Do You Believe in A Happy Marriage? 

Do you believe in a happy marriage?

Kata Prof Endang, “Nikah itu enak.” Ternyata, setelah mengalaminya sendiri, menikah itu enak banget dan bahagia banget. Mungkin ini adalah buah dari kesabaran karena Allah akan menikahkan seseorang dengan orang yang tepat, di waktu yang tepat.
Saya bertemu suami di reuni panitia. Kami tidak terlalu kenal bahkan. Yang saya tahu political preference kami sama, orangnya baik, supel, banyak teman, dan aktif di politik kampus that make me thought that he was so brialliant and sexy. Walaupun karena terlalu populer dan baik jadi banyak bikin cewek-cewek baper dan terlalu berharap, termasuk saya (merasa jadi korban). Wkwkwkwk.

Percaya ga sih, katanya jodoh itu cerminan diri kita?

Ketika saya memutuskan untuk hijrah, ternyata jodoh saya juga sedang sama-sama hijrah? Siapa yang menduga akan ada orang yang sama datang, tapi dia sudah berubah dan tidak seperti dulu lagi?

Suatu hari suami saya datang, tidak dengan kode busuk nan PHP, tapi dengan keseriusan dan ajakan untuk menikah. Satu sisi saya ingat kekesalan saya saat dulu dia PHP, tapi saya juga melihat kemauannya untuk berubah sejauh ini. When he asked me to marry him, I said to myself, ‘why not?’. Bukankah kita hidup dengan dia pada masa sekarang dan bukan dengan dia pada masa lalu?

Hubungan kami dimulai dengan saling menerima kesalahan dan masa lalu pasangan.

Walau sering kali saya ngomel-ngomel karena masih ingat kekesalan saya dulu sama suami, tapi sambil kami berdua ketawa-ketawa. Padahal kebodohan saya juga yang membuat saya jadi korban PHP. Wkwkwkwk.

Saya sangat bahagia karena saya bisa bercerita tentang ketakutan dan kekhawatiran saya pada suami. Saya bercerita ketika saya sangat tertekan apabila terlalu dituntut oleh pasangan harus menjadi sempurna dan serba bisa. Saya juga sangat tidak suka apabila saya dituntut untuk menjadi cantik dan terlihat sempurna di layar kamera

Kebahagiaan pernikahan itu dapat dimulai ketika kita bisa menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing. 

Saya semakin jatuh cinta karena suami dapat menerima diri saya. Penerimaannya memberikan energi positif untuk membuat saya belajar dan berubah. Saya merasa sangat dibimbing olehnya. Ia memberikan saya kepercayaan, keleluasaan untuk belajar dengan cara saya sendiri sembari Ia mengawasi dan mengingatkan saya.

Kami belajar bagaimana cara berpikir pasangan. 

Ia tahu cara memberi tahu saya dengan tepat, Ia juga tahu betul bagaimana memotivasi saya. Masing-masing dari kami belajar dan mengamati cara berpikir pasangan. Saya yang dulunya sangat tidak peka juga mulai belajar mengamati mimik dan gesture pasangan. Saya tidak tahu bagaimana mulanya harmoni bisa terbentuk diantara saya dan suami? Seperti jarum kompas, saat yang satu bergerak ke Utara, yang satu akan bersamaan bergerak keselatan. Mungkin ini yang namanya berjalan beriringan dengan pasangan dan saling membersamai.

“Little things matter,” he said. 

Secara tidak sadar, hati dan alam bawah sadar kita merespon baik pada hal-hal kecil yang dilakukan pasangan. Yang membuat ketika pasangan sedang tidak ada bisa membuat kita bisa nangis sesenggukan hanya karena mengingatnya.

Suami saya tidak pernah cuci piring di rumahnya. Ketika pulang dari kosan tiba-tiba Ia sudah mencucikan piring dan gelas kotor, I was surprised. Atau saya hampir nangis karena Ia ingat kalau dulu saya ingin makan Papa Beards. Tiba-tiba Ia datang dengan sekotak cream puff. :””” 

Little things matter. Meski suami saya kalau pulang selalu malam, satu sisi saya kesal “kenapa sih ga aga siangan pulangnya?” tapi sisi lain I found it cute. Ia adalah suami kesayangan saya yang punya hobi pulang malam. Wkwkwkwk. Barangkali Ia lebih nyaman ketika pekerjaannya sudah dipastikan selesai. Dan syukurnya saya mendapat extra satu malam untuk tidur sambil memeluk suami. Yeayyy.

You need extra works to make a happy marriage. 

I’m so happy with my marriage. Sebelum menikah dan sesaat sebelum menikah suami saya belum seperti saat ini. Hubungan kami juga belum se-click saat ini. Mungkin karena sejak menikah kami bahu membahu membangun hubungan. Karena cinta itu kata kerja, perlu ditumbuhkan dan terus dipupuk. Saya bahagia karena saya bukan hanya menikah lalu memiliki suami. Lebih dari itu, Ia bagi saya adalah teman, motivator diet, bandar film, teman lupa diri kalau makan, bahu untuk bersandar dan orang yang membuat saya tidak takut bercerita apa saja. Terima kasih karena selalu berusaha menjadi rumah yang nyaman untuk saya pulang.

… 

Dari rindu, kepada rindu

Kedokan Bunder, 20 Maret 2017 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s