Menghadirkan Kebahagiaan

Setiap manusia diciptakan berpasang-pasangan. Ada yang senang memasak, ada pula yang senang makan. Ada pula orang yang lupa menaruh handuk basah, ada pula yang bawel dan risih melihat handuk basah tergeletak, hingga hatinya tergerak untuk segera menjemurnya.

Tentu rumah yang sepi itu menyenangkan. Tapi jika tidak ada lagi pertanyaan, “Kunci di mana ya?” atau “Liatin dong pintu udah dikunci belum?” Itu akan jadi saat paling patah hati dalam hidup.

Kebahagiaan didapat bukan hanya dari hal besar. Terkadang dari seseorang yang meminta kita membuatkan teh, dari seseorang yang minta dimasakkan, tetapi justru tidak dihabiskan. Bisa juga dari pasangan yang tidak peka, yang jarang membelikan oleh-oleh. Tapi justru rasa sebal dan kesal yang dimiliki justru terasa lebih bahagia dibandingkan dengan puncak kebahagiaan saat kita masih seorang diri.

Bahagia itu memang tidak selalu terasa seperti mendapatkan hadiah. Bahagia bisa berupa ketenangan, rasa syukur karena kita tidak sendiri di dunia ini. Muka kita mungkin sedikit cemberut, tetapi hati kita mendapatkan kelegaan.

Bahagia terasa dimulai dari menghargai kehadirannya, menerima segala sikap yang kadang menyebalkan tapi justru membuat kita akan merasa sepi jika tidak ada di kemudian hari. Kebahagiaan hadir saat kita bisa menerima kelebihan dan kekurangan pasangan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s