Mau Jadi Apa? (Lanjutan)

“Mau jadi apa nanti?”

Pembahasan mengenai karir yang akan dijalankan di masa depan akan selalu mengisi topik – topik dalam tulisan saya. Hehe. Setelah lulus, nampaknya waktu yang ada memberikan banyak kesempatan untuk berpikir.

  • Apakah ingin jadi klinisi atau non klinisi?
  • Apakah ingin bermain di ranah primer atau sekunder?
  • Apakah ingin jadi dokter dengan pisau atau tidak?

Alhamdulillah sudah makin terbayang pilihan saya nanti.

  1. Klinisi
  2. Primer

Jadi, saya masih mempending beberapa pelatihan atau seminar, karena ingin melihat setelah internship ilmu apa yang betul – betul saya perlukan. Senangnya, karena sudah di rumah saya bisa berpikir jernih tanpa terlalu banyak dipengaruhi pemikiran orang lain. Saya juga tidak hanya memikirkan “gengsi” suatu profesi. Karena kelak saya akan menjalankannya insha Allah sampai mati kan. Jadi harus yang betul – betul bisa dinikmati. Saya sih muluk – muluk banget, pengen yang bisa sambil jaga anak, tapi tetep cukup buat beli lipstick baru. #ehhh.

Advertisements

Haré Bimbingan

Residen sering kali mengeluhkan koass yang malas bimbingan. Kalau boleh jujur, mungkin memang cara belajar koass zaman sekarang itu berbeda. Sejak pendidikan sarjana, kami sudah dibiasakan untuk mencari learning issue yang berasal dari trigger case. Jadi sebenarnya bukan sindiran ‘kalian ga butuh ilmu dari kita?’ yang bisa membuat kami belajar, tapi rasa penasaran.

Misalnya saja ketika ada teman di luar kedokteran yang bertanya, kami jadi semangat untuk mencari jawaban dengan cara apapun. Atau ketika jaga ada yang tidak kami mengerti, kami nanti akan browsing sendiri atau bertanya kepada residen. So, yang dibutuhkan adalah kondisi terjepit. That’s it.

Berulang kali ketika koass saya dimarahi residen karena kelompok tidak meminta bimbingan. Padahal bukan karena tidak ‘butuh’, tapi saat itu tidak ada trigger factor yang mengeksitasi keinginan mencari tahu.

Ada tiga hal yang bisa membuat seseorang belajar:

  1. Karena takut
  2. Penasaran
  3. Merasa perlu
  4. Maniak belajar

Karena takut menjelang ujian atau takut ditanya – tanya konsulen, koass – koass ini akan gencar membaca. Atau ketika penasaran dan kepepet karena ditanya teman, wah dek koass ini akan serius mencari hingga mendapatkan jawaban yang memuaskan.

Seringnya, koass itu tidak sadar ilmu tersebut diperlukan, karena memang kondisinya koass yang observer selama ini merasa dalam posisi ‘aman’. Barulah di saat kepepet dek koass sadar, “coba aja dulu belajarnya bener – bener.’ Yang terakhir, hanya satu dari seribu koass – koass yang hobinya memang menuntut ilmu. salah satunya adalah teman saya yang setiap nafasnya saja bersama textbook. Baca syahadat yuk! you know who? :p

Drama UKDI: Akhir Sebuah Awal

Saya sampai pada station 14, berisi station istirahat sekaligus station ujian OSCE saya yang terakhir. Saya berdiri, duduk, ke toilet, kemudian berdiri meregangkan tubuh. Terkadang saya berdiri atau membungkuk menahan perut yang terasa sakit. Seketika saya ingin menangis, inilah akhir dari ujian yang mati – matian saya perjuangkan. Rasa lelah mulai terasa. Satu bulan belajar gila – gilaan sangat menguras tenaga, pikiran, dan juga emosi tapi semua selalu saya tahan. Alhamdulillah saat ujian OSCE  fisik dan mental saya bisa tetap prima walau diawali mules-mules sebelum ujian. Allah benar – benar membantu saya sepanjang ujian. Alhamdulillah.. Alhamdulillah..

Continue reading

Gerakan Move On : Menuju Masa Depan yang Lebih Cerah

Kang Fajar bilang, “Pokoknya harus move on. Maju aja terus jangan dipikirin yang di belakang.”

Kalau mau cari jodoh, pilih deh anak FK yang sudah mengikuti ujian OSCE UKDI. Mereka itu orangnya optimis, legowo, tangguh, dan ga akan membahas kejadian yang ada di belakang. Ujian OSCE terdiri 14 station, 12 ujian dengan 2 station istirahat. Kita akan memasuki ruangan dengan kasus yang tidak bisa ditebak.

Rasa tegang, depresi, ketakutan, semua harus dirasakan sembari kepala berpikir tentang, “Ini pasien kenapa? Ini sakitnya apa? Harus ngapain?” Ketika situasi stres, kita sudah kehilangan pathway berpikir normal, semua lewat jalur reflex sumsum tulang belakang. Contohnya ketika kita dikejar Anjing, ada dua refleks yang bisa terjadi : Fight or Flight mechanism. Ketika kita memilih fight, syaraf simpatis akan bekerja dan membuat tubuh bekerja lebih hebat dari biasanya.

Contoh lain saat kita menemukan pacar kita selingkuh, ketika kita flight, bisa jadi kita akan pingsan. Saat kondisi fight kita mampu menghujani si dia dengan jutaan tinju. Ujian kali ini benar-benar menguji mental.

Bagaimana tidak? Saat terpuruk pilihannya hanya move on atau move on? You just have to move. Meskipun kita failed di satu station, saat keluar ruangan kita harus berbesar hati, masuk ke ruangan berikutnya sembari tersenyum dan mengumpulkan seluruh konsentrasi. Tidak ada kesempatan untuk bersedih, tidak ada kesempatan untuk mengingat kesalahan yang telah dilakukan. Para survival OSCE dipaksa untuk selalu prima bagaimanapun kondisi hatinya.

Pelajaran penting yang bisa didapat adalah:

Move on itu bukan cuma masalah perasaan, tapi soal maju ke depan, membuka lembaran baru tanpa menoleh ke belakang. Move on itu tentang memaafkan diri sendiri dan menerima kekurangan diri sendiri.

H-X OSCE. Bismillah..
Di tempat galau bersama No28ro & Nene SKA

Lima

Sudah Lima tahun, up and down di dunia kedokteran. Diwarnai dengan perasaan euforia saat diterima, lalu berbagai demotivasi ketika SOOCA. Dan ternyata koass itu menyenangkan, dinamis dan punya banyak kejutan.

Love Hate Relationship

Kedokteran adalah dunia yang saya benci karena membuat lelah lahir bathin. Setiap hari dihantui perasaan bersalah kalau tidak belajar.  Untung saja ada keluarga dan orang-orang terdekat yang membuat saya tenang saat tidak belajar. Haha.. Saking bencinya saya sampai tidak bisa pindah ke lain hati. Haha..

Seru banget, di kedokteran itu banyak belajar. Bukan hanya tentang ilmu tapi juga sosial dan ketuhanan. Saya sampai tidak habis pikir mengapa seseorang bisa sampai menjadi atheis. Apakah ia diciptakan dengan sebuah kalimat “Sim salabim abra kadabra!” dan taraaa.. Jadilah manusia.

Mencari Pelarian

Kedokteran yang juga akhirnya membuat saya suka membaca. Bosen gila baca textbook, mengerjakan learning issue yang melelahkan. Hingga akhirnya saya punya hobi membaca buku. Hahahaa.. Ga kebayang aja sekarang saya menjadi seorang “geek”. Saya ingat saat mabim, salah satu senior saya bilang, “Kita harus bisa memanage waktu.” Kondisinya saat itu saya masih sering bermedsos ria hingga larut malam, atau ber day dreaming ria..

Kata-kata senior saya itu ngejleb banget. Sejak detik itu saya memutuskan harus memanfaatkan setiap detik yang dimiliki, entah dengan belajar, membaca buku, istirahat, atau membahagiakan diri. Setiap yang dilakukan harus punya tujuan agar tidak jadi sia-sia.

Bahagia itu Sederhana

Kedokteran juga membuat saya menjadi orang yang simple untuk bisa bahagia.

1. Bisa tidur cukup
2. Makan enak
3. Tiduran aja lenjeh-lenjeh gitu
4. Baca buku dengan tenang

Sungguh dunia dan telinga ini begitu damai. Haha.. Padahal dulu saya sering marah-marah dan selalu mengajak orang tua pergi jalan-jalan. Sekarang setelah saya punya aktivitas jaga dan lainnya, saya hanya ingin bernafas dan diam di rumah, sekian.

Sudut Pandang yang Lain

Pernah saat saya super duper lelah, begitu tiba di rumah mama juga baru selesai praktek. Kepala saya mulai cenut-cenut, lalu mama mengajak kita untuk makan malam di luar. Gila ya, ini yang selalu di alami orang tua. Walaupun lelah, tapi jika ada kesempatan untuk bersama dengan keluarga, mereka rela mengorbankan waktu istirahat.

Saya merasa saya bukan orang yang pintar. Masuk FK adalah berkah doa orang tua dan keluarga. Bisa survive di FK juga berkat doa dan dukungan mereka. Mereka yang super duper pengertian, begitu banyak hal yang dimaklumi dari seorang anak kedokteran yang insecure jika tidak belajar. Haha..

Alhamdulillah untuk Lima tahun yang menyenangkan. Banyak pengalaman dan ‘ujian’ hingga saya menjadi seperti saat ini. Semoga saya bisa terus memperbaiki diri dan lebih banyak bersosialisasi. Haha..

Semoga ilmu yang telah dipelajari bisa bermanfaat, semoga saya juga tidak “jera” dan bergegas melanjutkan pendidikan setelah ini. Hahaha.. Inginnya jadi Ibu teladan yang rajin belajar serta rajin menabung. Wkwk.. Karena cita-citanya, saya ingin membersamai anak-anak belajar. “Nak Ibu juga lagi ada tugas referat. Kita ke Eduplex aja yuk sekalian kamu juga belajar. Pulangnya kita ke Blitz lagi ada film baru.” Wkwkwk..

Doakan cita-cita Ibu tercapai ya! Amin..

13 Agustus 2016
Eduplex, Menengkan diri menjelang UKDI

Drama UKDI

Di balik lahirnya seorang dokter atau seorang dokter spesialis, ada banyak orang dan hati yang berkorban. Azeeg. Lebaynya!

Hampir setiap malam saya sampai kontrakan jam 11. Sebelum tidur biasanya saya uring-uringan dalam hati dan menyalahkan diri karena materi yang dikuasai belum terlalu progresif. Saya kesal dan marah. Saya sedih terutama jika saya mulai tidak konsen di kelas karena sudah terlalu lelah. Atau kadang saya juga melamun beberapa menit sebelum memaki diri, “UKDI bentar lagi woy!!”

Drama.. UKDI ini benar-benar drama. Sejak intensif preujian, saya tidak pulang ke rumah. Saya juga belum silaturahmi dengan orang tua saya di Subang. Anxiety, rasanya tidak tenang meninggalkan Bandung sebelum UKDI. Keluarga di Lembang selalu bertanya, “Kapan pulang?” Saya hanya bisa bilang, iya nanti weekend insha Allah. Saya pulang, bawa PR, bawa muka kucel.

Keluarga dan orang terdekat saya sengaja menjauh, mengurangi kontak. Mereka tidak menghubungi saya jika tidak benar-benar penting. Bahkan saya tidak diberi tahu apa-apa jika ada masalah di rumah.

Bukannya tidak punya waktu, hanya saya harus ikut bimbingan di kampus sampai sore dan lanjut bimbel sampai malam. Saya tidak punya pilihan dan hanya ingin menyelesaikan UKDI ini one shot!

Saya sangat menghargai pengertian dari mereka. Saya bisa bebas menggunakan waktu untuk merecall semua materi selama 5 tahun pendidikan kedokteran. Saya harap ini hanya sebulan saja. Saya harap begitu.

Setiap malam sepulang les saya memutar lagu Jess Glynn, Hold My Hands. Hanya satu lagu yang saya putar berulang kali untuk menenangkan diri. Setiap mendengarkan lagunya, saya merecharge energi, mengingat semua dukungan yang telah diberikan. Masa nyerah sih? Tidak lupa saya berusaha move one, memaafkan diri sendiri, jika hari itu ketiduran atau nilai pre dan post test saya jelek, atau drill saya tidak jua berprogress. Saya berusaha berdamai dengan diri sendiri.

Malam ditutup dengan ketiduran dan saya bangun di pagi hari untuk bernafas sejenak. Bismillah.. Semoga hari ini lebih baik dari kemarin.

1. Forensik (4&6)

Insha Allah saya akan mengulas pengalaman ketika koass dari segi:
– Kegiatan stase
– Yang khas
– Do and don’t
– Yang ngangenin
– Yang enggak banget (subjektif ya)
– Pengalaman yang berkesan
– Review bagi calon ibu rumah tangga yang berminat mengambil spesialis ini
– Hikmah yang didapat

Stase pertama yang akan saya bahas adalah jeng jeng.. Four and Six.. Yeay.. Here we go!

1. Apa aja sih kegiatan di stase forensik?
Ini stase pertama saya yang asik banget coy. Kegiatan sehari-hari kita menunggu otopsi, melakukan otopsi dan pemeriksaan luar (PL), preseptoran a.k.a bimbingan, dan morning show. Morning show itu semacam tausiyah dari sesepuh kita dr. Noorman. “Betul tidak???”

2. Apa sih yang khas di forensik?
Ada mitos selama di forensik ga boleh potong rambut. Katanya sih ngebawa banyak “tamu” gitu. Haha. Pernah tuh di hari terakhir ada si X yang potong rambut di kelompok sebelah. Eh tiba-tiba ada on call pas 30 orangan anak forensik lagi nonton di Blitz. Padahal filmnya baru 15 menit. Kacau! Tapi buat saya itu mah mitos. Hehe. Kebetulan aja.

3. Do and Don’t
Waktu di forensik itu cukup lowong. Jadi kita bisa ngelakuin macem-macem. Dari mulai belajar, nonton film, ngobrol, makan. Over all forensik ini fleksibel banget stasenya. Yang penting attitude, tugas beres, visum beres. Ada yang belum ngumpulin visum???

Kalau mau jalan-jalan, pastikan di area yang bisa ditempuh 10 menit menuju RSHS. Karena kadang waktu oncall itu sekitar 15-20 menitan. Apalagi kalau jaga Death on Arrival (DOA) harus muncul dalam 10 menit. Siap-siap ngibrit!!!

3. Yang ngangenin
Es duren di sebrang forensik. Enak banget! Sama gepuk sebrang poli yang murah banget dan dikasih bonus kuah soto.

4. Yang enggak banget
Baunya itu loh. Siap-siap aja akan ada bau yang nempe ke baju bahkan kulit. Pernah tuh siang-siang saya harus mandi, ganti baju, dan langsung juji jasko karena baru aja dapet pasien tenggelam yang baunya nempel. Baju kita aja itu baunya iyuuhhhh.. Kulit kita bahkan mukosa hidung aja udah terkontaminasi. Parah!!

5. Yang berkesan
Ga berkesan sih, tapi drama banget karena ada tamu yang merupakan kasus pembunuhan. Beuuhhh.. Jadi almarhum ini adalah dukun yang dibacok oleh pasien yang dicoba disembuhkan. Drama banget karena si tersangka ternyata ketemu lagi di stase jiwa.

Di forensik, sesama residen itu bisa melingkar di satu meja. Forensik adalah salah satu residensi yang tidak feodal. Mereka juga tidak menggunakan white coat.

6. Forensik buat Ibu RT?
Kalo dari pengalaman residen itu katanya oke banget. Karena selain kasus pembunuhan gitu-gitu, otopsi bisa ditunda sampe besok pagi. Jadi ga cito-cito banget ko. Ada yang berminat?

7. Hikmah
Selama di forensik, kita jadi diingatkan mengenai kematian. Mati itu pasti dan kita bisa mati dengan kondisi yang berbagai macam. Ada yang mati tenggelam, dibunuh, kecelakaan lalu lintas. Ketika mati kita tidak berdaya dan hanya akan menjadi seoonggok jasad. Tubuh kita akan ditelanjangi. Dibersihkan oleh orang lain. Forensik ini mengingatkan agar kita lebih banyak berdoa, lebih banyak beribadah agar meninggal dalam keadaan khusnul khatimah.