya, syukur pada Yang Maha Kuasa bisa diekspresikan dengan beribadah, menunjukkan penghambaan terbaik untuk Allah.

Saat bahagia atau saat berada di kondisi yang baik, seringnya kita lupa untuk bersyukur. Secara tidak sadar, kita sering mengeluh tentang rasa makanan yang tidak enak atau tentang angkutan umum yang terlalu lama ngetem. Padahal kita sedang diberi anugerah berupa kemudahan mendapatkan makanan, dan kemudahan menggunakan transportasi umum. Kita tinggal duduk santai saja toh?

Dua kondisi tadi juga mengingatkan kita agar lebih bersabar. Sabar ketika orang lain lalai, mungkin lelah sehingga makanannya tidak seenak biasanya. Kita juga harus sabar, karena ada sopir angkot yang sedang berjuang menafkahi keluarganya.

Syukur dan sabar, dua buah kata yang memiliki makna yang dalam. Sebagaimana syukur, sabar juga bukan hanya sebatas kata. Sabar memerlukan banyak perjuangan, banyak perbuatan. Sabar mengingatkan kita, jika setiap peristiwa terjadi atas skenario Allah. Mudah-mudahan kita masih mengamalkan rukun iman, percaya qada dan qadar. Sekeras apapun kita berusaha, dengan mudah Allah belokkan pada takdir yang Allah Hendaki.

Mudah-mudahan kita bisa lebih banyak bersabar dan bersyukur.

Bersyukur karena hari ini saya masih diberi kesempatan untuk hidup oleh Allah. Bersyukur karena masih bisa berjumpa dengan orang tua. Bersyukur bisa sarapan di rumah. Bersyukur bisa menaiki kendaraan umum, sehingga bisa santai duduk membaca pagi ini. Bersyukur karena jam Poli Bedah siang hari, jadi bisa jalan-jalan lalu beli roti. Bersyukur karena bisa makan bekal yang dibuatkan nene. Bersyukur karena diberi kesehatan hari ini.

Saya juga harus banyak berlatih untuk bersabar.

Bersabar saat ada kemungkinan UKDI yang mundur karena sakit beberapa waktu lalu. Mungkin ini yang dirasakan teman-teman yang harus tertunda koasnya. Sumpah dokter nanti harus terpisah dari kelompok besar. Hiks. Mungkin Allah sedang menyiapkan rencananya yang terbaik untuk saya. Saya juga harus lebih banyak bersabar, saat fisik saya terkuras di bedah, dengan jaga dan tek tek bengek yang tidak saya suka. Mudah-mudahan Allah menguatkan fisik saya.

Semoga saya juga selalu bersabar dalam menyelesaikan segala proses menjadi dokter yang panjang ini. Mudah-mudahan Allah menunjukkan jalannya yang terbaik, agar saya bisa terus menuntut ilmu dan mengamalkan ilmu yang dimiliki.

Mudah-mudahan Allah tidak pernah bosan mengingatkan diri ini untuk banyak bersyukur dan bersabar. Amin..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s