Ramadhan Pertama Bersama Suami 

Tulisan kali ini tidak beraturan dan tanpa gagasan, tapi berisi kebahagiaan yang didapat oleh seorang istri biasa dari suaminya yang luar biasa.  
.

.

Ramadhan kali ini spesial pake telor, ada suami, ada juga baby yang lagi glendotan di dalem perut. Awal ramadhan alhamdulillah bisa dijalankan bersama suami. Tiga hari di bulan ramadhan yang ga akan pernah terlupakan. 

Ibuk Hoek, Suamik Siaga

Ternyata menjelang trimester dua ini mual muntah masih ada.  Kalau-kalau telat makan snack atau makan berat, pasti langsung pusing kleyengan dan mual muntah.  Alhamdulillah suamik super baik hati mau terjun membantu istrinya yang cupu ini. Hehe. Saya memutuskan untuk tidak berpuasa, menimbang kondisi yang gampang banget pusing dan mual kalau telat makan.  Well,  nda shaum bukan berarti ga menikmati beribadah di bulan ramadhan juga kan..

Well, ini beberapa kenang-kenangan supaya saya bisa ingat betapa baiknya suami saya. Ini bisa jadi cerita juga kelak buat anak-anak, betapa ayahnya baik banget dan begitu sayang sama anaknya bahkan jauh sebelum dia lahir.  

H-1 Ramadhan

Tadinya saya ingin membuatkan suami es campolay berikut makanan beratnya. Apadaya ternyata kami ketiduran dan bangun di sore hari. Suami saya orangnya ga bisa nahan laper, jadi kasian kan kalau ga ada makanan. Hari itu saya masak nasi, memanaskan lauk yang sudah saya masak sehari sebelumnya.

Suami justru yang membuatkan saya es timun suri pakai susu dan sirup campolay.  Jadi malu.  🙈 Alhamdulillah punya suami sholeh banget.  Waktu itu saya kebagian menggoreng ayam dan tempe tepung, sedangkan suami inisiatif tinggi memotong sayuran. Bangga banget dong, akhirnya yang masak sayur sop malah suami. Mau latihan masak katanya. Bikin sayur sop for the first time, tapi langsung jago. Hihi. 

Akhirnya makanan jadi mepet dengan shalat isya.  Suamik pun berangkat tarawih terburu-buru. Hihi. Saya tarawih di rumah.  Pulang suami tarawih, saya lanjut masak nasi dan memanaskan daging yang telah saya masak sebelumnya dan dimasukkan freezer. Fyuuh tiba-tiba sudah jam 10 malam. Rasanya malam itu chaos. Maklum amatir. 

H 1 Ramadhan

Sahur aman damai karena malamnya nasi dan lauk sudah siap. Jadi hanya perlu manasin lauk aja.

Siangnya saya ada deadline membuat NHW kuliah online IIP.  Jadinya, karena otak saya rempong ga bisa memikirkan hal lain, suami turun tangan mengambil buku catatan saya dan pulpen.  Sembari mengerjakan tugas suami mencatat menu makanan yang akan kita siapkan. (FYI ini menu masak jadi berubah e.c suami datang lebih awal dan tinggal lebih lama.  Jadi perlu belanja dan atur menu lagi). 

Suami mencatat menu buka dan sahur plus bahan yang diperlukan.  (Unchhh pinter banget suami gemeskuu).  Tidak lupa suami membantu mencatat keperluan kosan yang saya sebutkan sembari nugas. Superbbb sekali kesayangku :* . 

Dulu saya selalu mengerjakan semua hal sendiri, memikirkan semua sendiri.  Lalu sekarang saya punya seorang partner yang bisa menyalurkan dan menterjemahkan pikiran rempong saya. Sungguh sesuatu. Belum lagi suami sama-sama intuitif. Diajarkan sekali cara memotong bahan dan bumbu apa saja yang diperlukan Ia langsung bisa. Kerjasama dengan suami benar-benar membuat pekerjaan lebih cepat dan kami bisa makan tepat waktu.

Saya kira jadi perempuan segala bisa itu hebat.  Tapi ternyata bekerja sama dengan suami sangat membahagiakan. Senang sih bisa menyiapkan semua keperluannya. Tapi saat terasa gempor, sungguh bantuan suami luar biasa membantu.  Saya juga senang bisa bekerja bersama sembari berinteraksi dengan suami.

Sore hari, akhirnya saya dan suamik jalan-jalan ke Yogya. Niatnya mau belanja keperluan di kosan dan sayuran buat di masak. Ternyata, ya Allah.. Penuhnya sampai-sampai mulai hipoglikemi. Sebenarnya kami belanja tidak terlalu lama karena sudah ada list. Tapi tetap saja suasana yang ramai membuat saya mabuk. Jadinya, ketika sedang belanja keperluan suami di lantai atas, akhirnya saya sudah kleyengan. Syukurlah segera diselamatkan dengan nasi katsu plus sebotol teh pucuk. Ehehehe.

Pulang ke kosan, kami kesorean untuk menyiapkan makanan berbuka. Jadinya rempong deeh.  Tapi syukurlah setelah rempong suami suka dengan makanan yang dibuat.  Terutama Ia suka martabak telur yang saya buat. Sebelum tarawih suami mengutamakan untuk membelikan saya obat.  Karena hari itu benar-benar mual dan obat saya sudah habis. Unchh suami siaga. ❤

Malam hari saya hendak menyiapkan makanan untuk sahur.  Suami saat itu sedang flu. Karena saya memanaskan minyak di penggorengan yang ada airnya, tiba-tiba muncul percikan minyak dan suara keras, “Ctakkkk!!!”. Suami yang sedang mengerjakan tugas kantor langsung turun tangan, “Mau bikin apa sih yang?” Dengan muka bete karena lagi sakit tapi lelah.  “Matiin dulu kompornya.” 

Saya masak di kamar dengan kompor portable. Mungkin karena apinya terlalu besar jadi minyaknya cepat sekali panas. Hehehe.. Akhirnya setelah dibantu suami saya bisa memanaskan makanan dengan benar. Wkwkwkwk. 

H2 Ramadhan  

Sahur pake daging semur + sop ya mayan lah ya.

Buka masak sayur asem, ayam goreng, tempe mendoan,  plus sambel kecap.  Suami paling suka menu ini.  Katanya paduannya pas.  Lucu deh, saya kebagian masak tempe mendoan, suami yang menggoreng ayam.  Kyaaaaa. Bagi saya, sikap suami saya ini sangat romantis.  Ia ingin selalu meringankan beban saya. :””” Oppa Saranghae ❤❤❤

H3 Ramadhan

Karena suami paling suka gorengan, dan saya lupa beli tahu, jadinya untuk sahur saya membuat martabak mie.  Hehe.  Sebenarnya karena nasi sisa buka tidak terlalu banyak.  Supaya suami bisa tetap kenyang.  Xixi. Maaf ya yang. >< Katanya gapapa, walau martabak mie mah bisa bikin sendiri.  Tapi kalau martabak yang sudah jadi pas baru bangun tidur itu lebih enak.  😂
Tidak terasa setelah subuh suami sudah harus kembali ke Jakarta. Hiks.

Setiap suami harus pergi lagi pasti saya nangis cirambay berkala di kosan.  Setiap pertemuan dengan suami selalu saja ada hal kecil yang begitu berkesan terutama bagi saya yang sering ditinggal pergi.  Perhatiannya, bantuannya,  sikap inisiatifnya, semuanya merecharge energi dan membuat saya lebih bahagia dan semangat di hari berikutnya.

Setelah suami pergi, barulah saya terpikir tentang menu takjil untuk berbuka puasa. Huhuu.  Sedih. Ini jadi pengingat mudah-mudahan kalau suami pulang nanti bisa lebih prepare lagi buat makan sama cemilannya.

Terus kepikiran, betapa bersyukurnya saya punya suami yang berusaha membahagiakan saya dan memenuhi kebutuhan saya.  Ia berusaha menghadirkan dirinya utuh baik ketika jauh ataupun sedang bersama saya. Walau kegiatan yang kami kerjakan bersama di rumah itu sederhana tapi sangat ngena buat saya. Kebayang selama ini setiap pulang suami selalu siap pakai masker kemudian tempur di wc yang mudah sekali bau.  :””  

Cinta itu kata kerja. Ia hadir dari usaha, hadirnya fisik dan hati. Cinta juga dihadirkan suami saya melalui tindakan-tindakan sederhananya yang membuat saya takjub. Akhirnya saya sering tiba-tiba cirambay sendiri. Sesayang itu saya dengan suami. Kali ini cirambaynya saking senengnya.  Hehee. Dasar lebay.

Mungkin kata-kata aja ga bisa membalas kebaikan suami.  Semoga saya bisa membahagiakan suami, mendidik buah hati kami,  dan menjadi istri yang membuat mata dan hatinya tentram. Amin.. 

.

.

.

Indramayu, hari ke 4 Ramadhan

30 Mei 2017

Kepada suami:

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu

Kepada api yang menjadikannya abu


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan

Kepada hujan yang menjadikannya tiada


(Aku Ingin – Sapardi Djoko Damono)

Indikator Profesionalisme Perempuan

#NHW2 Matrikulasi IIP Batch 4

Well.. Sungguh ya matrikulasi IIP ini semakin hari semakin membuat menarik nafas. Apalagi Nice Homework yang kedua ini ya. Diriku sampai lama sekali merenung dan tidak tahu harus mulai dari mana. Syukurlah ada anjuran dari awal untuk menanyakan bebrapa indicator kepada pasangan, jadi ga pusing sendiri deh. Walau suamik juga pas ditanya perlu waktu untuk menjawab.

Apa sih, indikator perempuan professional sebagai :

  • Individu
  • Istri
  • Ibu

Bismillah, semoga indikator yang dibuat bisa jadi awal yang mengingatkan tugas saya sebagai perempuan professional itu seperti apa. 
Indikator Individu

1. Meningkatkan amalan yaumi

2. Menambah ilmu sbg istri

3.Menambah ilmu sbg Ibu

4.Meningkatkan profesionalisme sbg dokter

5.Bisa memanage waktu dengan keluarga
Indikator Istri
1.Bisa menjaga penampilan

2.Rukun dengan mertua

3.Menjaga silaturahmi dengan keluarga suami

4.Berkomunikasi dengan cara yang baik

5. Cemburu pada saat yang tepat

6. Selalu bisa memberikan perhatian kepada suami
Indikator Ibu

1. Mendidik anak menjadi sholeh sholehah

2.Menjadi teladan akhlak yang baik

3.Tidak mudah marah, tapi tegas

4. Menjadi pendamping belajar anak

5. Mendidik anak menjadi mandiri

Menuntut Ilmu dengan Adab

Bismillahirrahmanirrahim.. 

Postingan kali ini lebih berat, karena berkaitan dengan komitmen saya mengikuti Matrikulasi Ibu Profesiobal Batch 4. Semoga materi pengantar ini bisa meluruskan niat saya agar bisa menjadi Ibuk profesional. Amin…  Hap hap hap!!  

📚NICE HOMEWORK #1📚

1. Tentukan satu jurusan ilmu yang akan anda tekuni di universitas kehidupan ini.

Setelah menikah, peran saya kini berubah.  Saya memiliki kewajiban untuk hormat kepada suami, menjaga harta suami, dan juga mendidik buah hati kelak.  Menikah membuat saya memasuki universitas baru, dengan jurusan bernama rumah tangga. Ini adalah jalan sutra yang saya pilih untuk menjemput surga. 


2.Alasan terkuat apa yang anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut.

Ilmu rumah tangga saya pilih karena rumah lah yang akan menjadi ladang beribadah saya. Semoga rumah bisa membuat saya beserta keluarga untuk bahagia di dunia dan menyelamatkan kami dari api neraka.  Amin.  

3. Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan anda rencanakan di bidang tersebut?

  • Pertama : saya harus menguatkan amalan yaumi diri sendiri. Saya juga harus bersikap lebih baik terhadap anak-anak dan suami di rumah. Karena saya adalah contoh bagi anak-anak. Suami juga memerlukan senyum dan semangat saya ketika pulang ke rumah. 
  • Kedua : menambah ilmu rumah tangga, parenting, dan ilmu keharmonisan rumah tangga baik dari buku ataupun majelis ilmu
  • Ketiga : banyak berdiskusi dengan suami. Karena selain untuk menyamakan persepsi, juga untuk menambal mental yang sering ciyut dan terjun bebas. Hihi. 
  • Menambah ilmu agama dan pengetahuan agar bisa mendidik anak-anak yang cerdas dan sholeh. 


4. Berkaitan dengan adab menuntut ilmu,perubahan sikap apa saja yang anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut.

  • Harus lebih istiqamah dalam belajar dan menyempatkan waktu untuk menambah ilmu
  • Banyak bersabar 
  • Lebih ikhlas dan tidak ngedumel saat menerima ilmu
  • Menghilangkan rasa malas dan bosan ketika belajar
  • Antusias ketika menerima ilmu
  • Memprioritaskan belajar dibandingkan lenjeh-lenjeh :”

Wushhh…  Berat ya bikin tulisan gini-gini.  Semoga jadi pengingat agar lebih giat lagi mencari ilmu untuk menjemput pahala dan kebahagiaan dunia akhirat.  Amin..  

Ayah dan Bahasa Cintanya

Nak, Ayahmu itu punya cara yang berbeda untuk mengungkapkan perasaannya.

Sumber: m.repubblica.it

Mungkin nanti kamu lebih ngefans sama Ayah daripada Ibuk. Tapi nanti kalau Ayahmu sibuk mungkin juga kamu malah menyangka Ayah itu kurang perhatian. Ibuk cuma mau bilang, Ayah sangat sayang dengan kamu bahkan sebelum kamu lahir.
Keinginan Memiliki Buah Hati

Ayahmu itu ingin sekali cepat punya anak.  Pokoknya kami memutuskan untuk tidak menunda kehamilan, dengan harapan dapat segera diberikan momongan.  Usaha kami lakukan dengan menjaga kesehatan, makan suplemen vitamin,  berolahraga, dan juga menjaga bobot tubuh.

Kadang Ibuk ke Jakarta ketemu Ayahmu, kadang Ayah ke Indramayu. Kami seolah kejar setoran. Ayahmu nda pernah bilang kalau Ia tertekan, tapi dari wajahnya Ayah mukanya stres. Beban ingin punya anak ini seolah tanggung jawab Ayah. Akhirnya Ibuk bilang ke Ayah, lebih baik rencana punya anak kami tunda karena target ini justru membuat kami lupa menikmati waktu sebagai pasangan baru.

Tak disangka, dua minggu setelah ikrar kami tidak kejar setoran, Allah memberikan kebahagiaan.  Ternyata Ibuk hamil. :””” Alhamdulillah. Barangkali selama ini kami terlalu stres.

Arti Diamnya Ayah

Cobalah untuk lebih memahami diamnya Ayah. Meski Ayah diam, Ayahlah yang begitu ingin memiliki keturunan. Betapa senangnya Ibuk ketika melihat wajah sumringah Ayah.

Sejak beberapa minggu menikah, Ayah memutuskan untuk menaikkan target amalan yauminya (sambil ajak-ajak Ibuk). Katanya, setelah menikah beban dan tanggung jawab Ayah berubah. Shalat Dhuha setiap hari tidak pernah Ayah lewatkan. Mungkin Anak Ibu adalah rizki dan jawaban dari doa-doa Ayah.  :”

Ayah selalu mendoakan kita dari jauh. Meski Ayah sibuk dan tidak bawel seperti Ibuk, Ayah selalu mengkhawatirkan kita. Tapi Ia harus bekerja untuk Ibu belanja dan untuk membiayai kamu sekolah, Sayang. Semoga kita yang lebih tidak sibuk ini mampu menghargai kesibukan Ayah dan mampu menyambut kedatangannya saat Ia pulang ya, Nak.

Cinta Itu Kata Kerja

Pernah suatu hari Ayah tidak sengaja membuat Ibuk kesal. Entahlah hormonal saat hamil membuat emosi Ibuk meledak-ledak.  Waktu itu Ibuk memilih untuk mengutarakan kekesalan Ibuk, dibandingkan dengan mematikan HP dan memperkeruh suasana. Ayah saat itu sangat sabar mendengarkan, apa yang membuat Ibu marah? Ayah meminta maaf karena tidak peka terhadap Ibuk.  

Saat itu Ibuk bilang, tidak apa-apa karena kita baru menikah. Tentu masih banyak yang belum kita pahami dari pasangan.  Ibuk pun meminta maaf karena Ibuk lebay dan super sensitif. Ayah buru-buru pulang karena takut Ibuk masih marah, padahal Ibu sudah tidak marah. Tapi Ibuk sangat terharu dengan usaha Ayah untuk segera datang dan bertemu Ibuk secara langsung.

Ayah bilang, “I love you.” 

Ibuk saat itu masih gelendotan dipelukan Ayah bilang, “I don’t love you.”

Padahal karena sudah tidak tahu lagi harus bilang apa saking cintanya sama Ayahmu. Hihi. Mungkin karena bahasa cinta kami itu tidak dominan pada kata-kata, kami jarang sekali bicara manis satu sama lain. Dan itu tidak menjadi masalah. 

Bicara dengan Bahasanya

Ayah kamu itu spesial. Ia mungkin jarang sekali bilang sayang. Tapi Ia akan selalu sayang sama kita. Coba perhatikan, Ayahmu kalau sedang di rumah akan mengusahakan mengantar atau menjemput kita.  Ayah juga tidak akan sungkan kerepotan membantu kita.

Saat Ibuk hamil 11 minggu, keluhan mual muntah masih sangat tinggi.  Kosan Ibuk tinggalkan selama hampir 10 hari karena Ibuk harus bedrest di Lembang.  Setelah izin Ibuk habis, Ibuk diantar Ayah ke Indramayu. Perjalanan hari itu begitu melelahkan bagi kami.  Mungkin karena cuaca sedang sangat panas. Sampai di kosan kami sudah sangat kehabisan tenaga.

Tapi ya gitu deh Ayah kamu. Begitu sampai kosan Ia melihat paket reflektor AC. Ia bergegas membuka paket lalu memasangnya. Zzzzz.  Padahal tadi sudah lemes tapi kalau ada “mainan” baru langsung ON. Wkwkwkwk. Ayah sengaja memesan reflektor AC, katanya supaya badan Ibuk nda kena AC langsung. Sweet banget ya Ayah. :” 

Ayah kamu itu super hero banget deh. Ayah bantuin Ibuk cuci piring. Beliau tahu Ibuk muntah-muntah melihat bekas makanan yang menjijikkan. Apalagi flush kloset itu memang sejak awal mampet dan sepertinya sudah perlu sedot wc. Hasilnya, ditinggal seminggu lebih keluar bau yang sangat tidak sedap dari kloset. Padahal tidak nampak kotoran sama sekali.  Tapi baunya….. Ampun!!! 

Bersyukur Ayahmu sangat siaga. Ayah yang pertama kali membuka penutup kloset. Begitu Ibuk mengintip Ayah di kamar mandi, Ibuk langsung mual seketika. Baukkk banget :((((( . Ayah langsung bilang, “Yang jangan kesini. Besok Aa bersihin ya.” Ayah langsung menutup pintu kamar mandi. 

Belum lagi dinding kamar mandi kok cepat sekali kotor dan memunculkan warna kerak kehitaman. Padahal baru ditinggal sebentar dan saat sebelum Ibuk pulang kondisinya masih OK. Luar biasanya Ayah kamu nak.  Esok hari setelah badan Ayah lebih fit, Ia mulai bebersih kamar mandi.

Pagi-pagi setelah sarapan Ayah bergegas ingin membersihkan kamar mandi. Ibuk memberikan Ayah masker. Ibuk memberi tahu mana sikat untuk lantai dan mana sikat untuk kloset. Ayah pun masuk ke kamar mandi, berbekal pembersih kloset dan pewangi lantai. Lama Ayah di kamar mandi. Ibuk pun sedikit-sedikit membersihkan kamar dan mengepel lantai (yang entah kapan terakhir di pel).  Hehe.  Supaya saat Ayah selesai, kamar juga sudah lebih rapih. 

Ayah pun selesai. Kamar mandi jadi super cling. Bahkan Ayah menempelkan pewangi kloset, yang pasangnya itu harus lap-lap kloset dulu baru ditempel.  Super banget deh Ayah kamu. Waktu Ibu tanya, Ini pertama kali Ayah mberesin kamar mandi seumur hidupnya. Dan Ayah totalitas banget bikin kamar mandinya super bersih.  Terharuuuuuu :””””””

Pengorbanan demi anak istri itu bikin Ayah rela melakukan apapun, Nak.  :”””

Tidak lupa Ayah membelikan Ibuk pengharum kamar mandi, pembersih kloset, pengharum kloset, kamper,  dan penyerap bau.  Memang kamar mandinya perlu perhatian yang sesuatu. Pfffft. Ayah juga yang memasangkan semua itu di kamar mandi, Sayang.

“Gimana, puas ga sama service Aa? ” Tanya Ayah.  

Ibuk sampe mewek bombay waktu Ayah pulang saking bahagianya. Terharu banget sama usaha-usahanya Ayah. 

Pasti Ayah ini membuat standar calon pasangan dalam hidup jadi tinggi ya, Ayah yang sangat bertanggung jawab dan mengayomi keluarganya.

Semoga catatan ini bisa menjadi pengingat kita mengenai kebaikan-kebaikan Ayah, membuat kita bisa memahami dan membalas kasih sayang Ayah ya..

.

.

.
Cerita untuk anak Ibu

Indramayu, 15 Mei 2017

Dinamika Pernikahan Seumur Jagung

Bulan ini tepat 4 bulan pernikahan saya dan suami. Tidak ada perayaan bulanan atau ucapan anniversary. Bagi kami yang menjalani Long Distance Marriage, setiap pertemuan itu spesial, setiap komunikasi via video call juga sudah spesial.

Dinamika Setelah Menikah 

Setelah menikah, banyak sekali perubahan yang terjadi dalam hidup. Mulai saya yang ditugaskan di Indramayu.  Lalu mendadak saya mengeluhkan episkleritis yang sebelumnya tidak pernah. Kemudian Allah memberikan kami amanah baru, berupa janin yang tengah saya kandung. 

Perubahan terjadi begitu cepat.  Peran kami bertambah. Semula kami hanya menjadi pasangan suami istri lalu sekarang bertambah menjadi calon orang tua. Fokus kami sekarang berubah, bukan lagi memikirkan pasangan, tapi memikirkan Ibu dan si jabang bayik. 

Pada awalnya sungguh terasa chaos. Perubahan hormonal membuat hidup tidak karuan.  Suami pun jadi terabaikan karena si Ibuk sedang rewel-rewelnya. Hehehehe.  Ketika kami sama-sama santai, akhirnya kami memutuskan untuk berpura-pura saya sedang tidak hamil dan menikmati waktu pacaran berdua. Hahahaha..

Peran Besar Suami

Suami saya sangat berperan dalam membantu saya dengan semua perubahan ini. Ia sangat sabar dengan adaptasi saya terhadap kehamilan. Ia sabar dengan keluhan-keluhan fisik dan perubahan hormonal yang membuat saya syuuuuuu …. terjun bebas.

Suami menemani saya berbicara setiap hari.  Ia sering meminta video call di malam hari dan membuat saya lebih bahagia. Saat pulang ke Indramayu, Ia membantu saya membereskan kamar.  Karena saya mudah lelah, mudah muntah, dan juga mudah pusing, akhirnya  kamar saya menjadi berantakan. Ia juga membantu saya mencuci piring karena saya muntah-muntah jika cuci piring. Alhamdulillah bagi saya sikap suami itu sangat romantis.

Saat ada rizki akhirnya suami membelikan saya TV karena saya mulai bosan berada di kosan.  Senang sekali melihat suami anteng memasang TV, sedangkan saya hanya tiduran melihatnya sibuk. Hihi.  Bahagia sekali akhirnya bisa menikmati surga dunia, tiduran sambil menonton televisi dengan suami.  Syurgaaaaaa ❤

Bumil, Ngidamkah?

Selama hamil, saya tidak ngidam aneh-aneh. Yang jelas jadi mudah mual ketika mencium bau-bauan.  Lucunya, saat itu padahal saya sedang pilek, tapi entah kenapa kok saya merasa suami jadi bau.  Padahal tiap bertemu juga biasa-biasa saja. Suami bilang, biasanya Ibu hamil memang jadi mudal sebel sama suaminya.  Hahahaha. Tapi alhamdulillah suami sholeh banget dan sabar dengan saya yang sensitif. Ia sikat gigi setelah makan atau makan Go Fresh, jadi mulutnya berbau segar. Ia lalu mengatakan ‘Hahhh’ sembari mendekat. “Wangi kaan?”Katanya.  Hehee. Unchhh :*

Dibalik Ibu yang Bahagia, Ada Suami yang Sabar dan Mensupport

Awal kehamilan adalah masa yang berat bagi seorang perempuan. 

  • Ada adaptasi dengan perubahan fisik dan hormonal yang sangat menguras tenaga dan bathin
  • Ada perubahan karena mulai lupa memperhatikan suami dan itu membuat seorang perempuan bersedih
  • Terbayang beban sebentar lagi akan menjadi seorang Ibu dan akan mendidik buah hati

Perubahan ini sangat membuat stres.  Saya yang memiliki kepribadian thinking pun mendadak auto shutdown.  Buntu.  Saya pusing dan tidak mau berpikir.  Semua teori yang dulu saya baca lari entah ke mana. Sekarang pun berat sekali untuk mulai kembali membaca mengenai parenting.  Hingga suami dengan sabar mengikuti saya yang ogah-ogahan.  Ia tidak pernah memaksa.  Ia berusaha menyenangkan saya, mengikuti pace belajar saya yang terjun payung.  

Ia tahu betul bahwa saya begitu stres.  Makanya Ia tidak banyak menuntut.  Ia berusaha mencarikan saya buku-buku yang ringan dan menyenangkan, seperti bukunya Ibu @retnohening.  Ia juga membuat saya ikut matrikulasi Ibu Profesional. Hihi.  Padahal dari dulu saya sangat ingin dan begitu semangat. Sekarang saya cuma butuh pelukan dan dukungan suami. Itu jauh lebih dari cukup. 

Dag Dig Dug Duarrr

6 minggu lagu baby bala-bala memasuki usia 16 minggu. Maka Ia memasuki pendidikan pertama karena pendengarannya sudah mulai berfungsi.  Saya dan suami tersayang perlu mengencangkan ikat kepala karena tugas kami akan segera dimulai.  Kami akan mulai memperkenalkan buah hati kami pada Allah yang Maha Kuasa,pada Rasulullah, pada kedua orang tuanya, keluarganya, dan tentu saja hari-harinya akan lebih banyak diisi dengan lantunan ayat suci Al-Quran.  Rencananya saya dan suami lah yang akan membacakan sendiri untuk buah hati kami.  Berhubung suami berada di luar kota, Ia akan membuat rekaman suara menggunakan handphone.

Ini baru awal dari perjalanan kami yang sebenarnya. Semoga Allah selalu memberikan kemudahan kepada kami.  Amin..  

Semoga baby, suami, dan seluruh keluarga selalu dalam lindungan Allah S.W.T. amin..