Ada Saat Kita Akan Berdiri

Aku berusaha menjaga tubuh agar tetap berdiri.  Aksa sudah gila apa? Pertanyaannya betul-betul to the point. Cepat-cepat aku ke toilet sambil menahan agar Ia tidak melihat pipiku yang mulai memerah.

Kami berjalan menuju meja kami tanpa sepatah katapun.  Rasanya betul-betul awkward, tapi jujur aku senang. Selesai makan, aku dan keluargaku memutuskan untuk pulang lebih dulu. Ayah berjalan di depan ditemani oleh Aksa.  Entah apa yang mereka bicarakan? Ayah menepuk-nepuk bahu Aksa, tampak air mukanya begitu senang.  Aksa mencium tangan Ayah sebelum Ayah masuk ke dalam mobil..

“Sampai ketemu ya, Fira!” Kata Aksa sambil memamerkan senyum menawannya. Ia pun mencium tangan Ibu. Berasa calon mantu saja.  

Di mobil Ayah dan Ibu hanya cengengesan. “Maaf Pak Bu, ada apa ya?” Tanyaku menyelidik.  Begitulah jika pasangan sudah memiliki chemistry.  Mereka bisa berbicara melalui tatapan ataupun bahasa tubuh saja.

“Pilihan Ayah Oke kan, Bu?” Tanya Ayah sambil mengedipkan mata pada Ibu. Ya ampun, jangan-jangan hari ini memang sudah diagendakan. Ya Allah Ayah!!

“Habisnya susah sekali mau mengenalkan kamu dengan Aksa.  Dia itu murid kesayangan Ayah. Sebelum dia course sering operasi bareng Ayah itu.” Jawab Ayah. “Coba saja dulu Fira. Feeling Ayah dia akan cocok dengan kamu.” Sambung Ayah.

Apakah aku dan Aksa ditakdirkan untuk berjodoh? Perkenalan kami begitu cepat. Apakah jodoh berkaitan dengan lamanya waktu saling mengenal? Rasanya aku ragu. Bertahun-tahun hubunganku dengan Adi saja bisa berakhir.

***

Tidak lama setelah perkenalan kami di Cafe, ada seseorang yang sedang berdiri di depan pintu.  Aku baru saja pulang dari klinik.  Oh my! Itu kan Aksa.  What should I call him by the way? Pastinya Ia jauh lebih tua, kan?  

“Assalamualaikum Fira. Baru aku mau mencet bel.” Katanya.  

“Waalaikumsalam, Ka.  Ayo masuk!” Ajakku.

“Ka banget nih? Panggil Mas aja!” Jawabnya sambil garuk-garuk kepala. Ketombean, Mas? 

“Oh, Mas Aksa orang Jawa ternyata.” Kataku basa-basi.  Tidak tahu apa yang harus aku bicarakan.

“Iya aku orang Jawa. Ibu ada Fir? Malu kalau berkunjung enggak izin dengan yang punya rumah.” Katanya sopan.  Waw! Pantas saja Ayah bilang Aksa orangnya berbeda. 

“Sebentar ya, Mas. Aku panggil Ibu dulu.” Kataku sambil mencari Ibu di belakang. 

Rasanya jantung mau lepas dari tubuh. Orang ganteng dan sopan ada di rumahmu Fira!! Mimpi apa kamu semalam? Kamu masih sanggup berdiri kan, Fir? Rasanya ingin berteriak saking tidak percayanya.

Terburu-buru aku mencari Ibu. Aku berlari memeluknya. “Ada Mas Aksa, Bu! Ganteng!” Ibu tersenyum sambil geleng-geleng kepala.

Tidak selamanya kita jatuh. Akan ada saatnya seseorang mengajak kita berdiri dan membimbing kita berjalan perlahan. Jika ini adalah takdir, mudahkan ikhtiar kami ya Allah! 

.

.

.

#30DWC #Jilid9 #Squad9 #Day26

Advertisements

Jatuh Bebas

Tiga hari akhirnya aku beristirahat di rumah sakit. Dua bulan setelahnya aku menyibukkan diri dengan praktek klinik maupun aktivitas sosial. Tanpa disadari, rasa sakit dan semua perasaanku pada Adi pun berlalu.  

Brunch yuk, sambil ngobrol santai.” Kata Ayah sambil memandangi Ibu.  Cara beliau memandangi Ibu, membuatku ingin sekali bisa memiliki suami seperti Ayah. Acara makan di luar adalah salah satu cara Ayah untuk menebus kesibukannya.  

Kami pun makan di sebuah cafe di daerah Dago.  Saat memanggil pelayan, pandanganku terfokus pada pemandangan di sebrangku. Terlihat seorang laki-laki berkacamata tengah sibuk mengibas-ngibas pakaiannya yang basah. Sepertinya pelayan tidak sengaja menumpahkan pesanannya.  

Tampak laki-laki itu tidak marah sama sekali. Berkali-kali pelayan itu meminta maaf, Ia tersenyum tidak mempermasalahkan. Kebaikan hati seseorang bisa terlihat ketika ada hal yang menyebalkan seperti ini.

Ada berbagai jenis jatuh. Ada jatuh apes seperti kandasnya cintaku. Ada jatuh sakit. Ada jatuh hati seperti Ayah pada Ibu dan Ibu pada Ayah.  Kalau ini apa namanya ya? Rasanya seperti turun ke bawah, meluncur dengan cepat karena gravitasi bumi.

Sosok disebrangku menangkap mataku yang sedang kagum melihatnya. Seketika pandangannya bergeser pada Ayah. Ia mengangguk kemudian mendekat ke arah kami. Mampus! “Assalamualaikum, Prof! Eh Ibu.  Damang, Prof?” Tanyanya santun.

“Kamu lama ga kelihatan, sudah beres coursenya?” Tanya Ayah. Ehm.. Mungkin Ia murid Ayah dulu semasa residensi.

“Alhamdulillah sudah Prof. Sekarang saya biasa keliling lagi kejar setoran. Hehe.” Jawabnya sambil tersenyum memamerkan giginya yang rapih.

“Kamu sama siapa ke sini? Gabung saja sini!” Ajak Ayah. 

“Aduh, malu atuh Prof.  Saya kebetulan sama orang tua.” Jawabnya. Tapi karena Ayah memaksa, akhirnya Ia memanggil keluarganya untuk duduk bersama kami. Ayahku dan Ibuku berkenalan dengan orang tuanya.  Ini siapa sih by the way? 

“Ini loh Fira, murid Ayah yang sudah lama mau Ayah kenalkan itu.” Kata Ayah. Laki-laki disebelahku menggangguk, tersenyum.

Ya ampun! Ini kan yang dulu aku kihat di kedai kopi.  Kok bisa?? Ah!!! Pantas saja potongan rambutnya kali ini beda. Sumpah kalau dari dekat gini makin ganteng! 

“Kenalkan saya, Aksa.” Ia memperkenalkan dirinya.  Ketika aku hendak mengulurkan tangannya untuk bersalaman, Ia menahan kedua tangannya di dada.  Oh bukan muhrim. 

“Saya Fira.” Kataku. 

“Iya tahu kok. Prof sudah sering cerita. Saya juga sering lihat foto kamu di instagram. Eh! ” Sepertinya Ia sedang keceplosan. Ia menutup mulutnya. Aku menahan tawa. 

“Sepertinya kalian cocok ya. Bagaimana kalau dijadikan saja? Hahaha.” Canda Ayah.  Orang tua Aksa pun ikut tertawa. 

Aksa menjatuhkan garpunya ke lantai karena grogi. Tidak sanggup menahan malu aku pun izin ke toilet. Saking salah tingkahnya aku menginjak rokku sampai terjatuh. Ayah dan Ibu semakin tertawa, begitu pun dengan orang tua Aksa. 

Aku pun dengan cepat berusaha bangkit. Syukurlah posisi jatuhnya tidak terlalu memalukan. Ayah dengan lebay meminta Aksa mengantarku sampai depan toilet. Sesampainya di depan pintu Ia tiba-tiba bertanya, “Fira, kalau kita mencoba untuk lebih saling mengenal, mau?” Tanyanya pelan, tanpa basa-basi. 

Ya Allah, tolong! Rasanya seperti jatuh bebas! Apa ini?? 

.

.

.

#30DWC #Jilid9 #Squad9 #Day24

Berhari-hari Setelah Badai 

Akhirnya Aku pun tumbang.

Setelah beberapa hari tidak makan, gastritisku pun kambuh. Semua makanan dan minuman yang masuk pun kembali ke luar dengan sukarela.  Ibu begitu khawatir, Ayah hanya geleng-geleng saja. Kata Ayah, luka itu harus dibiarkan mengering sendiri. Walau berarti berhari-hari aku menanggung kepedihan.

Badanku rasanya sangat lemas, kepala pun terasa berat. Shit! Sepertinya aku dehidrasi. Ayah akhirnya memasang infus dan menyuntikkan obat nyeri lambung. Terpaksa aku pun disuntik glukosa karena badanku menolak semua nutrisi yang masuk.

“Sabar ya, Kak!” Ibu mengelus-elus rambutku. Air mataku sudah habis, yanh tersisa hanya wajah sembab dan mata super bengkak.

“Bu aku mau bubur Pa Umar dong!” Aku mencoba menghibur diri. Barangkali bubur Pa Umar yang tidak buka cabang itu bisa sedikit menenangkan perasaan.

“Besok pagi Ibu belikan pakai gojek ya. Sekarang kamu makan biskuit dulu atau minum susu ya.” Jawab Ibu.

“Bu aku izin pengen sendiri dulu di kamar ya.” Pintaku.  Ibu mengangguk, mengerti dengan kebutuhanku.

Tidak lama air mata pun mengalir. Aku tidak dapat menahan perasaanku lagi. Aku pun berteriak, marah pada diri sendiri. Kenapa selama ini aku bersikap bodoh? Kenapa mau saja dibodohi? Kenapa terlalu polos?

Aku ingat cerita Ibu, bahwa orang baik akan ditakdirkan bersama orang baik. Semoga saja benar ya, Bu! Aku ingin membuang semua barang kenangan yang diberikan Adi. Tapi badanku terlalu lemas. Adi hanya memanfaatkan Aku. Supaya dia bisa masuk residensi bedah, brengsek! Mentang-mentang Ayahku kepala departemen.

Syukurlah Ayah adalah orang yang baik. Ia sebenarnya bisa saja membuat Adi keluar dari residensi. Tapi Ayah menganggap bahwa memang takdir sedang membuka jawabannya.  Adi memang bukan yang terbaik. Begitulah Allah membukakan semua. Mungkin bila aku sudah terlanjur dinikahi Adi, Ayah lah orang yang akan paling merasa bersalah.

Ya Allah! Mungkin ini balasan atas kebaikan kedua orang tuaku. Alhamdulillah.. Alhamdulillaah.. 

Ingin aku memaki-maki Adi, tapi Hp disita oleh Ibu. Ternyata Ibu masih menunggu di depan pintu. “Sini, Bu masuk! Delivery kan bakmi GM dong, Bu! Aku lapar!” Ibu terlihat seperti menarik nafas lega. Jika aku sudah kembali ingin makanan ini itu, setidaknya aku sudah mulai membaik.

Aku pun memesan bakmi spesial GM dan pangsit goreng dua porsi. Ibu pun ikut memesan bakmi goreng dan ifumi untuk Ayah. Kami akhirnya memesan via gojek. Bodo amat Adi! Kampret selama ini nyuruh gue kurus! Gue mau makan bakmi. Hidup bakmi!! 

Pesanan Bakmi pun datang, bersamaan dengan datangnya Ayah sepulang praktek. “Ada orang sakit pesan bakmi. Weleh-weleh!” Ayah pun geleng-geleng sambil membayar tagihan bakmi di depan rumah. Kami pun makan bersama di kamar.

Tidak ada lagi harapan mengenai Adi. Kini yang ada hanya aku dan masa depan yang layak diperjuangkan.  Melihat orang tua ku yang begitu baik, rasanya tak tega jika aku terus menerus bersedih. Aku pun segera memakan habis makananku.

Aku dan Ibu pun makan sambil tertawa terbahak-bahak karena lelucon Ayah. Tanpa sadar tiba-tiba pandanganku kabur. Yang kulihat semua mulai menghitam.  Hanya ada suara dengung yang memekakkan telinga. Aku pun tidak ingat apa-apa lagi.

.

.

.

.

#30DWC #Jilid9 #Squad9 #Day11

Jodoh, Kopi, dan Patah Hati

Patah hati itu seperti kopi, lama-lama kita tidak lagi merasakan pahitnya.

Sore itu aku mampir ke kedai kopi di Jalan Cemara. Suara rintik hujan ditemani alunan lagu Payung Teduh menambah hangat Bandung yang akhir-akhir jni dingin. Aku memesan Cappucino, martabak mie, pisang goreng dan Kopi Preanger tubruk. Aa barista menggodaku, “ga kebanyakan teh mesennya?” Katanya sambil mencatat pesananku.

“Ga sekaligus juga kali. Nanti pisgor sama kopi tubruknya sejaman lagi aja ya.” Jawabku sambil terkekeh. Akupun memilih bangku di dekat jendela yang menghadap ke jalan. Hujannya syedap!!

Ingin kutulis pesan di Whatsapp, ‘lagi apa Di? Aku lagi ngopi loh di tempat kesukaan kita’.  Ah Kita apa? Kita hanya dua manusia yang pernah saling menyimpan rasa, lalu saling membakar satu sama lain.

Cappucino dan martabak mie pun datang. Alhamdulillah, pas lagi lapar.

Tidak bisa dipungkiri, memang inilah takdir yang Allah tuliskan. Meski aku berulang kali bertanya, mengapa? Tapi semua sudah terjadi. Dan maaf barangkali bukan jalan pembuka untuk kita bersama. Betapa bodohnya selama ini aku percaya?

Entah mengapa malam itu aku mendadak ingin makan nasi goreng di segitiga Eyckman? Lalu dari jarak yang cukup dekat aku melihatmu merangkul dan menyuapi seorang residen yang menurutku cantik. ‘Oh, jadi ini alasan selama ini kamu bilang aku tidak pengertian?’ Ayahku pun menyaksikanmu. Tidak ada lagi penjelasan yang diperlukan olehku dan juga keluargaku.

Dikhianati di depan orang tua sendiri itu sungguh memalukan. Aku hanya bisa menangis. Ayah memelukku lalu membawaku pergi. Kamu pun melihat kami berlalu tanpa sempat berkata apapun. “Sabar ya, Kak! Nanti sebaiknya dibicarakan kalau emosinya sudah reda.” Kata Ayah dengan tenang. Harusnya aku nurut apa kata Ayah.

Martabak dan cappucino ku sudah habis. Aku pun segera ke dalam untuk minta dibuatkan pisang goreng dan kopi tubruk yang tadi kupesan. Mataku malah teralihkan oleh sosok berkaca mata yang baru saja mengambil wudhu. Buset, baru setengah enam.  Nampaknya Babang kaca mata bersiap-siap agar bisa langsung shalat ketika waktu magrib tiba. Ademnyaa..  :”

Tanpa sadar aku pun senyum-senyum sendiri sambil kembali ke mejaku. Barangkali memang kita harus mengakhiri hubungan dengan seseorang karena Allah telah menyimpan takdir yang indah untuk kita. Amin..  Aku pun segera mengirim WA untuk Ayah. “Yah, ada cowok ganteng banget kaca mata ih. Kakak ngeliat di kedai kopi.  Masa sebelum adzan udah siap-siap shalat Yah! Kyaaa..”

“Ganteng mana sama ini?” Ayahpun mengirimkan foto seorang pria. Dan ternyata pria itu adalah orang yang sama dengan yang aku lihat di kedai kopi. 

“Itu sih orangnya sama Yah!!  Kenalinnn!!!” Aku pun heboh sendiri.

“Ya kan dari jaman kapan juga udah mau Ayah kenalin. Gimana sih. Hehehe.” Jawab Ayah.

Patah hati memang seperti kopi. Lama-lama kita tidak lagi merasakan pahitnya. Aku pun segera meneguk kopi hitam Preanger yang josss. Semoga kali ini jodoh ya.  Ayah, aku padamu!
.

.

.

.

#30DWC #Jilid9 #Squad9 #Day8

Untuk Masa Lalu

Hari ini aku mengunjungi Adi, mungkin untuk yang terakhir kalinya. Seperti biasa aku membawakannya bekal makan siang. Kami janjian bertemu di Lobby. Angkutan umum yang kunaiki ternyata mengetem berjuta kali hingga aku telat. Adi sudah menunggu di sofa lobby sembari memejamkan mata. Aku mendekat, “Adi!” Sapaku. Ia terbangun, sedikit kaget akan kehadiranku. “Yuk ke atas!” Ajak Adi.  Kami pun naik lift menuju lantai 5 gedung. 

Di teras lantai 5, terdapat kursi dan meja yang bisa digunakan untuk duduk-duduk atau berdiskusi.  Aku pun mengeluarkan bekal untuk kami makan. “Tadi aku masak buat kita makan siang. Kamu sudah makan?” Tanyaku. Adi menggeleng. Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan Adi, Ia terlalu sibuk dengan urusan residensinya. Aku memutuskan untuk tidak mengganggunya. Kami terlalu sering bertengkar karena sama-sama tidak saling mengerti. Kami pun selesai makan. Ia tersenyum memandangiku. Hatiku kecut.

Aku mengeluarkan sebuah undangan dari dalam tas. Tertulis nama kecilku dan nama seseorang di depannya. “Kenapa ga pernah cerita?” Adi bertanya sinis. Ia menutup kotak bekal makanan. Adi menelan ludah. Tampak matanya berkaca-kaca. “Aku udah lama pengen cerita, tapi aku takut ganggu sekolah kamu. Kita dari dulu memang ga pernah bisa cocok, Di.” Aku mencoba menjelaskan. Adi mengambil undangan yang berada di tanganku.

“Kenapa harus secepat ini sih Fir? Kenapa tiba-tiba?” Adi terlihat begitu kecewa namun menahan emosinya.

“Karena kita ga pernah tahu, kapan kodoh akan datang? Aku ga bisa nunggu kamu. Harus berapa lama lagi? Umurku sudah 27 tahun.  Kamu baru lulus 2 tahun lagi.” Jawabku. Ku tahan agar tidak menangis. Aku memang tidak menduga akan bertemu dengan Mas Seno.  Baru dua bulan aku dikenalkan oleh Papih, tapi rasanya kami menemukan banyak kecocokan. Hampir 8 bulan aku dan Adi memutuskan untuk berjalan masing-masing. Adi dan profesinya adalah satu yang tidak bisa aku ganggu.

“Aku pamit ya, Di. Semoga lancar sekolahnya, cepet lulus.” Kataku sembari membereskan bekal makanan kami.

Aku pun akhirnya ke luar gedung untuk menemui Mas Seno yang sudah menunggu di Lobby.  

.

.

.

#30DWC #Jilid9 #Squad9 #Day6

Dicari Calon Istri : Yang Penting Cantik!

Saya akhirnya menyerah mencarikan calon untuk Baba. Akhirnya setelah berulang kali mencarikan calon istri untuk Baba, Ia tidak terlalu merespon. Intinya, calon yang saya tunjukkan kurang memenuhi kriteria Baba secara fisik.  Saya pikir, Ok lah! Fisik Baba juga lumayan. Pekerjaan Baba juga bergengsi, pastinya Ia ingin pasangan yang Ok dan membanggakan untuk diajak bertemu dengan rekan kerjanya. Ini adalah sudut pandang saya sebagai makelar yang gagal.

Setelah menikah, akhirnya saya belajar pandangan laki-laki dari cerita suami. Ia berulang kali mencoba mencarikan calon istri untuk teman-temannya.  Ternyata Fulan menolak fulanah karena alasan fisik, katanya kurang cantik. Penampilannya kurang memenuhi kriteria. Saya bergumam dalam hati, ‘sok ganteng banget!’ Jujur menurut saya Fulan jauh dari ganteng. Tapi maunya selangit! Alamak!!!

Bukan hanya Fulan, ada lagi contoh kasus seorang Adam. Ia akan dikenalkan pada Hawa, akhwat anggun, cantik, akademisi, dan berprestasi. Ia begitu sopan dan menjaga dirinya dengan baik, sehingga seniornya pun begitu segan mendekatinya. Tapi apa kata Adam? Lagi-lagi alasannya karena penampilan yang kurang menarik.

Menurut Dr Paul Dobransky, seorang pakar hubungan asmara, pada lima menit pertama seorang pria akan menilai penampilan wanita dari ujung rambut hingga ujung kaki. Waktu itulah yang menentukan apakah pria tersebut terkesan atau tidak? Bondan Seno Prasetyadi, seorang psikolog, mengatakan, “Kaum adam memang makhluk visual yang tertarik dengan lawan jenisnya melalui atribut physically baru memutuskan untuk membina suatu hubungan.” Katanya saat diwawancara oleh Okezone.

Tidak dapat dipungkiri bahwa laki-laki adalah makhluk visual.  Bahkan hal ini dibahas pada bab paling pertama buku Wonderful Wife karya Pak Cah. Katanya, salah satu karakter istri shalihah menurut Nabi S.A.W adalah menyenangkan apabila dipandang.  Sebagaimana Nabi S.A.W bersabda, “Maukah aku beri tahukan kepada kalian tentang sebaik-baik harta pusaka seseorang? Yaitu wanita salihah, yang menyenangkan jika dipandang, menaati jika diperintah suami, dan bisa menjaga (harta dan kehormatan)  jika ditinggal pergi.” (HR. An-Nasa’i dan Imam Ahmad,  Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadist ini hasan sahih).  

Pak Cah dalam bukunya mengatakan bahwa tabiat umum laki-laki adalah tergoda dengan apa yang dilihat. Menurut Pak Cah, pandangan memang sesuatu yang penting bagi laki-laki.  Sabda Rasulullah pun seolah mengatakan bahwa memang fitrah laki-laki adalah menyukai apa yang menyenangkan pandangan matanya. Berbagai penelitianpun menunjukkan bahwa saat menilai perempuan, laki-laki sangat dipengaruhi oleh indra penglihatannya. Misalnya saja penelitian Sarah Gervais, asisten profesor psikologi di Universitas Nebraska-Lincoln, laki-laki secara otomatis akan memperhatikan wajah perempuan dan beralih ke bagian dada dan pinggang. Tim peneliti dari Universitas Tokyo pun mengungkapkan, saat laki-laki menatap mata seorang perempuan dalam waktu lama, menandakan ketertarikan yang mendalam. 

Baiklah, kaum hawa harus mengerti bahwa kaum adam memang makhluk visual dengan fitrah menyukai apa yang menyenangkan pandangan. Bila perempuan sedang mencari pasangan, bukan berarti Ia menjadi tabaruj lalu berdandan dan menunjukkan kecantikannya.  Paling tidak perhatikanlah penampilan. Kenakan pakaian yang indah, Rasulullah pun menyukai pakaian yang indah kan.  

Pernak-pernik menjaga penampilan bagi muslimah ada di buku Salon Kepribadian karya Mbak Asma Nadia, ada beberapa hal remeh yang menggangu diantaranya:

1. Waspada Bau Keringat

Gantilah jilbab, jangan gunakan side A side B.  Ganti juga pakaian, jangan kenakan pakaian yang sama untuk dua hari. Gunakan juga deodorant. Dan mandilah sehari dua kali.  Jangan lupa bawa pakaian ekstra bila kita mudah berkeringat atau ada kegiatan tambahan.  

2. Hindari bau mulut

3. Perawatan rambut

Walaupun kita mengenakan jilbab, bukan berarti kita tidak merawat rambut. Keramaslah dengan rutin, gunakan conditioner. Setelah keramas juga lebih baik menggunakain hair tonik.  Jangan lupa untuk mengeringkan rambut sebelum menggunakan jilbab. 

Oh iya, muslimah juga sering skip menyisir rambut.  Hehee. Tahu-tahu wajah cantik pas dibuka rambut sudah gimbal.  Jangan pelit juga untuk melakukan perawatan ekstra ke salon untuk creambath atau masker rambut.

4. Kebersihan tangan 

Bawa sabun cair untuk membersihkan tangan ssbelum dan setelah makan. Bisa juga membawa tissue basah atau hand sanitizer. 

5. Menjaga bau-bau lain

Menjaga etika ketika buang angin.  Paling tidak kita cepat-cepat ke luar ruangan. Muslimah juga jangan lupa untuk sering mengganti kaus kaki.

Saya pun mencoba memahami apa kekurangan dari wanita-wanita yang akhirnya ditolak oleh Baba dan Fulan. Sebenarnya aslinya wanita-wanita tersebut cantik.  Hanya mungkin penampilannya tidak semenarik wanita-wanita di fakultas sebelah.

Mbak Asma Nadia bilang, sebenarnya banyak sekali muslimah yang cantik, tapi terlihat kurang Ok di mata.  Masalahnya menurut Mbak Asma, banyak sekali muslimah yang tidak perduli dengan penampilan, wajah kusam berjerawat, baju tabrak warna, mode yang out of date. Nampaknya pembahasan penampilan ini perlu dibuat satu tulisan khusus ya karena banyak aspek yang ternyata perlu dibahas.

Menjaga penampilan ini adalah salah satu bentuk ikhtiar ladies dalam menjemput jodoh loh ya.  Karena memang ternyata fitrah kaum adam itu menyukai apa yang indah dipandang mata. Namun begitu, tetaplah kecantikan fisik harus disertai dengan kecantikan akhlak dan kesholehan.

Wanita pun tidak perlu khawatir tidak akan mendapatkan pasangan. Karena menurut Pak Bonda Seno Prasetyadi, cara pandang pria akan lawan jenis akan berubah seiring kematangan usia. Saat pria semakin matang, biasanya mereka akan semakin bijaksana memandang sesuatu.

Paling tidak, pengetahuan kita sekarang bertambah. Bawah memang fitrah laki-laki menyukai seorang perempuan secara fisik. Bukannya mereka mata buaya, memang seperti itulah Allah menciptakan kaum adam. Pentingnya menyukai penampilan fisik ini bahkan dianjurkan oleh Rasulullah.  Apakah kita cenderung dan menyukai fisiknya? Ini berlaku bukan hanya untuk laki-laki, tapi juga untuk perempuan ketika memilih pasangan. Tapi kembali lagi, Allah lah yang membolak-balikkan hati. Allah lah yang mengatur kepada siapa cinta akan jatuh?  
.

.

.

Sumber foto: i.dailymail.co.uk/i/pix/2014/09/16/article-2757559-216813C200000578-841_634x882.jpg

Referensi:

1. Http://m.vemale.com/amp/love/15967-pria-tidak-peduli-inner-beauty-yang-penting-cantik.html

2. Buku Wonderful Wife – Cahyadi Takariawan

3. Buku Salon Kepribadian – Asma Nadia 
.

.

.

.

#30DWC #Jilid9 #Squad9 #Day2

Menyikapi Kehilangan

Kehilangan seseorang itu begitu menakutkan. Apalagi kenangannya yang selalu membayangi. Berulang kali kehilangan membuat saya belajar, bahwa jatuh itu memang sakit. Tapi bangkit lagi itu harga mati. Seperti yang Butet bilang, “You have to make a better life for your future children. Live your life as good as your mother always does.”

I’m scared to death, really. Tapi ada lagu yang menurut saya membuat saya agak bijak menyikapi kemungkinan kehilangan. Jadi, lagu ini saya dengarkan tepat setelah kemarin saya curhat. Saya merasa jauh lebih baik setelah didengarkan. Betapa saya merasa bahagia dan berterima kasih dengan kehadiran orang yang menyayangi saya. Mirip lagu Bill Withers – Lovely Day , Then I look at you, and the world’s alright with me. But what if we lose someone we used to talk with?

Then I look at you
And the world’s alright with me
Just one look at you
And I know it’s gonna be
A lovely day

Bill Withers – Lovely Day

Kehilangan memang menyedihkan. Tapi bukan berarti kehilangan membuat kita lalai dan menjadi orang yang lebih buruk dari hari kemarin. Simpan yang baik – baik saja di hati kita. Ketika kita kehilangan seseorang, cobalah jadikan kebaikan – kebaikan yang pernah ditanamkan sebagai bekal semangat di kehidupannya ke depannya. Jadi nanti kalimatnya diganti, “Then I remember you, and the world’s alright with me. And I know it’s gonna be a lovely day.”

Hey, awalnya baru mau dimulai. Kenapa udah drama?

Ps: I would live well.. I promise. ❤ 

 

Bayang Rasa

Bayangkan, pikirkan, kemudian coba rasakan.

Pernah ga sih kamu membayangkan atau paling tidak memikirkan apakah pasangan kamu adalah kelabu seperti yang kamu lihat?

Saat kamu melihat seorang anak kecil berlari, apakah kamu tahu berapa kali Ia pernah jatuh?

Saat seorang anak kecil tertawa, tahukah kamu berapa kali orang tuanya mencoba membuatnya tertawa saat Ia menangis?

Saat seseorang bertemu denganmu, tertawa, dan menjadi dirinya yang terbaik, tahukah betapa banyak ego yang Ia lunturkan, ketakutan yang Ia coba sembunyikan?

Jatuh itu takdir, dan kembali bangkit adalah pilihan. Seseorang yang sering jatuh akan lebih banyak mempersiapkan diri agar tidak jatuh. Mungkin Ia hidup dengan banyak jahitan. Takukah jika seseorang yang hidup dengan banyak jatihan mungkin akan lebih rapuh? Ia hanya terlalu kuat menyembunyikan ketakutannya.

Coba bayangkan, menjadi seseorang dengan segala kehidupannya.
Coba pikirkan, tidak mudah menjadi Ia yang seperti saat ini.
Coba rasakan, menjadi Ia yang seolah terlihat tegar.

Tidak mudah menjadi Ia.

Love Is In The Small Things

cooking

by Puuung

“Hey, do you want to eat Indomie goreng? I will cook for you.” I love when he cooked and made a glass of milk for me. He said, “This is a compliment for you. Today, I want to serve you.”

I was so blessed to have him by my side. I was so thankful for every little gesture we tried to give each other. I was so happy because I found a person who eagers to learn, who loves reading the books. I also found a friend to eat together.

I’m happy with everything he did, when we picked me up at night, when he bought me food with the money he got. He took care of me well. He said I was so fat, but again, he bought me food and make me so tummy again and again.

The things he did in a week should be my booster for the next two months. But, don’t take everything for granted. I should be a better me because he deserves it, we deserve it. Some are happy with the diamond ring. It’s only need a plate of Indomie goreng to make me cry deep inside because of so much happiness.

I’m sorry because I want to eat a lot

I’m sorry for talking too much

I’m sorry because I’m so out of words to explain everything I feel

Would you like to be my world and grow with me?

Jarak, Sejengkal Rindu

Jarak memberikan kesempatan agar kita bisa lebih banyak merenungkan betapa banyak yang sudah kita terima.

Apakah kita sudah cukup banyak memberi?

Apakah kita tidak lupa mengucapkan terima kasih?

Apakah kita tidak lupa mengatakan jika kita merasa sangat bahagia dan merasa cukup?

Jarak mengajarkan arti kehadiran baik secara fisik maupun emosional.

Jarak tak luput meninggalkan jejak, sejengkal kerinduan.

pantai