Drama UKDI

Di balik lahirnya seorang dokter atau seorang dokter spesialis, ada banyak orang dan hati yang berkorban. Azeeg. Lebaynya!

Hampir setiap malam saya sampai kontrakan jam 11. Sebelum tidur biasanya saya uring-uringan dalam hati dan menyalahkan diri karena materi yang dikuasai belum terlalu progresif. Saya kesal dan marah. Saya sedih terutama jika saya mulai tidak konsen di kelas karena sudah terlalu lelah. Atau kadang saya juga melamun beberapa menit sebelum memaki diri, “UKDI bentar lagi woy!!”

Drama.. UKDI ini benar-benar drama. Sejak intensif preujian, saya tidak pulang ke rumah. Saya juga belum silaturahmi dengan orang tua saya di Subang. Anxiety, rasanya tidak tenang meninggalkan Bandung sebelum UKDI. Keluarga di Lembang selalu bertanya, “Kapan pulang?” Saya hanya bisa bilang, iya nanti weekend insha Allah. Saya pulang, bawa PR, bawa muka kucel.

Keluarga dan orang terdekat saya sengaja menjauh, mengurangi kontak. Mereka tidak menghubungi saya jika tidak benar-benar penting. Bahkan saya tidak diberi tahu apa-apa jika ada masalah di rumah.

Bukannya tidak punya waktu, hanya saya harus ikut bimbingan di kampus sampai sore dan lanjut bimbel sampai malam. Saya tidak punya pilihan dan hanya ingin menyelesaikan UKDI ini one shot!

Saya sangat menghargai pengertian dari mereka. Saya bisa bebas menggunakan waktu untuk merecall semua materi selama 5 tahun pendidikan kedokteran. Saya harap ini hanya sebulan saja. Saya harap begitu.

Setiap malam sepulang les saya memutar lagu Jess Glynn, Hold My Hands. Hanya satu lagu yang saya putar berulang kali untuk menenangkan diri. Setiap mendengarkan lagunya, saya merecharge energi, mengingat semua dukungan yang telah diberikan. Masa nyerah sih? Tidak lupa saya berusaha move one, memaafkan diri sendiri, jika hari itu ketiduran atau nilai pre dan post test saya jelek, atau drill saya tidak jua berprogress. Saya berusaha berdamai dengan diri sendiri.

Malam ditutup dengan ketiduran dan saya bangun di pagi hari untuk bernafas sejenak. Bismillah.. Semoga hari ini lebih baik dari kemarin.

Harga Kenyamanan

Yang terbaik belum tentu yang paling nyaman.

Kali ini penampilan saya sangat tidak proper untuk ke luar rumah. Saya mengenakan kaos, kerudung instant, sandal jepit, dan tas ransel jojreg favorit saja. Yang paling mahal, belum tentu yang paling nyaman.

Mulai besok, saya harus masuk kampus sejak pukul delapan. Artinya, tidak ada sandal jepit dan pakaian kasual. Membayangkannya saja sudah membuat kaki saya jadi gerah sendiri. Kenyamanan itu sungguh mahal. Guru saya, Tabib Sendi, pernah bilang jika hal hebat diraih dengan menerobos zona nyaman kita.

Rasanya mulai rindu berlama-lama dalam balutan baju rumah.

Cinta Bicara

Judulnya bikin getek banget, awwww..

Bahasa cinta kalau menurut teorinya Dr. Gary Chapman itu dibagi menjadi lima: Words of Affirmation, Quality Time, Receiving Gifts, Acts of Service, dan Physical Touch. Teoritis amat Dung? Dimana pentingnya tahu teori ini?

Sederhananya:
1. Words of Affirmation : senang dengan kata-kata (baik diberi atau memberi)
2. Receiving Gifts : senang hadiah (baik diberi atau memberi)
3. Acts of Service : senang menunjukkan dengan perbuatannya. Talk less do more banget. Cenderung senang menerima usaha dari orang lain juga.
4. Quality Time : bela-belain untuk barengan, nyempetin waktu buat barengan juga
5. Physical Touch: senang memberi dan diberi sentuhan fisik, seperti pelukan. Atau kalau ada orang sedih dia akan ngepuk-puk pundaknya

Detailnya bisa dibaca di sini

Contohnya gimana sih, Dung?
Misalnya ya, Idung tipe orang yang senang dengan Quality Time banget. Jadi Idung suka sekali bisa berkumpul dengan keluarga atau temen-temen dekat. Walaupun misalnya mengorbankan waktu istirahat, tapi tetap mengusahakan waktu untuk bertemu. Rasanya juga bahagia banget kalau ada orang yang bela-belain ketemu walau hanya untuk 30 minutes lunch. Idung juga cenderung posesif, biasanya murka kalau lagi kumpul terus teman-teman asik dengan gadgetnya sendiri. Woy, gue udah bela-belain ketemu ya. Malah dikacangin. Hahaa..

Konflik yang sama juga pernah terjadi waktu jadwal praktek mama semakin padat. Mama udah ga sempet masakin lagi, waktu ngobrol jadi berkurang. Rasanya sediihhhh banget banget banget. Sampe Idung protes dan marah-marah murka. Tapi akhirnya Idung sadar, bahasa sayangnya Mama itu beda, She gives me acts of service, she gives me money. That’s the way she loves me. So, Idung harus menunjukkan dengan tindakan juga. Idung harus belajar lebih rajin, nilai Idung harus baik. Idung harus menunjukkan jika Idung juga sayang Mama dengan perbuatan.

Mengerti bahasa cinta ini sangat berguna. Kebayang dong, ada orang yang bela-belain jemput kita terus kita mencak-mencak karena dia ga pernah bilang I Love You? Padahal mungkin dia memang tipe orang yang senang menunjukkan sayangnya dengan tindakan dan usahanya.

Seperti Pagi ini, Idung bombay dan baru sadar bahasa cintanya Ene, Aki, Bibi, dan Lele. Idung cenderung kontra dan banyak berdebat karena perbedaan cara dengan mereka. Idung sangat nyaman berbicara dengan Ayah karena beliau itu memberikan kepercayaan. Mau Idung pulang malam atau pergi ke suatu tempat, atau memilih pilihan, Ayah itu percaya. Bahkan Ayah adalah satu-satunya orang yang membuat Idung berdiri tegar memilih kedokteran di saat orang lain sangat hopeless. He means everything to me. Kepercayaan dari Ayah membuat Idung bisa yakin mengikhtiarkan cita-cita Idung.

Aki, Ene, Bibi, dan Lele, kami semua hampir memiliki karakter yang sama-sama keras, kutub negatif dan negatif. Lalu Idung ingat Aki yang selalu memaksa Idung agar tekun belajar di rumah, Aki yang membuat Idung takut karena diancam jika tidak mau belajar. Aki yang mengantar Idung ke Jakarta untuk tes Simak. Aki yang tidak banyak bicara tapi tentu Kakek mana yang tidak sayang dengan cucunya? Galaknya Aki adalah bentuk kasih sayang dari Aki.

Ene yang bawel, tapi berkorban di usia tuanya untuk merawat Idung yang bandel. Ene dulu memasak untuk Idung, meneriaki Idung setiap hari karena kesiangan untuk sekolah, Ene mencucikan pakaian, menunggu hingga Idung aman naik ojek setiap pagi. Walau Ene bawel marah-marah, Ene hanya seorang nenek yang sayang dengan cucu melebihi anaknya.

Mbiw yang sangat baik, selalu menyediakan makanan apapun yang Idung mau. Bu, mau susu, Bu.. Mau chiki.. Bahkan hingga saat ini. Cara Mbiw memberi adalah bentuk kasih sayangnya. Lele, yang tidak banyak bicara tapi begitu sayang dengan kekhawatirannya.

Ene, Aki, Lele, Mbiw yang cenderung posesif, perbedaan kita adalah: mereka sangat khawatiran, Idung tidak suka terlalu dikhawatirkan. Ah, ini semua hanya perbedaan cara saja bukan? Idung hanya harus menjaga diri Idung sebaik-baiknya agar mereka bisa tenang dan lega. Begitu kan?

Mengetahui bentuk dan bahasa cinta dari orang lain membuat kita bisa lebih menghargai dan mengerti jika kita mengungkapkan cinta dengan cara yang berbeda. Semoga kita bisa semakin menyadari, mensyukuri, dan menghargai orang-orang yang memberikan bentuk kasih sayang pada kita dengan caranya.

Ambang

Batas antara percaya atau tidak

Batas antara bangun dan jatuh

Batas antara keraguan dan harapan

Antara, yang jaraknya hanya sejengkal

Hujan gelisah jatuh setitik demi setitik melubangi perasaan

Ambang

Aku hampir jatuh, tanpa penyangga

Hingga akhirnya banyak doa – doa bahu membahu sampai ke langit

Eskoriasi mulai regenerasi

Tapi Ambang tetaplah menjadi Ambang, tidak gentar

Mengapa begitu?

Katanya, agar tetap dekat jarak resah dan sajadah

Yang Tertunda

Ketika kita meminta kepada Allah jawabannya bisa tiga:
1. Dikabulkan saat ini
2. Dikabulkan nanti
3. Dikabulkan dengan pemberian yang lain

Begitu banyak cara Allah memberikan jawaban atas doa-doa kita, termasuk dengan menunda. Seperti seorang Ibu yang menolak membelikan ice cream sampai si anak sembuh dari batuk. “Iya.. Sabar ya! Sabar ya nak! Nanti Ibu belikan ice creamnya kalau kamu sudah sembuh. Makan yang banyak ya supaya kuat dan lekas sembuh.”

Barangkali kita belum sampai pada doa yang selalu dipanjatkan, tapi banyak pelajaran lain yang didapat. Seperti niat kita jalan-jalan ke Malaysia. Niat pergi ke Genting Highland membuat kita mendapatkan hal lain, oleh-oleh sekoper besar misalnya. Haha.

Banyak yang tidak bisa diduga karena memang takdir itu misteri. Percayalah jika niat baik akan membawa banyak kebaikan. Jadi, mungkin kita perlu merevisi niat dan doa-doa kita, agar kebaikan yang kita panjatkan melimpahkan kita dengan berbagai kebaikan yang lain. Semoga kita bisa bersabar. Percayalah dengan Kekuasaan dan Karunia-Nya.

Membuat Alasan

Jangan berbuat sesuatu karena dendam, tapi karena cinta. Beuuhh kata-katanya ala-ala Oknum D nih.

Buat pilihan dan kerjakan dengan hati, dengan cinta. Mungkin energinya tidak akan sebesar rasa dendam. Tapi perasaan yang tulus membuat kita bekerja lebih sabar, lebih ikhlas, lebih tenang, lebih all out, dan yang penting lebih berkah.

Kita akan mendapatkan apa yang diniatkan. Jadi, jangan sampai kita salah niat dari awal memulai. Jika mulai melenceng di perjalanan, segeralah kembali pada tujuan awal Kakak. Ingat Kak, hidup di dunia ini sesungguhnya hanya permainan. Ngeri kan? Luruskan niat Kakak setiap saat ya. Buatlah alasan dalam setiap pilihan atau tindakan yang dilakukan. Alasannya apakah sudah karena-Nya?

Untuk Anak Ibu : Jangan Bersedih

Kelak mungkin keinginan kakak bertentangan dengan orang lain. Sabar ya Kak, tenangkan diri. Ingatlah jika bukan kita yang mengendalikan kehidupan. Saat banyak orang mengecilkan hati Kakak, ingatlah jika itu adalah saat Allah ingin lebih dekat dengan Kakak. Berdoa lah Kak. Coba Kakak ingat lagi tentang tujuan hidup Kakak di dunia? Apakah pilihan Kakak saat ini sudah tepat dan mendekati tujuan itu.

Coba Kakak ingat lagi, apakah kali ini amalan harian Kakak mulai kendor? Apakah idealisme Kakak mulai tergerus?

Kakak harus kuat. Jadikan kesedihan sebagai prekursor agar kita semakin fokus dengan cita-cita. Tapi, Kakak juga harus ikhlas jika takdir Allah ternyata tidak sama dengan keinginan. Ikhlas bukan berarti melepaskan Kak. Ikhlas berarti berjuang lebih keras, berdoa jauh jauhh lebih keras.

Mencari Rizka

Ke mana Rizka yang dulu?

Ke mana perginya Rizka yang dulu? Rizka dulu begitu percaya diri, optimis, dan pekerja keras. Meski Rizka dulu tidak bersekolah di SMA favorit pada jamannya, Rizka keukeuh ingin masuk kedokteran. Rizka yang tidak punya apa-apa dulu tanpa tahu malu berani membuat mimpi setinggi langit, lalu pergi ke mana semua keberanian itu?

Rizka saat ini hampir memiliki segalanya, ilmu yang sedikit-sedikit masih tersisa tapi perlu recall. Rizka punya orang tua dan keluarga yang selalu mensupport. Rizka punya teman-teman yang sangat care. Lalu mengapa keberanian yang dulu selalu ada jadi hilang?

Hampir saja Rizka lupa dulu dia bukan orang sepengecut saat ini. Rizka yang dulu tidak akan pernah menyerah sebelum mendapatkan apa yang diinginkan. Rizka bukan orang yang lemah. Ikke bilang, “Kita pasti bisa dan kita harus bisa.”

Wake up, Riz!

Battle Camp

Sudah kuduga ini akan terjadi.

Kontrakan itu ibarat medan perang, isinya anak-anak kedokteran yang sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan ujian. Seperti dugaan saya sebelumnya, saya mulai tertekan di sini. Memang ini yang saya harapakan. Tabib Sendi, guru saya bilang, kita memerlukan tekanan untuk akselerasi diri. Gila sendiri sih jadinya. Tapi memang ini lebih baik.

Sudah bisa dibayangkan bila saya tinggal sendiri, saya tidak akan bisa melihat teman-teman lain belajar serajin dan seekstrim saat ini. Hahaha. Mau mati banget sumpah. Rasanya baru selesai mengerjakan A, di sini orang-orang sudah mengerjakan X, Y, Z. Tapi syukurnya battle camp ini mempersingkat transisi holiday to ukdi war. Heu.

Gila gila gila. Beneran gila. Akhir-akhir ini saya mulai menarik diri, mulai belajar di luar kamar. Karena kamar yang saya tumpangi jadi tempat belajar teman-teman yang lain. Haha.. Saya belum bisa ikut belajar yang sama karena masih harus mencicil materi yang lain. Tak apa karena kebutuhan setiap orang berbeda.

Ukdi ini sempat membuat saya down dan pesimis. Tapi lama-lama jadi semakin greget. Dulu saya berani membuat mimpi untuk masuk kedokteran. Sekarang saya juga harus punya cita-cita yang kuat untuk lulus. Mari menyelesaikan apa yang telah dimulai!

Minim Kata

Mengungkapkan cinta pada seorang perempuan itu penting. Tapi, Ayah mengajarkan pada saya bahasa cinta yang lain.

Bukan tentang siapa yang lebih rajin melarang kita pulang malam, lalu mengirimkan kata-kata manis via medsos “Hati-hati jangan pulang malam terus” atau yang marah-marah di LINE atau telepon karena kita pulang malam terus. Tapi dia yang mau berkorban meluangkan waktunya, tenaganya, dan tentu saja bensin untuk menjemput dan mengantarkan kita saat dia sempat.

Cinta memang butuh pengorbanan, waktu, uang dan juga bensin. Kata Ayah, laki-laki memang harus begitu. Laki-laki yang serius dengan kita akan membuat kita menjadi bagian yang harus ia perhatikan.

Ayah mengajarkan saya sudut pandang lain, tentang cinta bagi seorang laki-laki dilihat dari perbuatannya. Bukan tentang ia yang rajin memberikan kita sesuatu yang romantis, tetapi ia yang menyimpan hasil kerjanya untuk memberikan mahar terbaik dari keringatnya.

Jika tidak mendengar penjelasan dari Ayah, mungkin saya akan termakan dengan orang yang lebih sweet dengan kata-katanya. Barangkali, inilah salah satu penyebab orang-orang sulit move on. Ia tidak melihat laki-laki yang memperjuangkannya, yang datang langsung untuk bertemu dengan walinya. Tentu saja bertemu dan siap dengan segala rintangannya. :p

Cinta dari seorang laki-laki mungkin minim kata-kata. Mungkin mereka menunjukkan dengan kesigapannya, jumlah istirahatnya yang berkurang demi waktu bersama, atau dengan memastikan kebutuhan kita tercukupi.

Seperti adik saya Reinaldhi dan Ayah saya yang sibuk pagi hari membersihkan karpet saat saya harus didandani. Begitu remponnya Ayah memperhatikan apakah dekorasi meja makan sudah ok? Apakah rumah sudah siap? Bagaimana kedua adik lelaki saya begitu rempong dengan kamera membantu di hari yang penting untuk saya? Bagaimana mereka mau repot-repot ke tukang jahit untuk membuat baju seragam keluarga?

Cinta mungkin tidak dalam bentuk kata, tetapi dengan perjuangan. Ayah bilang kalau orang sungguh-sungguh pasti dia akan berusaha berjuang buat kamu. Mungkin kalau Ayah tidak bilang begitu, keputusan saya tidak akan seperti saat ini. Berjuang itu bukan siapa yang lebih giat menghubungi via media sosial, tetapi ia yang lebih cepat mendatangi dan menjemput restu orang tua target sasaran. Beuhh

Saya begitu bersyukur dan bahagia berada di sekeliling orang-orang yang tidak pandai mengobral kata. Syukurnya mereka adalah para lelaki cool, tapi sebenarnya memiliki hati hangat. Terima kasih dengan semua tindakan yang membuat saya merasa sangat dicintai.

Ah Ayah.. Terima kasih banyak telah banyak mengajarkan saya tentang laki-laki. Pikiran dan hati saya jadi lebih objektif untuk menambatkan perasaan.