Indonesia, Sayapmu Patah

Rasanya, Indonesia tidak lagi menjadi negara demokrasi. Issue yang ada terkait dengan pemerintah dianggap sebagai pemberontakan dan yang dianggap provokator harus dipenjarakan. Belum lagi adanya UU ITE yang mengekang kebebasan berpendapat di media sosial.

Negara demokrasi seharusnya mengizinkan warga negara berpartisipasi dalam perumusan, pengembangan, dan pembuatan hukum.  Warga negara juga memiliki hak setara dalam pengambilan keputusan yang dapat mengubah hidup mereka. Bisa dilihat bahwa saat ini demo yang menjadi ciri khas pemerintahan demokrasi dibungkam. Kini pemerintah yang berkuasa lah yang berhak menentukan arah suara masyarakat.

Masih ingatkah ketika sebuah pidato Gubernur baru Jakarta menyebutkan kata pribumi? Kita bisa melihat bagaimana Gubernur baru ini dijatuhkan hanya karena menyebutkan kata pribumi. Sebenarnya, siapakah pribumi? 

Ketika masa kolonial Belanda, pribumi dipakai sebagai istilah untuk inlanders, salah satu kelompok penduduk Hindia Belanda yang berasal dari suku-suku asli Kepulauan Nusantara.  Saat itu, keturunan Cina, India, Arab, Eropa, maupun campuran sering dikelompokkan sebagai non-pribumi. Walaupun mereka lahir dan tumbuh di Indonesia.  

Menurut mantan Wakil Presiden Indonesia, Bapak Try Sutisno, “Jangan terpancing isu pribumi, non pribumi. Itu dulu buatan Belanda supaya dipecah-pecah,” ujar Pak Try,  dalam diskusi di kantor Para Syndicate, Jakarta, Kamis (26/10/2017).

Beliau mengatakan bahwa perbedaan kelas warga asli Indonesia dan keturunan, saat itu berhasil membuat masyarakat Indonesia saling menyerang. Penjajah memanfaatkan kesempatan ini untuk menguasai Indonesia. Sepertinya, kali ini oknum di belakang layar tengah tersenyum lebar. Karena mereka berhasil menyulut warga Indonesia dengan sebutan pribumi.

Menurut Mantan Presiden Indonesia, BJ Habibie, Indonesia pernah memiliki masa yang kelam.  Nama bangsa Indonesia pribumi memiliki strata terendah di luar negeri.  Namun itu sudah berlalu. 

“Saat ini sudah tidak ada lagi warga pribumi maupun nonpribumi. Yang ada hanyalah warga negara Indonesia, bangsa Indonesia.” Kata Habibie dalam pidatonya di Ballroom Gandaria City Mall, Sabtu (28/10/2017).

Aku, kamu, kita semua adalah warga negara Indonesia. Jangan biarkan kita diarahkan oleh orang-orang di belakang sana yang memecah belah persatuan. Kita semua berhak bersuara untuk Indonesia. Hidup demokrasi!  

.

.

Sumber: 

.

 .

.

#30DWC #Jilid9 #Squad9 #Day22

Advertisements

My Mom is A Wonder Woman

Benar apa kata orang, saat akan menjadi seorang Ibu, barulah kita mengerti kasih sayang yang selama ini Ibu kita berikan. Tanpa disadari banyak teladan dari mama yang tidak pernah diucapkan, tetapi begitu meresap mendarah daging. Mama saya adalah seorang wanita bertangan baja, berhati tahu sutra.

Seorang Ibu pastilah ingin yang terbaik untuk anak-anaknya. Walau terkadang membuatnya berkorban diam-diam. Seperti yang diceritakan guru les saya, tentang perjuangan mama saat akan dan telah menjadi single parent. 

Mama ternyata sudah sejak dulu merancang masa depan untuk anak-anaknya.  Karena itu beliau menghabiskan uangnya untuk memasukkan saya les ini dan itu. Tentu kegiatannya disesuaikan dengan kemampuan belajar saya. Mama membiarkan anak-anaknya menunda kesenangan. Tidak ada sepatu roda yang saya idamkan, tidak banyak acara jalan-jalan. 

Perjuangan Mama semua alhamdulillah terbayar. Saya bisa kuliah di kedokteran, berkat keridhaan Mama membiarkan saya menunggu kuliah satu tahun.  She paid all my bills. Padahal saat itu keuangan keluarga sangat mengkhawatirkan. Tapi semua pengorbanan alhamdulillah membuahkan hasil. Saya pun bisa kuliah dengan biaya SPP yang murah.

Mandiri adalah prinsip Mama. Itu pula yang ditularkan pada anak-anaknya. Kami dididik untuk bisa naik kendaraan umum dan pergi memenuhi kebutuhan kami sendiri.  Beliau jarang sekali punya waktu untuk bisa menemani anak-anak pergi.

Saat saya hamil, ternyata Mama tetaplah Ibu saya.  Ia begitu mendukung kehamilan saya, meski saat itu kami berbeda kabupaten. Saat kondisi saya drop, Mama kembali membawa saya ke rumah.

Menjelang persalinan, Mama begitu heboh menyiapkan keperluan Kakak bayi.  Ia juga begitu mendukung agar Kakak kelak bisa saya bawa ke Indramayu.  Katanya, karena Enam bulan pertama adalah masa emas perkembangan anak dan Kakak perlu dekat dengan Saya. Alhamdulillah kalau saya bisa dekat dengan Kakak.  :”

Apalagi, ada kondisi tertentu yang membuat saya memiliki risiko untuk bersalin secara caesar. Mama mulai detail mengingatkan keperluan yang harus disiapkan untuk dibawa ke rumah sakit. Waktu benar-benar begitu cepat berlalu. Satu sisi Mama bersikukuh agar saya bisa melahirkan secara normal. Pada sisi yang lain jika lebih aman Mama menyegerakan saya untuk SC. 😆

Tiba-tiba, mendekati persalinan diketahui bahwa saya ternyata anemia. Level Hb saya drop 2 dari sebelumnya. Pantas saja akhir-akhir ini pandangan mata saya buram, agak sesak nafas, dan sering pusing berkunang. Mama semakin was-was. Saya mah pasrah aja mengikuti saran terbaik.  😅

Bersyukur sekali bisa didampingi Mama pada saat kehamilan yang berat ini. Entahlah apa jadinya saya tanpa Mama, ya? Orang bilang, saat melahirkan kita akan mengingat semua kesalahan kita pada Ibu kita. Maaf ya Mah, Icha banyak dosa.  Semoga kita bisa sama-sama melewati perjuangan terakhir untuk bisa membawa cucu Mama lahir ke dunia.  Amin.

.

.

.

.

#30DWC #Jilid9 #Squad9 #Day18

Kewajiban Memuliakan Pelayan 

[Memuliakan Pelayan]

Ini adalah pengalaman saya bersama adik saya ketika di Indramayu.  

Hari Minggu pagi saya sarapan di Pasar Minggu Cimanuk dengan adik saya.  Kami duduk di sebelah sepasang pensiunan di meja dan kursi panjang,  yang mungkin cukup untuk 8-10 orang. Sejak kami datang gaya mereka nampak sinis.  Oh orang kaya, pikir saya. Mereka nampak tidak suka saya dan adik saya duduk di sebelah mereka.  Padahal ini warung soto emperan, bukan resto eksklusif.

Sejak awal saya memang sudah merasa tidak nyaman. Tapi ya sudahlah. Ternyata adik saya pun merasakan yang sama. Bapak-bapak yang duduk di sebrang adik saya itu, memandangi saya dan adik saya dari atas sampai bawah. Belum lagi Ibu yang duduk di sebelah saya selalu minta ini itu pada tukang soto, berisik sekali. Cik atuh ya. Tapi kami makan saja.  

Ternyata kami sama sama makan soto seharga 38rb.  Apakah layak merendahkan orang lain padahal kita sama-sama makan soto 30rb-an? Sepanjang jalan setelah makan saya dan adik saya tertawa karena kami memiliki pemikiran yang sama. Teman-teman saya dan adik saya banyak sekali yang bekerja sebagai pelayan atau berjualan. Jadi kami tahu betul beratnya mereka bekerja. Sedikit inisiatif kita sangat membantu pekerjaan mereka.  

Kekuatan seseorang bukan dilihat dari betapa kerasnya ketika Ia marah, tetapi ketika Ia mampu bersabar dan menjaga emosi. Kehebatan seseorang juga bisa dilihat dari bicaranya yang baik dan sikapnya yang memuliakan orang lain. Apakah ketika kita sudah menjadi kaya kita boleh seenaknya? Oh tentu tidak.
Sikap yang tidak mengenakan terkadang juga diberikan pada tamu lain yang datang dengan penampilan biasa-biasa.  Padahal siapapun boleh belanja ataupun makan di tempat yang sama asalkan mampu membayar kan? Siapa pula yang tahu ternyata keluarga yang begitu sederhana itu ternyata seorang milyarder? Who knows?

Kita tentu boleh meminta pertolongan kepada pelayan. Tapi, ucapkanlah kata-kata yang baik. Katakan kita ingin meminta pertolongan mereka. Jika mereka terlalu jauh untuk dijangkau dan tidak melihat lambaian tangan kita, datangilah mereka.

Saat kita ingin memesan dan ternyata mereka sangat sibuk, datangi dan tanyakan apakah ada buku menu yang bisa dipakai? Kita bisa mencatat pesanan sendiri lalu membawa pesanan kita kepada mereka. Mudah-mudahan tindakan sederhana kita bisa meringankan pekerjaan mereka. 

.

.

.

#30DWC #Jilid9 #Squad9 #Day15

Melalui Siapa Rizki Keluarga Dititipkan?

Rumput tetangga sering kali terlihat lebih hijau.

Terkadang saya bingung, akan menjadi apa saya nanti? Melihat teman seangkatan, mereka sedang sibuk dengan internship yang tinggal menghitung bulan. Senior saya kini sedang mengikuti berbagai pelatihan dan magang untuk melanjutkan spesialisasi. Lalu di mana saya? Saya di rumah, sedang mengelus-elus kandungan. Ya, inilah cita-cita yang saya inginkan. Saya bahagia dengan pilihan ini. 

Jika direnungkan, saya begitu bahagia ketika mencuci dan menyiapkan pakaian bayi.  Saya juga bahagia saat memasak untuk suami atau menyetrika pakaiannya. Mungkin, profesi yang kelak akan saya tekuni adalah yang tidak mengganggu kebahagiaan saya untuk bisa melayani suami dan anak-anak.

Saya ingat perkataan sopir grab waktu saya dan suami jalan-jalan di Jakarta. Rizki dari Allah itu sudah ditentukan. Uang 10 jt itu bisa didapat dari suami dan istri.  Bisa saja penghasilan istri lebih besar.  Tapi bisa juga saat istri berhenti bekerja Allah tetap memberikan rizki 10 jt melalui suami.  Berdoalah agar Allah mencukupkan rizki bagi suami kita.

Ya Allah.. Berikanlah rizki untuk suami hamba.  Agar hamba bisa fokus melayani keluarga dan hamba bisa fokus belajar dan mengamalkan ilmu kedokteran tanpa dikejar-kejar materi.  Cukupkan rizki keluarga dari suami ya Allah.  Semoga ada rizki agar hamba bisa pergunakan untuk mengupgrade ilmu pengetahuan. Semoga kami juga bisa berbagi dengan keluarga, kerabat, dan orang-orang yang membutuhkan.  

Semoga Allah memudahkan ikhtiar suami untuk menjemput rizki bagi keluarga kecil kami.  Amin..

Jadi, akan menjadi apa saya nanti? Rasanya masih tidak terbayang. Saya akan menikmati prosesnya satu persatu. Di mana ada celah, mungkin di situ lah takdir saya. 

.

.

Renungan dokter internship yang masih galau akan masa depannya. 😆

.

.

.

#30DWC #Jilid9 #Squad9 #Day13

Up and Down of The Pregnancy 

Kehamilan saya ini memang bukan termasuk kehamilan anak mahal, baik kehamilan yang dinantikan selama bertahun-tahun, atau kehamilan melalui program hamil puluhan juta rupiah.  Mengingat banyak orang begitu banyak menginginkan kehamilan dan belum Allah berikan, saya dan suami pun tak punya duid puluhan juta, jadi kami memutuskan bahwa kehamilan ini mahal dan harus dijaga sebaik-baiknya.  

Kondisi ini menyebabkan seluruh keluarga berusaha menjaga kehamilan saya agar tetap sehat.  Oleh karena itu saya dibatasi untuk tidak sering bepergian jauh. Hal ini membuat saya bosan setengah mati karena tidak bisa sering pulang ke Lembang atau menemui suami di Jakarta.  😥

Kehamilan ini anugerah yang membolak-balikkan hati anggota keluarga dengan ajaibnya.  Semua orang berbahagia menyambut kedatangan si buah hati. Meskipun begitu, ternyata ujiannya juga sangat besar.

Saat hamil ini saya tengah menghadapi internship di Kabupaten Indramayu. Keseharian ketika bekerja tidak ada masalah sama sekali.  Masalah atau ujian hadir ketika pulang ke kosan. Saya mudah merasa bosan, mudah muntah apabila mencium bau makanan, bosan memakan makanan yang sama, dan saya mudah merasa clueless.

Satu waktu saya muntah-muntah hingga tak bersisa makanan di lambung, saat saya baru mau beristirahat dan berbaring saya merasa sangat lapar. Bersyukur karena ada cemilan yang sudah saya stok.  Tapi saya ingin makan berat.  Di sini tidak banyak pilihan makanan biasanya mengingat rasanya saja saya jadi ingin muntah karena sudah terlalu bosan.

Belum lagi dilema saat di kamar. Saya ingin istirahat tetapi kamar berantakan.  Belum lagi ada bekas cucian piring. Melihatnya saja saya sudah muntah-muntah.  Ya Allah ini benar-benar ujian.  Kelelahan ini membuat episkleritis saya kambuh lagi.  

Saya selalu berusaha membeli makanan di luar sambil jalan kali supaya tidak bosan.  Sambil jalan rasanya ingin menangis, ‘begini ternyata perjuangan ibu hamil’.  Namun saya ingat begitu banyak orang yang mendambakan ada di posisi saya saat ini.  Oleh karena itu saya perbanyak istigfar sambil berjalan dan menahan mual.

Hari ini saya berusaha bangkit sedikit-sedikit.  Saya ikhlaskan jika memang harus muntah.  Saya segera makan jika lapar. Saya mencoba mengingat ada cinta dibalik buah hati yang sedang saya kandung. 

Saya mengingat kebaikan-kebaikan suami.  Betapa Ia sangat menginginkan datangnya buah hati di tengah keluarga kami.  Sejak awal menikah Ia selalu berusaha memahami saya dan memperlakukan saya dengan baik. Kami berusaha mengatur waktu bertemu, mencatat siklus haid di kalender dan mengupayakan kondisi yang sehat untuk bisa hamil.

Suami juga begitu baik hingga Ia mengusahakan untuk menemani saya lebih lama.  Pernah Ia datang pada Sabtu dini hari, lalu kembali ke jakarta pada Senin pagi dari Indramayu.  Saya begitu bahagia ketika pulang suami tengah menunggu di kosan.  Tiba-tiba Ia sudah cuci piring. :”” 

Sekarang pun suami berusaha menyalurkan perubahan hormonal saya yang membuat saya jadi semakin melow. Ia selalu mengusahakan video call dan itu membuat saya lebih tenang dan merasa didukung. Hari ini, perubahan hormon di tubuh saya bukan hanya membuat tubuh saya sakit seperti sedang flu like syndrome berhari-hari, tetapi juga psikologis saya terjun bebas. Syuuuuuu… 

Selepas shalat saya menangis, membiarkan hati bicara pada Allah dan memohon kemudahan dari Allah. Pasti Allah tahu saya mampu melewati ini. Suami pun ternyata sedang galau seperti saya.  Ia bimbang karena tidak tahu harus menghadapi saya seperti apa, Ia juga bimbang karena akan menghadapi perubahan peran.  Saya sadar ketika suami semakin sering mendengarkan ceramah, menghadiri taklim dan meningkatkan amalan yaumi.  😅  Galau juga ternyata ya :*

Ya Allah semoga Engkau memberikan kekuatan dan kemudahan kepada kami.  Amin..  

LDR : Jarak Itu Mengeratkan

Yang, terima kasih banyak sudah pulang, ke rumah, dimana pun ada aku.

Ini adalah LDM kita yang pertama, dua minggu pertama yang berat.  Di mana di akhir minggu kedua saya bilang, “I think we need to make a video call, Yang. Di sini berasa jomblo, kaya lagi ga punya suami.” Yup, seminggu pertama di Puskesmas yang bahagia membuat saya membutuhkan dosis komunikasi yang lebih intens dengan suami. Alhamdulillah suami orangnya sangat terbuka, Ia tidak marah dan justru merespon keluhan pasangannya. 

Akhirnya Ia menelepon saya karena sedang tidak ada signal wifii saat itu, 30 menit ngalor ngidul membuat saya sangat bahagia. Saya bilang, “Sekarang jadi ngerasa punya pacar.” Pacar LDR. It was better than I felt like a jomblowati.  Hehehe.  Rizki anak sholeh, tiba-tiba saya mendapat berita gembira, suami dapat libur dua hari. Ia bisa mengunjungi saya di Indramayu.

Bertemu suami di sini memberikan perasaan dan sensasi yang berbeda. Jauh dari rumah ditambah LDR dengan suami memberikan definisi baru bagi “rumah”. Rumah adalah tempat saya bisa berkomunikasi dengan suami, atau rumah adalah di mana ada saya, atau rumah adalah tempat di mana ada suami.

Ia datang dengan Beard’s Papa, yang sudah lama saya idamkan. Ketika saya pulang Ia sedang tidur karena kelelahan di perjalanan, dengan wanginya yang sama, wangi yang selalu saya suka.

Tidak banyak kegiatan yang kami lakukan, hanya makan, belanja ke supermarket, jalan-jalan naik becak, dan menjalani ritual: lenjeh-lenjeh setelah bangun pagi. Tapi Ia membuat saya sangat bahagia.  Karena Ia mau makan sandwich yang saya buat, karena Ia memakai apapun pakaian yanb saya pilihkan.

Saat harus berpamitan, berat rasanya. Baru saja bertemu dua hari sudah harus berpisah.  Saya berusaha untuk menahan air mata.  Saat Ia mencium kening saya di kamar sebelum keluar, saya menutup mata sekuatnya. Saat Ia mencium kening ketika ritual setelah sun tangan, lagi-lagi saya menutup mata agar tidak menangis.  Tibalah ketika suami dibawa mamang ojek menuju stasiun.

Saya segera masuk kamar, mengunci pintu, lalu melemparkan diri ke tempat tidur. Saya menangis sekuat-kuatnya sambil memeluk bantal. Saya merasa bersalah karena saat Ia datang belum banyak yang bisa saya berikan.  Belum banyak yang bisa dilakukan bersama. Sangat berat harus berpisah padahal baru saja bertemu.  Tapi kebaikan suami saya mengingatkan saya agar bisa lebih banyak bersyukur, lebih banyak mendoakannya, mendoakan kami.

Dicintai oleh suami dengan sangat istimewa memotivasi saya agar bisa menjadi istri yang lebih baik dan menjadi manusia yang lebih produktif. Terima kasih banyak Yang,  sudah pulang.

LDR mengajarkan kita bahwa jarak adalah komponen yang membuat ruang rindu, yang justru mengeratkan kita. 

Thank you for the films, for all the little things you did for me, for our silly conversation. I miss you, Yang.  I love you. Till we meet again, dear my handsome husband.  ❤

Matematika Rumah Tangga

“Ketika pasangan tidak bahagia, akhirnya mereka akan mencari “home” yang lain.” Kata Kang Chanun, pada salah satu artikel materi pranikah.

Jika :

A = Bahagia ; B = Tidak bahagia ; X = Perempuan ; Y = Laki – Laki ; dan Z = Perselingkuhan

AX + BY –> Z

AY + BX –> Z

Jika di antara pasangan baik laki – laki maupun perempuan ada yang merasa tidak bahagia, atau merasa tidak nyaman dengan pasangan, hal ini sama – sama dapat menimbulkan masalah berupa adanya pria idaman lain maupun wanita idaman lain. Jadi sebenarnya posisinya seimbang, kewajiban menjaga kebahagiaan itu bukan tugas perseorangan melainkan tugas bersama. Hal yang perlu diingat ketika pasangan merasa nyaman di tempat lain, coba tanya kembali apakah kebutuhan mereka sudah kita cukupi?

Saya mencoba melakukan pemikiran beberapa step.

  1. Wanita marah karena merasa tidak diperhatikan.
  2. Jika Ia marah –> Pria yang tidak pengertian akan semakin menjauh dan tidak memperhatikan pasangannya. Pria akan lebih nyaman di luar.
  3. Wanita akan berusaha menemukan “rumah” lain yang membuatnya nyaman.

Ngeri ya? Rumah tangga memang tidak bisa menggunakan ilmu pasti matematika. Perlu banyak pengertian, kesabaran, penerimaan, walaupun pundung dua puluh tiga puluh kali tidak bisa dihindari. hehehe. Ini hanya intermezzo, agar kita perlu memikirkan beberapa dampak sebelum melakukan tindakan.

  • apakah kita melakukan dalam keadaan emosi? apakah kita berpikir jernih?
  • apa kemungkinan dampak yang akan terjadi jika kita melakukan A? apakah dampaknya positif atau negatif?
  • apakah dampaknya akan baik untuk kehidupan kita dan pasangan kedepannya?
  • apakah justru tindakan kecil kita membuat kebersamaan dengan pasangan akan berakhir?

Berpikir bijak, lebih baik diam atau shopping saat emosi. #eh

Salam. 🙂

Awal Perpisahan : Sakitnya Tuh Disini

Perpisahan akan sangat sulit pada awalnya. Rasa saat semua yang telah biasa dalam hidup tiba-tiba pergi itu begitu menyakitkan. Tidak ada lagi ingatan-ingatan mengenai sikap buruk atau yang tidak semestinya yang pernah ia lakukan.

Saat mencoba satu hari, mulai goyah. Esoknya kembali bertemu, janji ini yang terakhir. Hingga akhirnya pada minggu yang sama terdapat jutaan pesan seperti biasa, dan terdapat satu dua kali tawa di tempat makan hingga larut malam. Janji ini yang terakhir.

Perpisahan begitu menyakitkan, saat tidak ada lagi pesan, saat tidak ada lagi teman bicara. Perpisahan memang menyakitkan, tapi kehilangan kebiasaan itu jauh lebih menyedihkan, menakutkan.

Tidak ada lagi pesan-pesan tidak jelas.
Tidak ada lagi ajakan mencicipi kuliner.
Yang menyedihkan adalah kehilangan kenangan, kebersamaan.

Tidak ada logika yang dapat mengingatkan seseorang tentang pentingnya belajar merelakan dan membiarkan ingatan-ingatan tergerus sendiri oleh waktu.

Paul bilang dalam novel The Architecture of Love, “Disayangi itu menyenangkan.”

Berdoalah kepada Allah, karena Allah lah yang membolak-balik hati manusia. Apakah orang yang kita pertahankan mati-matian akan membawa kita ke surgaNya?

Titipan

Semua hanyalah titipan, baik itu harta, keluarga, pasangan, ataupun anak. Bisa saja Allah mengambilnya sewaktu – waktu. Saya jadi merasa diingatkan agar menjadi lebih bijak, agar kita selalu berusaha menjaga titipan dengan sebaik – baiknya, tetapi kita juga harus ikhlas dan siap dengan kehilangan.