The Bius

Salah satu bagian yang paling berkesan bagi saya, dari yang sudah saya lewati, adalah anestesi. Rasanya, dunia anes itu membuat saya menjadi orang yang berbeda. Saya belum melewati bagian mata, tht, gimul, rehab medik, nuklir, dan IPD. Sejauh ini, anestesi yang paling greget.

Anes ini, menurut saya adalah yang paling care dalam mengurusi nafas manusia. Saya bisa melihat dari perilaku dan juga etika residen anestesi. Mereka mungkin orang yang gerasak gerusuk di luar medan tempur. Tapi di ruang operasi, saat mereka “main”, mereka berubah menjadi orang yang sangat beretika. Mereka adalah orang yang paling humanis yang pernah saya lihat.

Residen anes bisa seperti orang gila di luar sana. Gila dalam artian, mereka benar-benar stres karena menghadapi tuntutan pekerjaan yang berat. Tapi ketika setahun saya menjalani dunia profesi, residen anes yang sangat care dalam memperlakukan manusia. Di poli mereka menjadi residen-residen yang mungkin sedikit galak. Tetapi saat di OK, mereka itu angel banget sih!

Profesi bius membius ini bukan hanya memberikan kesan positif dari dokter dan residen anestesinya saja. Saat saya di RSUD, para penata anestesi pun bisa saya bilang adalah orang-orang yang sangat menghargai dan menyayangi pasien. Mereka membantu membimbing berdoa pada saat pasien akan dibius. Kenapa sih sedalam itu saya melihat dunia the bius ini? Karena saat kita dibius, kita berada di batas antara hidup dan mati. Sebenarnya nyawa kita di ujung tanduk.

Tanggung jawabnya memang sangat besar, makanya para pembius memang benar-benar memperhatikan kondisi pasien. Tidak bisa tidak teliti. Mereka harus sangat fokus mengenai jumlah obat yang masuk. Intinya mereka harus memperhatikan secara keseluruhan kondisi, baik sebelum dibius, saat dibius, dan setelah dibius.

Momen melakukan RJP dipimpin oleh dr Dedi adalah momen yang akan saya kenang seumur hidup, sangat berkesan. Momen itu membuat insting saya bekerja taktis. Ketika darurat, minimal saya tidak takut ketika harus melakukan RJP. Saya refleks mengenalan gloves ketika melihat seseorang apneu, tanpa nafas. Minimal, saya ingat ketika harus memasang monitor di ruang resus.

Bisa saya bilang, saat darurat seperti itu membuat saya menjadi orang lain. Saya bisa menjadi tenaga kesehatan profesional, tapi saya juga tahu saat yang tepat untuk membimbing pasien melafalkan syahadat.

Resusitasi saat ini buat saya masih menjadi misteri. Karena memang banyak orang yang saat ini kembali hidup normal setelah resusitasi. Salah satu contohnya adalah kejadian residen bedah yang kembali bernafas ketika di RJP dua jam. 2 jam!!! Gila aja lo. Mungkin ini maksud dari “manusia harus berikhtiar”. Karena ya kalau belum waktunya, seseorang itu ya akan tetap hidup.

Entahlah apakah saya akan kembali ke dunia anestesi? Karena farmakologi saya jeblok. Pelajaran sistem syaraf saya juga jeblokk!! Saya tidak kuat jaga malam dan keluarga juga belum tentu mengerti dunia malam anes. Entahlah jalan mana yang Allah gariskan untuk saya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s