Menjalani Konsekuensi

Tiba-tiba kebiasaan saya merancang masa depan menjadi terblock, blank. Yang saya tahu, setelah ini saya akan internship, sisanya saya tidak tahu.

Seketika, keputusan yang saya ambil akan memberikan konsekuensi lain, tanggung jawab, amanah yang baru. Dan saat ini juga mindset saya tentang masa depan berubah. Bisa dibilang sebuah konsekuensi membuat saya menjadi orang yang lebih realistis.

Saya merasa menjadi lebih lemah dan sangat bergantung hanya pada pertolongan Allah. Saya sadar cita-cita yang begitu saya inginkan telah menemukan jalannya, dan sekarang saya sedang berada di depan pintu gerbang. “Assalamualaikum, Dung!” Masa depan menyapa saya, lembut.

Sekarang, segala yang saya lakukan akan berimbas pada orang lain, kemalasan saya, sikap egois saya. Semoga kesibukan dan rutinitas yang saya jalani tidak melupakan siapa saya? Siapa yang menciptakan saya? Sebagai apa saya diciptakan? Kepada siapa saya akan kembali?

Detik ini pikiran saya jauh dari ingin Honda Civic, seperti saya SMP dulu. Atau ingin punya anak 5, seperti saat saya kuliah. Bisa dibilang, isi pikiran saya adalah kegamangan. Mungkin tidak lama lagi semua teori yang saya baca di buku akan terjadi, jauh berbeda dengan kenyataan yang ada. Dan itu membuat saya cukup deg deg-an, bisakah saya menjalani dengan sebaik-baiknya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s