Mengenang Pak Amir Guru SMA

Guru Kimia saya waktu SMA, Pak Amir, bilang, “Kuliahlah ke Unpad, ke kedokteran,  ke ITB.” Selalu diulang-ulang pada setiap kelasnya.  Pada saat itu, guru lain cenderung memberikan dukungan untuk masuk PTN favorit pada anak yang ranking di sekolah. Padahal ada anak-anak malas di belakang sana, yang hanya membutuhkan motivasi, dukungan, dan kepercayaan dari bapak dan ibu.

Terima kasih pak Amir, karena bapak ada golongan mediocre seperti saya yang bisa kuliah di Fakultas Kedokteran Unpad. Karena setiap orang itu berhak untuk bermimpi untuk kuliah di mana saja dan memperjuangkan mimpinya.

Ini jadi pelajaran juga bagi saya sebagai calon orang tua. Kelak saya harus memberikan motivasi, dukungan, dan kepercayaan agar anak-anak bisa bermimpi setinggi-tingginya dan juga meraihnya. 

Up and Down of The Pregnancy 

Kehamilan saya ini memang bukan termasuk kehamilan anak mahal, baik kehamilan yang dinantikan selama bertahun-tahun, atau kehamilan melalui program hamil puluhan juta rupiah.  Mengingat banyak orang begitu banyak menginginkan kehamilan dan belum Allah berikan, saya dan suami pun tak punya duid puluhan juta, jadi kami memutuskan bahwa kehamilan ini mahal dan harus dijaga sebaik-baiknya.  

Kondisi ini menyebabkan seluruh keluarga berusaha menjaga kehamilan saya agar tetap sehat.  Oleh karena itu saya dibatasi untuk tidak sering bepergian jauh. Hal ini membuat saya bosan setengah mati karena tidak bisa sering pulang ke Lembang atau menemui suami di Jakarta.  😥

Kehamilan ini anugerah yang membolak-balikkan hati anggota keluarga dengan ajaibnya.  Semua orang berbahagia menyambut kedatangan si buah hati. Meskipun begitu, ternyata ujiannya juga sangat besar.

Saat hamil ini saya tengah menghadapi internship di Kabupaten Indramayu. Keseharian ketika bekerja tidak ada masalah sama sekali.  Masalah atau ujian hadir ketika pulang ke kosan. Saya mudah merasa bosan, mudah muntah apabila mencium bau makanan, bosan memakan makanan yang sama, dan saya mudah merasa clueless.

Satu waktu saya muntah-muntah hingga tak bersisa makanan di lambung, saat saya baru mau beristirahat dan berbaring saya merasa sangat lapar. Bersyukur karena ada cemilan yang sudah saya stok.  Tapi saya ingin makan berat.  Di sini tidak banyak pilihan makanan biasanya mengingat rasanya saja saya jadi ingin muntah karena sudah terlalu bosan.

Belum lagi dilema saat di kamar. Saya ingin istirahat tetapi kamar berantakan.  Belum lagi ada bekas cucian piring. Melihatnya saja saya sudah muntah-muntah.  Ya Allah ini benar-benar ujian.  Kelelahan ini membuat episkleritis saya kambuh lagi.  

Saya selalu berusaha membeli makanan di luar sambil jalan kali supaya tidak bosan.  Sambil jalan rasanya ingin menangis, ‘begini ternyata perjuangan ibu hamil’.  Namun saya ingat begitu banyak orang yang mendambakan ada di posisi saya saat ini.  Oleh karena itu saya perbanyak istigfar sambil berjalan dan menahan mual.

Hari ini saya berusaha bangkit sedikit-sedikit.  Saya ikhlaskan jika memang harus muntah.  Saya segera makan jika lapar. Saya mencoba mengingat ada cinta dibalik buah hati yang sedang saya kandung. 

Saya mengingat kebaikan-kebaikan suami.  Betapa Ia sangat menginginkan datangnya buah hati di tengah keluarga kami.  Sejak awal menikah Ia selalu berusaha memahami saya dan memperlakukan saya dengan baik. Kami berusaha mengatur waktu bertemu, mencatat siklus haid di kalender dan mengupayakan kondisi yang sehat untuk bisa hamil.

Suami juga begitu baik hingga Ia mengusahakan untuk menemani saya lebih lama.  Pernah Ia datang pada Sabtu dini hari, lalu kembali ke jakarta pada Senin pagi dari Indramayu.  Saya begitu bahagia ketika pulang suami tengah menunggu di kosan.  Tiba-tiba Ia sudah cuci piring. :”” 

Sekarang pun suami berusaha menyalurkan perubahan hormonal saya yang membuat saya jadi semakin melow. Ia selalu mengusahakan video call dan itu membuat saya lebih tenang dan merasa didukung. Hari ini, perubahan hormon di tubuh saya bukan hanya membuat tubuh saya sakit seperti sedang flu like syndrome berhari-hari, tetapi juga psikologis saya terjun bebas. Syuuuuuu… 

Selepas shalat saya menangis, membiarkan hati bicara pada Allah dan memohon kemudahan dari Allah. Pasti Allah tahu saya mampu melewati ini. Suami pun ternyata sedang galau seperti saya.  Ia bimbang karena tidak tahu harus menghadapi saya seperti apa, Ia juga bimbang karena akan menghadapi perubahan peran.  Saya sadar ketika suami semakin sering mendengarkan ceramah, menghadiri taklim dan meningkatkan amalan yaumi.  😅  Galau juga ternyata ya :*

Ya Allah semoga Engkau memberikan kekuatan dan kemudahan kepada kami.  Amin..  

How if He Does Not Want You?

Bagaimana bila ternyata kehadiran kita itu tidak diharapkan? Bagaimana bila seseorang yang kita suka itu terlalu baik, hingga tidak enak untuk menolak keberadaan kita? Bagaimana bila selama ini, kita kurang peka untuk membaca penolakan, cara-cara halus untuk menghindar?

Komunikasi adalah jembatan dalam setiap hubungan. Apalagi antara pria dan wanita, yang satu suka dengan kode dan yang lainnya tidak peka membaca kode, akhirnya jaka sembung, tidak nyambung. Seharusnya komunikasi bisa menyelamatkan banyak perasaan. Why didn’t you understand that the shorter texts and the only yes or no texts mean that you are unwanted?

Apa susahnya bilang, “Aku cuma nganggep kamu temen aja.”

Satu kalimat, dan kamu para pria sudah menyelamatkan masa depan seorang perempuan.

Pelet Pengasih Sebutir Nasi

Cara memotivasi setiap orang itu berbeda.

Ibu saya setahun terakhir sering mengingatkan jika di rumah tidak ada nasi, “Kenapa ga masak nasi? Emangnya mau makan beras?”
Tapi tetap saja begitu, Ibu saya yang akan masak.

Ibu akhirnya menggunakan kata-kata yang berbeda, “Harus belajar masak nasi, nanti kalau nikah kan paling engga di rumah harus ada nasi.”
Ketika koass, tidak ada nasi bukanlah masalah besar. Kan masih bisa beli atau paling tidak makan mie.

Tapi setelah lulus profesi dokter, tanpa uang jajan mingguan seperti biasa membuat saya merasa malu karena di rumah tidak melakukan apapun. Iseng-iseng saya bereksperimen di dapur, sesekali kalau bangun pagi saya mencoba memasak nasi pakai magic com. Ternyata hal kecil yang dilakukan efeknya besar.

Adik saya yang laki-laki jadi bisa makan teratur dan hampir selalu makan di rumah. Ia juga tidak mudah emosi seperti dulu, mungkin dulu emosi karena lapar ya. Hihi. Adik saya tidak bilang apa-apa tapi sikapnya lebih tenang.

Biasanya selalu ada nasi sisa di rumah keesokan hari. Tapi ini magrib udah habis? Dan harus masak nasi lagi. Wow. Alhamdulillah.. Makanan juga jarang ada sisa. Adik saya sering bilang, “Pengen ngabisin yang ini dulu. Sayang nanti kebuang. Makanan yang baru buat nanti.”

Makanan yang coba saya buat hampir tidak pernah ada sisa. Kecuali makanan yang terlalu banyak bawang tumis. Saya hobi banget dengan bawang, adik saya super anti. Tapi nikmat banget rasanya memilah kerang dari tumpukan bawang dan cabai hijau agar adik saya bisa makan. Ada perasaan bahagia yang tidak bisa diungkapkan. Saat perempuan merasa berguna dan membuat orang terdekatnya senang walau hanya dengan nasi dan masakan yang entah rasanya gimana.

Terima kasih banyak, udah memotivasi dan bikin icha semangat belajar masak. Sedih banget nanti iship ninggalin rumah. Siapa nanti yang masakin? 😦

Semoga dapet istri yang mau belajar masak ya. Biar nanti happy dan betah di rumah. Walau makanan di luar lebih enak, tapi makanan di rumah itu dikasih bumbu cinta jadi lebih ngangenin. Iya ga?

Mau Jadi Apa? (Lanjutan)

“Mau jadi apa nanti?”

Pembahasan mengenai karir yang akan dijalankan di masa depan akan selalu mengisi topik – topik dalam tulisan saya. Hehe. Setelah lulus, nampaknya waktu yang ada memberikan banyak kesempatan untuk berpikir.

  • Apakah ingin jadi klinisi atau non klinisi?
  • Apakah ingin bermain di ranah primer atau sekunder?
  • Apakah ingin jadi dokter dengan pisau atau tidak?

Alhamdulillah sudah makin terbayang pilihan saya nanti.

  1. Klinisi
  2. Primer

Jadi, saya masih mempending beberapa pelatihan atau seminar, karena ingin melihat setelah internship ilmu apa yang betul – betul saya perlukan. Senangnya, karena sudah di rumah saya bisa berpikir jernih tanpa terlalu banyak dipengaruhi pemikiran orang lain. Saya juga tidak hanya memikirkan “gengsi” suatu profesi. Karena kelak saya akan menjalankannya insha Allah sampai mati kan. Jadi harus yang betul – betul bisa dinikmati. Saya sih muluk – muluk banget, pengen yang bisa sambil jaga anak, tapi tetep cukup buat beli lipstick baru. #ehhh.

Hommy VS Fancy : Manakah yang Lebih Nyaman?

Tidak semua kebahagiaan diraih dengan kemewahan. Tidak semua ketenangan didapatkan pada tempat yang nyaman.

Analogi sederhana datang dari sebuah kedai kopi bernama Terminal Coffee. Tempatnya tidak memiliki plang nama dengan neon box. Tempatnya juga tidak senyaman Caribou atau cafe lain yang instagramable. Tapi bagi saya, tempat itu cukup untuk memenuhi kebutuhan saya karena:
1. Kopinya yang enak dan harganya murah
2. Snacknya enak dan mengenyangkan
3. Ada mushala dan toilet
4. Bisa recharge hp
5. Bisa bawa makanan dari luar
6. Datang ke sana tidak perlu memperhatikan outfit, tidak harus gengsi jika sepatu basah dan membuat lantai basah
7. Tidak harus gengsi jika ke sana saat lusuh dan muka benar-benar seperti wajan berminyak

Sebenarnya kita hanya memerlukan sebuah tempat dan rumah, tempat berlindung, tempat yang menerima kita dalam kondisi terburuk untuk merecharge kembali jiwa dan pikiran kita.

Seperti saat melihat produk-produk kayu yang gila kece luar binasa di PVJ, terlihat amat sangat nyaman tapi harganya beuuh menguras kantong, bayangan kita mengenai needs dan wants diuji. Apakah semua yang membuat kita nyaman berbanding lurus dengan produktivitas yang kelak dihasilkan?

Ini berkaitan dengan cita-cita saya tentang rumah yang ingin saya miliki kelak, bukan rumah yang furniturnya minimalis dan sejuk dipandang mata.

Saya ingin rumah yang punya teras dan halaman agar bisa digunakan ketika ada acara. Di dalam rumah nanti tidak akan ada ruang tamu. Inginnya ada ruangan luas tanpa sekat seperti apartemen si kembar di The Return of Superman. Nantinya dinding dikelilingi oleh buku-buku koleksi keluarga. Kelak satu ruangan multifungsi itu akan jadi tempat belajar, mengaji, berkarya, sekaligus tempat lenjeh-lenjeh.

Seperti rumah saya yang dulu, membuat saya dan keluarga berkumpul di satu tempat meski aktivitas kita berbeda. Ada pula mushala yang cukup untuk keluarga dengan Lima anak shalat berjamaah. Wkwk.. Berarti kamarnya harus ada berapa kalau anaknya ada Lima? Ini sih judulnya rumah maximizer ya? Hahaha

Awal Perpisahan : Sakitnya Tuh Disini

Perpisahan akan sangat sulit pada awalnya. Rasa saat semua yang telah biasa dalam hidup tiba-tiba pergi itu begitu menyakitkan. Tidak ada lagi ingatan-ingatan mengenai sikap buruk atau yang tidak semestinya yang pernah ia lakukan.

Saat mencoba satu hari, mulai goyah. Esoknya kembali bertemu, janji ini yang terakhir. Hingga akhirnya pada minggu yang sama terdapat jutaan pesan seperti biasa, dan terdapat satu dua kali tawa di tempat makan hingga larut malam. Janji ini yang terakhir.

Perpisahan begitu menyakitkan, saat tidak ada lagi pesan, saat tidak ada lagi teman bicara. Perpisahan memang menyakitkan, tapi kehilangan kebiasaan itu jauh lebih menyedihkan, menakutkan.

Tidak ada lagi pesan-pesan tidak jelas.
Tidak ada lagi ajakan mencicipi kuliner.
Yang menyedihkan adalah kehilangan kenangan, kebersamaan.

Tidak ada logika yang dapat mengingatkan seseorang tentang pentingnya belajar merelakan dan membiarkan ingatan-ingatan tergerus sendiri oleh waktu.

Paul bilang dalam novel The Architecture of Love, “Disayangi itu menyenangkan.”

Berdoalah kepada Allah, karena Allah lah yang membolak-balik hati manusia. Apakah orang yang kita pertahankan mati-matian akan membawa kita ke surgaNya?

Menjalani Konsekuensi

Tiba-tiba kebiasaan saya merancang masa depan menjadi terblock, blank. Yang saya tahu, setelah ini saya akan internship, sisanya saya tidak tahu.

Seketika, keputusan yang saya ambil akan memberikan konsekuensi lain, tanggung jawab, amanah yang baru. Dan saat ini juga mindset saya tentang masa depan berubah. Bisa dibilang sebuah konsekuensi membuat saya menjadi orang yang lebih realistis.

Saya merasa menjadi lebih lemah dan sangat bergantung hanya pada pertolongan Allah. Saya sadar cita-cita yang begitu saya inginkan telah menemukan jalannya, dan sekarang saya sedang berada di depan pintu gerbang. “Assalamualaikum, Dung!” Masa depan menyapa saya, lembut.

Sekarang, segala yang saya lakukan akan berimbas pada orang lain, kemalasan saya, sikap egois saya. Semoga kesibukan dan rutinitas yang saya jalani tidak melupakan siapa saya? Siapa yang menciptakan saya? Sebagai apa saya diciptakan? Kepada siapa saya akan kembali?

Detik ini pikiran saya jauh dari ingin Honda Civic, seperti saya SMP dulu. Atau ingin punya anak 5, seperti saat saya kuliah. Bisa dibilang, isi pikiran saya adalah kegamangan. Mungkin tidak lama lagi semua teori yang saya baca di buku akan terjadi, jauh berbeda dengan kenyataan yang ada. Dan itu membuat saya cukup deg deg-an, bisakah saya menjalani dengan sebaik-baiknya?

Hikmah Sederhana

Saya sedang membeli lauk di pedagang keliling yang biasa mampir ke puskesmas, “Mbak, ini semua dibikin terus dijualin sendiri?”

“Iyalah Neng!” Kata Mbak penjual sambil tersenyum.

Setelah Mbak penjual pergi mama bilang, “Ca, orang itu mau cari uang kerja keras. Makanya kita juga harus sungguh-sungguh.”

Banyak hal yang saya teladani dari Ibu Suri, Mama saya yang kadang galak dan sering ngomel-ngomel itu. Mungkin karena menjelang menopause Mama menjadi lebih sensitif. Tapi saya sadari Mama sekarang semakin bijak ketika ingin menyampaikan pesan untuk anak-anaknya.

Mama mengajarkan agar selalu berbuat baik pada orang lain, bagaimanapun mereka memperlakukan kita. Mungkin dulu banyak kesalahan yang kita lakukan, tapi itu tidak membuat kita menjadi orang yang buruk seterusnya. Kita memiliki hak dan kesempatan dari Allah untuk berubah. Itulah yang saya lihat dari Mama dan ingin saya terapkan pada kehidupan sehari-hari saya. Sudah saatnya kita memaafkan kesalahan diri sendiri di masa lalu dan berusaha membahagiakan orang-orang di sekitar kita mulai sekarang. Insha Allah.

Where We Have to Put Our Trust?

I always scared to trust someone. Letting them know more about you is like reopen the deepest secret in your life.

Every writer wants to publish their masterpiece, so do I. But writing is a process so I don’t know when I could constantly write. From the 2011, I build two characters. I really want to finish their story. I already made some, and I was too stupid not to make a back up. When my laptop error, so all of the story is gone, sadly.

I want to ‘wake up’ the characters again, so I thought to find them back from where the story started, Tumblr. For some reason I leave my tumblr and all of my posts. I burned it with all my anger, my faith, my fear of being rejected as I am, as an ordinary person. It was really hurt when people looking at you because of the pride.

The dark memory comes along with the new distraction. Someone comes and being your muse, which makes you feel easier to catch your hope. It makes you remember again being unwanted. You were abandoned by the person you started to trust. I never sure where I have to put my trust? I don’t know whether I should fully trust to someone and being hurt or I just give them my half trust, then I pretended I don’t want to know anything.

I am too overthinking as usual, but I just prepare for the worst. 

When there are some people that really know your curiosity that makes you live your life, you just too scared to lose them, right?

You may never ever break someone trust because you don’t know if that is the last trust they have.