Komunikasi Nyeni dalam Rumah Tangga 

“Komunikasi pasangan suami istri itu seni. Dan kita perlu menyampaikannya dengan nyeni.”

Perempuan itu sering kali tidak fokus ketika bicara, padahal suami begitu telaten mendengarkan. Suatu hari saat saya ingin berkeluh kesah, ternyata saya menyampaikan begitu banyak masalah.  Termasuk kekhawatiran saya di masa depan yang belum terjadi. Suami yang sedang merenungkan solusi dari sebuah masalah yang saya ceritakan, saya malah menambahkan kekhawatiran saya yang lainnya.  Dan itu membuat suami tiba-tiba terdiam, “Dipikirinnya satu-satu dong!” Kata Beliau. Astagfirullah, saya cepat-cepat mengingat kesalahan saya.

Ternyata apa yang disebutkan dalam buku  Men are from Mars, Women are from Venus itu benar. Ya Allah rasanya mau nangis. Kelalaian saya, saking asyiknya bercerita karena suami saya begitu sabar mendengarkan ternyata kebablasan.  Btw buku saya di pinjam siapa ya? Mau baca tapi tidak ada. Huaaa.  Perlu beli lagi ini sih.  Di dalam bukunya disebutkan bahwa, ” perempuan senang sekali berbicara mengenai masalah. Padahal seorang laki-laki selalu memikirkan satu masalah sampai selesai, sebelum berpindah pada masalah berikutnya. ”

Bukan hanya soal memahami karakter pria dan wanita, memahami tentang karakter individu juga penting. Suami dan saya sama-sama tidak suka didikte, maka budaya saling menasehatinya pun berbeda.  Suami memang tipe observer, analis, jadi Ia tidak pernah menyuruh saya sesuatu yang menekan saya. Ia hanya menyuruh saya untuk tilawah kalau saya sedang lalai, menyuruh saya naik becak kalau saya sedang lelah untuk jalan kaki.  Ia juga hanya menyuruh saya agar minum susu setiap hari, minum madu sebelum berangkat ke RS, dan menyuruh saya mengurangi mengkonsumsi mie instan.

Sisanya, Ia tahu bahwa menasehati saya tidak membuat saya berubah. Karena saya tipe orang yang berubah hanya jika hatinya sudah tergerak.  Maka Ia tidak bicara melalui kata-kata, tapi melalui hatinya.  Ia tidak mendikte, melainkan memberikan keteladanan sebagai imam di dalam keluarga. 😭😭😭😭😭😭

Ia memulai dengan berlatih shaum sunnah saat kami memulai rumah tangga, kemudian Ia menjaga shalat dhuhanya. Apalagi saat usia kehamilan saya bertambah, Ia menambah lagi porsi tilawah hariannya. Belum lagi karena saya memintanya mengirimkan rekaman suaranya mengaji, tilawahnya pun semakin bertambah. Padahal awalnya rekaman suara ayahnya mengaji itu agar menambah kekopongan tilawah saya. Huhu.  Ternyata kiriman rekamannya yang sudah 1 juz itu membuat saya merenung, dalam.

Teladannya menampar saya. Kehadiran janin di dalam kandungan juga membuat saya semakin tergerak, “Ayo kita harus mendoakan Ayah yang sedang bekerja, berjuang jauh!” Jabang bayikpun sering menendang ketika waktu shalat untuk mengingatkan, ataupun ketika mendengarkan tilawah. Tandanya Ia senang jika orang tuanya dekat dengan Allah S.W.T.

Maka kami bertiga, saya, suami, dan jabang bayik pun bekerja sama untuk saling bersinergi. Bapak mendayung di kanan, Ibuk dan jabang bayik mendayung di sebelah kiri.  Ya Allah, betapa nikmat rizkiMu.  😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭

Satu lagi yang akhir-akhir ini menampar saya.  Saat melakukan video call, suami bilang, “Yang kasurnya rapih.” Biasanya memang banyak barang yang ada di tempat tidur. Suami saya tidak melihat barang-barang yang tergeletak di bawah.  Saya langsung menelan ludah.

Wahh.. Ternyata suami saya senang ya, dengan suasana yang rapih.  Walau Ia tidak bilang secara langsung. Ia juga tidak pernah mengomentari kamar jika sering kali berantakan.  Tapi rasanya senang sekali ya, jika bisa membahagiakan suami, minimal dengan suasana kamar yang rapih dan nyaman. Ini mengingatkan saya jika selama ini masih memiliki mental anak kos, seenaknya sendiri.  InsyaAllah ini adalah reminder, sebelum saya benar-benar menjadi Ibu, mindset saya harus berubah. Sebelumnya bermental anak kos, sekarang harus menjadi istri, ibu, yang memiliki tugas sebagai manager rumah tangga.

Ya lagi-lagi suami saya begitu pinter dan nyeni ya ketika bicara.  Meski jarang bicara, ga bawel, sekalinya ngomong aduuuuuuuuuu maaaaak.  Hihi. Kok jadi malu sendiri ya. Terima kasih ya pak suami yang ganteng, untuk selalu sabar, untuk selalu membimbing istri dan jabang bayik. Betapa bersyukurnya kami memiliki pak suami sebagai iman di dalam keluarga.  

.

.

.

.

.

Dari istri yang selalu kesengsem sama dirimu & Jabang bayik yang ngefans sama tilawah bapaknya. 

.

.

Ps: We love youu… (eh ini si baby nitip tendangan cinta. ❤ Wkwk langsung nendang dia.)

 

    Advertisements

    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s