Meninggal Saat Persalinan 

Kemarin, teman SMA saya meninggal dunia. Almarhumah sebelumnya sama-sama sedang hamil. Menurut cerita teman yang berkunjung ke rumah duka, Alm keluar flek pagi tadi, lalu dibawa ke rumah sakit. Alm sedang mengandung usia kehamilan 8 bulan. Kondisi tersebut termasuk ke dalam persalinan prematur.  

Menurut keterangan teman, Alm sempat dibawa ke Tiga RS sebelumnya, namun ditolak (mungkin karena keterbatasan ruangan atau fasilitas).  Hingga akhirnya keluarga membawa Alm ke RSHS. Di RS, dilakukan persalinan secara normal. Saat pembukaan 7, asma Alm kambuh. Sehingga bayi yang ada di dalam kandungan kekurangan oksigen, lalu meninggal dunia. Seingat saya, Alm sempat dirawat di RS ketika hamil beberapa bulan lalu karena asmanya kambuh. 

Bayi tersebut akhirnya dilahirkan dengan bantuan vakum.  Setelah bayi lahir Alm mengalami atonia uteri atau kontraksi rahim yang buruk,  sehingga Alm mengalami perdaraham hebat. Dokter memutuskan untuk melakukan pengangkatan rahim, namun sebelum operasi dilakukan, nyawa Alm tidak tertolong.

Akhirnya saya pun penasaran dan mencari referensi mengenai asma yang terjadi pada kehamilan. Karena saat sekolah kedokteran dulu, jarang sekali saya menemukan pasien asma yang kambuh saat melahirkan. Jadi, jika asma saat hamil tidak terkontrol, risiko yang terjadi salah satunya adalah persalinan prematur.

Saya sendiri bingung, kenapa tiba-tiba Alm melahirkan prematur? Ternyata kalau sesuai literatur, penyebabnya karena asmanya.  Lalu saat sedang persalinan, tiba-tiba asmanya kambuh.  Saya cari, jarang sekali pasien asma yang kambuh di tengah persalinan.  Jadi keadaanya cukup langka, sekitar 1% pada pasien asma yang sedang hamil saja.

Tapi bisa dibayangkan, stres persalinan yang dialami pasien memicu kekambuhan penyakitnya.  Kemudian, faktor asma akan menyebabkan kekurangan oksigen. Kondisi ini bisa menyebabkan gangguan kontraksi pada rahim.  Jika melihat wajah Alm yang pucat, mungkin ada penyerta berupa anemia juga. Jadi hipoksia jaringan atau kekurangan oksigen ini menyebabkan Alm mengalami atonia uteri. (Melihat kondisi perut Alm yang besar, saya dan mama curiga penyebab atonianya ditambah dengan polihidramnion. Tapi wallahualam, saya tidak tahu pasti penyebab kematiannya.)

Atonia uteri atau rahim tidak bisa berkontraksi dengan baik ini menyebabkan perdarahan setelah persalinan.  Perdarahannya biasanya terjadi begitu cepat dan hebat. Hitungan menit pasien kehilangan darah begitu banyak. Satu-satunya cara untuk menolong pasien adalah menghilangkan penyebab perdarahan, yaitu mengangkat rahimnya.  Namun biasanya kondisi pasien sudah sangat buruk, sehingga nyawa pasien sulit ditolong bahkan sebelum operasi dilakukan.  

Mungkin berbeda cerita jika atonia uteri terjadi saat persalinan caesar.  Ketika kontraksi terus menerus memburuk, dokter bisa langsung mengangkat rahimnya.  Toh pasien sudah di ruang operasi,  perut pasien juga sudah dibuka. Jadinya waktu perdarahan bisa diminimalkan.

Terbayang saat persalinan normal.  Jika terjadi atonia uteri maka pihak dokter harus menghubungi ruang operasi untuk persalinan cito.  Belum lagi persiapan darah untuk menggantikan darah yang hilang tidak bisa secepat itu.  Naik ke ruang operasi pun memerlukan waktu. Benar-benar atonia uteri itu seperti dokter yang harus menjinakkan bom dalam hitungan menit.

Pasien Mama pun pernah ada yang dirujuk ke RSHS karena IUFD. Kemudian setelah melahirkan pasien mengalami atonia uteri. Selama dua minggu pasien tidak sadar dan dirawat di ICU.  Transfusi yang didapat pun mencapai 44 labu.  Betul-betul Allah lah yang berkuasa terhadap hidup dan mati seseorang. :” 

Semoga Allah memudahkan jalan hamba-hambanya melalui tangan-tangan para tenaga medis, perawat, bidan, dan para dokter SpOG. Semoga Allah memberkahi pekerjaan tenaga kesehatan. Amin..  

Take home messages:

  1. Pahami kondisi kesehatan, jika memiliki kehamilan berisiko, disarankan untuk pemeriksaan kehamilan di RS. 
  2. Sebaiknya memiliki dokter tetap, sehingga dokter tersebut sudah mengetahui kondisi kesehatan kita.
  3. Lebih baik lagi, kunjungi tempat kontrol secara tetap, agar kondisi kita sudah tercatat di rekam medis.  Jika ingin pindah dokter di RS yang sama, catatan kita pun sudah ada.  Ini memudahkan dokter dan mempercepat keputusan tindakan untuk pasien.  
  4. Jika kita berpindah dokter atau datang ke fasilitas kesehatan,  selalu utarakan penyakit penyerta yang diderita.
  5. Pilih tempat bersalin sesuai dengan budget dan kondisi medis. Jika tidak ada penyakit penyerta yang mengkhawatirkan, di fasilitas kesehatan mana saja tidak masalah. Bila memiliki penyakit penyerta, sejak trimester ketiga kita sudah harus mencari RS tempat kita akan bersalin. Mungkin kita akan mulai pindah dokter untuk ANC atau periksa kandungan di dokter kandungan yang ada di RS tersebut. Agar saat bersalin kondisi kesehatan kita sebelumnya sudah diketahui oleh pihak dokter dan RS.
  6. Rumah sakit tipe A (RSHS, RSCM, Sardjito, dll)  itu bukan rumah sakit percobaan ya. RS tipe A itu artinya punya dokter yang lengkap sampai subspesialis.  Fasilitas kesehatan RS tipe A juga paling lengkap. Jadi kalau kondisi medis keluarga ada yang memerlukan penanganan di RSHS, jangan ragu.  Mungkin di sana akan banyak ditangani oleh residen, tapi apakah RS lain mampu menangani? Tenang saja, residen selalu mendapat supervisi untuk tindakan dari konsulen atau subspesialis ko.

    Semoga pengalaman teman saya ini bisa diambil hikmahnya oleh kita semua. Mudah-mudahan Alm khusnul khatimah, suami dan keluarga yang ditinggalkan pun dapat diberi kesabaran.  

    Advertisements

    Kewajiban Memuliakan Pelayan 

    [Memuliakan Pelayan]

    Ini adalah pengalaman saya bersama adik saya ketika di Indramayu.  

    Hari Minggu pagi saya sarapan di Pasar Minggu Cimanuk dengan adik saya.  Kami duduk di sebelah sepasang pensiunan di meja dan kursi panjang,  yang mungkin cukup untuk 8-10 orang. Sejak kami datang gaya mereka nampak sinis.  Oh orang kaya, pikir saya. Mereka nampak tidak suka saya dan adik saya duduk di sebelah mereka.  Padahal ini warung soto emperan, bukan resto eksklusif.

    Sejak awal saya memang sudah merasa tidak nyaman. Tapi ya sudahlah. Ternyata adik saya pun merasakan yang sama. Bapak-bapak yang duduk di sebrang adik saya itu, memandangi saya dan adik saya dari atas sampai bawah. Belum lagi Ibu yang duduk di sebelah saya selalu minta ini itu pada tukang soto, berisik sekali. Cik atuh ya. Tapi kami makan saja.  

    Ternyata kami sama sama makan soto seharga 38rb.  Apakah layak merendahkan orang lain padahal kita sama-sama makan soto 30rb-an? Sepanjang jalan setelah makan saya dan adik saya tertawa karena kami memiliki pemikiran yang sama. Teman-teman saya dan adik saya banyak sekali yang bekerja sebagai pelayan atau berjualan. Jadi kami tahu betul beratnya mereka bekerja. Sedikit inisiatif kita sangat membantu pekerjaan mereka.  

    Kekuatan seseorang bukan dilihat dari betapa kerasnya ketika Ia marah, tetapi ketika Ia mampu bersabar dan menjaga emosi. Kehebatan seseorang juga bisa dilihat dari bicaranya yang baik dan sikapnya yang memuliakan orang lain. Apakah ketika kita sudah menjadi kaya kita boleh seenaknya? Oh tentu tidak.
    Sikap yang tidak mengenakan terkadang juga diberikan pada tamu lain yang datang dengan penampilan biasa-biasa.  Padahal siapapun boleh belanja ataupun makan di tempat yang sama asalkan mampu membayar kan? Siapa pula yang tahu ternyata keluarga yang begitu sederhana itu ternyata seorang milyarder? Who knows?

    Kita tentu boleh meminta pertolongan kepada pelayan. Tapi, ucapkanlah kata-kata yang baik. Katakan kita ingin meminta pertolongan mereka. Jika mereka terlalu jauh untuk dijangkau dan tidak melihat lambaian tangan kita, datangilah mereka.

    Saat kita ingin memesan dan ternyata mereka sangat sibuk, datangi dan tanyakan apakah ada buku menu yang bisa dipakai? Kita bisa mencatat pesanan sendiri lalu membawa pesanan kita kepada mereka. Mudah-mudahan tindakan sederhana kita bisa meringankan pekerjaan mereka. 

    .

    .

    .

    #30DWC #Jilid9 #Squad9 #Day15

    Melalui Siapa Rizki Keluarga Dititipkan?

    Rumput tetangga sering kali terlihat lebih hijau.

    Terkadang saya bingung, akan menjadi apa saya nanti? Melihat teman seangkatan, mereka sedang sibuk dengan internship yang tinggal menghitung bulan. Senior saya kini sedang mengikuti berbagai pelatihan dan magang untuk melanjutkan spesialisasi. Lalu di mana saya? Saya di rumah, sedang mengelus-elus kandungan. Ya, inilah cita-cita yang saya inginkan. Saya bahagia dengan pilihan ini. 

    Jika direnungkan, saya begitu bahagia ketika mencuci dan menyiapkan pakaian bayi.  Saya juga bahagia saat memasak untuk suami atau menyetrika pakaiannya. Mungkin, profesi yang kelak akan saya tekuni adalah yang tidak mengganggu kebahagiaan saya untuk bisa melayani suami dan anak-anak.

    Saya ingat perkataan sopir grab waktu saya dan suami jalan-jalan di Jakarta. Rizki dari Allah itu sudah ditentukan. Uang 10 jt itu bisa didapat dari suami dan istri.  Bisa saja penghasilan istri lebih besar.  Tapi bisa juga saat istri berhenti bekerja Allah tetap memberikan rizki 10 jt melalui suami.  Berdoalah agar Allah mencukupkan rizki bagi suami kita.

    Ya Allah.. Berikanlah rizki untuk suami hamba.  Agar hamba bisa fokus melayani keluarga dan hamba bisa fokus belajar dan mengamalkan ilmu kedokteran tanpa dikejar-kejar materi.  Cukupkan rizki keluarga dari suami ya Allah.  Semoga ada rizki agar hamba bisa pergunakan untuk mengupgrade ilmu pengetahuan. Semoga kami juga bisa berbagi dengan keluarga, kerabat, dan orang-orang yang membutuhkan.  

    Semoga Allah memudahkan ikhtiar suami untuk menjemput rizki bagi keluarga kecil kami.  Amin..

    Jadi, akan menjadi apa saya nanti? Rasanya masih tidak terbayang. Saya akan menikmati prosesnya satu persatu. Di mana ada celah, mungkin di situ lah takdir saya. 

    .

    .

    Renungan dokter internship yang masih galau akan masa depannya. 😆

    .

    .

    .

    #30DWC #Jilid9 #Squad9 #Day13

    Prolog 30 Days Writing Challenge #Jilid9

    Bismillahirrahmanirrahim..  

    Ada sebuah tips dari ebook 16 Tips Praktis Menulis yang diberikan oleh Kulwap Pejuang 30 DWC yaitu : Tingkatkan perhatian dan kepekaan sosial. Jadi, tulisan kita bisa dibuat berdasarkan masalah sosial di lingkungan kita.

    Ada beberapa masalah yang saya rasa begitu penting namun tabu untuk dibahas, sehingga banyak orang yang masih keliru menjalankannya. 

    1. Apakah sah akad nikah saat mempelai perempuan sedang mengandung?  Apakah halal tinggal bersama satu rumah dan melakukan hubungan suami istri?  Apakah akad nikah perlu diulang? 

    2. Apakah yang disebut nafkah dari suami untuk istri? Bagaimana hukumnya suami memberikan nafkah untuk Ibunya?

    3. Bagaimana hukum melakukan hubungan seksual saat pasangan sedang haid?

    4. Apa itu riba?  Aktivitas apa saja disekitar kita yang termasuk dalam riba?

    Saya rasa topik di atas perlu saya tulis dan pelajari. Mungkin akan banyak orang yang akhirnya memblock akun saya.  Tapi kewajiban sesama muslim untuk saling mengingatkan.  Kalau kita mengingatkan secara langsung mungkin terlalu menyinggung. Semoga dengan tulisan yang kita buat, bisa menjadi jalan untuk seseorang menjemput hidayahNya. InsyaAllah.  

    Mengenang Pak Amir Guru SMA

    Guru Kimia saya waktu SMA, Pak Amir, bilang, “Kuliahlah ke Unpad, ke kedokteran,  ke ITB.” Selalu diulang-ulang pada setiap kelasnya.  Pada saat itu, guru lain cenderung memberikan dukungan untuk masuk PTN favorit pada anak yang ranking di sekolah. Padahal ada anak-anak malas di belakang sana, yang hanya membutuhkan motivasi, dukungan, dan kepercayaan dari bapak dan ibu.

    Terima kasih pak Amir, karena bapak ada golongan mediocre seperti saya yang bisa kuliah di Fakultas Kedokteran Unpad. Karena setiap orang itu berhak untuk bermimpi untuk kuliah di mana saja dan memperjuangkan mimpinya.

    Ini jadi pelajaran juga bagi saya sebagai calon orang tua. Kelak saya harus memberikan motivasi, dukungan, dan kepercayaan agar anak-anak bisa bermimpi setinggi-tingginya dan juga meraihnya. 

    Up and Down of The Pregnancy 

    Kehamilan saya ini memang bukan termasuk kehamilan anak mahal, baik kehamilan yang dinantikan selama bertahun-tahun, atau kehamilan melalui program hamil puluhan juta rupiah.  Mengingat banyak orang begitu banyak menginginkan kehamilan dan belum Allah berikan, saya dan suami pun tak punya duid puluhan juta, jadi kami memutuskan bahwa kehamilan ini mahal dan harus dijaga sebaik-baiknya.  

    Kondisi ini menyebabkan seluruh keluarga berusaha menjaga kehamilan saya agar tetap sehat.  Oleh karena itu saya dibatasi untuk tidak sering bepergian jauh. Hal ini membuat saya bosan setengah mati karena tidak bisa sering pulang ke Lembang atau menemui suami di Jakarta.  😥

    Kehamilan ini anugerah yang membolak-balikkan hati anggota keluarga dengan ajaibnya.  Semua orang berbahagia menyambut kedatangan si buah hati. Meskipun begitu, ternyata ujiannya juga sangat besar.

    Saat hamil ini saya tengah menghadapi internship di Kabupaten Indramayu. Keseharian ketika bekerja tidak ada masalah sama sekali.  Masalah atau ujian hadir ketika pulang ke kosan. Saya mudah merasa bosan, mudah muntah apabila mencium bau makanan, bosan memakan makanan yang sama, dan saya mudah merasa clueless.

    Satu waktu saya muntah-muntah hingga tak bersisa makanan di lambung, saat saya baru mau beristirahat dan berbaring saya merasa sangat lapar. Bersyukur karena ada cemilan yang sudah saya stok.  Tapi saya ingin makan berat.  Di sini tidak banyak pilihan makanan biasanya mengingat rasanya saja saya jadi ingin muntah karena sudah terlalu bosan.

    Belum lagi dilema saat di kamar. Saya ingin istirahat tetapi kamar berantakan.  Belum lagi ada bekas cucian piring. Melihatnya saja saya sudah muntah-muntah.  Ya Allah ini benar-benar ujian.  Kelelahan ini membuat episkleritis saya kambuh lagi.  

    Saya selalu berusaha membeli makanan di luar sambil jalan kali supaya tidak bosan.  Sambil jalan rasanya ingin menangis, ‘begini ternyata perjuangan ibu hamil’.  Namun saya ingat begitu banyak orang yang mendambakan ada di posisi saya saat ini.  Oleh karena itu saya perbanyak istigfar sambil berjalan dan menahan mual.

    Hari ini saya berusaha bangkit sedikit-sedikit.  Saya ikhlaskan jika memang harus muntah.  Saya segera makan jika lapar. Saya mencoba mengingat ada cinta dibalik buah hati yang sedang saya kandung. 

    Saya mengingat kebaikan-kebaikan suami.  Betapa Ia sangat menginginkan datangnya buah hati di tengah keluarga kami.  Sejak awal menikah Ia selalu berusaha memahami saya dan memperlakukan saya dengan baik. Kami berusaha mengatur waktu bertemu, mencatat siklus haid di kalender dan mengupayakan kondisi yang sehat untuk bisa hamil.

    Suami juga begitu baik hingga Ia mengusahakan untuk menemani saya lebih lama.  Pernah Ia datang pada Sabtu dini hari, lalu kembali ke jakarta pada Senin pagi dari Indramayu.  Saya begitu bahagia ketika pulang suami tengah menunggu di kosan.  Tiba-tiba Ia sudah cuci piring. :”” 

    Sekarang pun suami berusaha menyalurkan perubahan hormonal saya yang membuat saya jadi semakin melow. Ia selalu mengusahakan video call dan itu membuat saya lebih tenang dan merasa didukung. Hari ini, perubahan hormon di tubuh saya bukan hanya membuat tubuh saya sakit seperti sedang flu like syndrome berhari-hari, tetapi juga psikologis saya terjun bebas. Syuuuuuu… 

    Selepas shalat saya menangis, membiarkan hati bicara pada Allah dan memohon kemudahan dari Allah. Pasti Allah tahu saya mampu melewati ini. Suami pun ternyata sedang galau seperti saya.  Ia bimbang karena tidak tahu harus menghadapi saya seperti apa, Ia juga bimbang karena akan menghadapi perubahan peran.  Saya sadar ketika suami semakin sering mendengarkan ceramah, menghadiri taklim dan meningkatkan amalan yaumi.  😅  Galau juga ternyata ya :*

    Ya Allah semoga Engkau memberikan kekuatan dan kemudahan kepada kami.  Amin..  

    How if He Does Not Want You?

    Bagaimana bila ternyata kehadiran kita itu tidak diharapkan? Bagaimana bila seseorang yang kita suka itu terlalu baik, hingga tidak enak untuk menolak keberadaan kita? Bagaimana bila selama ini, kita kurang peka untuk membaca penolakan, cara-cara halus untuk menghindar?

    Komunikasi adalah jembatan dalam setiap hubungan. Apalagi antara pria dan wanita, yang satu suka dengan kode dan yang lainnya tidak peka membaca kode, akhirnya jaka sembung, tidak nyambung. Seharusnya komunikasi bisa menyelamatkan banyak perasaan. Why didn’t you understand that the shorter texts and the only yes or no texts mean that you are unwanted?

    Apa susahnya bilang, “Aku cuma nganggep kamu temen aja.”

    Satu kalimat, dan kamu para pria sudah menyelamatkan masa depan seorang perempuan.

    Pelet Pengasih Sebutir Nasi

    Cara memotivasi setiap orang itu berbeda.

    Ibu saya setahun terakhir sering mengingatkan jika di rumah tidak ada nasi, “Kenapa ga masak nasi? Emangnya mau makan beras?”
    Tapi tetap saja begitu, Ibu saya yang akan masak.

    Ibu akhirnya menggunakan kata-kata yang berbeda, “Harus belajar masak nasi, nanti kalau nikah kan paling engga di rumah harus ada nasi.”
    Ketika koass, tidak ada nasi bukanlah masalah besar. Kan masih bisa beli atau paling tidak makan mie.

    Tapi setelah lulus profesi dokter, tanpa uang jajan mingguan seperti biasa membuat saya merasa malu karena di rumah tidak melakukan apapun. Iseng-iseng saya bereksperimen di dapur, sesekali kalau bangun pagi saya mencoba memasak nasi pakai magic com. Ternyata hal kecil yang dilakukan efeknya besar.

    Adik saya yang laki-laki jadi bisa makan teratur dan hampir selalu makan di rumah. Ia juga tidak mudah emosi seperti dulu, mungkin dulu emosi karena lapar ya. Hihi. Adik saya tidak bilang apa-apa tapi sikapnya lebih tenang.

    Biasanya selalu ada nasi sisa di rumah keesokan hari. Tapi ini magrib udah habis? Dan harus masak nasi lagi. Wow. Alhamdulillah.. Makanan juga jarang ada sisa. Adik saya sering bilang, “Pengen ngabisin yang ini dulu. Sayang nanti kebuang. Makanan yang baru buat nanti.”

    Makanan yang coba saya buat hampir tidak pernah ada sisa. Kecuali makanan yang terlalu banyak bawang tumis. Saya hobi banget dengan bawang, adik saya super anti. Tapi nikmat banget rasanya memilah kerang dari tumpukan bawang dan cabai hijau agar adik saya bisa makan. Ada perasaan bahagia yang tidak bisa diungkapkan. Saat perempuan merasa berguna dan membuat orang terdekatnya senang walau hanya dengan nasi dan masakan yang entah rasanya gimana.

    Terima kasih banyak, udah memotivasi dan bikin icha semangat belajar masak. Sedih banget nanti iship ninggalin rumah. Siapa nanti yang masakin? 😦

    Semoga dapet istri yang mau belajar masak ya. Biar nanti happy dan betah di rumah. Walau makanan di luar lebih enak, tapi makanan di rumah itu dikasih bumbu cinta jadi lebih ngangenin. Iya ga?

    Mau Jadi Apa? (Lanjutan)

    “Mau jadi apa nanti?”

    Pembahasan mengenai karir yang akan dijalankan di masa depan akan selalu mengisi topik – topik dalam tulisan saya. Hehe. Setelah lulus, nampaknya waktu yang ada memberikan banyak kesempatan untuk berpikir.

    • Apakah ingin jadi klinisi atau non klinisi?
    • Apakah ingin bermain di ranah primer atau sekunder?
    • Apakah ingin jadi dokter dengan pisau atau tidak?

    Alhamdulillah sudah makin terbayang pilihan saya nanti.

    1. Klinisi
    2. Primer

    Jadi, saya masih mempending beberapa pelatihan atau seminar, karena ingin melihat setelah internship ilmu apa yang betul – betul saya perlukan. Senangnya, karena sudah di rumah saya bisa berpikir jernih tanpa terlalu banyak dipengaruhi pemikiran orang lain. Saya juga tidak hanya memikirkan “gengsi” suatu profesi. Karena kelak saya akan menjalankannya insha Allah sampai mati kan. Jadi harus yang betul – betul bisa dinikmati. Saya sih muluk – muluk banget, pengen yang bisa sambil jaga anak, tapi tetep cukup buat beli lipstick baru. #ehhh.

    Hommy VS Fancy : Manakah yang Lebih Nyaman?

    Tidak semua kebahagiaan diraih dengan kemewahan. Tidak semua ketenangan didapatkan pada tempat yang nyaman.

    Analogi sederhana datang dari sebuah kedai kopi bernama Terminal Coffee. Tempatnya tidak memiliki plang nama dengan neon box. Tempatnya juga tidak senyaman Caribou atau cafe lain yang instagramable. Tapi bagi saya, tempat itu cukup untuk memenuhi kebutuhan saya karena:
    1. Kopinya yang enak dan harganya murah
    2. Snacknya enak dan mengenyangkan
    3. Ada mushala dan toilet
    4. Bisa recharge hp
    5. Bisa bawa makanan dari luar
    6. Datang ke sana tidak perlu memperhatikan outfit, tidak harus gengsi jika sepatu basah dan membuat lantai basah
    7. Tidak harus gengsi jika ke sana saat lusuh dan muka benar-benar seperti wajan berminyak

    Sebenarnya kita hanya memerlukan sebuah tempat dan rumah, tempat berlindung, tempat yang menerima kita dalam kondisi terburuk untuk merecharge kembali jiwa dan pikiran kita.

    Seperti saat melihat produk-produk kayu yang gila kece luar binasa di PVJ, terlihat amat sangat nyaman tapi harganya beuuh menguras kantong, bayangan kita mengenai needs dan wants diuji. Apakah semua yang membuat kita nyaman berbanding lurus dengan produktivitas yang kelak dihasilkan?

    Ini berkaitan dengan cita-cita saya tentang rumah yang ingin saya miliki kelak, bukan rumah yang furniturnya minimalis dan sejuk dipandang mata.

    Saya ingin rumah yang punya teras dan halaman agar bisa digunakan ketika ada acara. Di dalam rumah nanti tidak akan ada ruang tamu. Inginnya ada ruangan luas tanpa sekat seperti apartemen si kembar di The Return of Superman. Nantinya dinding dikelilingi oleh buku-buku koleksi keluarga. Kelak satu ruangan multifungsi itu akan jadi tempat belajar, mengaji, berkarya, sekaligus tempat lenjeh-lenjeh.

    Seperti rumah saya yang dulu, membuat saya dan keluarga berkumpul di satu tempat meski aktivitas kita berbeda. Ada pula mushala yang cukup untuk keluarga dengan Lima anak shalat berjamaah. Wkwk.. Berarti kamarnya harus ada berapa kalau anaknya ada Lima? Ini sih judulnya rumah maximizer ya? Hahaha