Minim Kata

Mengungkapkan cinta pada seorang perempuan itu penting. Tapi, Ayah mengajarkan pada saya bahasa cinta yang lain.

Bukan tentang siapa yang lebih rajin melarang kita pulang malam, lalu mengirimkan kata-kata manis via medsos “Hati-hati jangan pulang malam terus” atau yang marah-marah di LINE atau telepon karena kita pulang malam terus. Tapi dia yang mau berkorban meluangkan waktunya, tenaganya, dan tentu saja bensin untuk menjemput dan mengantarkan kita saat dia sempat.

Cinta memang butuh pengorbanan, waktu, uang dan juga bensin. Kata Ayah, laki-laki memang harus begitu. Laki-laki yang serius dengan kita akan membuat kita menjadi bagian yang harus ia perhatikan.

Ayah mengajarkan saya sudut pandang lain, tentang cinta bagi seorang laki-laki dilihat dari perbuatannya. Bukan tentang ia yang rajin memberikan kita sesuatu yang romantis, tetapi ia yang menyimpan hasil kerjanya untuk memberikan mahar terbaik dari keringatnya.

Jika tidak mendengar penjelasan dari Ayah, mungkin saya akan termakan dengan orang yang lebih sweet dengan kata-katanya. Barangkali, inilah salah satu penyebab orang-orang sulit move on. Ia tidak melihat laki-laki yang memperjuangkannya, yang datang langsung untuk bertemu dengan walinya. Tentu saja bertemu dan siap dengan segala rintangannya. :p

Cinta dari seorang laki-laki mungkin minim kata-kata. Mungkin mereka menunjukkan dengan kesigapannya, jumlah istirahatnya yang berkurang demi waktu bersama, atau dengan memastikan kebutuhan kita tercukupi.

Seperti adik saya Reinaldhi dan Ayah saya yang sibuk pagi hari membersihkan karpet saat saya harus didandani. Begitu remponnya Ayah memperhatikan apakah dekorasi meja makan sudah ok? Apakah rumah sudah siap? Bagaimana kedua adik lelaki saya begitu rempong dengan kamera membantu di hari yang penting untuk saya? Bagaimana mereka mau repot-repot ke tukang jahit untuk membuat baju seragam keluarga?

Cinta mungkin tidak dalam bentuk kata, tetapi dengan perjuangan. Ayah bilang kalau orang sungguh-sungguh pasti dia akan berusaha berjuang buat kamu. Mungkin kalau Ayah tidak bilang begitu, keputusan saya tidak akan seperti saat ini. Berjuang itu bukan siapa yang lebih giat menghubungi via media sosial, tetapi ia yang lebih cepat mendatangi dan menjemput restu orang tua target sasaran. Beuhh

Saya begitu bersyukur dan bahagia berada di sekeliling orang-orang yang tidak pandai mengobral kata. Syukurnya mereka adalah para lelaki cool, tapi sebenarnya memiliki hati hangat. Terima kasih dengan semua tindakan yang membuat saya merasa sangat dicintai.

Ah Ayah.. Terima kasih banyak telah banyak mengajarkan saya tentang laki-laki. Pikiran dan hati saya jadi lebih objektif untuk menambatkan perasaan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s