Bekal untuk Calon Mamah Muda

Tidak terasa saya sudah memasuki 33 minggu usia kehamilan.  Sebagai calon Ibu, banyak sekali ilmu yang pastinya masih nol sekali. Tapi sepertinya kuncinya hanya bismillah. Ketika Allah memberikan amanah, insyaAllah tidak akan melebihi kapasitas kita.

Benar, calon Ibu itu harus punya bekal. Walaupun tetap nanti kita akan kelabakan dan perlu bantuan keluarga, tapi paling tidak kita sudah pernah membaca. Apa saja sih bekal yang diperlukan? Dua bulan menjelang persalinan inilah persiapan versi keluarga saya.
1. Persiapan finansial

Persoalan budget ini sangat penting. Pertama, konsultasikan dengan dokter atau bidan kondisi kehamilan kita. Apakah memungkinkan untuk bersalin secara normal? Pikirkan juga terkait kondisi penyakit bawaan yang dialami Ibu.  Atau apakah bayi kemungkinan lahir prematur dan memerlukan perawatan intensif? 

Selanjutnya,  kondisi keuangan keluarga kita mampu untuk di fasilitas kesehatan seperti apa? Kalau dicover asuransi atau dari kantor sih sudah lumayan tenang ya. Kalau tidak, coba hitung tabungan pribadi. Sebagai jaga-jaga buat segera kartu BPJS, aktifkan segera kartu BPJS untuk calon jabang bayi.  Sambil kita tetap calling-calling siapa tahu pihak orang tua bisa membantu.  Hehe.  Yang pasti utamakan keselamatan Ibu dan anak ya. Kalau masalah ingin bersalin di tempat yang lux, jika tidak sesuai budget, keinginannya bisa dikesampingkan dulu.

Buat daftar keperluan Ibu dan bayi. Agar mengurangi pengeluaran, kita bisa menunda beberapa kebutuhan seperti baju bayi lucu, stroller, car seat dan kebutuhan-kebutuhan nonprimer lainnya.

 
2. Daftar Kebutuhan Ibu & Bayi

Membuat daftar kebutuhan Ibu dan bayi ini sangat penting, karena kita bisa mengontrol keperluan dan juga budget. Walaupun Ibu atau mertua kita tidak terlalu care soal list ini, tapi kita bisa diam-diam membuatnya.  Bila ada sumbangan dari orang tua atau keluarga, cepat-cepat dicek apakah ada pada list keperluan kita? Kalau ada kan alhamdulillah bisa mengurangi beban ya.

Memenuhi kebutuhan bayi ini fleksibel ya. Sebaiknya dicicil karena banyak sekali yang diperlukan. Setelah itu kita bisa mulai menata keperluannya.  Misalnya lokasi tempat tidurnya, lemarinya. Dan yang penting adalah mencuci semua pakaian bayi supaya tidak bau pabrik.  Setelah mencuci dan menyetrika, kita bisa memasukannya ke dalam plastik untuk pakaian supaya tidak berdebu. Kita juga bisa mulai menata barang bawaan ke rumah sakit nanti.
3. Persiapan Menyusui

Ilmu tentang menyusui ini penting sekali, apalagi bagi Ibu yang akan bekerja ya. Tapi walaupun full time mom, penting juga mempelajari ilmunya supaya supply ASI tetap cukup memenuhi kebutuhan si kecil.  Saya banyak mendapat ilmu dari Buku Pintar Asi dan Menyusui karya Teh Monik. Saya juga memfollow [ instagram : asiku.banyak ]. 

Intinya kita perlu tahu ilmu tentang:

  • Menyusui bayi newborn
  • Pumping & nursing
  • Managemen laktasi
  • Managemen ASIP
  • Let Down Refleks (LDR)
  • Foremilk vs Hindmilk

Saya beri prolog supaya Ibu-Ibu semua semangat mencari ya. 😆
4. Persiapan Persalinan

  • Konsultasikan dengan dokter kandungan atau bidan yang menangani kita
  • Persiapkan persyaratan jika akan menggunakan kartu BPJS (apakah memerlukan rujukan dari fasilitas kesehatan primer?)
  • Siapkan bawaan Ibu dan bayi dalam satu tas.
  • Daftarkan diri kita apabila ingin bersalin di RS swasta (bisa daftar dulu atau tidak).
  • Daftarkan diri kita di rumah sakit bila kita perlu bersalin secara caesar terjadwal.
  • Perbanyak jalan kaki setiap hari untuk membantu penuruan kepala janin dan menguatkan fisik ibu.
  • Paparkan pada keluarga besar rencana persalinan kita. Bila suami kita sedang tidak bersama kita, pihak keluarga bisa menghandle.  

5. Persiapan Tambahan 

  • Setelah pulang ke rumah, di mana Ibu dan bayi akan tidur? Biasanya kalau di daerah selama beberapa hari Ibu dan Bayi tidur di ruang tengah karena akan banyak tetangga yang menjenguk.
  • Kondisikan dan jelaskan di mana ayah akan tidur? Haha. Karena pasti ayah akan tidak terperhatikan.  Jadi kita kondisikan pihak ayah dari awal.
  • Tentukan siapa yang akan mencuci pakaian baby? Karena jagoan kita masih sering pipis, eek, dan kentut berjackpot. Jadi cuciannya akan menumpuk.  Apakah ada keluarga yang mau membantu? Apakah ART di rumah kita siap?  Ataukah kita perlu tambahan tenaga?
  • Siapkan pakaian Ibu yang nyaman dipakai, nyaman untuk menyusui, tapi layak dilihat orang. Karena akan banyak tamu ke rumah. Jadi siapkan pakaian rumah yang sopan tapi tetap nyaman untuk Ibu menyusui.
  • Versi nene saya: siapakan seprai dan bedcover yang bagus.  Biasanya tamu suka intip-intip kamar.  Hehe. 
  • Sediakan aqua gelas dan snack kiloan atau biskuit untuk menjamu tamu yang datang. Supaya keluarga juga praktis. 

.

.

.

    Semoga apa yang saya share bisa bermanfaat ya moms to be. 😚
    #30DWC #Jilid9 #Squad9 #Day7

    Advertisements

    Anak-Anak Bukan Hanya Perlu Pendidikan Akademis

    Orang tua saat ini nampaknya lebih banyak fokus pada pendidikan akademis. Entanlah, rasanya para dewasa muda kini banyak sekali yang tumbuh menjadi seseorang yang tidak memperdulikan perasaan orang lain. Yang mereka perdulikan adalah dirinya sendiri. Coba kita perhatikan! Berapa banyak orang yang menjadi korban perasaan? Berapa banyak orang yang merasa menjadi korban para pemberi harapan palsu?  Andai yang kita perdulikan bukan hanya urusan akademis.

    Masalah percintaan itu dianggap tabu untuk dibahas di dalam rumah. Padahal, kurangnya bekal bisa membuat anak-anak tumbuh menjadi seorang dewasa yang belajar dalam rimba. Andai saja orang tua tidak hanya marah ketika anak-anaknya mulai dekat dengan lawan jenis.  Andai saja orang tua mau lebih terbuka agar bisa menyentuh hati anak-anak.  Andai saja anak-anak tidak hanya diperintah untuk sekolah dan belajar. Kita lupa memberikan bekal dan tuntunan agar mereka menjadi orang yang peka, santun, bisa berbicara dengan baik, bisa menjadi orang yang menghargai diri sendiri dan orang lain.

    Andai saja anak-anak diajarkan untuk menghormati diri sendiri dan orang lain. Mungkin tidak akan banyak remaja dan dewasa muda yang berani memposting foto dan video semi telanjang di media sosial. Apalah yang bisa diandalkan dari bangku sekolah? Apakah kita berharap guru-guru dengan perbandingan siswa 1 : 40 itu sanggup membuat anak-anak jadi lebih bermoral? Anak-anak membutuhkan bimbingan orang tua lebih dari yang orang tua pikirkan. 

    .

     .

    .
    Dari calon orang tua, yang miris dengan berjamurnya kaum PHP dan tidak berperasaan di muka bumi.

    #30DWC #Jilid9 #Squad9 #Day5

    Stop, Buk! 

    Nak, Ibu sepertinya tidak bisa memintamu jadi anak yang sholeh.

    Bagaimana bisa kita meminta anak-anak menjadi penghapal Al-Quran, sedangkan kita sendiri tidak sedang menghapalkannya.  Bagaimana bisa kita menyuruh anak-anak shalat tepat waktu, sedangkan kita sendiri masih menunda shalat? Buk, anak adalah seorang peniru.  Anak adalah seorang pembangkang bila diberi perintah. Ia melihat dan meniru apapun perilakumu, Buk!

    Maka berhentilah sebelum terlambat! Berhentilah sekarang! Berhentilah untuk berharap anakmu jadi begini, jadi begitu! Jadilah apa yang ingin kamu petik dalam anakmu.

    Astagfirullah. Saya sendiri jungkir balik rasanya. Istiqamah itu sulittttt sekaliii. Ya, biarkanlah anak-anak tahu bahwa orang tuanya bukan orang tua yang suci, tapi tipe orang tua yang jungkir balik, berusaha untuk belajar dan mendekatkan diri pada Allah.  Biar saja anak-anak melihat setiap proses kita tertatih-tatih karena ternyata ingin jadi sholeh itu banyak sekali godaannya. Ajaklah anak-anak membersamai setiap proses yang “pedih”, semoga usaha ini akan Allah catat sebagai amal baik, dan akan mengumpulkan kita sekeluarga di SurgaNya. Amin..

    Maaf tidak bisa menjadi teladan yang baik untuk kamu, Nak. Tapi kamu mengerti kan? Kita akan sama-sama belajar dan jadi partner dalam beribadah. Setuju?

     .

    .

    .

    Indramayu, 26 Juli 2017

    Calon Ibukmu 

    Film 13 Reasons Why dan Kisah Nyata Keseharian

    Kisah yang ada di film 13 Reasons Why itu bukan cerita sepele. Kejadiannya terlihat seperti fenomena gunung es, seolah kecil padahal sangat besar di bawah. Film ini menceritakan tentang bullying yang terjadi pada anak SMA, sebut saja Ia Mawar. Mawar ini sering dibilang “slut” alias pelacur atau perempuan murahan oleh teman laki – lakinya di sekolah. Bukan hanya itu, Ia juga mengalami pelecehan seksual.

    leceh2

    Film ini mengingatkan masa lalu saya yang kelam ketika di sekolah dasar. Saat itu banyak dari kami yang mulai puber. Anak laki-laki mulai mengalami mimpi basah dan anak perempuan mulai mengalami menstruasi. Sedihnya, anak laki-laki di sekolah saya banyak yang menonton video porno di rumahnya, sehingga mereka sering melecehkan anak perempuan. Mereka menyentuh dada anak perempuan, jahil mengangkat rok anak perempuan agar celana dalamnya terlihat atau melorotkan celana olahraga anak perempuan. Bahkan salah satu teman saya berpura-pura memeragakan aktivitas seksual seolah sedang memperkosa.

    leceh1

    Saat itu saya adalah anak bodoh yang tidak bisa bicara. Saya juga tidak bisa menyalahkan guru-guru karena perilaku bobrok dimulai ketika orang tua melepaskan tanggung jawab mereka sepenuhnya kepada guru di sekolah, tanpa pengawasan. Bagaimana mungkin guru dengan gaji yang tidak seberapa mampu mengawasi 30 anak dalam kelas layaknya sekolah internasional?

    Sekarang ketika saya dewasa dan menjadi calon orang tua, saya merasa kasus bullying dan pelecehan seksual ini perlu menjadi perhatian. Sebagai orang tua kita perlu memberikan penjelasan kepada anak tentang apa yang tidak boleh dilakukan orang lain kepada mereka. Tubuh mereka tidak boleh sembarangan disentuh dan mereka tidak boleh dihina semena mena. Pun sebaliknya, saya harus mengajarkan agar anak saya kelak tidak menyentuh tubuh sensitif orang lain dan juga tidak boleh menghina teman- temannya.

    Brosur Seks edukasi 1

    Orang tua berperan sangat penting dalam pembentukan sikap dan mental anak. Seperti pada film 13 Reasons Why, ketika Mawar berusaha ingin berbicara mengenai masalahnya dengan orang tua, justru mereka sibuk dengan pekerjaannya tanpa memandang Mawar sedikitpun saat bicara. Karena tidak adanya dukungan, bahkan dari orang tuanya sendiri, akhirnya Mawar memutuskan untuk bunuh diri. Tragis memang.

    Mawar Mawar lain di Indonesia pun tentu banyak. Mungkin ada yang akhirnya memutuskan untuk putus sekolah karena merasa sekolah bukan tempat yang nyaman, seperti salah satu teman SD saya. Bisa jadi banyak juga yang mencari pelarian hingga akhirnya benar-benar melakukan perilaku menyimpang, seperti menjual kelaminnya sendiri. Sebelum terlambat, mari kita lebih aware terhadap anak kita. Sekolah itu bukan tempat kita melempar kewajiban. Sekolah hanya salah satu fasilitas yang membantu pendidikan. Tetapi selebihnya pendidikan anak adalah kewajiban dari orang tua.