Rencana Pendidikan Keluarga Bapak Arianto 

Saat mengikuti kelas matrikulasi IIP, saya diminta untuk membuat kurikulum pendidikan keluarga. Berhubung masih bingung, jadilah saya membuat beberapa poin-poin kemudian didiskusikan dengan suami. Ada beberapa poin yang juga diusulkan oleh suami.

Idealnya, anak dididik sesuai dengan fitrahnya. Tapi pendidikan sesuai dengan fitrah ini bahasannya masih terlalu berat dan kurang saya pahami.  Jadilah sementara saya dan suami membuat rancangan ala-ala. Mengekor rancangan Teh Kiki dan buku parenting, kami membaginya sesuai dengan kategori usia.

 .
Pendidikan anak usia kandungan:

– Mengucapkan salam kepada jabang bayi setiap hari.

– Mengajak berbicara mengenai harapan agar kelak menjadi anak yg sholeh, menjadi penyejuk hati orang tua, bermanfaat bagi bangsa dan agama.

– Mengajaknya beribadah, misal mengajaknya ketika Bundanya akan shalat.  Atau mengeraskan suara ketika mengaji dan menjelaskan maksud kita mengaji.  

– Menceritakan mengenai kebaikan Allah dan kemurahanNya.

– Karena LDR dengan suami, jabang bayi diperdengarkan rekaman suara mengaji ayahnya.

 .

Pendidikan Anak 0-2 tahun

– Mengucapkan salam ketika bayi bangun tidur dan membimbing doa sebelum tidur.

– Menyusui selama 2 tahun.

– Memberikan makanan pendamping ASI yang bergizi. 

– Mengontrol screentime dan tidak memberikan gadget untuk bayi. Memilihkan tayangan yang bermutu bagi bayi. 

– Melatih mengucapkan doa ketika hendak melakukan kegiatan sehari-hari.

– Mengajaknya berbicara dan berkomunikasi dan menanggapi setiap ekspresi bayi.

– Memberikan stimulasi anak sesuai dengan panduan SDIDTK.

– Membacakan cerita islami, baik mengenai rasul, sahabat rasul, akhlak yang baik dan cerita hikmah.

– Mengajak anak berbicara dengan bahasa Indonesia. Tidak mengajarkan anak bahasa lain sampai anak mampu berbicara dengan baik dan mampu mengutarakan keinginan atau perasaannya dengan bahasa yang bisa dimengerti.  

– Mengajak anak bermain bersama.

.

Pendidikan anak usia 3-6 tahun

– Mengajak anak agar mencintai Allah dan rasul saat bermain atau saat melakukan aktivitas outdoor.  

– Bermain dengan anak dan memberi stimulasi untuk anak.

– Mengajak, melibatkan anak melakukan aktivitas pekerjaan sehari-hari dan membuatnya senang dan merasa seperti bermain.

– Mengeksplorasi berbagai pengetahuan bersama anak sembari melihat bakat dan potensi anak.

– Mengajak anak ke berbagai tempat, baik tempat wisata alam, museum, kebun binatang, dan wisata edukasi lainnya.  

– Mulai mengajak menghafalkan surat-surat pendek.

– Memberikan nasihat di sela waktu bermain. 

– Menunjukkan kasih sayang pada anak dan mengajarkan anak agar menyayangi keluarga.

– Melakukan aktivitas outdoor atau piknik bersama dengan keluarga sebagai sarana bonding dengan keluarga. 

– Mengajarkan cara bicara dan berkomunikasi yang baik untuk menyampaikan keinginan 

– Mengajak anak dalam aktivitas keagamaan seperti shalat berjamaah, pengajian, mengajaknya belajar bersedekah dan berbagi dengan sesama.

– Mendekatkan anak dengan mesjid. 

– Mengajak anak untuk shalat dan menjelaskan keutamaan dan kewajiban shalat.

– Menjadi teladan dengan rajin membaca ketika bersama anak agar anak suka membaca.

– Mengenalkan anak bahasa Sunda dan bahasa Inggris.

– Melatih anak berenang.

– Memberikan stimulasi agar anak banyak bertanya dan punya rasa ingin tahu. 

– Mengajarkan anak bahwa banyak orang yang lebih kaya dan lebih miskin daripada kita, sehingga anak terhindar dari sikap sombong dan kufur nikmat.

– Membuka pandangan anak bahwa yang keren itu tidak hanya insinyur atau dokter. Tapi kalo mau mengikuti jejak orang tua, alhamdulillah. 

– Mengajarkan anak tentang silsilah keluarga besar dari pihak ayah dan ibu, serta mengajarkan nilai-nilai, dan kebiasaan di masing-masing keluarga besar.

.

Pendidikan anak usia 7-10 tahun

– Menjelaskan kepada anak mengenai perintah dan larangan disertai dengan maksud dan tujuannya. 

– Mulai mendisiplinkan anak shalat sembari menanamkan bahwa shalat itu bukan beban dengan cara menjadi contoh dan mengajak anak shalat berjamaah.

– Mengeksplore bakat anak kemudian memberikan  pilihan mengenai bidang apa yang ingin lebih dikuasai (dengan les misalnya).

– Mulai menggali anak kalau sudah besar mau jadi apa?  Sembari menyemangati dan memberikan nasehat untuk mencapai tujuannya tersebut.

– Membiasakan anak bangun untuk shalat shubuh dan mentrigger anak agar mengulang pelajaran atau membaca saat subuh.

– Membiasakan anak untuk mengisi waktu luang dengan hal yang bermanfaat.  Misal ada yang untuk tilawah, ada bagian membaca, istirahat, atau mengasah hobi.

– Melibatkan anak dalam pekerjaan rumah.  Misal anak mulai belajar mencuci pakaian dalam sendiri. Belajar memotong motong bahan makanan, membuang sampah, merapihkan tempat tidur dan mainan, menyapu. Tidak lupa menjelaskan maksud dan tujuannya.

– Mengajak anak bahwa belajar bukan untuk mengejar nilai saja, tetapi untuk mencapai tujuan. Misalnya untuk jadi bisa, untuk mencari ilmu, sebagai ibadah, dan sebagai kesenangan. 

– Menjelaskan bahwa sebentar lagi anak akan mencapai aqil baligh.  Jadi mulai harus dipersiapkan karena sebentar lagi memiliki kewajiban sebagai individu dan dosa kelak akan dipertanggungjawabkan oleh diri sendiri.  

– Menjadi teman anak bermain, mendampingi anak belajar, dan memotivasi anak

– Membiasakan anak menabung untuk membeli barang yang diinginkan.

– Melatih anak untuk menulis, berbicara menyampaikan pendapat atau resume dengan bahasa yang baik.  Melatih anak untuk berkomunikasi dan berbicara yang baik di depan publik.  

– Melatih rasa percaya diri anak.

– Mengajarkan anak bahwa rumah adalah tempat yang paling kondusif untuk memperdalam ilmu.  Jadi anak seharusnya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dibandingkan les tambahan di luar.

– Melatih anak dengan mengajaknya berbicara bahasa inggris.  Memberikannya media buku, lagu, dan games berbahasa inggris.  Melatih anak menulis berbahasa inggris.

– Mengajarkan anak bahwa kegagalan bukanlah suatu akhir. Anak harus semangat dan terus mencoba. 

– Melatih anak ilmu bela diri.

– Mengajarkan anak berpikir skeptik dalam menelan informasi atau ilmu.

– Mengajarkan anak untuk mempresentasikan kegiatan harian.

.

Pendidikan anak usia 11-14 tahun 

– Menjadi teman curhat anak.

– Mulai mentrigger anak untuk fokus pada bidang yang disukai dan membantunya untuk lebih berkembang.

– Menjadi teman bermain dan teman anak bercerita. 

– Mendampingi anak memasuki usia baligh, menjelaskan kewajiban ketika memasuki usia baligh.

– Memberikan gambaran mengenai pekerjaan atau bidang di masa depan. Mengajak anak untuk tour bidang dan juga meet the expert.

– Memperbolehkan anak untuk menggeluti bidang yang diinginkan dan memperdalam bidang tersebut sejak dini.  (Misal mulai aktif belajar programming, atau mulai memperdalam ilmu yang diminati, atau memperbolehkan anak berjualan jika ia minat.) Intinya mulai memperbolehkan anak memulai titik dalam karirnya.

– Mengajak anak berdiskusi mengenai agama islam, ilmu agama islam, dan kondisi umat islam saat ini dan di masa depan.

– Memberikan anak latihan untuk mengelola uang jajannya (diberi mingguan lalu bulanan).

– Memfasilitasi anak menggeluti passionnya.

– Berdiskusi dengan anak mengenai tujuan penciptaan manusia,termasuk anak kita, di bumi.

– Mengajarkan anak memanah.

– Melatih anak membuat proposal ketika menginginkan sebuah barang atau kunjungan wisata.

– Melatih anak untuk membuat rencana perjalanan.

– Melatih anak untuk bisa naik kendaraan umum sendiri.

– Mendorong anak untuk aktif organisasi di lingkungan terdekatnya.  
.

Pendidikan anak > 15 tahun 

– Menjadi pendengar dan supporter anak.

– Memfasilitasi anak menuju karir yang diminati.

– Menjelaskan tanggungjawabnya sebagai individu dewasa.

– Berdiskusi mengenai pilihan anak di masa depan.

– Berdiskusi mengenai tujuan hidup anak kita di dunia agar anak kita bisa menjadi seorang dewasa yang taat pada Allah, berprestasi,  dan bergairah dalam hidupnya.

– Memberitahu anak batasan-batasan dalam hubungan dengan lawan jenis (do and don’t).

– Melatih anak untuk mandiri mengerjakan pekerjaan rumah tangga. (Menguasai basic skill seperti memasak, mencuci, menyetrika, mengepel lantai, membersihkan kamar mandi, dan merapihkan kamar).

– Melatih anak bersikap kritis dan berpikir skeptik dan berdiskusi dengan baik .

– Memberikan delegasi kepada anak seperti memesan hotel, memesan tiket, dll yg memerlukan ketelitian dan pertimbangan.  

– Melatih anak agar dapat berpenghasilan sejak dini.

– Membangun sense of responsibility anak terhadap kondisi keluarga dan lingkungan.

.

Pendidikan anak usia kuliah

– Mendidik anak agar menyiapkan diri sebagai calon keluarga baru yg memilik tanggung jawab lebih. 

– Mendukung anak agar anak mampu mengamalkan ilmunya setelah kuliah dan menjadi seorang ahli yg bermanfaat.

– Menyiapkan anak mengenai pranikah. 

– Menjelaskan dan mengingatkan anak untuk bisa mandiri secara finansial ketika sudah lulus kuliah.

– Menjadi partner diskusi anak dalam menentukan calon pasangan hidup.
.

.
Ini tentu baru gambaran saja. Tentunya praktek di lapangan akan lebih kompleks nanti ya. Mudah-mudahan Allah selalu membimbing saya dan suami ketika mendidik buat hati kelak. Amin.. 

.

.

.

#30DWC #Jilid9 #Squad9 #Day10

Advertisements

Membentengi Anak dari Perilaku Konsumtif 

Saya miris sekali dengan remaja saat ini yang mengaku kekinian. Mereka seolah berlomba untuk eksis di media sosial. Ada yang sengaja ‘numpang’ foto di cafe yang sedang hits. Ada yang memamerkan outfit of the day untuk segera di-upload. Tidak jarang banyak dari mereka yang memaksakan diri untuk membeli pakaian atau barang branded agar terlihat wow. Uang jajan pun defisit untuk membeli pakaian baru dan nongkrong di cafe yang sedang hits.

Sumber gambar: nakita.grid.id

Ternyata, sifat konsumtif ini dipengaruhi oleh kebiasaan yang ditanamkan orang tua sedari kecil. Oleh karena itu, orang tua perlu mencegah sifat boros tersebut sejak dini.  Secara tidak sadar, anak-anak menjadi konsumtif akibat tidak bisa menahan keinginan. Padahal apa yang diinginkan bukanlah kebutuhan yang penting.

Orang tua perlu menahan diri ketika anak merengek dan memaksa ingin dibelikan suatu barang. Anak-anak perlu diajarkan untuk bersabar ketika menginginkan sesuatu. Mereka perlu dilatih menahan keinginan. Ketika anak-anak sudah tenang dan berhenti menangis, kita bisa menjelaskan mengapa keinginan mereka tidak dikabulkan atau harus ditunda? Apakah karena orang tua tidak punya uang? Apakah mereka sudah memiliki barang yang sama? Atau keinginan mereka saat ini bukanlah kebutuhan yang harus dibeli. Jika semua keinginan anak dipenuhi, kelak dampaknya tidak akan selalu baik.

Apabila dibiarkan, anak yang terbiasa dipenuhi keinginannya akan tumbuh menjadi anak yang boros dan tidak belajar tentang prioritas. Mereka jadi tidak bisa membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Anak juga kelak tidak mampu untuk mengendalikan keinginannya. Ketika dewasa, mereka bisa tumbuh menjadi seseorang yang tidak bisa merencanakan keuangan.  

Menurut buku Passing The True Wealth To Your Children, memberikan latihan untuk menunda keinginan adalah hal utama yang harus dilakukan agar anak memiliki gaya hidup yang sehat.  Psikolog Alzena Maskouri pun mengatakan idealnya anak diajarkan sejak dini bahwa tidak semua keinginannya dapat dipenuhi atau perlu menunggu. Dengan begitu anak bisa belajar mengontrol dan mengerem sifat konsumtifnya.

Bagaimana melatih agar anak tidak memiliki perilaku konsumtif?

  1. Berikan pemahaman : Beri penjelasan mengapa kita perlu memberi barang atau tidak? Kegunaanya apa? Jika anak mudah iri dengan barang yang dimiliki orang lain, ajarkan untuk selalu bersyukur dengan apa yang dimiliki.  
  2. Penegakan : Melatih disiplin, misalnya dengan menulis keperluan yang akan dibeli sebelumnya. Jika anak merengek, maka keinginannya tidak langsung dipenuhi orang tua.
  3. Evaluasi
  4. Berikan teladan : karena anak-anak akan melihat langsung dari perilaku orang tuanya. 

Orang tua tentu di awal-awal akan mengalami penentangan dari anak.  Tapi percayalah, bahwa yang dilakukan adalah untuk kebaikan mereka di masa depan. Sifat konsumtif sejak kecil kelak akan membuat anak menjadi manja dan lemah dalam meraih keinginannya. Kelak Ia akan tumbuh menjadi seseorang yang tidak menghargai uang dan tidak tahu tentang sulitnya bekerja keras. Oleh karena itu, orang tua bisa menahan sejenak keinginan anak dengan menyuruh mereka menabung terlebih dahulu misalnya.

Menjadi orang tua memang tidak harus selalu memberikan hal yang menyenangkan bagi anak.  Tugas orang tua adalah mendidik mereka.  Kelak ketika anak-anak dewasa, barulah mereka sadar tentang kebaikan yang berusaha ditanamkan oleh orang tua. Sebelum terlambat, lebih baik menunda keinginan mereka daripada menjadikan mereka menjadi seseorang yang konsumtif ketika dewasa.

.

.

Referensi:

https://keluarga.com/2699/mengajarkan-anak-tentang-perilaku-konsumtif
http://www.sahabatnestle.co.id/content/view/melatih-anak-agar-tidak-terlalu-konsumtif.html

.

.

#30DWC #Jilid9 #Squa9 #day8

Bekal untuk Calon Mamah Muda

Tidak terasa saya sudah memasuki 33 minggu usia kehamilan.  Sebagai calon Ibu, banyak sekali ilmu yang pastinya masih nol sekali. Tapi sepertinya kuncinya hanya bismillah. Ketika Allah memberikan amanah, insyaAllah tidak akan melebihi kapasitas kita.

Benar, calon Ibu itu harus punya bekal. Walaupun tetap nanti kita akan kelabakan dan perlu bantuan keluarga, tapi paling tidak kita sudah pernah membaca. Apa saja sih bekal yang diperlukan? Dua bulan menjelang persalinan inilah persiapan versi keluarga saya.
1. Persiapan finansial

Persoalan budget ini sangat penting. Pertama, konsultasikan dengan dokter atau bidan kondisi kehamilan kita. Apakah memungkinkan untuk bersalin secara normal? Pikirkan juga terkait kondisi penyakit bawaan yang dialami Ibu.  Atau apakah bayi kemungkinan lahir prematur dan memerlukan perawatan intensif? 

Selanjutnya,  kondisi keuangan keluarga kita mampu untuk di fasilitas kesehatan seperti apa? Kalau dicover asuransi atau dari kantor sih sudah lumayan tenang ya. Kalau tidak, coba hitung tabungan pribadi. Sebagai jaga-jaga buat segera kartu BPJS, aktifkan segera kartu BPJS untuk calon jabang bayi.  Sambil kita tetap calling-calling siapa tahu pihak orang tua bisa membantu.  Hehe.  Yang pasti utamakan keselamatan Ibu dan anak ya. Kalau masalah ingin bersalin di tempat yang lux, jika tidak sesuai budget, keinginannya bisa dikesampingkan dulu.

Buat daftar keperluan Ibu dan bayi. Agar mengurangi pengeluaran, kita bisa menunda beberapa kebutuhan seperti baju bayi lucu, stroller, car seat dan kebutuhan-kebutuhan nonprimer lainnya.

 
2. Daftar Kebutuhan Ibu & Bayi

Membuat daftar kebutuhan Ibu dan bayi ini sangat penting, karena kita bisa mengontrol keperluan dan juga budget. Walaupun Ibu atau mertua kita tidak terlalu care soal list ini, tapi kita bisa diam-diam membuatnya.  Bila ada sumbangan dari orang tua atau keluarga, cepat-cepat dicek apakah ada pada list keperluan kita? Kalau ada kan alhamdulillah bisa mengurangi beban ya.

Memenuhi kebutuhan bayi ini fleksibel ya. Sebaiknya dicicil karena banyak sekali yang diperlukan. Setelah itu kita bisa mulai menata keperluannya.  Misalnya lokasi tempat tidurnya, lemarinya. Dan yang penting adalah mencuci semua pakaian bayi supaya tidak bau pabrik.  Setelah mencuci dan menyetrika, kita bisa memasukannya ke dalam plastik untuk pakaian supaya tidak berdebu. Kita juga bisa mulai menata barang bawaan ke rumah sakit nanti.
3. Persiapan Menyusui

Ilmu tentang menyusui ini penting sekali, apalagi bagi Ibu yang akan bekerja ya. Tapi walaupun full time mom, penting juga mempelajari ilmunya supaya supply ASI tetap cukup memenuhi kebutuhan si kecil.  Saya banyak mendapat ilmu dari Buku Pintar Asi dan Menyusui karya Teh Monik. Saya juga memfollow [ instagram : asiku.banyak ]. 

Intinya kita perlu tahu ilmu tentang:

  • Menyusui bayi newborn
  • Pumping & nursing
  • Managemen laktasi
  • Managemen ASIP
  • Let Down Refleks (LDR)
  • Foremilk vs Hindmilk

Saya beri prolog supaya Ibu-Ibu semua semangat mencari ya. 😆
4. Persiapan Persalinan

  • Konsultasikan dengan dokter kandungan atau bidan yang menangani kita
  • Persiapkan persyaratan jika akan menggunakan kartu BPJS (apakah memerlukan rujukan dari fasilitas kesehatan primer?)
  • Siapkan bawaan Ibu dan bayi dalam satu tas.
  • Daftarkan diri kita apabila ingin bersalin di RS swasta (bisa daftar dulu atau tidak).
  • Daftarkan diri kita di rumah sakit bila kita perlu bersalin secara caesar terjadwal.
  • Perbanyak jalan kaki setiap hari untuk membantu penuruan kepala janin dan menguatkan fisik ibu.
  • Paparkan pada keluarga besar rencana persalinan kita. Bila suami kita sedang tidak bersama kita, pihak keluarga bisa menghandle.  

5. Persiapan Tambahan 

  • Setelah pulang ke rumah, di mana Ibu dan bayi akan tidur? Biasanya kalau di daerah selama beberapa hari Ibu dan Bayi tidur di ruang tengah karena akan banyak tetangga yang menjenguk.
  • Kondisikan dan jelaskan di mana ayah akan tidur? Haha. Karena pasti ayah akan tidak terperhatikan.  Jadi kita kondisikan pihak ayah dari awal.
  • Tentukan siapa yang akan mencuci pakaian baby? Karena jagoan kita masih sering pipis, eek, dan kentut berjackpot. Jadi cuciannya akan menumpuk.  Apakah ada keluarga yang mau membantu? Apakah ART di rumah kita siap?  Ataukah kita perlu tambahan tenaga?
  • Siapkan pakaian Ibu yang nyaman dipakai, nyaman untuk menyusui, tapi layak dilihat orang. Karena akan banyak tamu ke rumah. Jadi siapkan pakaian rumah yang sopan tapi tetap nyaman untuk Ibu menyusui.
  • Versi nene saya: siapakan seprai dan bedcover yang bagus.  Biasanya tamu suka intip-intip kamar.  Hehe. 
  • Sediakan aqua gelas dan snack kiloan atau biskuit untuk menjamu tamu yang datang. Supaya keluarga juga praktis. 

.

.

.

    Semoga apa yang saya share bisa bermanfaat ya moms to be. 😚
    #30DWC #Jilid9 #Squad9 #Day7

    Anak-Anak Bukan Hanya Perlu Pendidikan Akademis

    Orang tua saat ini nampaknya lebih banyak fokus pada pendidikan akademis. Entanlah, rasanya para dewasa muda kini banyak sekali yang tumbuh menjadi seseorang yang tidak memperdulikan perasaan orang lain. Yang mereka perdulikan adalah dirinya sendiri. Coba kita perhatikan! Berapa banyak orang yang menjadi korban perasaan? Berapa banyak orang yang merasa menjadi korban para pemberi harapan palsu?  Andai yang kita perdulikan bukan hanya urusan akademis.

    Masalah percintaan itu dianggap tabu untuk dibahas di dalam rumah. Padahal, kurangnya bekal bisa membuat anak-anak tumbuh menjadi seorang dewasa yang belajar dalam rimba. Andai saja orang tua tidak hanya marah ketika anak-anaknya mulai dekat dengan lawan jenis.  Andai saja orang tua mau lebih terbuka agar bisa menyentuh hati anak-anak.  Andai saja anak-anak tidak hanya diperintah untuk sekolah dan belajar. Kita lupa memberikan bekal dan tuntunan agar mereka menjadi orang yang peka, santun, bisa berbicara dengan baik, bisa menjadi orang yang menghargai diri sendiri dan orang lain.

    Andai saja anak-anak diajarkan untuk menghormati diri sendiri dan orang lain. Mungkin tidak akan banyak remaja dan dewasa muda yang berani memposting foto dan video semi telanjang di media sosial. Apalah yang bisa diandalkan dari bangku sekolah? Apakah kita berharap guru-guru dengan perbandingan siswa 1 : 40 itu sanggup membuat anak-anak jadi lebih bermoral? Anak-anak membutuhkan bimbingan orang tua lebih dari yang orang tua pikirkan. 

    .

     .

    .
    Dari calon orang tua, yang miris dengan berjamurnya kaum PHP dan tidak berperasaan di muka bumi.

    #30DWC #Jilid9 #Squad9 #Day5

    Stop, Buk! 

    Nak, Ibu sepertinya tidak bisa memintamu jadi anak yang sholeh.

    Bagaimana bisa kita meminta anak-anak menjadi penghapal Al-Quran, sedangkan kita sendiri tidak sedang menghapalkannya.  Bagaimana bisa kita menyuruh anak-anak shalat tepat waktu, sedangkan kita sendiri masih menunda shalat? Buk, anak adalah seorang peniru.  Anak adalah seorang pembangkang bila diberi perintah. Ia melihat dan meniru apapun perilakumu, Buk!

    Maka berhentilah sebelum terlambat! Berhentilah sekarang! Berhentilah untuk berharap anakmu jadi begini, jadi begitu! Jadilah apa yang ingin kamu petik dalam anakmu.

    Astagfirullah. Saya sendiri jungkir balik rasanya. Istiqamah itu sulittttt sekaliii. Ya, biarkanlah anak-anak tahu bahwa orang tuanya bukan orang tua yang suci, tapi tipe orang tua yang jungkir balik, berusaha untuk belajar dan mendekatkan diri pada Allah.  Biar saja anak-anak melihat setiap proses kita tertatih-tatih karena ternyata ingin jadi sholeh itu banyak sekali godaannya. Ajaklah anak-anak membersamai setiap proses yang “pedih”, semoga usaha ini akan Allah catat sebagai amal baik, dan akan mengumpulkan kita sekeluarga di SurgaNya. Amin..

    Maaf tidak bisa menjadi teladan yang baik untuk kamu, Nak. Tapi kamu mengerti kan? Kita akan sama-sama belajar dan jadi partner dalam beribadah. Setuju?

     .

    .

    .

    Indramayu, 26 Juli 2017

    Calon Ibukmu 

    Film 13 Reasons Why dan Kisah Nyata Keseharian

    Kisah yang ada di film 13 Reasons Why itu bukan cerita sepele. Kejadiannya terlihat seperti fenomena gunung es, seolah kecil padahal sangat besar di bawah. Film ini menceritakan tentang bullying yang terjadi pada anak SMA, sebut saja Ia Mawar. Mawar ini sering dibilang “slut” alias pelacur atau perempuan murahan oleh teman laki – lakinya di sekolah. Bukan hanya itu, Ia juga mengalami pelecehan seksual.

    leceh2

    Film ini mengingatkan masa lalu saya yang kelam ketika di sekolah dasar. Saat itu banyak dari kami yang mulai puber. Anak laki-laki mulai mengalami mimpi basah dan anak perempuan mulai mengalami menstruasi. Sedihnya, anak laki-laki di sekolah saya banyak yang menonton video porno di rumahnya, sehingga mereka sering melecehkan anak perempuan. Mereka menyentuh dada anak perempuan, jahil mengangkat rok anak perempuan agar celana dalamnya terlihat atau melorotkan celana olahraga anak perempuan. Bahkan salah satu teman saya berpura-pura memeragakan aktivitas seksual seolah sedang memperkosa.

    leceh1

    Saat itu saya adalah anak bodoh yang tidak bisa bicara. Saya juga tidak bisa menyalahkan guru-guru karena perilaku bobrok dimulai ketika orang tua melepaskan tanggung jawab mereka sepenuhnya kepada guru di sekolah, tanpa pengawasan. Bagaimana mungkin guru dengan gaji yang tidak seberapa mampu mengawasi 30 anak dalam kelas layaknya sekolah internasional?

    Sekarang ketika saya dewasa dan menjadi calon orang tua, saya merasa kasus bullying dan pelecehan seksual ini perlu menjadi perhatian. Sebagai orang tua kita perlu memberikan penjelasan kepada anak tentang apa yang tidak boleh dilakukan orang lain kepada mereka. Tubuh mereka tidak boleh sembarangan disentuh dan mereka tidak boleh dihina semena mena. Pun sebaliknya, saya harus mengajarkan agar anak saya kelak tidak menyentuh tubuh sensitif orang lain dan juga tidak boleh menghina teman- temannya.

    Brosur Seks edukasi 1

    Orang tua berperan sangat penting dalam pembentukan sikap dan mental anak. Seperti pada film 13 Reasons Why, ketika Mawar berusaha ingin berbicara mengenai masalahnya dengan orang tua, justru mereka sibuk dengan pekerjaannya tanpa memandang Mawar sedikitpun saat bicara. Karena tidak adanya dukungan, bahkan dari orang tuanya sendiri, akhirnya Mawar memutuskan untuk bunuh diri. Tragis memang.

    Mawar Mawar lain di Indonesia pun tentu banyak. Mungkin ada yang akhirnya memutuskan untuk putus sekolah karena merasa sekolah bukan tempat yang nyaman, seperti salah satu teman SD saya. Bisa jadi banyak juga yang mencari pelarian hingga akhirnya benar-benar melakukan perilaku menyimpang, seperti menjual kelaminnya sendiri. Sebelum terlambat, mari kita lebih aware terhadap anak kita. Sekolah itu bukan tempat kita melempar kewajiban. Sekolah hanya salah satu fasilitas yang membantu pendidikan. Tetapi selebihnya pendidikan anak adalah kewajiban dari orang tua.