Letak Sabar dan Syukur

Kunci hidup bahagia itu syukur dan sabar.

Pelajaran yang didapat di tengah kegiatan padat mempersiapkan UKDI.

Terasa betul saat Allah mencabut nikmat makan dan tidur saya, beuhh.. Rasanya keseharian itu seperti robot. Pagi-pagi saya bangun untuk shalat Subuh, lalu lanjut mengerjakan PR bimbel sampai kira-kira pukul 6.30. Saya bergegas sarapan sembari mengerjakan soal, lagi.

Ketika nafsu untuk makan diambil, makan hanya menjadi sebuah kegiatan yang berfungsi memberikan pasokan energi bagi tubuh, hampa betul. Biasanya ketika makan dengan nikmat, bukan hanya energi yang kita dapat, tetapi juga kebahagiaan. Bahagia sesederhana enaknya makan indomie. Makin banyak lemak makin mantap, kan?

Makan yang menurut saya nikmat itu jika makan dengan tenang dan tanpa tergesa-gesa. Saya rindu makan di depan indomart, di warung nasi tasik yang murah tapi bumbunya sesuai selera. Sekarang, yang penting saya harus sarapan (apapun itu), makan siang (apapun itu), makan malam (apapun itu) yang penting : makan, cepat, dan tidak banyak membuang waktu.

Jadi sekarang saya prefer makan masakan teteh, karena menghemat waktu untuk berpikir, “nanti saya makan apa?”. Saya juga prefer membawa roti, agar tidak perlu perduli makanan saya akan basi karena dimakan malam hari atau karena ternyata kantin terdekat tidak buka. Prioritas saya saat ini adalah efisiensi.

Hidup itu harus efisien, hingga jadwal tidur sudah seperti, “baru tidur sudah bangun lagi.” Karena, setelah shalat tidak bisa langsung guling-guling di bawah selimut. Sekarang yang penting belajar, belajar, belajar.

Hampir seluruh fokus saya saat ini untuk UKDI, hingga banyak hal lain yang akhirnya diabaikan atau tidak sengaja terabaikan. Baru tiga hari dan saya rindu sekali menjadi manusia yang bahagia dengan hal-hal sederhana, makan tenang, tidur tenang.

Dimana kah seharusnya saya meletakkan sabar dan syukur?
Hal praktisnya adalah:
1. Makan tidak sambil mengerjakan soal
2. Berinteraksi dengan teman saat jeda mengerjakan soal
3. Banyak berdoa sebelum tidur
4. Tidak tergesa-gesa saat makan
5. Shalat lebih awal dan tidak tergesa-gesa setelah selesai shalat

Sabar saat sedang dalam proses mempersiapkan ujian (ikhtiar, berdoa, tawakal), bersyukur dengan menjaga kesehatan (sehat jiwa, raga, spiritual, sosial). Bismillah.. Semoga bisa meluruskan niat lagi. Jangan sampai cuma lelah fisik tapi kita tidak mendapat esensi dari yang dikerjakan.

Love what you do more. ❤

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s