Stop, Buk!ย 

Nak, Ibu sepertinya tidak bisa memintamu jadi anak yang sholeh.

Bagaimana bisa kita meminta anak-anak menjadi penghapal Al-Quran, sedangkan kita sendiri tidak sedang menghapalkannya.  Bagaimana bisa kita menyuruh anak-anak shalat tepat waktu, sedangkan kita sendiri masih menunda shalat? Buk, anak adalah seorang peniru.  Anak adalah seorang pembangkang bila diberi perintah. Ia melihat dan meniru apapun perilakumu, Buk!

Maka berhentilah sebelum terlambat! Berhentilah sekarang! Berhentilah untuk berharap anakmu jadi begini, jadi begitu! Jadilah apa yang ingin kamu petik dalam anakmu.

Astagfirullah. Saya sendiri jungkir balik rasanya. Istiqamah itu sulittttt sekaliii. Ya, biarkanlah anak-anak tahu bahwa orang tuanya bukan orang tua yang suci, tapi tipe orang tua yang jungkir balik, berusaha untuk belajar dan mendekatkan diri pada Allah.  Biar saja anak-anak melihat setiap proses kita tertatih-tatih karena ternyata ingin jadi sholeh itu banyak sekali godaannya. Ajaklah anak-anak membersamai setiap proses yang “pedih”, semoga usaha ini akan Allah catat sebagai amal baik, dan akan mengumpulkan kita sekeluarga di SurgaNya. Amin..

Maaf tidak bisa menjadi teladan yang baik untuk kamu, Nak. Tapi kamu mengerti kan? Kita akan sama-sama belajar dan jadi partner dalam beribadah. Setuju?

 .

.

.

Indramayu, 26 Juli 2017

Calon Ibukmu 

Tentang Anak

Anak itu adalah titipan.  Sejak di UGD, saya banyak melihat pasien anak yang sakit berat, sakaratul maut, atau datang dalam keadaan meninggal.  Tidak jarang pula orang tua datang membawa anak yang keadaannya aman bahkan tidak mengkhawatirkan ke UGD.

Anak adalah titipan. Kita tidak bisa menjamin berapa lama Allah akan menitipkan anak tersebut kepada kita. Jika banyak orang tua yang terlalu cemas dengan kondisi anak, pantas saja. Karena begitu berharganya seorang anak di mata orang tua. 

Waktu hidup anak di dunia ini berbeda.  Ada anak yang hidup di dalam kandungan saja. Ada yang menghirup udara bebas di dunia beberapa jam hingga hari. Yang miris adalah jika anak hidup tidak sampai menginjak masa sekolah, di saat sedang lucu “lucunya”.

Amanah menjaga anak-anak sangat berat. Ternyata membesarkan hingga dewasa seperti kita saat ini itu butuh perjuangan yang sangat panjang.  Betapa panjang kekhawatiran yang dirasakan oleh orang tua.  Bahkan sampai kita menjadi orang tua pun, tetaplah kita menjadi anak-anak bagi orang tua kita.

Hal ini menyadarkan saya agar lebih bersyukur lagi dengan waktu yang ada bersama anak di dalam kandungan. Berapa lama pun anak kita hidup, kita harus ikhlas.  Kita harus syukuri. Kebersamaan yang ada harus dimanfaatkan dengan kebaikan yang dijalankan bersama-sama.  Sehat selalu ya baby A. Terima kasih sudah jadi teman main setiap hari.  Ibok loves you. ๐Ÿ˜˜

Penerimaan Pasangan : Kunci Waras Berumah Tangga

Suami wa sabar dan baek banget. Melihat cinta seseorang itu dari yang sederhana ae. 

Ceritanya saya sering banget males masak nasi sejak hamil ini.  Apalagi cuci piringnya. Jadi sempet ada fase saya sarapan mie bahkan mie cup saking malesnya.  Delivery mahal, kalau saya harus jalan keluar lebih mager lagi. 

Suami saya ga pernah marah walaupun kemageran saya ini sudah parah banget. Ia menyarankan saya membeli nugget, kentang, atau frozen food lainnya. Ya paling nda bukan makan mie lagi lah ya. Bahkan kalau beliau sedang pulang ke Indramayu, seringnya malah saya yang disiapkan makan oleh suami. ๐Ÿ™ˆ

Kadang saya sarapan sereal plus susu hamil. Alhamdulillah sekarang sejak di rsud mencari makanan jauh lebih mudah. Kalau pagi atau siang bisa makan ala rumahan di kantin.  Walau mahal tapi ya kalau masak sendiri kan ribet ya cin.  :p

Suami juga sabar banget dan nerimo kalau saya males beres-beres kamar.  Biasanya nanti saya beres-beres kalau sudah super hancur dan saya sendiri merasa ini sudah harus dibereskan.  Wkwkwk. Alhamdulillah beliau ga rewel.

Kesabaran suami ini membuat saya tetap waras dan tetap happy menjalani hari-hari di IGD RSUD. Saya juga tetap senang mengandung dan mendidik buah hati. Sekarang saya sudah mulai membaca buku lagi sedikit-sedikit.  Beliau tidak pernah memaksa saya harus ini atau harus itu.  Yang penting harus makan bergizi, kurangi mie,  tidur cukup, kalau pulang malem harus naik becak.  Suami saya sesimple itu.

Saya ga pernah diminta melakukan apapun untuk mendidik buah hati dalam kandungan saya. Paling kalau saya sudah tidak pernah tilawah, suami selalu mengingatkan. Suami memberikan kepercayaan dan kebebasan pada saya, alhamdulillah. Cara suami membuat saya semakin cinta dan semakin berusaha lagi untuk memperbaiki diri sedikit demi sedikit.

Terima kasih Kakanda.  Unch :* 

Komunikasi Nyeni dalam Rumah Tanggaย 

“Komunikasi pasangan suami istri itu seni. Dan kita perlu menyampaikannya dengan nyeni.”

Perempuan itu sering kali tidak fokus ketika bicara, padahal suami begitu telaten mendengarkan. Suatu hari saat saya ingin berkeluh kesah, ternyata saya menyampaikan begitu banyak masalah.  Termasuk kekhawatiran saya di masa depan yang belum terjadi. Suami yang sedang merenungkan solusi dari sebuah masalah yang saya ceritakan, saya malah menambahkan kekhawatiran saya yang lainnya.  Dan itu membuat suami tiba-tiba terdiam, “Dipikirinnya satu-satu dong!” Kata Beliau. Astagfirullah, saya cepat-cepat mengingat kesalahan saya.

Ternyata apa yang disebutkan dalam buku  Men are from Mars, Women are from Venus itu benar. Ya Allah rasanya mau nangis. Kelalaian saya, saking asyiknya bercerita karena suami saya begitu sabar mendengarkan ternyata kebablasan.  Btw buku saya di pinjam siapa ya? Mau baca tapi tidak ada. Huaaa.  Perlu beli lagi ini sih.  Di dalam bukunya disebutkan bahwa, ” perempuan senang sekali berbicara mengenai masalah. Padahal seorang laki-laki selalu memikirkan satu masalah sampai selesai, sebelum berpindah pada masalah berikutnya. ”

Bukan hanya soal memahami karakter pria dan wanita, memahami tentang karakter individu juga penting. Suami dan saya sama-sama tidak suka didikte, maka budaya saling menasehatinya pun berbeda.  Suami memang tipe observer, analis, jadi Ia tidak pernah menyuruh saya sesuatu yang menekan saya. Ia hanya menyuruh saya untuk tilawah kalau saya sedang lalai, menyuruh saya naik becak kalau saya sedang lelah untuk jalan kaki.  Ia juga hanya menyuruh saya agar minum susu setiap hari, minum madu sebelum berangkat ke RS, dan menyuruh saya mengurangi mengkonsumsi mie instan.

Sisanya, Ia tahu bahwa menasehati saya tidak membuat saya berubah. Karena saya tipe orang yang berubah hanya jika hatinya sudah tergerak.  Maka Ia tidak bicara melalui kata-kata, tapi melalui hatinya.  Ia tidak mendikte, melainkan memberikan keteladanan sebagai imam di dalam keluarga. ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ

Ia memulai dengan berlatih shaum sunnah saat kami memulai rumah tangga, kemudian Ia menjaga shalat dhuhanya. Apalagi saat usia kehamilan saya bertambah, Ia menambah lagi porsi tilawah hariannya. Belum lagi karena saya memintanya mengirimkan rekaman suaranya mengaji, tilawahnya pun semakin bertambah. Padahal awalnya rekaman suara ayahnya mengaji itu agar menambah kekopongan tilawah saya. Huhu.  Ternyata kiriman rekamannya yang sudah 1 juz itu membuat saya merenung, dalam.

Teladannya menampar saya. Kehadiran janin di dalam kandungan juga membuat saya semakin tergerak, “Ayo kita harus mendoakan Ayah yang sedang bekerja, berjuang jauh!” Jabang bayikpun sering menendang ketika waktu shalat untuk mengingatkan, ataupun ketika mendengarkan tilawah. Tandanya Ia senang jika orang tuanya dekat dengan Allah S.W.T.

Maka kami bertiga, saya, suami, dan jabang bayik pun bekerja sama untuk saling bersinergi. Bapak mendayung di kanan, Ibuk dan jabang bayik mendayung di sebelah kiri.  Ya Allah, betapa nikmat rizkiMu.  ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ

Satu lagi yang akhir-akhir ini menampar saya.  Saat melakukan video call, suami bilang, “Yang kasurnya rapih.” Biasanya memang banyak barang yang ada di tempat tidur. Suami saya tidak melihat barang-barang yang tergeletak di bawah.  Saya langsung menelan ludah.

Wahh.. Ternyata suami saya senang ya, dengan suasana yang rapih.  Walau Ia tidak bilang secara langsung. Ia juga tidak pernah mengomentari kamar jika sering kali berantakan.  Tapi rasanya senang sekali ya, jika bisa membahagiakan suami, minimal dengan suasana kamar yang rapih dan nyaman. Ini mengingatkan saya jika selama ini masih memiliki mental anak kos, seenaknya sendiri.  InsyaAllah ini adalah reminder, sebelum saya benar-benar menjadi Ibu, mindset saya harus berubah. Sebelumnya bermental anak kos, sekarang harus menjadi istri, ibu, yang memiliki tugas sebagai manager rumah tangga.

Ya lagi-lagi suami saya begitu pinter dan nyeni ya ketika bicara.  Meski jarang bicara, ga bawel, sekalinya ngomong aduuuuuuuuuu maaaaak.  Hihi. Kok jadi malu sendiri ya. Terima kasih ya pak suami yang ganteng, untuk selalu sabar, untuk selalu membimbing istri dan jabang bayik. Betapa bersyukurnya kami memiliki pak suami sebagai iman di dalam keluarga.  

.

.

.

.

.

Dari istri yang selalu kesengsem sama dirimu & Jabang bayik yang ngefans sama tilawah bapaknya. 

.

.

Ps: We love youu… (eh ini si baby nitip tendangan cinta. โค Wkwk langsung nendang dia.)

 

    My Happy Preggo Diaryย 

    Alhamdulillah, mengandung itu rasanya nikmat banget. Setelah melewati fase berat di trimester pertama,  sekarang mulai menikmati fase indah.  Si kecil mulai semakin aktif bergerak, mulai dari gerakan mengetuk perut santai, sampai menendang heboh sahabekna ala pemain bola.

    Tendangannya itu juga bentuk komunikasi. Kalau lapar si kecil menendang dalam tempo reguler dan cukup keras. Kalau kesal tendangannya sekali hantam.  ๐Ÿ˜‚ Biasanya kalau ditinggal teleponan sama nenek atau ayahnya tanpa loude speaker atau saat saya senggang tapi tidak mengajaknya bicara. Yang paling gemas adalah saat mendengarkan suara rekaman mengaji ayahnya,  Ia bergerak girang heboh, ke kanan dan ke kiri.

    Semakin lama baby ibok semakin mirip ayah.  Mulai dari ngambek saat lapar dan juga protes saat mendengar lagu yang Ia tidak suka.  Kadang setelah rekaman ayahnya suka terputar lagu berikutnya, biasanya lagu Indie yang menurut baby, “Naon sih?” Wkwkwk.  Curiga si dia bakal girang banget kalau didengarkan lagu-lagu ayahnya. ๐Ÿ˜‚

    Sekarang juga saya sudah enak makan dan enak minum susu hamil. Sayangnya, sekarang mulai tidak bisa makan banyak karena perut semakin terdesak. Jalan kaki juga mulai berat karena bobot saya sudah naik 6kg ++. ๐Ÿ˜‚ Kata suami, langsing saya hanya bertahan selama dua bulan pernikahan.  Malah sekarang suami yang makin ramping dan terlihat semakin sehat. Hihi.

    Rasanya nikmat sekali, jalan ngageboy rada ngajegang sembari memegang perut yang semakin terasa teregang dan sesak. Apalagi dua hari ini rasanya otot, kulit, dan jaringan di perut sangat teregang dan ngilu. Tapi ngilunya mengingatkan saya bahwa di kecil berarti sedang tumbuh. Apalagi sekarang sudah memasuki usia 19 minggu.

    Sejak menginjak usia 4 bulan saya semakin aktif mengajaknya berbicara dan bercerita. Saya ajak Ia saat hendak shalat wajib atau shalat sunnah. Adanya baby ini membuat saya dan suami lebih bersyukur lagi kepada Allah. Si kecil juga memotivasi kami untuk lebih banyak beribadah. Bukan hanya itu, pekerjaan saya di rumah sakit pun terasa lebih mudah. 

    Si kecil jarang sekali mengeluh jika saya cuek atau terlalu sibuk.  Biasanya saat jam makan saya molor terlalu lama saja Ia mulai protes.  Sisanya, saya merasa bebas aktif bergerak dan beraktivitas. Saya juga merasa lebih semangat karena saya ingin menanamkan semangat bekerja dan belajar kepada baby yang ada di dalam kandungan. Rasanya berbeda, semangatnya juga berbeda. Saya jauh lebih ceria meski banyak kesibukan.

    Suami pun banyak memberikan support kepada saya dan baby. Ia rutin menghubungi saya baik via telpon ataupun video call. Perhatiannya membuat saya lebih semangat lagi. Pendidikan anak bagi kami bukan hanya tugas Ibu, tapi juga tugas bersama.  Baby harus sejak dini mengenal dan berinteraksi dengan ayahnya.  Maka kami mulai menyalakan loud speaker saat mengobrol via telepon ataupun video call. Saya pun setiap hari memperdengarkan suara ayahnya. Iki lo nak, bapak yang sayang banget sama kamu.  :*

    Anak-anak Palestina itu diberi pendidikan Alquran sejak dalam kandungan. Berbeda dengan Ibu Yahudi yang katanya belajar ilmu pengetahuan ataupun matematika saat hamil agar anaknya pintar. Ngitung duit mah nanti juga bisa ya, nak? Wkwk. Jadi yang penting mendidik agar jadi anak sholeh saja dulu. Nanti mau apa saja yang penting bisa bermanfaat. Kalau nanti kamu jadi dokter bedah risiko tidak ditanggung ya. Wkwk. Soalnya baby banyak terpapar kasus bedah selama menemani saya di IGD. Hihi.  

    Harus semangat nih hap hap happ!! Tilawah saya masih kendor. Baca buku juga masih kendor. Pokoknya temenin Ibuk ya sayang. Kita sama-sama belajar supaya lebih deket lagi sama Allah. We love you anak Ibukk dan ayah!!  ๐Ÿ˜˜ 

    Kami & Baby Aย 

    Baby A masih tidur.  Biasanya Ia suka sekali menguping Ayah dan Ibunya bicara. Saat saya sedang bersama Ayahnya, geraknya menjadi sangat aktif.

    Gerak Baby A selalu saya nantikan, begitu pun suami.  Kami sering mengajaknya berbicara ataupun memintanya menendang. Mungkin kekuatan kaki Baby A saat itu belum cukup untuk membuat getaran yang Ia buat terasa. Sering juga saya menggerakan perut seolah membuat gempa sembari berkata, “Gempa!! Gempa!!” Suami lalu memasang muka cemas, khawatir. Haha.

    Tapi ternyata Baby A memberikan kejutan saat tasyakuran 4 bulanan.  Ia menendang untuk pertama kali. Saya pun membisiki suami. Sejak hari itu Baby A sudah mulai aktif bergerak.  Kami pun mulai lebih banyak berbicara dengan Baby A.  

    “Assalamualaikum baby A.. Jagain Bunda ya, selama Ayah kerja jauh.” Kata suami, pada rekaman suaranya untuk Baby A. Saya percaya bahwa pendidikan anak sejak dini bukan hanya memerlukan peran Ibu, tapi juga Ayah. Bagaimana pun anak juga perlu merasakan disayangi Ayahnya. Meskipun Ayah Baby A sedang jauh, kami berusaha tetap mencukupi kebutuhan baby A akan ayahnya.  

    Baby A adalah keajaiban dan penyejuk dalam rumah tangga saya bersama suami. Allah ternyata menyiapkan rencana yang begitu baik.  Ternyata kehamilan saya dipercepat, sehingga saat suami harus kembali bekerja di tempat jauh, kini ada jagoan yang berusaha menjaga dan menemani Bundanya.

    Kehadiran Baby A di keluarga, menjadi pemicu agar saya dan suami semakin giat beribadah. Karena kelak Ia bukan mendengarkan perintah, tetapi melihat teladan dari sikap kami sehari-hari. Saat ini Baby A suka sekali menendang dengan keras bila didengarkan murattal.  Ayahnya begitu senang mendengar cerita saya, “Baby A sholeh.” Kata suami saya terharu. 

    Insya Allah jadi anak sholeh ya nak.  Kita sekeluarga akan selalu berusaha jadi keluarga yang sholeh.  Semoga kehadirannya yang masih di dalam kandungan ini dapat terus membuat orang tuanya bersyukur dan lebih mendekatkan diri pada Allah Yang Maha Kuasa. Amin.. 

    .

    .

    .
    IGD RSUD Indramayu, 5 Juli 2017 

    In 18 weeks of pregnancy 

    Drama Ditinggal Ke Proyek

    Bombay kali ini cukup panjang. Mengingat baru pertama kali ditinggal jauh oleh suami setelah menikah. Dulu waktu suami masih di Manado, tetapi status kami belum menikah, rasa sedihnya masih dalam batas wajar. Tapi kali ini ditinggal beliau itu benar-benar berat rasanya. 

    Saat malam rumah sudah mulai tenang. Tanpa terasa air mata mengalir setelah mendengar kabar suami sudah landing. Apalagi ketika sampai di kosan. Melihat setiap sudut yang berisi kenangan bersama beliau membuat saya menangis. Melihat selimut yang Ia rapihkan saya menangis. Saat sudah reda, melihat piring yang Ia selalu cucikan untuk membantu saya, saya pun menangis. Saat melihat sajadah, yang kami gunakan berjamaah pun mengingatkan saya tentang suami. Kamar mandi dan pewanginya yang baru saja Ia ganti. Bon laundry yang telah Ia bayar, “Yang bonnya Aa taro di sini ya.” Katanya sambil menunjukkan letaknya.  Pakaian bekas pakai pun beberapa sengaja saya sisakan agar saya bisa mencucinya sendiri dengan tangan.

    Sambil tiduran dan terisak, saya ajak bicara baby di dalam kandungan, “Bundanya kangen sama Ayah.” Baby pun meresponnya dengan tendangan yang sangat keras. Jedukkkk!!  Baby A pun pasti sudah mulai rindu dengan Ayahnya.

    Banyak sekali kebaikan yang telah dilakukan oleh suami. Belum lagi pengorbanan yang diberikan. Sampai sesaat sebelum pulang pun suami selalu berusaha membuat saya bahagai. Alhamdulillah.  Terima kasih banyak ya Allah, atas karunia yang Engkau berikan.  

    Ya Allah, semoga perpisahan ini hanya sementara. Semoga kami sekeluarga bisa saling menjaga dan mendoakan. Semoga kelak kami bisa bersama dan tinggal satu rumah. Semoga waktunya segera tiba ya Allah.  Amin..  

    Syukurlah hari ini saya sudah mulai jaga malam. Terlalu banyak kenangan di kamar kosan yang membuat saya selalu teringat suami.  Apalagi tempat tidur, tempat saya selalu terbius tidur di ketek suami. Yuk semangat baby!  Bantuin bundanya doain Ayah ya!  

    Hari – Hari Spesial Bersama Suamikย 

    Baper banget rasanya waktu suamik kembali ke Sulawesi. Sejak H-1 lebaran suamik menemani saya di Indramayu karena harus jaga hampir setiap hari ketika libur lebaran. Sekarang suamik harus berjuang lagi di perantauan.  :”

    Mamih, atau Ibu mertua, hampir selalu bercerita mengenai kehidupannya bersama Alm. Pak Bambang. Meski belum pernah bertemu rasanya saya mengerti dari mana datangnya sifat baik super romantis yang ada pada suamik saya.

    Saat suamik menemani lebaran tanpa libur saya, Ia betul-betul full mendampingi saya.  Ia menemani saya tidur saat post jaga.  Ia memasak nasi dan menyiapkan lauk untuk sarapan atau makan siang. Terkadang suamik juga menyiapkan bekal untuk saya jaga malam.

    Betapa senangnya karena suamik bisa menemani saya berangkat dan pergi bekerja.  Saya selalu tidak sabar untuk segera pulang karena suamik akan segera menyambut saya. Kadang suami menjemput ke RS atau menunggu di kosan.

    Alhamdulillah Allah memberikan rizki untuk bersama suamik pada 10 hari terakhir ini. Entahlah bagaimana bisa ada orang sebaik dan setulus suami. H-1 lebaran Ia datang, membawa berbagai makanan titipan. Mulai dari ketupat, opor, sampai berbagai macam kue. Setelah sahur suami langsung tancap gas ke Indramayu. 

    Rizki dari Allah juga saya mendapat tugas jaga malam saat hari lebaran.  Jadinya saya punya kesempatan shalat Ied bersama dengan suami kesayangan. Pada malam takbiran pun kami keluar untuk melihat pawai di jalan raya.  

    Setelah shalat Ied di Alun-Alun Indramayu. Foto diambil di depan Mesjid Agung Indramayu

    Suamik benar-benar membantu meringankan beban saya di kosan. Ia membantu saya mencuci piring atau memasak karena saya lebih banyak tidur untuk menyimpan energi. Barulah saat jadwal jaga saya mulai lebih normal pekerjaan rumah tangga seperti mencuci sudah bisa saya lakukan.  Tapi sejak saya hamil suami benar-benar sigap.  Bahkan selimut yang kadang saya tunda untuk dilipat juga seringnya lebih dulu dirapihkan oleh suami.

    Suami pun membantu saya membeli oleh-oleh ketika saya masih harus jaga. Saya merasakan betul bagaimana saya dan suami saling bekerja sama agar bisa menyelesaikan pekerjaan. Akhirnya tanggal 30 Juni saya baru bisa libur. Kesempatan itu saya gunakan untuk mudik ditemani suami tercinta.

    Kami silaturahmi ke Pamanukan, dilanjutkan silaturahmi ke Lembang. Keesokan harinya kami ada acara Tasyakur 4 bulanan si kecil. Saat pengajian itu pula saya akhirnya bisa merasakan tendangan jagoan di dalam kandungan.  Jedukkk!!! Tiga kali iya memberikan kejutan.

    Setelah tasyakur 4 bulanan baby A

    Tidak sampai disitu, saat saya menginap di hotel bersama suamik, si kecil sering kali menendang perut saya dengan kencang. Tapi bila dipanggil atau didekati oleh Ayahnya, justru Ia malah diam. Hahaha.  Dasar.
    Tibalah saat suamik harus pergi kembali ke Sulawesi.  Sedih sekali rasanya karena selama di Jakarta suami bisa lebih sering pulang. Rasanya berat. Saya pun tak kuasa mewek sedih sambil memeluk suami.  Mudah-mudahan suami dimudahkan dalam pekerjaan dan segala urusannya, dijaga selalu oleh Allah.  Semoga saya dan baby A bisa selalu sehat dan dilindungi oleh Allah.  Aamiinn… 

    Sebelum misua kembali ke hutan