Ramadhan Pertama Bersama Suami 

Tulisan kali ini tidak beraturan dan tanpa gagasan, tapi berisi kebahagiaan yang didapat oleh seorang istri biasa dari suaminya yang luar biasa.  
.

.

Ramadhan kali ini spesial pake telor, ada suami, ada juga baby yang lagi glendotan di dalem perut. Awal ramadhan alhamdulillah bisa dijalankan bersama suami. Tiga hari di bulan ramadhan yang ga akan pernah terlupakan. 

Ibuk Hoek, Suamik Siaga

Ternyata menjelang trimester dua ini mual muntah masih ada.  Kalau-kalau telat makan snack atau makan berat, pasti langsung pusing kleyengan dan mual muntah.  Alhamdulillah suamik super baik hati mau terjun membantu istrinya yang cupu ini. Hehe. Saya memutuskan untuk tidak berpuasa, menimbang kondisi yang gampang banget pusing dan mual kalau telat makan.  Well,  nda shaum bukan berarti ga menikmati beribadah di bulan ramadhan juga kan..

Well, ini beberapa kenang-kenangan supaya saya bisa ingat betapa baiknya suami saya. Ini bisa jadi cerita juga kelak buat anak-anak, betapa ayahnya baik banget dan begitu sayang sama anaknya bahkan jauh sebelum dia lahir.  

H-1 Ramadhan

Tadinya saya ingin membuatkan suami es campolay berikut makanan beratnya. Apadaya ternyata kami ketiduran dan bangun di sore hari. Suami saya orangnya ga bisa nahan laper, jadi kasian kan kalau ga ada makanan. Hari itu saya masak nasi, memanaskan lauk yang sudah saya masak sehari sebelumnya.

Suami justru yang membuatkan saya es timun suri pakai susu dan sirup campolay.  Jadi malu.  🙈 Alhamdulillah punya suami sholeh banget.  Waktu itu saya kebagian menggoreng ayam dan tempe tepung, sedangkan suami inisiatif tinggi memotong sayuran. Bangga banget dong, akhirnya yang masak sayur sop malah suami. Mau latihan masak katanya. Bikin sayur sop for the first time, tapi langsung jago. Hihi. 

Akhirnya makanan jadi mepet dengan shalat isya.  Suamik pun berangkat tarawih terburu-buru. Hihi. Saya tarawih di rumah.  Pulang suami tarawih, saya lanjut masak nasi dan memanaskan daging yang telah saya masak sebelumnya dan dimasukkan freezer. Fyuuh tiba-tiba sudah jam 10 malam. Rasanya malam itu chaos. Maklum amatir. 

H 1 Ramadhan

Sahur aman damai karena malamnya nasi dan lauk sudah siap. Jadi hanya perlu manasin lauk aja.

Siangnya saya ada deadline membuat NHW kuliah online IIP.  Jadinya, karena otak saya rempong ga bisa memikirkan hal lain, suami turun tangan mengambil buku catatan saya dan pulpen.  Sembari mengerjakan tugas suami mencatat menu makanan yang akan kita siapkan. (FYI ini menu masak jadi berubah e.c suami datang lebih awal dan tinggal lebih lama.  Jadi perlu belanja dan atur menu lagi). 

Suami mencatat menu buka dan sahur plus bahan yang diperlukan.  (Unchhh pinter banget suami gemeskuu).  Tidak lupa suami membantu mencatat keperluan kosan yang saya sebutkan sembari nugas. Superbbb sekali kesayangku :* . 

Dulu saya selalu mengerjakan semua hal sendiri, memikirkan semua sendiri.  Lalu sekarang saya punya seorang partner yang bisa menyalurkan dan menterjemahkan pikiran rempong saya. Sungguh sesuatu. Belum lagi suami sama-sama intuitif. Diajarkan sekali cara memotong bahan dan bumbu apa saja yang diperlukan Ia langsung bisa. Kerjasama dengan suami benar-benar membuat pekerjaan lebih cepat dan kami bisa makan tepat waktu.

Saya kira jadi perempuan segala bisa itu hebat.  Tapi ternyata bekerja sama dengan suami sangat membahagiakan. Senang sih bisa menyiapkan semua keperluannya. Tapi saat terasa gempor, sungguh bantuan suami luar biasa membantu.  Saya juga senang bisa bekerja bersama sembari berinteraksi dengan suami.

Sore hari, akhirnya saya dan suamik jalan-jalan ke Yogya. Niatnya mau belanja keperluan di kosan dan sayuran buat di masak. Ternyata, ya Allah.. Penuhnya sampai-sampai mulai hipoglikemi. Sebenarnya kami belanja tidak terlalu lama karena sudah ada list. Tapi tetap saja suasana yang ramai membuat saya mabuk. Jadinya, ketika sedang belanja keperluan suami di lantai atas, akhirnya saya sudah kleyengan. Syukurlah segera diselamatkan dengan nasi katsu plus sebotol teh pucuk. Ehehehe.

Pulang ke kosan, kami kesorean untuk menyiapkan makanan berbuka. Jadinya rempong deeh.  Tapi syukurlah setelah rempong suami suka dengan makanan yang dibuat.  Terutama Ia suka martabak telur yang saya buat. Sebelum tarawih suami mengutamakan untuk membelikan saya obat.  Karena hari itu benar-benar mual dan obat saya sudah habis. Unchh suami siaga. ❤

Malam hari saya hendak menyiapkan makanan untuk sahur.  Suami saat itu sedang flu. Karena saya memanaskan minyak di penggorengan yang ada airnya, tiba-tiba muncul percikan minyak dan suara keras, “Ctakkkk!!!”. Suami yang sedang mengerjakan tugas kantor langsung turun tangan, “Mau bikin apa sih yang?” Dengan muka bete karena lagi sakit tapi lelah.  “Matiin dulu kompornya.” 

Saya masak di kamar dengan kompor portable. Mungkin karena apinya terlalu besar jadi minyaknya cepat sekali panas. Hehehe.. Akhirnya setelah dibantu suami saya bisa memanaskan makanan dengan benar. Wkwkwkwk. 

H2 Ramadhan  

Sahur pake daging semur + sop ya mayan lah ya.

Buka masak sayur asem, ayam goreng, tempe mendoan,  plus sambel kecap.  Suami paling suka menu ini.  Katanya paduannya pas.  Lucu deh, saya kebagian masak tempe mendoan, suami yang menggoreng ayam.  Kyaaaaa. Bagi saya, sikap suami saya ini sangat romantis.  Ia ingin selalu meringankan beban saya. :””” Oppa Saranghae ❤❤❤

H3 Ramadhan

Karena suami paling suka gorengan, dan saya lupa beli tahu, jadinya untuk sahur saya membuat martabak mie.  Hehe.  Sebenarnya karena nasi sisa buka tidak terlalu banyak.  Supaya suami bisa tetap kenyang.  Xixi. Maaf ya yang. >< Katanya gapapa, walau martabak mie mah bisa bikin sendiri.  Tapi kalau martabak yang sudah jadi pas baru bangun tidur itu lebih enak.  😂
Tidak terasa setelah subuh suami sudah harus kembali ke Jakarta. Hiks.

Setiap suami harus pergi lagi pasti saya nangis cirambay berkala di kosan.  Setiap pertemuan dengan suami selalu saja ada hal kecil yang begitu berkesan terutama bagi saya yang sering ditinggal pergi.  Perhatiannya, bantuannya,  sikap inisiatifnya, semuanya merecharge energi dan membuat saya lebih bahagia dan semangat di hari berikutnya.

Setelah suami pergi, barulah saya terpikir tentang menu takjil untuk berbuka puasa. Huhuu.  Sedih. Ini jadi pengingat mudah-mudahan kalau suami pulang nanti bisa lebih prepare lagi buat makan sama cemilannya.

Terus kepikiran, betapa bersyukurnya saya punya suami yang berusaha membahagiakan saya dan memenuhi kebutuhan saya.  Ia berusaha menghadirkan dirinya utuh baik ketika jauh ataupun sedang bersama saya. Walau kegiatan yang kami kerjakan bersama di rumah itu sederhana tapi sangat ngena buat saya. Kebayang selama ini setiap pulang suami selalu siap pakai masker kemudian tempur di wc yang mudah sekali bau.  :””  

Cinta itu kata kerja. Ia hadir dari usaha, hadirnya fisik dan hati. Cinta juga dihadirkan suami saya melalui tindakan-tindakan sederhananya yang membuat saya takjub. Akhirnya saya sering tiba-tiba cirambay sendiri. Sesayang itu saya dengan suami. Kali ini cirambaynya saking senengnya.  Hehee. Dasar lebay.

Mungkin kata-kata aja ga bisa membalas kebaikan suami.  Semoga saya bisa membahagiakan suami, mendidik buah hati kami,  dan menjadi istri yang membuat mata dan hatinya tentram. Amin.. 

.

.

.

Indramayu, hari ke 4 Ramadhan

30 Mei 2017

Kepada suami:

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu

Kepada api yang menjadikannya abu


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan

Kepada hujan yang menjadikannya tiada


(Aku Ingin – Sapardi Djoko Damono)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s