Phone A Friend

Dee, aku merasa sakit dan menderita meski bukan aku yang menjalani hal yang tidak menyenangkan itu. Betapapun menyebalkannya kamu, aku hanya ingin bercerita, egois ya? Aku hanya memerlukan bahu untuk bersandar.

Dee, kamu tahu kan manusia itu punya super ego? Aku pun sama Dee. Aku siap terbang kapan saja. Kamu boleh menyebutku frustasi. Tapi apakah memang ini jalan yang ditakdirkan untukku Dee? Aku merasa sesak, nafasku berat. Apakah ini pertanda aku yang sedang kelelahan memperjuangkan takdirku?

Aku mengerti jika surga itu memerlukan pengorbanan yang besar. Bukankah surga itu bisa lewat pintu mana saja Dee? Oh aku sedang diuji, apakah aku akan tetap melewati jalan yang sudah kulewati seperempatnya atau aku harus berpindah haluan?

Koleris sepertiku tak kuasa menahan diri untuk terus bergerak dan bergerak. Aku ingin melepas seluruh energiku dengan alam rimba, lalu aku lemas. Aku sakit ya?? Jiwaku juga.

Aku sedih dengan superego yang kumiliki. Berlari hanya menjauhi masalah bukan menyelesaikannya, aku sadar meski pura-pura tidak tahu. Aku merindukan perasaan yang lega saat melepas kepergianmu. Karena didunia ini, aku sadar tidak semua hal bisa kumiliki, bisa kuraih. Tapi apakah aku harus babak belur dulu untuk tahu ternyata ini jalan yang salah buatku? Aku sadar betul waktuku singkat Dee. Aku butuh by pass, jalan tol, atau apapun itu yang membuat usahaku lebih efisien. Aku tidak punya waktu lebih dari 24 jam sehari. Aku sadar betul.

Hanya saja, aku juga harus tahu jika tidak semua hal instant itu mengandung komposisi yang baik. Aku adalah orang konvensional yang senang menikmati detik dengan nafas yang terdengar setiap hirupannya. Aku ingin menjadi orang yang hidup dan hadir pada saat ini. Haha. Aku jadi merasa sangat bodoh. Dee aku rindu. Kita akan kembali berbicara ketika di surga kelak kan? Kita memang dua orang konyol dan aku yang punya stadium lebih parah!!

Aku hanya ingin bicara dan sekarang aku sudah merasa jauh lebih lega. Hey kamu yang juga bodoh, aku tahu kamu baik-baik saja disana. Bagaimana perasaanmu jika melihatku mengunjungi nisanmu ya Dee? Apa aku salah menjadi orang yang terlalu mandiri hingga merasa bisa hidup sendiri? Mungkin semua keegoisanku akan tergerus setelah terlahir Dee junior. Kelak dia akan menjadi motivasiku, pengganti nyawaku yang hilang. Aku tahu kamu juga akan selalu hidup di dalam tulisanku. Karena, dengan siapa lagi aku harus berbicara terbuka tanpa perlu menjadi orang sok baik?

Aku sudah merasa jauh lebih tenang saat ini. Kamu adalah salah satu motivasiku untuk terus memperbaiki diri. Karena kamu adalah sosok ideal yang kubuat sendiri. Sosok dengan cacat yang kusayangi karena keunikanmu. Meski sifatmu yang seadanya akhirnya membuatku menyerah kepadamu. Tapi bukankah dulu kita berdebat sedang hati saling mengkhawatirkan? Hahaa. Aku merasa kita terlalu konyol. Doakan aku tetap kuat, tetap tegar. Atau haruskah aku melepas semua kedok sok kuat ini dan menyendiri melepas tekanan, lalu menangis?? Aku begitu rapuh Dee. Aku sepertinya begitu lelah menyembunyikan benteng yang kubangun tinggi-tinggi.

Kelak aku akan mengajak Dee junior. Kamu akan bahagia mendengarnya memanggilmu “Om”. Aku pamit ya..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s