Keluarga Icung : LDR Sepanjang Masa Tapi Kompak Penuh Cinta

Satu kebaikan akan melahirkan kebaikan yang lain. 

Saya sangat senang ketika ditraktir makan oleh orang tua Icung di Kedai Eyckman, yang tidak akan dimasuki oleh koas karena sangat mahal. Saat itu hujan deras, di tengah persiapan ujian CBT saya dan teman – teman di kontrakan diajak makan di luar. Rasanya senang dan terharu, seperti dikunjungi oleh orang tua sendiri. I saw them laugh. They were so sweet and romantic in their golden age. 

Kebaikan itu, membuka pintu kebaikan yang lain. Icung bilang, Ayahnya dulu diperlakukan dengan baik oleh orang tua sahabatnya. Makanya beliau sekarang sangat baik pada teman – teman Icung. :” Saya berharap kelak dapat melakukan hal yang sama seperti kedua orang tua Icung.

Orang tua Icung bagi saya adalah sosok teladan. Meski mereka LDR sejak jaman pacaran bahkan hingga usia perkawinan 20+++mereka tetap kompak dan romantis. Salut sekali dengan Bapak dan Ibu Icung. Ibu Icung sangat mandiri ketika ditinggal Bapak yang pulang hanya Dua bulan sekali. Bapak Icung yang begitu setia meski berada di tempat yang jauh. Di usia yang tidak lagi muda mereka sangat excited dan mempersiapkan diri jika akan bertemu saat Bapak Off dari site. Bahkan sampai saat ini mereka bisa menelepon 1-3x setiap harinya. Luar biasa. Kata Icung, “Gapapa keluar pulsa banyak karena dengan itu mereka memenuhi kebutuhan masing-masing.”

Komunikasi : Rahasia kelanggengan pasangan :p

Saya sering bertanya, “Cung kenapa lo bisa seambis ini sih sama adek lo? Kalian berdua achiever banget.”

Bagaimana Ibu Icung membentuk anak-anaknya menjadi ambisius dalam belajar tanpa diperintah juga sangat menginspirasi? Jadi, orang tua Icung tidak pernah menyuruh anak-anaknya belajar, tapi mereka belajar bersama di ruang tengah tanpa ada TV yang menyala. Tidak ada cerita anak-anak mengerjakan PR tapi Ibu Bapak menonton TV, hemehhh. Anak-anak dengan tugasnya, Ibu Icung juga mengerjakan tugas kuliahnya. Memang, cara mendidik yang paling baik adalah dengan menjadi teladan.

Icung bilang, Ibu selalu menyempatkan waktu untuk berkumpul sepulang mengajar di kampus. Ibu akan bercerita di tempat tidur bertiga dengan anak-anaknya. Kalau kalian melihat Icung dan Ibunya, kalian akan menyangka mereka saudara kembar, kompak, gila! I hope I could be my children’s best friend like her. Bapak pun seperti sahabat Icung. Meski jarang bertemu saya melihat Bapak Icung sangat dekat, seperti sahabat Icung tidak ada jarak sama sekali. Bapak dan Icung sering berkomunikasi via telepon. Yang LDR aja bisa kompak, yang tinggal bersama harus lebih berusaha untuk saling mengenal dan dekat dengan keluarga juga. Semangat!!

Saya belajar banyak dari keluarga Icung. Bersyukur sekali bisa bertemu dan mengenal mereka. Terima kasih Icung karena sudah banyak bercerita dan memberikan saya pelajaran tentang memiliki keluarga yang kompak dan harmonis juga bisa mendukung dan memotivasi satu sama lain. Semoga bapak dan Ibu Icung sehat selalu, Icungnya juga segera diberikan jodoh yang memberikan komitmen dan kepastian, sholeh, serta rajin berolahraga. Hahaha. Amin..

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s