Meninggal Saat Persalinan 

Kemarin, teman SMA saya meninggal dunia. Almarhumah sebelumnya sama-sama sedang hamil. Menurut cerita teman yang berkunjung ke rumah duka, Alm keluar flek pagi tadi, lalu dibawa ke rumah sakit. Alm sedang mengandung usia kehamilan 8 bulan. Kondisi tersebut termasuk ke dalam persalinan prematur.  

Menurut keterangan teman, Alm sempat dibawa ke Tiga RS sebelumnya, namun ditolak (mungkin karena keterbatasan ruangan atau fasilitas).  Hingga akhirnya keluarga membawa Alm ke RSHS. Di RS, dilakukan persalinan secara normal. Saat pembukaan 7, asma Alm kambuh. Sehingga bayi yang ada di dalam kandungan kekurangan oksigen, lalu meninggal dunia. Seingat saya, Alm sempat dirawat di RS ketika hamil beberapa bulan lalu karena asmanya kambuh. 

Bayi tersebut akhirnya dilahirkan dengan bantuan vakum.  Setelah bayi lahir Alm mengalami atonia uteri atau kontraksi rahim yang buruk,  sehingga Alm mengalami perdaraham hebat. Dokter memutuskan untuk melakukan pengangkatan rahim, namun sebelum operasi dilakukan, nyawa Alm tidak tertolong.

Akhirnya saya pun penasaran dan mencari referensi mengenai asma yang terjadi pada kehamilan. Karena saat sekolah kedokteran dulu, jarang sekali saya menemukan pasien asma yang kambuh saat melahirkan. Jadi, jika asma saat hamil tidak terkontrol, risiko yang terjadi salah satunya adalah persalinan prematur.

Saya sendiri bingung, kenapa tiba-tiba Alm melahirkan prematur? Ternyata kalau sesuai literatur, penyebabnya karena asmanya.  Lalu saat sedang persalinan, tiba-tiba asmanya kambuh.  Saya cari, jarang sekali pasien asma yang kambuh di tengah persalinan.  Jadi keadaanya cukup langka, sekitar 1% pada pasien asma yang sedang hamil saja.

Tapi bisa dibayangkan, stres persalinan yang dialami pasien memicu kekambuhan penyakitnya.  Kemudian, faktor asma akan menyebabkan kekurangan oksigen. Kondisi ini bisa menyebabkan gangguan kontraksi pada rahim.  Jika melihat wajah Alm yang pucat, mungkin ada penyerta berupa anemia juga. Jadi hipoksia jaringan atau kekurangan oksigen ini menyebabkan Alm mengalami atonia uteri. (Melihat kondisi perut Alm yang besar, saya dan mama curiga penyebab atonianya ditambah dengan polihidramnion. Tapi wallahualam, saya tidak tahu pasti penyebab kematiannya.)

Atonia uteri atau rahim tidak bisa berkontraksi dengan baik ini menyebabkan perdarahan setelah persalinan.  Perdarahannya biasanya terjadi begitu cepat dan hebat. Hitungan menit pasien kehilangan darah begitu banyak. Satu-satunya cara untuk menolong pasien adalah menghilangkan penyebab perdarahan, yaitu mengangkat rahimnya.  Namun biasanya kondisi pasien sudah sangat buruk, sehingga nyawa pasien sulit ditolong bahkan sebelum operasi dilakukan.  

Mungkin berbeda cerita jika atonia uteri terjadi saat persalinan caesar.  Ketika kontraksi terus menerus memburuk, dokter bisa langsung mengangkat rahimnya.  Toh pasien sudah di ruang operasi,  perut pasien juga sudah dibuka. Jadinya waktu perdarahan bisa diminimalkan.

Terbayang saat persalinan normal.  Jika terjadi atonia uteri maka pihak dokter harus menghubungi ruang operasi untuk persalinan cito.  Belum lagi persiapan darah untuk menggantikan darah yang hilang tidak bisa secepat itu.  Naik ke ruang operasi pun memerlukan waktu. Benar-benar atonia uteri itu seperti dokter yang harus menjinakkan bom dalam hitungan menit.

Pasien Mama pun pernah ada yang dirujuk ke RSHS karena IUFD. Kemudian setelah melahirkan pasien mengalami atonia uteri. Selama dua minggu pasien tidak sadar dan dirawat di ICU.  Transfusi yang didapat pun mencapai 44 labu.  Betul-betul Allah lah yang berkuasa terhadap hidup dan mati seseorang. :” 

Semoga Allah memudahkan jalan hamba-hambanya melalui tangan-tangan para tenaga medis, perawat, bidan, dan para dokter SpOG. Semoga Allah memberkahi pekerjaan tenaga kesehatan. Amin..  

Take home messages:

  1. Pahami kondisi kesehatan, jika memiliki kehamilan berisiko, disarankan untuk pemeriksaan kehamilan di RS. 
  2. Sebaiknya memiliki dokter tetap, sehingga dokter tersebut sudah mengetahui kondisi kesehatan kita.
  3. Lebih baik lagi, kunjungi tempat kontrol secara tetap, agar kondisi kita sudah tercatat di rekam medis.  Jika ingin pindah dokter di RS yang sama, catatan kita pun sudah ada.  Ini memudahkan dokter dan mempercepat keputusan tindakan untuk pasien.  
  4. Jika kita berpindah dokter atau datang ke fasilitas kesehatan,  selalu utarakan penyakit penyerta yang diderita.
  5. Pilih tempat bersalin sesuai dengan budget dan kondisi medis. Jika tidak ada penyakit penyerta yang mengkhawatirkan, di fasilitas kesehatan mana saja tidak masalah. Bila memiliki penyakit penyerta, sejak trimester ketiga kita sudah harus mencari RS tempat kita akan bersalin. Mungkin kita akan mulai pindah dokter untuk ANC atau periksa kandungan di dokter kandungan yang ada di RS tersebut. Agar saat bersalin kondisi kesehatan kita sebelumnya sudah diketahui oleh pihak dokter dan RS.
  6. Rumah sakit tipe A (RSHS, RSCM, Sardjito, dll)  itu bukan rumah sakit percobaan ya. RS tipe A itu artinya punya dokter yang lengkap sampai subspesialis.  Fasilitas kesehatan RS tipe A juga paling lengkap. Jadi kalau kondisi medis keluarga ada yang memerlukan penanganan di RSHS, jangan ragu.  Mungkin di sana akan banyak ditangani oleh residen, tapi apakah RS lain mampu menangani? Tenang saja, residen selalu mendapat supervisi untuk tindakan dari konsulen atau subspesialis ko.

    Semoga pengalaman teman saya ini bisa diambil hikmahnya oleh kita semua. Mudah-mudahan Alm khusnul khatimah, suami dan keluarga yang ditinggalkan pun dapat diberi kesabaran.  

    Advertisements

    Gangguan Jiwa

    Banyak gangguan kejiwaan yang terjadi di masyarakat. Tetapi, pengetahun mengenai gangguan kejiwaan masih sangat minim dibandingkan dengan gangguan kesehatan lainnya. Jadinya, orang-orang baru datang menemui dokter jiwa setelah kondisinya buruk. Orang yang datang ke dokter jiwa atau psikiater tidak selalu orang sakit jiwa loh. Gangguan seperti rasa cemas, phobia, depresi, ataupun gangguan mental juga dapat dikonsultasikan ke dokter jiwa.

    Di dalam dunia kedokteran, tidak dikenal istilah gila. Seseorang yang tertawa sendiri ataupun berbicara sendiri serta merasa dirinya adalah titisan dewa bisa jadi mengidap salah satu gangguan jiwa yang disebut dengan skizofrenia. Skizofrenia sendiri adalah salah satu gangguan yang menyebabkan gangguan pikir pada seseorang, sehingga dia tidak bisa membedakan realita dengan apa yang ada di dalam pikirannya. Nah, kali ini saya ingin berbagi tentang gangguan jiwa apa saja yang sering terjadi. Minimal supaya kita bisa mendeteksi sedini mungkin jika ada keluarga, teman atau kerabat yang mengalami gangguan jiwa, sehingga bisa diobati lebih dini dan kemungkinan kesembuhannya menjadi lebih baik.

    SKIZOFRENIA

    Skizofrenia jarang disebut dalam istilah awam. Namun dalam keseharian sering didengar istilah sakit jiwa ataupun orang gila. Nah, itulah skizofrenia. Orang-orang yang sering berbicara sendiri, memiliki teman khayalannya sendiri, atau mendegar suara-suara aneh dan bisa juga merasa memilki kemampuan khusus seperti berbicara dengan makhluk dari Pluto misalnya. Pada orang skizofren, terjadi gangguan pada pikiran dan persepsi. Selain itu, terjadi ketidaksesuaian antara emosi dengan ekspresi yang diperlihatkan.

    Bagaimana menentukan seseorang yang terkena skizofrenia?

    Di bawah ini adalah kriteria untuk menentukan ada tidaknya gangguan skizofrenia pada seseorang (kriteria diagnosis PPDGJ III)

    >>Harus ada minimal satu gejala di bawah ini yang sangat jelas ( minimal dua atau lebih jika gejalanya kurang jelas)

    a. – thought echo : isi pikirannya sendiri bergema di kepala

    – thought insertion/withdrawal : isi pikiran asing masuk ke dalam pikirannya (insertion), atau pikirannya seolah ditarik ke luar (withdrawal)

    – thought broadcasting : isi pikirannya seolah bisa dibaca orang banyak

    b. – delusion of control : waham jika dirinya dikendalikan kekuatan tertentu

    – delusion of influence : waham dirinya dipengaruhi kekuatan tertentu

    – delusion of passivity : waham dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap suatu kekuatan dari luar

    – delusioal perception : pengalaman tak wajar yang bersifat mistik atau mukzizat

    c. Halusinasi auditorik : mendengar suara-sura, halusinasi yang berkomentar terus menerus atau menyuruh untuk melakukan sesuatu

    d. waham-waham menetap jenis lain yang tidak wajar menurut kebudayaan setempat dan mustahil terjadi. Misalnya, keyakinan agama atau politik tertentu atau kemampuan di atas manusia biasa seperti mengendalikan cuaca atau berbicara dengan makhluk asing.

    >> Atau paling sedikit dua gejala di bawah ini yang harus ada secara jelas :

    e.  Halusinasi yang menetap dari panca indera apa saja (penglihatan, perabaan, penciuman dll), bisa disertai waham yang mengambang atau ide-ide berlebihan yang menetap. (terjadi setiap hari berminggu-minggu sampai berbulan-bulan)

    f.  Arus pikiran yang terputus atau mengalami sisipan. Sehingga pembicaraan menjadi tidak nyambung

    g. Perilaku katatonik, sepeti gaduh gelisah atau posisi tubuh tidak bisa digerakkan, tidak bisa bicara

    h. Gejala-gejala negatif : apatis, bicara jarang, respon emosi yang tidak wajar, menarik diri dari sosial dan pekerjaan (tetapi bukan karena depresi ataupun pengaruh obat-obatan)

    >> Adanya gejala khas tersebut telah berlangsung selama kurun waktu satu bulan atau lebih

    >> Harus ada perubahan yang konsisten dan bermakna dari aspek perilaku pribadi, manifestasinya bisa kehilangan minat, kehilangan tujuan hidup, tidak berbuat sesuatu, sikap larut terhadap diri sendiri, dan penarikan diri secara sosial.


     

    Nah, namun terdapat keadaan prodormal yang waktunya bisa berlangsung selama beberapa tahun sebelum seseorang mengalami skizofrenia. Ciri-cirinya yaitu orang mulai apatis, bicara jarang, respon emosi yang tidak wajar, menarik diri dari sosial dan pekerjaan sebelum akhirnya terjadi full-blown.

    Jika skizofrenia dapat terdeteksi sejak dini, dapat dilakukan pengobatan untuk mengendalikan perilaku yang merusak atau melukai diri, mengontrol gejala serta kekambuhan.

    skizo1 skizo2 skizo3 skizo4