Kedodolan Post Longcase

Waktu hari Senin awak ujian longcase, ujian paling serem selama coass. Longcase itu ujian di stase IPD, Sooca KW lah. Deg-degan dan bikin panik banget, sampe-sampe H-1 itu ga tidur sampe pagi, belajar habis-habisan.

Kejadian Pertama

Beres ujian, lega sih. Cuma ternyata efek ga tidurnya bikin sensi banget. Tahu-tahu pas lagi jalan, ada satpam kaya ngeliatin gitu. Ah ini kayaknya mau sensiin nametag nih. Udah tahu lagi bawa gembolan gini masa ditanya-tanya. Ini nametag kan ketutup doang kali. Satpamnya nyapa,”Siang dek!”

Karena udah surti duluan, awak langsung jawab dengan muka lempeng, “kenapa???”

Eh buseetttt..

Padahal bapaknya cuma pengen nyapa aja. Hiks. Sumpah kasian banget muka satpamnya. Keesokan harinya bapak satpam awak beri senyuman terbaik. Duh, maaf banget pak. Di luar kehendak banget.

Kejadian Kedua

Beres adzan Isya, habis makan martabak buatan mama awak langsung bobo, selimutan di sofa yang ada di ruang keluarga. Besoknya mama sama ayah langsung nanya, “Kamu semalem ngapain salam segala ke ayah?”

Awak bingung banget ga ngerti. Soalnya dari Isya bener-bener ga sadar apa-apa lagi. Jadi kata Ayah, jam 10 malem awak nepuk-nepuk pundak ayah yang lagi main game. Awak langsung minta mau salam sama ayah. Ditanya kenapa? Awak cuma hmm hmmm hmm.. Abis itu tidur lagi.

Ngeri banget ternyata ya efek ga tidur. Bahaya banget kalo habis begadang tidur di luar kamar. Haha. Kalo tiba-tiba ngigo ke dapur atau ke luar rumah kan ngeri uga.

Alhamdulillah ujian semua departemen sudah beres ya.. Tinggal compre dan UKDI. More than begadang ini sih. Semoga ga bikin ngigo yang aneh-aneh lagi ya.

Advertisements

Behind a Failure

Ini bukan kali pertama.

Failure is not a final condition in life. It is just a phase, a combination in our colorful journey.

I almost failed an exam, that was the worst day in my life. I cried then called mom and day. And they said a magic sentence, “It’s ok if you fail. The most important thing is you try hard your best.”

Anak kesayangan Ibu mungkin nanti ga akan selalu mendapatkan nilai 100, atau mungkin tidak akan selalu masuk sekolah favorit. I experienced that several times. Mungkin terdengar bullshit, tapi memang proses itu tidak kalah penting dibandingkan hasil.

Yang Pertama Selalu Berkesan

Jika ditilik dari sejarah sekolah, Ibu selalu berada di sekolah cluster menengah. Ini efek kemalasan Ibu nak. Dan kegagalan pertama datang lalu merubah kehidupan Ibu 180 derajat. Saat Ibu gagal masuk SMA favorit, rasa dendam memuncak dan melahirkan cita-cita yang sulit, demi pride untuk membalas kesedihan. Lebay.

Teman Ibu, Intinya Pras bilang, gapapa walau sekolahnya di tempat biasa aja, asal pas SMA lebih bener-bener belajarnya, nanti malah bisa lebih oke prestasinya dan bisa masuk PTN favorit. Wah.. Detik itu, kata-kata pras sangat menginspirasi Ibu nak. “Yeah pokoknya nanti harus masuk jurusan paling favorit.” Pikir Ibu saat itu.

Ibu bertekad untuk masuk PTN favorit. Tentunya tekad ini juga memunculkan semangat belajar. Ibu sadar untuk tembus PTN itu membutuhkan usaha yang luar biasa. Siapa yang menduga anak dari SMA cluster 3 (waktu itu masuk itu cluster 3, sedih masih kek kandang burung) bisa tembus kedokteran Unpad? Believe it, go for it, fight and win!

PTN atau jurusan apapun itu bukan hanya untuk orang-orang dari sekolah unggulan, tapi untuk orang-orang yang bersungguh-sungguh berusaha dan mendapatkan ridha Allah S.W.T tentunya.

Yang Kedua, Pedas Menggelegar

Ujian Sooca, alias ujian lisan one on one di depan penguji selalu membuat Ibu galau bahkan sejak satu bulan menjelang ujian. 8 kasus yang ada, kita akan mendapat 1 kasus random yang nantinya akan dipresentasikan. Waktu itu Sooca kedua di semester pertama. Semester pertama itu saat yang paling berat karena materinya sangat mendasar, dari mulai biokimia, biomolekuler, parasitologi, mikrobiologi, dan yang lainnya.

Ibu mendapat kasus parasitologi, tentang anak cacingan. Kasus yang which is Ibu ga hapal-hapal karena life cycle tiap cacing itu banyak dan bikin pusing. Penguji Ibu, goddestnya parasitologi. Jelas-jelas Ibu dibantai. Mana Ibu pake draft sooca fotokopian punya temen, chaos. Mati banget ga bisa jawab semua pertanyaan beliau. Rasa capek, kurang tidur, dibayar dengan bantaian itu tragis sih. Karena man!!! Gue seabal itu, se ga bisa itu. Dan penguji Ibu itu memang dewa dan ahli banget parasitologi. Freak abis sedihnya. :((((

Nilai Sooca itu menyumbang hampir 50% dari nilai semester. Sedih banget, karena kalau ga lulus itu terancam ga naik tingkat. Uh..Terbayang orang tua, rasanya bersalah banget kalau sampai Ibu ga naik tingkat. Tapi ternyata, waktu Ibu minta maaf karena mungkin ga naik tingkat, orang tua Ibu bilang, “Ga apa-apa Ca. Jangan nangis. Yang penting udah berusaha.”

Waktu itu Ibu berpikir, gila lah masa ga mengubah keadaan buat mereka? Cuma mereka yang Ibu punya, dan Ibu pengen banget ga terpuruk lagi untuk mereka. Beres nangis Ibu tidur, terus bangun, dan belajar buat ujian MDE. The show must go on kan? Kalau ga ada motivasi dari orang tua Ibu, mungkin Ibu ga akan bisa melewati masa-masa sulit di kedokteran.

Tidak apa-apa menunda, karena barangkali masih ada kesempatan untuk meraih yang kita ingin kalau terus berusaha. Tidak apa-apa gagal, atau kalah, atau terlambat atau tidak mendapatkan yang diusahakan. Karena bisa jadi Allah menyiapkan sesuatu yang lebih baik untuk kita di depan, asalkan kita selalu bertakwa dan memohon kepadaNya. Nikmati nak prosesnya, pedihnya. Barangkali Allah sedang rindu dengan kamu, ingin lebih banyak interaksi dengan kamu. Why don’t you come closer?

Kebayang kan kalau Ibu cepet dapet jodoh, mungkin ga akan ada kamu? :p

Terkenang Kita

Kelak, kita hanya akan mengenang
Masa – masa kita bersama di asrama
Masa – masa tidur di lecture, melamun bosan saat tutorial

Adakah ruang rindu bagi kasur mesko yang melenakan?
Sesaknya yang menyedot habis energi, membuat GCS menurun

Akankah kita mengingat, 6 langkah cuci tangan?
Saat kita selesai palpasi, saat kita selesai DRE?
Akankah rasa lapar melenyapkan rasa takut kita akan bakteri tak kasat mata?

Aku menyimpan semua file, yang mungkin sebentar lagi akan out of date
WHO, searo, KADOKI, AHA, dan ebook lainnya memenuhi library

Akankah kita masih tersenyum, kepada pria berkemeja atau berpakaian batik?
Konsulen kita kira staf TU
Ingatlah
Ingatlah
Kenanglah

Kamu dengan jasko yang sering tidak dicuci
Jangan lupa di laundry
Kenanglah..
Semuanya..
Kenanglah makan dipinggiran RSHS
Ingatlah kontribusinya untuk meningkatkan antibodimu

Semua akan layak dikenang
Yang manis, yang pahit
Semua berakhir tuk dikenang

Sajak semprul, by Rizka Putri Hamuktiono
22 Juni 2016

Medschool Diary: The End of The Beginning

“Ga nyangka banget, sebentar lagi beres juga sekolah kedokteran.”

Ekspresi apa yang harus diungkapkan ya?
1. Pokoknya ga nyangka bisa beres juga
2. Lega karena akhirnya satu babak terlewati

Lega karena akhirnya sejenak keluar dari “neraka” hahaha. Banyak keringat dan derai air mata yang terkuras selama belajar di kedokteran. Padahal, saya sempat menyesal mengapa masuk kedokteran? Mengapa dulu memperjuangkan sesuatu yang saya sendiri tidak tahu isinya? Saya hanya satu dari sekian banyak orang yang memilih masuk kedokteran karena pride. Coba agak pinter dan berpikir panjang, harusnya saya mempertimbangakan matang-matang jurusan yang saya ambil.

Pelajaran yang bisa saya ambil kalau nanti jadi orang tua: bantu arahkan agar anak-anak agar bisa memilih jurusan dengan matang. Karena jurusan itu kelak nantinya akan dipertanggungjawabkan di dunia dan juga di akhirat.

I was struggle enough, wasn’t I?

Saya tidak akan pernah melupakan penderitaan tahun 1, tahun paling penuh tekanan seumur hidup. Dulu rasanya sudah pasrah jika saya harus tinggal kelas. Ah, syukurnya mama dan ayah super baik hati selalu mendukung saya dari jauh, dengan kata-kata yang memenangkan via telepon. Hingga akhirnya kemampuan saya menghadapi stres kini sudah semakin baik, berkat doa dan dukungan mereka.

Saya salah karena memilih kedokteran tanpa pikir panjang, padahal orang tua habis-habisan mendukung saya saat saya menunda 1 tahun agar bisa ikut SNMPTN berikutnya. Walaupun begitu, ternyata takdir saya di kedokteran membawa banyak perubahan dalam hidup. Banyak sekali yang saya dapatkan, diantaranya:

1. Interaksi dengan Allah
2. Interaksi dengan teman-teman alay, panitia pernikahan
3. Sahabat-sahabat sholeh
4. Hobi membaca dan menulis
5. Mengetahui karakter dan kemampuan pribadi
6. Mengenal cinta, azegg
7. Belajar peka
8. Belajar sabar dan memahami orang lain
9. Dekat dengan keluarga
10. Membangun keinginan berkeluarga, cmiiw.

Masuk FK adalah keputusan terbaik yang pernah saya ambil. Karena banyak sekali jalan yang semakin mendekatkan saya dengan Allah, keluarga, dan juga sahabat-sahabat. Keputusan apapun yang kita buat, ada campur tangan Allah didalamnya. Semoga Allah dapat menitipkan ilmuNya agar saya bisa amanah sebagai dokter profesional kelak. Amin..

Catatan:

– Semoga teman-teman yang belum bisa masuk kedokteran tidak bersedih. Insha Allah dengan profesi masing-masing tetap banyak kebaikan yang bisa diberi. Dan yang penting, semoga niat dan ikhtiarnya mengantarkan kepada ridha Allah SWT.

– Setiap orang memiliki takdir yang berbeda. Yang pasti takdir itu masih ada yang bisa diubah. Meski ada cita-cita yang tidak bisa digapai, cita-cita untuk menggapai surgaNya Allah ga boleh dinomorduakan. Se-ma-ngat!

It’s Ok!

Semua bikin awak tegang, baik itu ujian long case IPD, compre, dan yang pasti UKDI. 5 tahun selalu ujian dengan penuh ketegangan di FK mau tidak mau menuntut kita untuk bisa mengatasi stres dan ketegangan bagaiamanapun caranya. Kenapa? Karena dalam posisi stres kita tidak akan bisa belajar sama sekali.

3 ujian “final” selama kuliah kedokteran ada di depan mata. Luar biasa deg-degan bikin kebelet pipis. Bisakah awak pakai jurus biasa kali ini? Jurus menenangkan diri sendiri.

Ga apa-apa yang penting lulus.
Ga apa-apa kalopun harus ngulang.
Ga apa-apa belajar aja semampunya.

Ga apa-apa, yang penting berusaha dan berdoa, insha Allah semua bisa terlewati. Amin..
Semoga magic words bisa berhasil seperti biasanya.

My Talents Mapping

Tidak sengaja membuka hasil talents mapping tahun 2009. Dulu, I was too stupid to understand the results. Wkwk. Sekarang waktu membaca jadi merasa dong dong, harusnya dulu baca dulu baik-baik sebelum memilih jurusan kuliah.

image

Hasilnya, urutan bakat (10 besar)

1. Command
Ingin menjadi penanggung jawab dan memaksa orang lain melihat dengan sudut pandang yang sama.

2. Individualization
Dapat melihat keunikan masing-masing orang. Secara naluriah mengamati gaya, motivasi, cara berpikir, dan cara membina hubungan dengan masing-masing orang.

3. Adaptability
Bisa menyesuaikan diri jika ada perubahan tanpa rencana.

4. Input
Ingin tahu segala hal, memiliki hasrat untuk mengetahui lebih jauh dan ingin memperbaiki terus menerus.

5. Communication
Mudah mengungkapkan apa yang dipikirkan, senang berbicara dan menulis.

6. Empathy
Membayangkan perasaan orang lain dengan cara membayangkan dirinya sebagai orang tersebut.

7. Harmony
Dapat bekerja sama secara baik dengan orang lain.

8. Competition
Suka persaingan

9. Significance
Ingin dikenal karena kemampuan yang dimiliki.

10. Responsibility
Ingin memenuhi apa yang telah dijanjikan baik yang diucapkan ataupun tidak.

Command – Competitive

Seiring bertambahnya ilmu dan pengalaman, saya sendiri merasa beberapa bakat mulai muncul dan beberapa tidak lagi mendominasi. Bakat utama saya tidak lagi command. Terutama setelah saya ikut kegiatan berorganisasi, saya banyak belajar menjadi orang yang lebih luwes dan tidak bossy. Sekarang saya juga tidak terlalu suka bersaing. Jeleknya, karena tidak kompetitif saya sudah merasa puas dengan hasil yang saya dapat.

Individualization – Adaptability – Input – Communication – Empathy – Responsibility

Berkat kombinasi anugerah di atas, alhamdulillah saya hidup dengan damai selama di kedokteran. Saya merasa tidak mudah risih dengan keunikan karakter teman-teman. Saya juga merasa terbantu karena kehidupan koas yang begitu dinamis, penuh kejutan dan kegiatan tentatif. Yang lucu, kadang sifat ingin tahu yang tinggi membuat saya kadang salah fokus ketika harusnya saya belajar kedokteran. Haha.

Harmony – Significance

Saya merasa memerlukan aktualisasi diri. Dulu ketika SMA tampaknya ada kecenderungan ingin dilihat sebagaj sesuatu, tapi karena rasa malas mendominasi jadinya saya tidak melakukan apa-apa. Failed! Sekarang, untuk memenuhi kebutuhan, saya menggunakan media blog. Senang rasanya kalau ada yang membaca tulisan saya. Niat ingin terkenal harus diubah. Alay banget ya jaman dulu. Sekarang inginnya bisa nulis buku, dan bukunya bisa bermanfaat. :””” (kapan nulisnya kamu dung???)

Bagaimana dengan harmony?? Sebagai koas yang tidak memiliki status jelas, emosi ketika praktek rasanya campur aduk. Apalagi karena memang koas itu dianggap tidak berharga, sehingga memang banyak pihak yang memandang sebelah mata. Da apa atuh kita mah cuma koas?? Bersyukur ketika saya jejaring di Sumedang, saya bertemu dengan dr. Andri, spesialis penyakit dalam. Subhanallah beliau sangat humble dan baik hati.

Beliau bilang, koas adalah penerus dokter di masa yang akan depan. Jadi koas perlu dibina dengan baik. Ahh lega sekali rasanya. Ingin rasanya saya menjadi guru seperti beliau. Setelah diajar oleh beliau, saya jadi mendapat pencerahan ingin menjadi dokter yang seperti apa nanti. :”””

Tapi, suka duka ketika koas memberikan banyak catatan bagi kehidupan di masa depan.

1. Baik hatilah kepada semua orang
2. Pahami bahwa ada faktor yang mempengaruhi sikap seseorang
3. Jadi dokter jangan sombong sama kolega
4. Ucapkanlah selalu kata-kata yang baik
5. Makanan, botram, bonding, dan sinetron penting untuk bisa chit chat bareng bu bidan dan bu perawat
6. Harus rajin soalnya suka diomongin di belakang
7. Kalo kemana-mana jangan lupa oleh-oleh buat staf. Rasulullah bilang hadiah itu penting untuk mendekatkan persaudaraan.

Mawas diri, memahami diri itu penting sekali. Karena jika kita bisa mengontrol diri, insha Allah kita akan lebih berhati-hati baik ketika bicara atau melakukan tindakan. Bakat itu bukan plotting saklek. Kita bisa membentuk diri dan melatih kelebihan dan kekurangan agar bisa menjalankan peran yang optimal sebagai individu.

Hello Readers!

Thanks to all my readers. Hehe.. Likes Kurniawan Gunadi said, “setiap penulis punya pembacanya sendiri.”

My purposes to make this blog are:
1. To push me not to much write about private stories like I always write at my tumblr
2. To accommodate my passion in writing
3. To push me to read before writing, and try to include valid data,  the resources of course
4. A media to track that I have to learn, learn, and learn
5. A media that records what I’m interesting in

I saw, the most viewers post is about “Pertemuan”. I think people interested with the title and wondered that it contained about “love” or something. Hahahaha.

For now, I limited myself to write about love thing. Because now I still learn about “true love”. Wkwkwkwk.. I still make my connection with my Lord, Allah, because love without a marriage commitment is just like booking a ticket in traveloka without a payment. If you dont purchase it as soon as possible, somebody will take your seat. (clap your hand!!) hahaha.

I’ll try to write in English because I want to learn. I hope someday my family dakwah would go international. Hihi..

Allahu Akbar!!! 

My Favorite Shades

image

I want to introduce you to my fav color~

Akhir-akhir ini suka sebel kalau diminta pilih warna. Biasanya Ibuke bilang, “Pilih aja warna yang kamu suka.”

Nampaknya ini pertanyaan retoris. Karena, jawabannya sudah jelas warna-warna pastel, pastel peach, dusty pink, dusty purple. Dan ibuke langsung memblacklist warna-warna di atas karena saya sudah terlalu banyak punya baju dengan warna yang sama di lemari. Hahaha.. Then why did everyone ask me about color if I always have the same answer? Wkwkwkwk..

Choosing my favorite shades is important, but making my mind overthinking for such a thing is kind of wasting. Wkwkwkkw.. Jadi akhir-akhir ini nampaknya saya lebih memilih menyerahkan pilihan pada orang-orang. Hahahaa.. Selama warnanya masih kalem dan model pakaiannya sopan semua oke lah.

Today I learned that the most important thing is making someone we love happy. Even I have to wear yellow to orange not my wearable color. Hahaha. Kalau kata mereka pantes, yaudah. Cukup. Lain kali pokonya kalau ga boleh beli shades favorite, pilihin aja ya. Apa aja oke lah pokoknya. :p

Dreams

image

Well, mungkin ini adalah doa dari setiap orang tua, agar kelak anak-anaknya bisa berbahagia dan mencapai cita. Saya tidak pernah mengerti makna sebuah cita-cita. Setelah dewasa, saya sadar cita-cita itu pada akhirnya akan memberikan nilai bagi seseorang.

I hope your dreams take you… To the corner of your smiles..

Orang tua menginginkan agar anaknya mampu bahagia. Bahagia tidak selalu didefinisikan dengan uang. Bahagia bisa karena ilmu yang diberikan atau kemampuan yang bisa bermanfaat untuk orang lain. Orang tua menginginkan agar kita mampu tersenyum dalam setiap keadaan. Bahagia yang diwujudkan dengan sabar dan syukur.

To the highest of your hope..

Semoga dengan profesi yang akhirnya ditekuni, bisa membuat kita mencapai keinginan tertinggi.

Ingin masuk surga bersama-sama dengan keluarga
Ingin punya keluarga sholeh
Ingin punya keluarga yang bermanfaat
Ingin mengamalkan ilmu
……

Bercita-cita lah setinggi-tingginya. Karena dengan tekad yang kuat bisa menjadi bahan bakar yang menggerakkan sebuah keinginan menjadi langkah-langkah implementasi.

To the window of your opportunities..

Cita-cita bisa mengantarkan kita menuju pintu-pintu lain. Kita bisa mendapatkan berbagai ilmu yang membuka pengetahuan. Kita bisa bertemu dan bersilaturahmi dengan orang yang tidak kita sangka. Bertemu dengan guru-guru, kolega, menjalin relasi. Bahkan mungkin jalan menempuh cita membuat kita menemukan hal lain, entah itu sahabat atau mungkin jodoh.

And to the most special places your heart has ever known..

I couldn’t describe this part, I’m so speechless.

:”

This poem is really sweet isn’t it?

Generasi Rabbani

Jika saya menjadi orang tua, saya ingin memberikan bekal dasar untuk anak-anak saya. Kelak, saya ingin mengajarkan mengenai pentingnya reasoning. Mengapa kita harus belajar? Mengapa kita harus bisa membaca? Mengapa kita harus menulis dan berpikir?

Sebagai seorang hamba Allah, kita harus berusaha agar menjadi insan yang Rabbani. Hassan Al Banna mendefinisikan, “Insan Rabbani adalah pribadi yang membentuk diri agar menjadi insan kamil yang mempunyai aqidah sejahtera, ibadah yang shahih, akhlak yang mantap, pikiran yang berasaskan ilmu, tubuh yang kuat, hidup yang berdikari, diri yang berjihad, menghargai waktu, tugas yang tersusun dan senantiasa memberi manfaat kepada orang lain.”

image

Sayyid Quthb menjelaskan definisi lain, insan Rabbani adalah orang yang memiliki ciri:
A. Selalu membersihkan diri dari segala unsur kejahiliyahan
B. Sumber rujukan mereka yang utama hanyalah Al Quran
C. Apa yang dipelajari semata-mata hanyalah untuk diamalkan

Ada beberapa poin yang ingin dijelaskan.
– Mengapa kita harus belajar?
– Mengapa kita harus bisa membaca, menulis, dan berpikir?
– Bagaimana memulai langkah agar bisa menjadi insan Rabbani?

1. Mengapa kita harus belajar?

Sesuai dengan defisi yang diterangkan Hasan Al Banna, Insan Rabbani haruslah memiliki pikiran yang berasaskan ilmu. Sebagai seorang muslim, kita harus belajar agar mendapatkan ilmu. Imam Ghanzali mengatakan, “Ilmu dan amal adalah dua perkara yang tidak dapat dipisahkan, saling mengisi. Ilmu sebagai pemimoin, sedangkan amal sebagai pengikutnya. Ilmu tanpa amal tidak ada gunanya, sedangkan amal tanpa ilmu akan celaka.”

Ilmulah yang akan memimpin langkah-langkah kita.

2. Mengapa kita harus bisa membaca, menulis, dan berpikir?

Malaikat Jibril mendatangi Rasulullah di dalam gua, lalu membimbing Rasulullah untuk mengucapkan, “Iqra..” (bacalah). Iqra, membaca mengawali semua hal, baik itu menuntut ilmu atau beramal. Membaca merupakan kemampuan yang sangat penting agar kita bisa membaca berbagai ilmu pengetahuan, menjalankan kehidupan, dan kita bisa membaca guideline terpenting manusia generasi Rasulullah, yaitu Al Quran.

Apakah fungsi dari berpikir? Berpikir adalah suatu proses yang terjadi di dalam otak manusia, kegiatan ini pada nantinya akan menghasilkan output berupa keputusan. Berpikir merupakan kemampuan khusus yang diberikan kepada manusia dibandingkan dengan makhluk ciptaan Allah lainnya. Itulah yang meninggikan derajat manusia. Berpikir membuat seseorang mampu membedakan mana yang baik mana yang tidak. Karena manusia berkewajiban untuk mengikuti anjuranNya dan menjauhi laranganNya. Berpikir sendiri merupakan bagian dari kemampuan manusia agar bisa membuat keputusan dan tindakan setiap harinya.

Menulis sendiri, bisa menjadi bagian untuk menuntut ilmu atau mengamalkan. Tulisan bisa menjadi informasi yang bermanfaat dan bisa diambil pelajarannya oleh orang lain. Menulis bisa mengasah seseorang untuk lebih banyak berpikir, lebih banyak membaca. Menulis membuat seseorang lebih cermat mengungkapkan pikiran maupun perasaan.

3. Bagaimana memulai langkah agar menjadi generasi Rabbani?

Belajar, belajar, belajar! Tuntutlah ilmu. Tekuni bidang yang disukai dan jadilah seorang ahli yang bermanfaat di bidang tersebut. Sertakan Al Quran sebagai guideline. SOP di kantor atau Guidelines Therapy dalam pekerjaan menunjukkan betapa pentingnya sebuah guideline. Sebagai manusia, hidup kita pun harus mengikuti guideline yang telah ada, Al Quran, Hadist, dan sunnah. Kita dapat memulainya dengan membaca terjemahan atau tafsir Al Quran, Hadist-hadist shahih dan sunnah-sunnah Rasulullah S.A.W.

Semoga Allah senantiasa mempermudah langkah kita agar bisa terus melahirkan generasi Rabbani, generasi yang hidup dalam naungan Al Quran. Amin..
.
.
.
.
D-6 Ramadhan
11 Juni 2016