Sisi Lain, Cerita Manten Baru 

Namanya Badai, Ia bergulung, bergemuruh, memorakporandakan apapun yang di depannya.

Menikah itu mudah, yang tidak mudah adalah menjalankannya. Menikah itu adalah seni, tidak ada cara yang pasti, tidak ada yang mutlak benar atau salah. 

Baru dua minggu menjadi seorang istri, tapi banyak sekali nikmat yang terasa. Setelah  memiliki pasangan yang sah, hal kecil saja tidak disangka membuat saya begitu bahagia.Kali ini saya tidak ingin bercerita mengenai euforia pasangan baru, tapi mengenai sisi lain yang perlu direnungkan.

Membersamaimu di jalan Allah

1. Banyak Jalan Menuju Surga, Banyak Jalan Menjadi Bahagia

Menikah itu menyempurnakan separuh agama. Separuh itu bukan hal yang sedikit. Maka dari itu proses sebelum dan pada saat pelaksanaannya penuh ujian. Namun, setelah menikah, banyak pintu pahala dibuka. Termasuk ketika suami memberikan candaan pada istrinya atau ketika istrinya melayani suaminya.

Banyak jalan menuju surga, banyak jalan untuk bahagia. Saya tidak menyangka bahwa begitu nikmat bisa memasak untuk suami, mencuci atau menyetrika pakaiannya. Ada kepuasan yang tidak bisa dibayar dengan uang. Melihat suami rapih, bersih, tampan, dan perutnya sudah kenyang itu membuat saya tenang dan merasa bahagia. Sebelum menikah saya tidak tahu bahwa pekerjaan domestik bisa terasa sangat menyenangkan. 

2.  Membersamai di Jalan Allah

Setelah menikah tentu ada euforia, tapi awas jangan terlena! Ingatlah bahwa godaan setelah menikah akan lebih hebat dari biasanya. Maka dari itu, usaha yang dilakukan juga harus ekstra. Segera setelah segala euforia, cepat-cepatlah beristigfar karena ujian yang sebenarnya baru saja dimulai. 

Kita menikah itu bukan untuk jadi loyo dalam beribadah.

Beberapa hari setelah menikah, saya dan suami mulai bebenah. Kami mulai memperbaiki dan meningkatkan amalan yaumi. Kami saling mengingatkan dan saling memotivasi agar semangat dalam beribadah. Setelah menikah memang rasanya hari menjadi lebih tenang. Ada banyak ego yang digantikan dengan ketenangan, sehingga hati menjadi lebih fokus untuk beribadah. 

3. Kacamata Tak Kasat Mata

Saat memutuskan untuk berumah tangga, ada banyak ego yang harus dilunturkan. Menikah itu mengasah kepekaan. Kali ini kita tidak bisa lagi egois memikirkan diri sendiri. Ada banyak perasaan yang harus diperhatikan, ada suami, mertua, orang tua, dua keluarga besar, semua perlu diperhatikan.

Saatnya melatih husnuzon dan saatnya berbuat baik pada semua orang. Karena menikah itu menyatukan silaturahmi dua keluarga. Kita bukan hanya harus bijak, tapi harus bijak-bijak. Tidak semua hal harus diutarakan, tidak semua hal harus diceritakan lagi pada orang lain. 

4. Seni, Sabar, dan Syukur

Menjalankan pernikahan itu banyak seninya. Setiap hari kita belajar untuk mengenal pasangan dan juga untuk selalu memperbaiki diri. Banyak yang harus dipahami dan dimengerti. Hal menyebalkan dan hal yang sebenarnya lucu itu beda tipis, tergantung bijaknya kita meletakkan sudut pandang. Niatkan untuk ikhlas melakukan apapun, karena semua bisa bernilai ibadah. 

Menikah itu seni, dinamis, dan memerlukan pemikiran yang fleksibel. Menjalankannya tidak boleh saklek dan membuat bengkok pasangan. Ikuti kepribadian pasangan, cara kerja pasangan, yang penting kita punya tujuan yang sama, yaitu meraih ridha Allah S. W. T. Bisa dibayangkan jika A harus A, hal kecil saja bisa jadi konflik. Tapi syukurlah saya dan suami merusaha secepat mungkin beradaptasi, agar kami bisa sama-sama bergerak bersama menuju kebaikan. 

Hati harus selalu dibersihkan dan diisi dengan banyak dzikir. Akan ada banyak konflik kecil, bisa dari perbedaan dengan pasangan atau perbedaan antara orang tua dan mertua. Makanya kita harus selalu bersabar, karena ini hanyalah ujian karena kita ingin menanam buah yang manis.

Sabar ketika berpisah dengan suami, sabar ketika menanti hadirnya buah hati, dan sabar-sabar lainnya kini hadir menghadirkan kedekatan yang lebih dengan Allah yang Maha Kuasa. Saat sehabis shalat, atau ketika hujan, rasanya nikmat Allah begitu dekat, nikmat untuk bisa berdoa dan mendekat denganNya. Inilah yang membuat kita harus banyak bersyukur. Bisa lebih dekat dengan Allah, punya temen seperjuangan untuk beribadah, maka nikmat Allah manakah yang engkau dustakan? (QS 55:13)

Belum banyak yang bisa saya ceritakan. Tapi pernikahan ini sangat saya syukuri. Kesabaran dalam penantian ternyata membuahkan hasil yang manis. Punya pasangan yang satu frekuensi dalam beribadah dan punya gairah meningkatkan amalan yang sama itu bagi saya adalah nikmat Allah yang luar biasa. Alhamdulillah..

Semangat bagi yang belum menikah, semoga disegerakan. Isilah hari-hari dengan amalan dan doa, karena Allah kelak akan mempertemukan kita dengan seseorang yang tepat, di waktu yang tepat. Bersiaplah dengan bebenah agar bisa menyambutnya.
Berjuanglah karena perjalanan masih sangat panjang. Semoga kita bisa terus menyalakan letup-letup semangat. Semoga Allah selalu membawa keberkahan dalam setiap detik perjalanan rumah tangga kita.
 Amin.. 

.

.

.

Dari seorang istri, yang sedang belajar menjadi istri sholehah untuk suaminya.

Lembang, 23 Januari 2017