Up and Down of The Pregnancy 

Kehamilan saya ini memang bukan termasuk kehamilan anak mahal, baik kehamilan yang dinantikan selama bertahun-tahun, atau kehamilan melalui program hamil puluhan juta rupiah.  Mengingat banyak orang begitu banyak menginginkan kehamilan dan belum Allah berikan, saya dan suami pun tak punya duid puluhan juta, jadi kami memutuskan bahwa kehamilan ini mahal dan harus dijaga sebaik-baiknya.  

Kondisi ini menyebabkan seluruh keluarga berusaha menjaga kehamilan saya agar tetap sehat.  Oleh karena itu saya dibatasi untuk tidak sering bepergian jauh. Hal ini membuat saya bosan setengah mati karena tidak bisa sering pulang ke Lembang atau menemui suami di Jakarta.  😥

Kehamilan ini anugerah yang membolak-balikkan hati anggota keluarga dengan ajaibnya.  Semua orang berbahagia menyambut kedatangan si buah hati. Meskipun begitu, ternyata ujiannya juga sangat besar.

Saat hamil ini saya tengah menghadapi internship di Kabupaten Indramayu. Keseharian ketika bekerja tidak ada masalah sama sekali.  Masalah atau ujian hadir ketika pulang ke kosan. Saya mudah merasa bosan, mudah muntah apabila mencium bau makanan, bosan memakan makanan yang sama, dan saya mudah merasa clueless.

Satu waktu saya muntah-muntah hingga tak bersisa makanan di lambung, saat saya baru mau beristirahat dan berbaring saya merasa sangat lapar. Bersyukur karena ada cemilan yang sudah saya stok.  Tapi saya ingin makan berat.  Di sini tidak banyak pilihan makanan biasanya mengingat rasanya saja saya jadi ingin muntah karena sudah terlalu bosan.

Belum lagi dilema saat di kamar. Saya ingin istirahat tetapi kamar berantakan.  Belum lagi ada bekas cucian piring. Melihatnya saja saya sudah muntah-muntah.  Ya Allah ini benar-benar ujian.  Kelelahan ini membuat episkleritis saya kambuh lagi.  

Saya selalu berusaha membeli makanan di luar sambil jalan kali supaya tidak bosan.  Sambil jalan rasanya ingin menangis, ‘begini ternyata perjuangan ibu hamil’.  Namun saya ingat begitu banyak orang yang mendambakan ada di posisi saya saat ini.  Oleh karena itu saya perbanyak istigfar sambil berjalan dan menahan mual.

Hari ini saya berusaha bangkit sedikit-sedikit.  Saya ikhlaskan jika memang harus muntah.  Saya segera makan jika lapar. Saya mencoba mengingat ada cinta dibalik buah hati yang sedang saya kandung. 

Saya mengingat kebaikan-kebaikan suami.  Betapa Ia sangat menginginkan datangnya buah hati di tengah keluarga kami.  Sejak awal menikah Ia selalu berusaha memahami saya dan memperlakukan saya dengan baik. Kami berusaha mengatur waktu bertemu, mencatat siklus haid di kalender dan mengupayakan kondisi yang sehat untuk bisa hamil.

Suami juga begitu baik hingga Ia mengusahakan untuk menemani saya lebih lama.  Pernah Ia datang pada Sabtu dini hari, lalu kembali ke jakarta pada Senin pagi dari Indramayu.  Saya begitu bahagia ketika pulang suami tengah menunggu di kosan.  Tiba-tiba Ia sudah cuci piring. :”” 

Sekarang pun suami berusaha menyalurkan perubahan hormonal saya yang membuat saya jadi semakin melow. Ia selalu mengusahakan video call dan itu membuat saya lebih tenang dan merasa didukung. Hari ini, perubahan hormon di tubuh saya bukan hanya membuat tubuh saya sakit seperti sedang flu like syndrome berhari-hari, tetapi juga psikologis saya terjun bebas. Syuuuuuu… 

Selepas shalat saya menangis, membiarkan hati bicara pada Allah dan memohon kemudahan dari Allah. Pasti Allah tahu saya mampu melewati ini. Suami pun ternyata sedang galau seperti saya.  Ia bimbang karena tidak tahu harus menghadapi saya seperti apa, Ia juga bimbang karena akan menghadapi perubahan peran.  Saya sadar ketika suami semakin sering mendengarkan ceramah, menghadiri taklim dan meningkatkan amalan yaumi.  😅  Galau juga ternyata ya :*

Ya Allah semoga Engkau memberikan kekuatan dan kemudahan kepada kami.  Amin..  

LDR : Jarak Itu Mengeratkan

Yang, terima kasih banyak sudah pulang, ke rumah, dimana pun ada aku.

Ini adalah LDM kita yang pertama, dua minggu pertama yang berat.  Di mana di akhir minggu kedua saya bilang, “I think we need to make a video call, Yang. Di sini berasa jomblo, kaya lagi ga punya suami.” Yup, seminggu pertama di Puskesmas yang bahagia membuat saya membutuhkan dosis komunikasi yang lebih intens dengan suami. Alhamdulillah suami orangnya sangat terbuka, Ia tidak marah dan justru merespon keluhan pasangannya. 

Akhirnya Ia menelepon saya karena sedang tidak ada signal wifii saat itu, 30 menit ngalor ngidul membuat saya sangat bahagia. Saya bilang, “Sekarang jadi ngerasa punya pacar.” Pacar LDR. It was better than I felt like a jomblowati.  Hehehe.  Rizki anak sholeh, tiba-tiba saya mendapat berita gembira, suami dapat libur dua hari. Ia bisa mengunjungi saya di Indramayu.

Bertemu suami di sini memberikan perasaan dan sensasi yang berbeda. Jauh dari rumah ditambah LDR dengan suami memberikan definisi baru bagi “rumah”. Rumah adalah tempat saya bisa berkomunikasi dengan suami, atau rumah adalah di mana ada saya, atau rumah adalah tempat di mana ada suami.

Ia datang dengan Beard’s Papa, yang sudah lama saya idamkan. Ketika saya pulang Ia sedang tidur karena kelelahan di perjalanan, dengan wanginya yang sama, wangi yang selalu saya suka.

Tidak banyak kegiatan yang kami lakukan, hanya makan, belanja ke supermarket, jalan-jalan naik becak, dan menjalani ritual: lenjeh-lenjeh setelah bangun pagi. Tapi Ia membuat saya sangat bahagia.  Karena Ia mau makan sandwich yang saya buat, karena Ia memakai apapun pakaian yanb saya pilihkan.

Saat harus berpamitan, berat rasanya. Baru saja bertemu dua hari sudah harus berpisah.  Saya berusaha untuk menahan air mata.  Saat Ia mencium kening saya di kamar sebelum keluar, saya menutup mata sekuatnya. Saat Ia mencium kening ketika ritual setelah sun tangan, lagi-lagi saya menutup mata agar tidak menangis.  Tibalah ketika suami dibawa mamang ojek menuju stasiun.

Saya segera masuk kamar, mengunci pintu, lalu melemparkan diri ke tempat tidur. Saya menangis sekuat-kuatnya sambil memeluk bantal. Saya merasa bersalah karena saat Ia datang belum banyak yang bisa saya berikan.  Belum banyak yang bisa dilakukan bersama. Sangat berat harus berpisah padahal baru saja bertemu.  Tapi kebaikan suami saya mengingatkan saya agar bisa lebih banyak bersyukur, lebih banyak mendoakannya, mendoakan kami.

Dicintai oleh suami dengan sangat istimewa memotivasi saya agar bisa menjadi istri yang lebih baik dan menjadi manusia yang lebih produktif. Terima kasih banyak Yang,  sudah pulang.

LDR mengajarkan kita bahwa jarak adalah komponen yang membuat ruang rindu, yang justru mengeratkan kita. 

Thank you for the films, for all the little things you did for me, for our silly conversation. I miss you, Yang.  I love you. Till we meet again, dear my handsome husband.  ❤

Matematika Rumah Tangga

“Ketika pasangan tidak bahagia, akhirnya mereka akan mencari “home” yang lain.” Kata Kang Chanun, pada salah satu artikel materi pranikah.

Jika :

A = Bahagia ; B = Tidak bahagia ; X = Perempuan ; Y = Laki – Laki ; dan Z = Perselingkuhan

AX + BY –> Z

AY + BX –> Z

Jika di antara pasangan baik laki – laki maupun perempuan ada yang merasa tidak bahagia, atau merasa tidak nyaman dengan pasangan, hal ini sama – sama dapat menimbulkan masalah berupa adanya pria idaman lain maupun wanita idaman lain. Jadi sebenarnya posisinya seimbang, kewajiban menjaga kebahagiaan itu bukan tugas perseorangan melainkan tugas bersama. Hal yang perlu diingat ketika pasangan merasa nyaman di tempat lain, coba tanya kembali apakah kebutuhan mereka sudah kita cukupi?

Saya mencoba melakukan pemikiran beberapa step.

  1. Wanita marah karena merasa tidak diperhatikan.
  2. Jika Ia marah –> Pria yang tidak pengertian akan semakin menjauh dan tidak memperhatikan pasangannya. Pria akan lebih nyaman di luar.
  3. Wanita akan berusaha menemukan “rumah” lain yang membuatnya nyaman.

Ngeri ya? Rumah tangga memang tidak bisa menggunakan ilmu pasti matematika. Perlu banyak pengertian, kesabaran, penerimaan, walaupun pundung dua puluh tiga puluh kali tidak bisa dihindari. hehehe. Ini hanya intermezzo, agar kita perlu memikirkan beberapa dampak sebelum melakukan tindakan.

  • apakah kita melakukan dalam keadaan emosi? apakah kita berpikir jernih?
  • apa kemungkinan dampak yang akan terjadi jika kita melakukan A? apakah dampaknya positif atau negatif?
  • apakah dampaknya akan baik untuk kehidupan kita dan pasangan kedepannya?
  • apakah justru tindakan kecil kita membuat kebersamaan dengan pasangan akan berakhir?

Berpikir bijak, lebih baik diam atau shopping saat emosi. #eh

Salam. 🙂

Awal Perpisahan : Sakitnya Tuh Disini

Perpisahan akan sangat sulit pada awalnya. Rasa saat semua yang telah biasa dalam hidup tiba-tiba pergi itu begitu menyakitkan. Tidak ada lagi ingatan-ingatan mengenai sikap buruk atau yang tidak semestinya yang pernah ia lakukan.

Saat mencoba satu hari, mulai goyah. Esoknya kembali bertemu, janji ini yang terakhir. Hingga akhirnya pada minggu yang sama terdapat jutaan pesan seperti biasa, dan terdapat satu dua kali tawa di tempat makan hingga larut malam. Janji ini yang terakhir.

Perpisahan begitu menyakitkan, saat tidak ada lagi pesan, saat tidak ada lagi teman bicara. Perpisahan memang menyakitkan, tapi kehilangan kebiasaan itu jauh lebih menyedihkan, menakutkan.

Tidak ada lagi pesan-pesan tidak jelas.
Tidak ada lagi ajakan mencicipi kuliner.
Yang menyedihkan adalah kehilangan kenangan, kebersamaan.

Tidak ada logika yang dapat mengingatkan seseorang tentang pentingnya belajar merelakan dan membiarkan ingatan-ingatan tergerus sendiri oleh waktu.

Paul bilang dalam novel The Architecture of Love, “Disayangi itu menyenangkan.”

Berdoalah kepada Allah, karena Allah lah yang membolak-balik hati manusia. Apakah orang yang kita pertahankan mati-matian akan membawa kita ke surgaNya?

Titipan

Semua hanyalah titipan, baik itu harta, keluarga, pasangan, ataupun anak. Bisa saja Allah mengambilnya sewaktu – waktu. Saya jadi merasa diingatkan agar menjadi lebih bijak, agar kita selalu berusaha menjaga titipan dengan sebaik – baiknya, tetapi kita juga harus ikhlas dan siap dengan kehilangan. 

Menjalani Konsekuensi

Tiba-tiba kebiasaan saya merancang masa depan menjadi terblock, blank. Yang saya tahu, setelah ini saya akan internship, sisanya saya tidak tahu.

Seketika, keputusan yang saya ambil akan memberikan konsekuensi lain, tanggung jawab, amanah yang baru. Dan saat ini juga mindset saya tentang masa depan berubah. Bisa dibilang sebuah konsekuensi membuat saya menjadi orang yang lebih realistis.

Saya merasa menjadi lebih lemah dan sangat bergantung hanya pada pertolongan Allah. Saya sadar cita-cita yang begitu saya inginkan telah menemukan jalannya, dan sekarang saya sedang berada di depan pintu gerbang. “Assalamualaikum, Dung!” Masa depan menyapa saya, lembut.

Sekarang, segala yang saya lakukan akan berimbas pada orang lain, kemalasan saya, sikap egois saya. Semoga kesibukan dan rutinitas yang saya jalani tidak melupakan siapa saya? Siapa yang menciptakan saya? Sebagai apa saya diciptakan? Kepada siapa saya akan kembali?

Detik ini pikiran saya jauh dari ingin Honda Civic, seperti saya SMP dulu. Atau ingin punya anak 5, seperti saat saya kuliah. Bisa dibilang, isi pikiran saya adalah kegamangan. Mungkin tidak lama lagi semua teori yang saya baca di buku akan terjadi, jauh berbeda dengan kenyataan yang ada. Dan itu membuat saya cukup deg deg-an, bisakah saya menjalani dengan sebaik-baiknya?

Hikmah Sederhana

Saya sedang membeli lauk di pedagang keliling yang biasa mampir ke puskesmas, “Mbak, ini semua dibikin terus dijualin sendiri?”

“Iyalah Neng!” Kata Mbak penjual sambil tersenyum.

Setelah Mbak penjual pergi mama bilang, “Ca, orang itu mau cari uang kerja keras. Makanya kita juga harus sungguh-sungguh.”

Banyak hal yang saya teladani dari Ibu Suri, Mama saya yang kadang galak dan sering ngomel-ngomel itu. Mungkin karena menjelang menopause Mama menjadi lebih sensitif. Tapi saya sadari Mama sekarang semakin bijak ketika ingin menyampaikan pesan untuk anak-anaknya.

Mama mengajarkan agar selalu berbuat baik pada orang lain, bagaimanapun mereka memperlakukan kita. Mungkin dulu banyak kesalahan yang kita lakukan, tapi itu tidak membuat kita menjadi orang yang buruk seterusnya. Kita memiliki hak dan kesempatan dari Allah untuk berubah. Itulah yang saya lihat dari Mama dan ingin saya terapkan pada kehidupan sehari-hari saya. Sudah saatnya kita memaafkan kesalahan diri sendiri di masa lalu dan berusaha membahagiakan orang-orang di sekitar kita mulai sekarang. Insha Allah.

Where We Have to Put Our Trust?

I always scared to trust someone. Letting them know more about you is like reopen the deepest secret in your life.

Every writer wants to publish their masterpiece, so do I. But writing is a process so I don’t know when I could constantly write. From the 2011, I build two characters. I really want to finish their story. I already made some, and I was too stupid not to make a back up. When my laptop error, so all of the story is gone, sadly.

I want to ‘wake up’ the characters again, so I thought to find them back from where the story started, Tumblr. For some reason I leave my tumblr and all of my posts. I burned it with all my anger, my faith, my fear of being rejected as I am, as an ordinary person. It was really hurt when people looking at you because of the pride.

The dark memory comes along with the new distraction. Someone comes and being your muse, which makes you feel easier to catch your hope. It makes you remember again being unwanted. You were abandoned by the person you started to trust. I never sure where I have to put my trust? I don’t know whether I should fully trust to someone and being hurt or I just give them my half trust, then I pretended I don’t want to know anything.

I am too overthinking as usual, but I just prepare for the worst. 

When there are some people that really know your curiosity that makes you live your life, you just too scared to lose them, right?

You may never ever break someone trust because you don’t know if that is the last trust they have. 

The Transformation : Up and Down of A Metamorphosis

My mom really knew that I was too weak in my transition..

Everybody said, “It would be easy, just calm down.” But they didn’t know I felt broken inside.
I denial every morning since I did my exit exam. I don’t want to go outside. I didn’t know how to get the money that I used to get from my mom and I was too afraid to work out there. That was the first time I thought I should never take anything for granted.

This was the third day since I worked in the primary health care. I realized how moody and how bad temper, I am. I didn’t talk it out loud, but I kept it in my mind. When I came home, I laid under the blanket and thought about what I did that day.

When I was an intern, I used to run away if something made me feel bad. I remembered I felt bad when the staff in the hospital said something bad, or they didn’t fair to intern. The next day, I did not want to do anything. I let them busy on their own. Or when my friend insisted to go to the clinic, I stayed quiet and I haven’t talked much since I really angry to them. I used to run when someone treats me badly. I hate when they did that to me. Maybe because they are senior they could do anything like that.

I was too childish before. I don’t want to hide anymore.

I really thank to my mommy and her friends. They really help me in my metamorphosis from a medical student to become a real doctor. Even I didn’t talk about my fear. My mom helps me to pass it. This is hard to adapt. I have to face the real patient, who expect a lot from me and my mommy’s friend’s who always see what I’ll do. I never knew that I was freaking out and clueless until I met my friend at the coffee shop. I talked to them, I laughed. My mom’s let me meet my friend after the work is done. It really helped me out of my fear, my stress, my culture shock.

Now I listen more to my mom. I realized I have to lower my tone even sometimes I know more than her.

In the last 2 weeks I could write some notes:

  1. Be humble
  2. Look, listen, and feel from the surroundings
  3. Learn anytime, anywhere
  4. Respect the others
  5. Talk nicely or you better shut your mouth up
  6. Never take anything for granted
  7. Give more
  8. Smiling more
  9. Read every day
  10. Get the hikmah
  11. Behave
  12. Help your friend
  13. Be inisiative
  14. Don’t forget to pray
  15. Pray more for your parents
  16. Say Alhamdulillah..

I’m still not comfortable with my ‘transformation’, but I hoped I could be a humble practitioner like my mom. I hope I could be smarter than her. But I hope that I could be a barakah doctor so can makes my parent got the ticket to Jannah. Amin..