Slim Fit Together 

Sehat itu penting. Inginnya saya bisa sehat sampai tua seperti guru-guru saya, dokter endokrin dan metabolisme, juga dokter Gaga, seorang spesialis gizi klinis. Tahukah bagaimana resep sehat dari mereka?  Shaum sunnah, makan tidak berlebihan dan olahraga. Mindset gendut sehat itu yang harus dikoreksi. Pikiran bahwa makin makmur makin buncit itu yang harus dikoreksi.  Apalagi obesitas atau kegemukan menyumbang pada penyakit diabetes, jantung, dan pembuluh darah.

Kesehatan itu mahal.  Tugas kita menjaga kesehatan semaksimal mungkin. Maka dari itu, sejak menikah saya berusaha mengajak suami untuk memiliki cita-cita yang sama : healthy, slim and fit.  Tujuannya selain karena kesehatan, agar bisa tetap menjaga penampilan untuk pasangan.  Awalnya suami kesulitan menjaga pola makan.  Namun sekarang justru suami lebih rajin berolahraga, rutin shaum senin kamis dan mengurangi minuman manis selain di pagi hari.

Berat rasanya mengingatkan suami tentang do and don’t untuk bisa menurunkan berat badan.  Tapi sekarang justru suami ketagihan, setelah bisa memecahkan rekornya sendiri untuk menurunkan berat badan.  Semakin hari suami semakin bugar dan sehat karena rajin berolahraga.  Malah istrinya yang jadinya ngoyo. Hihi. Gantian sekarang dokter yang dimotivasi suami.

Tentunya saya sangat bangga, kagum, dan terharu dengan ikhtiar yang dilakukan suami. Katanya biar makin ganteng dan seksi di depan istri. Omo.. Pantas saja makin hari makin ganteng ya Kanda. Terima kasih sudah berolahraga dan menjaga kesehatan Kanda. Gaul banget parah. PR kita masih banyak, karena kesehatan itu harus terus dijaga. BMI normal itu harus terus dipertahankan.

Belum pernah nasihat saya tentang menurunkan BB didengarkan dengan serius.  Baru kali ini yang benar-benar menerapkan dan berhasil adalah suami sendiri. Bagi seorang ENTP seperti saya, bisa berbagi value dan meraih cita-cita bersama itu memberikan poin yang sangat besar. Itu sangat berarti bagi saya. Cita-cita kita ya bisa terus oke dan hot di depan pasangan. Hehehe.  Semoga kita bisa istiqamah ya Yang. Semoga niat kita menyenangkan pasangan dimudahkan Allah, dinilai ibadah juga oleh Allah. Amin.

Current weight : 50,5 Kg

Target weight : 47-48 Kg (katanya dapet voucher belanja dari suami kalo berhasil) 

Advertisements

LDR : Jarak Itu Mengeratkan

Yang, terima kasih banyak sudah pulang, ke rumah, dimana pun ada aku.

Ini adalah LDM kita yang pertama, dua minggu pertama yang berat.  Di mana di akhir minggu kedua saya bilang, “I think we need to make a video call, Yang. Di sini berasa jomblo, kaya lagi ga punya suami.” Yup, seminggu pertama di Puskesmas yang bahagia membuat saya membutuhkan dosis komunikasi yang lebih intens dengan suami. Alhamdulillah suami orangnya sangat terbuka, Ia tidak marah dan justru merespon keluhan pasangannya. 

Akhirnya Ia menelepon saya karena sedang tidak ada signal wifii saat itu, 30 menit ngalor ngidul membuat saya sangat bahagia. Saya bilang, “Sekarang jadi ngerasa punya pacar.” Pacar LDR. It was better than I felt like a jomblowati.  Hehehe.  Rizki anak sholeh, tiba-tiba saya mendapat berita gembira, suami dapat libur dua hari. Ia bisa mengunjungi saya di Indramayu.

Bertemu suami di sini memberikan perasaan dan sensasi yang berbeda. Jauh dari rumah ditambah LDR dengan suami memberikan definisi baru bagi “rumah”. Rumah adalah tempat saya bisa berkomunikasi dengan suami, atau rumah adalah di mana ada saya, atau rumah adalah tempat di mana ada suami.

Ia datang dengan Beard’s Papa, yang sudah lama saya idamkan. Ketika saya pulang Ia sedang tidur karena kelelahan di perjalanan, dengan wanginya yang sama, wangi yang selalu saya suka.

Tidak banyak kegiatan yang kami lakukan, hanya makan, belanja ke supermarket, jalan-jalan naik becak, dan menjalani ritual: lenjeh-lenjeh setelah bangun pagi. Tapi Ia membuat saya sangat bahagia.  Karena Ia mau makan sandwich yang saya buat, karena Ia memakai apapun pakaian yanb saya pilihkan.

Saat harus berpamitan, berat rasanya. Baru saja bertemu dua hari sudah harus berpisah.  Saya berusaha untuk menahan air mata.  Saat Ia mencium kening saya di kamar sebelum keluar, saya menutup mata sekuatnya. Saat Ia mencium kening ketika ritual setelah sun tangan, lagi-lagi saya menutup mata agar tidak menangis.  Tibalah ketika suami dibawa mamang ojek menuju stasiun.

Saya segera masuk kamar, mengunci pintu, lalu melemparkan diri ke tempat tidur. Saya menangis sekuat-kuatnya sambil memeluk bantal. Saya merasa bersalah karena saat Ia datang belum banyak yang bisa saya berikan.  Belum banyak yang bisa dilakukan bersama. Sangat berat harus berpisah padahal baru saja bertemu.  Tapi kebaikan suami saya mengingatkan saya agar bisa lebih banyak bersyukur, lebih banyak mendoakannya, mendoakan kami.

Dicintai oleh suami dengan sangat istimewa memotivasi saya agar bisa menjadi istri yang lebih baik dan menjadi manusia yang lebih produktif. Terima kasih banyak Yang,  sudah pulang.

LDR mengajarkan kita bahwa jarak adalah komponen yang membuat ruang rindu, yang justru mengeratkan kita. 

Thank you for the films, for all the little things you did for me, for our silly conversation. I miss you, Yang.  I love you. Till we meet again, dear my handsome husband.  ❤