Ramadhan di Kota Tahu

Melaksanakan kegiatan ramadhan di Sumedang bagi saya itu yang terbaik. Hidup di Sumedang memiliki pace yang jauh berbeda ketika di RSHS. Tingkat stres di RSHS dan sekitarnya itu 3-4x lebih tinggi. Kegiatan ketika di RSHS biasanya tidak teratur. Bahkan makan pun tidak tenang karena jadwal yang begitu fleksibel. Hal itu memberikan tantangan tersendiri.

Jejaring di RSUD Sumedang, dengan jadwal kerja yang teratur dan jam kerja yang tidak terlalu lama merupakan hadiah terbaik di bulan Ramadhan. Biasanya, kami harus menunggu ketidakpastian, tetapi di RSUD kami memiliki kegiatan yang jelas. Pasien-pasien di sini juga masih dalam lingkup kompetensi, sehingga memberikan bayangan seperti apa pasien yang akan kami tangani sebagai dokter umum.

Di Sumedang, tidak banyak yang harus dipikirkan. Tidak perlu menunggu siapapun, tidak perlu berdiri tidak jelas, di sini kami bisa belajar sebanyak apapun yang kami mau. Begitupun dengan beribadah. Seperti surga dunia, kami memiliki kesempatan untuk melaksanakan ibadah wajib maupun sunnah dengan sangat teratur.

Perempuan dan laki-laki tinggal di rumah yang berbeda. Di tempat tinggal perempuan, saya merasa benar-benar kondusif baik untuk belajar, beristirahat, ataupun beribadah. Bukan berarti saya menginginkan kehidupan yang tentram dan damai seperti ini. Di satu sisi, saya bersyukur dengan stressful life yang mengisi hari-hari saya di RSHS kelak akan menguatkan mental dan meningkatkan kemampuan menghadapi masalah. Di sisi lain, saya sadar, kelak saya juga membutuhkan seminggu atau dua minggu yang tenang dan tentram agar saya bisa kembali menata hati dan pikiran.

Di Sumedang, alhamdulillah makanan bisa didapat dengan mudah, sehingga kami bisa mendapatkan makanan untuk sahur ataupun berbuka. Satu yang paling penting, mesjid di dekat rumah berbeda dari mesjid-mesjid daerah pada umumnya. Di mesjid tersebut, shalat tarawih dilaksanakan 8 rakaat ditambah witir 3 rakaat  dengan tempo yang pas. Pas sehingga kami bisa mendengarkan bacaan dengan jelas, pas sehingga kami bisa fokus dan tidak tergesa-gesa dalam setiap gerakan shalat. Saya sendiri bingung, kenapa jarang sekali mesjid yang bisa shalat tarawih dengan tempo normal? Bagaimana bisa shalat khusyuk dengan alfatihah sekali tarikan nafas? Hmmmmmmmm….

Dua minggu ramadhan di kota tahu adalah penyegaran dari kepenatan dan kelelahan yang berakumulasi. Saatnya merecharge hati dan pikiran. Fokuskan kembali interaksi dengan Allah, tata kembali hubungan denganNya. Semoga iman yang kuat memudahkan kita sebagai hamba untuk mendapatkan ilmuNya. Amin..
.
.
.
.
Ramadhan hari ke-4, 9 Juni 2016
RSUD Sumedang

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s