Seni Berbicara

Kak, lebih baik diam atau bicaralah dengan kata-kata yang baik, di waktu yang tepat.

Komunikasi itu seni. Bicara banyak atau sedikit tidak menjamin kualitas isi yang diutarakan. Komunikasi memerlukan banyak elemen, bukan hanya suara tapi juga telinga yang siap menyimak. Gunakan semua sense kakak ketika bersama dengan lawan bicara.

Tanya kembali apakah yang diucapkan itu perlu atau tidak? Apakah nada bicara kita bisa diterima dengan baik oleh lawan bicara? Lebih baik diam atau bicara dengan baik.

Seperti saat orang lain bekerja, tidak semua hal perlu diinterupsi. Misalnya saja jika Ayah sedang menyetir. Biarkanlah Ayah berkreasi, mau lewat Dago mau lewat mana, jika tidak ditanya tidak perlu banyak bicara. Misalnya, sedikit-sedikit “Yah ini lewat mana? Kenapa ga lewat sini aja?”

Atau ketika Ibu sedang memasak, kita datang lalu bilang, “Ih Ibu kok masaknya gini sih? Ini tuh caranya gini Bu.” Aduuh.. Ini bisa meruntuhkan kepercayaan diri. Diinterupsi terlalu sering membuat orang lain jadi malas mendengarkan.

Kak, kita perlu berlatih banyak untuk menjadi seseorang yang fleksibel, luwes. Tidak semua orang melakukan cara yang sama dengan kita. Maka penting juga untuk belajar membaca situasi. Apakah cara kita menyampaikan sudah sesuai dengan orang lain?

Tidak perlu menyampaikan semua hal yang ada dipikiran. Pikirkan kembali dampak yang akan terjadi jika kita mengatakannya. Apakah lebih banyak kebaikan atau ternyata cara kita bicara melukai orang lain?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s