Film 13 Reasons Why dan Kisah Nyata Keseharian

Kisah yang ada di film 13 Reasons Why itu bukan cerita sepele. Kejadiannya terlihat seperti fenomena gunung es, seolah kecil padahal sangat besar di bawah. Film ini menceritakan tentang bullying yang terjadi pada anak SMA, sebut saja Ia Mawar. Mawar ini sering dibilang “slut” alias pelacur atau perempuan murahan oleh teman laki – lakinya di sekolah. Bukan hanya itu, Ia juga mengalami pelecehan seksual.

leceh2

Film ini mengingatkan masa lalu saya yang kelam ketika di sekolah dasar. Saat itu banyak dari kami yang mulai puber. Anak laki-laki mulai mengalami mimpi basah dan anak perempuan mulai mengalami menstruasi. Sedihnya, anak laki-laki di sekolah saya banyak yang menonton video porno di rumahnya, sehingga mereka sering melecehkan anak perempuan. Mereka menyentuh dada anak perempuan, jahil mengangkat rok anak perempuan agar celana dalamnya terlihat atau melorotkan celana olahraga anak perempuan. Bahkan salah satu teman saya berpura-pura memeragakan aktivitas seksual seolah sedang memperkosa.

leceh1

Saat itu saya adalah anak bodoh yang tidak bisa bicara. Saya juga tidak bisa menyalahkan guru-guru karena perilaku bobrok dimulai ketika orang tua melepaskan tanggung jawab mereka sepenuhnya kepada guru di sekolah, tanpa pengawasan. Bagaimana mungkin guru dengan gaji yang tidak seberapa mampu mengawasi 30 anak dalam kelas layaknya sekolah internasional?

Sekarang ketika saya dewasa dan menjadi calon orang tua, saya merasa kasus bullying dan pelecehan seksual ini perlu menjadi perhatian. Sebagai orang tua kita perlu memberikan penjelasan kepada anak tentang apa yang tidak boleh dilakukan orang lain kepada mereka. Tubuh mereka tidak boleh sembarangan disentuh dan mereka tidak boleh dihina semena mena. Pun sebaliknya, saya harus mengajarkan agar anak saya kelak tidak menyentuh tubuh sensitif orang lain dan juga tidak boleh menghina teman- temannya.

Brosur Seks edukasi 1

Orang tua berperan sangat penting dalam pembentukan sikap dan mental anak. Seperti pada film 13 Reasons Why, ketika Mawar berusaha ingin berbicara mengenai masalahnya dengan orang tua, justru mereka sibuk dengan pekerjaannya tanpa memandang Mawar sedikitpun saat bicara. Karena tidak adanya dukungan, bahkan dari orang tuanya sendiri, akhirnya Mawar memutuskan untuk bunuh diri. Tragis memang.

Mawar Mawar lain di Indonesia pun tentu banyak. Mungkin ada yang akhirnya memutuskan untuk putus sekolah karena merasa sekolah bukan tempat yang nyaman, seperti salah satu teman SD saya. Bisa jadi banyak juga yang mencari pelarian hingga akhirnya benar-benar melakukan perilaku menyimpang, seperti menjual kelaminnya sendiri. Sebelum terlambat, mari kita lebih aware terhadap anak kita. Sekolah itu bukan tempat kita melempar kewajiban. Sekolah hanya salah satu fasilitas yang membantu pendidikan. Tetapi selebihnya pendidikan anak adalah kewajiban dari orang tua.

Up and Down of The Pregnancy 

Kehamilan saya ini memang bukan termasuk kehamilan anak mahal, baik kehamilan yang dinantikan selama bertahun-tahun, atau kehamilan melalui program hamil puluhan juta rupiah.  Mengingat banyak orang begitu banyak menginginkan kehamilan dan belum Allah berikan, saya dan suami pun tak punya duid puluhan juta, jadi kami memutuskan bahwa kehamilan ini mahal dan harus dijaga sebaik-baiknya.  

Kondisi ini menyebabkan seluruh keluarga berusaha menjaga kehamilan saya agar tetap sehat.  Oleh karena itu saya dibatasi untuk tidak sering bepergian jauh. Hal ini membuat saya bosan setengah mati karena tidak bisa sering pulang ke Lembang atau menemui suami di Jakarta.  😥

Kehamilan ini anugerah yang membolak-balikkan hati anggota keluarga dengan ajaibnya.  Semua orang berbahagia menyambut kedatangan si buah hati. Meskipun begitu, ternyata ujiannya juga sangat besar.

Saat hamil ini saya tengah menghadapi internship di Kabupaten Indramayu. Keseharian ketika bekerja tidak ada masalah sama sekali.  Masalah atau ujian hadir ketika pulang ke kosan. Saya mudah merasa bosan, mudah muntah apabila mencium bau makanan, bosan memakan makanan yang sama, dan saya mudah merasa clueless.

Satu waktu saya muntah-muntah hingga tak bersisa makanan di lambung, saat saya baru mau beristirahat dan berbaring saya merasa sangat lapar. Bersyukur karena ada cemilan yang sudah saya stok.  Tapi saya ingin makan berat.  Di sini tidak banyak pilihan makanan biasanya mengingat rasanya saja saya jadi ingin muntah karena sudah terlalu bosan.

Belum lagi dilema saat di kamar. Saya ingin istirahat tetapi kamar berantakan.  Belum lagi ada bekas cucian piring. Melihatnya saja saya sudah muntah-muntah.  Ya Allah ini benar-benar ujian.  Kelelahan ini membuat episkleritis saya kambuh lagi.  

Saya selalu berusaha membeli makanan di luar sambil jalan kali supaya tidak bosan.  Sambil jalan rasanya ingin menangis, ‘begini ternyata perjuangan ibu hamil’.  Namun saya ingat begitu banyak orang yang mendambakan ada di posisi saya saat ini.  Oleh karena itu saya perbanyak istigfar sambil berjalan dan menahan mual.

Hari ini saya berusaha bangkit sedikit-sedikit.  Saya ikhlaskan jika memang harus muntah.  Saya segera makan jika lapar. Saya mencoba mengingat ada cinta dibalik buah hati yang sedang saya kandung. 

Saya mengingat kebaikan-kebaikan suami.  Betapa Ia sangat menginginkan datangnya buah hati di tengah keluarga kami.  Sejak awal menikah Ia selalu berusaha memahami saya dan memperlakukan saya dengan baik. Kami berusaha mengatur waktu bertemu, mencatat siklus haid di kalender dan mengupayakan kondisi yang sehat untuk bisa hamil.

Suami juga begitu baik hingga Ia mengusahakan untuk menemani saya lebih lama.  Pernah Ia datang pada Sabtu dini hari, lalu kembali ke jakarta pada Senin pagi dari Indramayu.  Saya begitu bahagia ketika pulang suami tengah menunggu di kosan.  Tiba-tiba Ia sudah cuci piring. :”” 

Sekarang pun suami berusaha menyalurkan perubahan hormonal saya yang membuat saya jadi semakin melow. Ia selalu mengusahakan video call dan itu membuat saya lebih tenang dan merasa didukung. Hari ini, perubahan hormon di tubuh saya bukan hanya membuat tubuh saya sakit seperti sedang flu like syndrome berhari-hari, tetapi juga psikologis saya terjun bebas. Syuuuuuu… 

Selepas shalat saya menangis, membiarkan hati bicara pada Allah dan memohon kemudahan dari Allah. Pasti Allah tahu saya mampu melewati ini. Suami pun ternyata sedang galau seperti saya.  Ia bimbang karena tidak tahu harus menghadapi saya seperti apa, Ia juga bimbang karena akan menghadapi perubahan peran.  Saya sadar ketika suami semakin sering mendengarkan ceramah, menghadiri taklim dan meningkatkan amalan yaumi.  😅  Galau juga ternyata ya :*

Ya Allah semoga Engkau memberikan kekuatan dan kemudahan kepada kami.  Amin..