Tentang Anak

Anak itu adalah titipan.  Sejak di UGD, saya banyak melihat pasien anak yang sakit berat, sakaratul maut, atau datang dalam keadaan meninggal.  Tidak jarang pula orang tua datang membawa anak yang keadaannya aman bahkan tidak mengkhawatirkan ke UGD.

Anak adalah titipan. Kita tidak bisa menjamin berapa lama Allah akan menitipkan anak tersebut kepada kita. Jika banyak orang tua yang terlalu cemas dengan kondisi anak, pantas saja. Karena begitu berharganya seorang anak di mata orang tua. 

Waktu hidup anak di dunia ini berbeda.  Ada anak yang hidup di dalam kandungan saja. Ada yang menghirup udara bebas di dunia beberapa jam hingga hari. Yang miris adalah jika anak hidup tidak sampai menginjak masa sekolah, di saat sedang lucu “lucunya”.

Amanah menjaga anak-anak sangat berat. Ternyata membesarkan hingga dewasa seperti kita saat ini itu butuh perjuangan yang sangat panjang.  Betapa panjang kekhawatiran yang dirasakan oleh orang tua.  Bahkan sampai kita menjadi orang tua pun, tetaplah kita menjadi anak-anak bagi orang tua kita.

Hal ini menyadarkan saya agar lebih bersyukur lagi dengan waktu yang ada bersama anak di dalam kandungan. Berapa lama pun anak kita hidup, kita harus ikhlas.  Kita harus syukuri. Kebersamaan yang ada harus dimanfaatkan dengan kebaikan yang dijalankan bersama-sama.  Sehat selalu ya baby A. Terima kasih sudah jadi teman main setiap hari.  Ibok loves you. ūüėė

Suamik 911

My all day booster. 

Kemaren malem bikin gemes banget deh misua.  Gara-gara  pengen beli bahan buat okonomiyaki, si dia bilang, “Yang okonomiyaki kan bala-bala.” Langsung semangat masak menurun. Wkwk. Karena di Indramayu masih terbatas jenis makanannya.  Jadi waktu ngidam itu kadang harus berkreasi sendiri. Sejak hamil memang ngidamnya makanan Mbandung, which is susah didapetin di sini.  Makanya suka mellow dan menanti nanti, kapan pulang ke Bandung?

Pinternya suami, setelah bikin bete pagi-pagi merayu, waktu ditanya kapan mau eksekusi resep makanan?  Katanya, “Gimana istri kesayangan Aa aja.” Tuh kan.  Emang paling tahu cara bikin istrinya ga bete lagi.  Wkwkwkwk.

Suami juga pinter merayu istri yang tiba-tiba impulsif pengen beli nachos yang emang aga mihils di instagram. Kabita sih gara-gara nonton Ok Food. Hehe.  Suamik bilang, “Mau ga dipesenin lagi JnC cookiesnya?” 

Cookies yang terkenal itu memang enak sih. Dan setengah harga nachos bisa dapet sekilo cookies endes yang makannya bisa berhari hari.

Di malam hari suamik siaga dengan sabar meladeni istrinya yang mengeluh karena complaint ke bapak kosan soal kloset indak digubris.  Sebel ga sih kloset tau-tau ada cairan kuning dan pas disiram fesesnya keluar dari dalem? Saya minta coba mungkin udah penuh septic tanknya.  Bapaknya keukeuh dan maksa nyiram-nyiram air pake ember dan bilang, “itu mah lumut aja.” 

Waktu saya bilang itu kotoran pak keluar.  “Ya itu kan karena tekanan aja dari dalam.” jawab beliau.  Ya menurut ngana aja penyebabnya apa sampai feses nongol lagi ke permukaan?

Andai bapak merasakan abis sarapan nikmat pake telor nasi anget dan boncabe tau-tau niat BAK dapet jackpot pupita yang refluks. Keluar lah lagi seluruh sarapan ituu.  :((( 

Ini ujian kesabaran yaa. :”” 

Syukurlah ada suami yang selalu sabar menyimak.  Mulai menyimak hal penting sampai urusan yang paling penting yaitu makanan ena ena yang selalu kami bahas di DM instagram. Suamik juga tidak pernah bosan mengingatkan istrinya buat yoga. Hihi.  Suami kesayanganqu memang selalu romantis dengan caranya ya. Bikin makin cinca dehhh… Sunn…. Sun dong yang. (apa sih? Wkwk) 

 .

.

.
*Tulisan sederhana, dari seorang istri yang selalu bahagia karena usaha, pemberian, dan perhatian suaminya.*

.

 .

.
14 Juni 2017

Di bulan suci Ramadhan 

Dinamika Pernikahan Seumur Jagung

Bulan ini tepat 4 bulan pernikahan saya dan suami. Tidak ada perayaan bulanan atau ucapan anniversary. Bagi kami yang menjalani Long Distance Marriage, setiap pertemuan itu spesial, setiap komunikasi via video call juga sudah spesial.

Dinamika Setelah Menikah 

Setelah menikah, banyak sekali perubahan yang terjadi dalam hidup. Mulai saya yang ditugaskan di Indramayu.  Lalu mendadak saya mengeluhkan episkleritis yang sebelumnya tidak pernah. Kemudian Allah memberikan kami amanah baru, berupa janin yang tengah saya kandung. 

Perubahan terjadi begitu cepat.  Peran kami bertambah. Semula kami hanya menjadi pasangan suami istri lalu sekarang bertambah menjadi calon orang tua. Fokus kami sekarang berubah, bukan lagi memikirkan pasangan, tapi memikirkan Ibu dan si jabang bayik. 

Pada awalnya sungguh terasa chaos. Perubahan hormonal membuat hidup tidak karuan.  Suami pun jadi terabaikan karena si Ibuk sedang rewel-rewelnya. Hehehehe.  Ketika kami sama-sama santai, akhirnya kami memutuskan untuk berpura-pura saya sedang tidak hamil dan menikmati waktu pacaran berdua. Hahahaha..

Peran Besar Suami

Suami saya sangat berperan dalam membantu saya dengan semua perubahan ini. Ia sangat sabar dengan adaptasi saya terhadap kehamilan. Ia sabar dengan keluhan-keluhan fisik dan perubahan hormonal yang membuat saya syuuuuuu …. terjun bebas.

Suami menemani saya berbicara setiap hari.  Ia sering meminta video call di malam hari dan membuat saya lebih bahagia. Saat pulang ke Indramayu, Ia membantu saya membereskan kamar.  Karena saya mudah lelah, mudah muntah, dan juga mudah pusing, akhirnya  kamar saya menjadi berantakan. Ia juga membantu saya mencuci piring karena saya muntah-muntah jika cuci piring. Alhamdulillah bagi saya sikap suami itu sangat romantis.

Saat ada rizki akhirnya suami membelikan saya TV karena saya mulai bosan berada di kosan.  Senang sekali melihat suami anteng memasang TV, sedangkan saya hanya tiduran melihatnya sibuk. Hihi.  Bahagia sekali akhirnya bisa menikmati surga dunia, tiduran sambil menonton televisi dengan suami.  Syurgaaaaaa ‚̧

Bumil, Ngidamkah?

Selama hamil, saya tidak ngidam aneh-aneh. Yang jelas jadi mudah mual ketika mencium bau-bauan.  Lucunya, saat itu padahal saya sedang pilek, tapi entah kenapa kok saya merasa suami jadi bau.  Padahal tiap bertemu juga biasa-biasa saja. Suami bilang, biasanya Ibu hamil memang jadi mudal sebel sama suaminya.  Hahahaha. Tapi alhamdulillah suami sholeh banget dan sabar dengan saya yang sensitif. Ia sikat gigi setelah makan atau makan Go Fresh, jadi mulutnya berbau segar. Ia lalu mengatakan ‘Hahhh’ sembari mendekat. “Wangi kaan?”Katanya.  Hehee. Unchhh :*

Dibalik Ibu yang Bahagia, Ada Suami yang Sabar dan Mensupport

Awal kehamilan adalah masa yang berat bagi seorang perempuan. 

  • Ada adaptasi dengan perubahan fisik dan hormonal yang sangat menguras tenaga dan bathin
  • Ada perubahan karena mulai lupa memperhatikan suami dan itu membuat seorang perempuan bersedih
  • Terbayang beban sebentar lagi akan menjadi seorang Ibu dan akan mendidik buah hati

Perubahan ini sangat membuat stres.  Saya yang memiliki kepribadian thinking pun mendadak auto shutdown.  Buntu.  Saya pusing dan tidak mau berpikir.  Semua teori yang dulu saya baca lari entah ke mana. Sekarang pun berat sekali untuk mulai kembali membaca mengenai parenting.  Hingga suami dengan sabar mengikuti saya yang ogah-ogahan.  Ia tidak pernah memaksa.  Ia berusaha menyenangkan saya, mengikuti pace belajar saya yang terjun payung.  

Ia tahu betul bahwa saya begitu stres.  Makanya Ia tidak banyak menuntut.  Ia berusaha mencarikan saya buku-buku yang ringan dan menyenangkan, seperti bukunya Ibu @retnohening.  Ia juga membuat saya ikut matrikulasi Ibu Profesional. Hihi.  Padahal dari dulu saya sangat ingin dan begitu semangat. Sekarang saya cuma butuh pelukan dan dukungan suami. Itu jauh lebih dari cukup. 

Dag Dig Dug Duarrr

6 minggu lagu baby bala-bala memasuki usia 16 minggu. Maka Ia memasuki pendidikan pertama karena pendengarannya sudah mulai berfungsi.  Saya dan suami tersayang perlu mengencangkan ikat kepala karena tugas kami akan segera dimulai.  Kami akan mulai memperkenalkan buah hati kami pada Allah yang Maha Kuasa,pada Rasulullah, pada kedua orang tuanya, keluarganya, dan tentu saja hari-harinya akan lebih banyak diisi dengan lantunan ayat suci Al-Quran.  Rencananya saya dan suami lah yang akan membacakan sendiri untuk buah hati kami.  Berhubung suami berada di luar kota, Ia akan membuat rekaman suara menggunakan handphone.

Ini baru awal dari perjalanan kami yang sebenarnya. Semoga Allah selalu memberikan kemudahan kepada kami.  Amin..  

Semoga baby, suami, dan seluruh keluarga selalu dalam lindungan Allah S.W.T. amin..   

Hujan di Dermayu

Akhir-akhir ini Dermayu diguyur hujan yang sangat deras. Saya tidak bisa keluar kemana mana selepas magrib.  Ketika saya melewati jalanan yang mendung sepulang jalan sore, saya jadi ingat ketika pulang hujan-hujanan dengan suami malam-malam. 

Waktu itu kami naik becak, dan entah kenapa mamang becak justru bercerita tentang penculikan anak di Pantura. Katanya penculiknya mungkin menjual atau menjadikan anak-anak itu tumbal untuk ngelmu.  Serem banget :(( 

Meskipun hujan dan ceritanya menyeramkan, tapi bagi saya itu jadi malam yang cukup romantis. Sempit-sempitan di becak tapi super sweet. Kapan lagi kan bisa pacaran sama suami hujan-hujanan? 

Setiap mendung dan hujan yang deras, akan mengingatkan saya tentang suatu malam yang mencekam sekaligus romantis bersama dengan suami. How nice?? Ingatan ini yang akan membuat saya justru tersenyum saat hujan mencekam di Dermayu. Kenangan ini pula yang akan membuat saya tidak kesepian di perantauan.

Slim Fit Together 

Sehat itu penting. Inginnya saya bisa sehat sampai tua seperti guru-guru saya, dokter endokrin dan metabolisme, juga dokter Gaga, seorang spesialis gizi klinis. Tahukah bagaimana resep sehat dari mereka?  Shaum sunnah, makan tidak berlebihan dan olahraga. Mindset gendut sehat itu yang harus dikoreksi. Pikiran bahwa makin makmur makin buncit itu yang harus dikoreksi.  Apalagi obesitas atau kegemukan menyumbang pada penyakit diabetes, jantung, dan pembuluh darah.

Kesehatan itu mahal.  Tugas kita menjaga kesehatan semaksimal mungkin. Maka dari itu, sejak menikah saya berusaha mengajak suami untuk memiliki cita-cita yang sama : healthy, slim and fit.  Tujuannya selain karena kesehatan, agar bisa tetap menjaga penampilan untuk pasangan.  Awalnya suami kesulitan menjaga pola makan.  Namun sekarang justru suami lebih rajin berolahraga, rutin shaum senin kamis dan mengurangi minuman manis selain di pagi hari.

Berat rasanya mengingatkan suami tentang do and don’t untuk bisa menurunkan berat badan.  Tapi sekarang justru suami ketagihan, setelah bisa memecahkan rekornya sendiri untuk menurunkan berat badan.  Semakin hari suami semakin bugar dan sehat karena rajin berolahraga.  Malah istrinya yang jadinya ngoyo. Hihi. Gantian sekarang dokter yang dimotivasi suami.

Tentunya saya sangat bangga, kagum, dan terharu dengan ikhtiar yang dilakukan suami. Katanya biar makin ganteng dan seksi di depan istri. Omo.. Pantas saja makin hari makin ganteng ya Kanda. Terima kasih sudah berolahraga dan menjaga kesehatan Kanda. Gaul banget parah. PR kita masih banyak, karena kesehatan itu harus terus dijaga. BMI normal itu harus terus dipertahankan.

Belum pernah nasihat saya tentang menurunkan BB didengarkan dengan serius.  Baru kali ini yang benar-benar menerapkan dan berhasil adalah suami sendiri. Bagi seorang ENTP seperti saya, bisa berbagi value dan meraih cita-cita bersama itu memberikan poin yang sangat besar. Itu sangat berarti bagi saya. Cita-cita kita ya bisa terus oke dan hot di depan pasangan. Hehehe.  Semoga kita bisa istiqamah ya Yang. Semoga niat kita menyenangkan pasangan dimudahkan Allah, dinilai ibadah juga oleh Allah. Amin.

Current weight : 50,5 Kg

Target weight : 47-48 Kg (katanya dapet voucher belanja dari suami kalo berhasil) 

Hadiah Terindah dari Suami 

By Puung

Suami saya memberikan hadiah terindah, yang sangat bermanfaat bagi perkembangan saya sebagai Ibu Rumah Tangga, He always gives me trust and support. 
Setiap orang berbeda, ada yang suka dengan kata I love you, ada yang suka dengan hadiah-hadiah, sedangkan saya suka dengan apa yang dilakukan dengan suami saya. Beliau selalu berusaha membuat saya bahagia, meski hatinya sedang kesal, atau fisiknya sedang lelah. Beliau selalu berupaya melakukan apapun yang membuat saya suka. Usahanya memang selalu lebih menunjukkan perasaannya lebih dari sekedar kata-kata.

Usaha dan dukungannya membuat saya semangat belajar menjadi istri dan calon Ibu yang baik. Ia membuat saya belajar lebih peka dan bisa mengenalnya. 

Saya merasa, dipertemukan dengannya adalah karunia dari Allah S.W.T. Kami begitu dimudahkan dalam berkomunikasi dan berdiskusi. Suami saya seolah seperti cerminan dari diri saya. Keinginan dan hobi kami hampir serupa, itu juga anugerah dari Allah, sehingga kami dimudahkan dalam mengaplikasikan misi-misi rumah tangga kami. Alhamdulillah.

Ketika sedang sendiri, saya sering merenungkan kata-kata suami ketika Aa terlalu banyak memberi dan saya ingin tahu, “Apa yang Aa pengen dari Icha?”

“Mau Icha bahagia nikah sama Aa, ga menyesal,  bikin Icha makin sholehah.”
“Icha doain Aa yang penting, ingetin supaya aa cuma bawa rezeki yg halal, doain supaya kita bisa kuat selama LDM ini, dan LDM ini segera berlalu. Supaya aa bisa mendampingi icha, full time. Gitu sayang..”

Keinginan terbesar suami adalah bisa mendampingi istri dan keluarganya full time. Ya Allah, mau nangis banget. :””””
LDM ini bukan sebagai penghalang kebaikan ya yang. Insha Allah ini adalah rizki supaya kita bisa belajar dan lebih menghargai kebersamaan. Kelak ketika sudah tinggal bersama, jika mulai terasa kesal atau jenuh, kita bisa mengingat kalau LDM itu jauh tidak menyenangkan dan tidak ingin kita alami lagi. 

Semoga Allah memudahkan pekerjaan Aa,  melancarkan internship Icha. Amin.. Soal keturunan, seperti yang Aa bilang, “Kaya jodoh. Tugas kita hanya memantaskan diri.” Semoga kita bisa mempersiapkan diri supaya kelak kita bisa saling menyambut ketika LDM ini berakhir.

Kala Rindu,

Lembang, 27 Januari 2017 

Aku Kamu dalam Satu Frekuensi 

Nikmatnya frekuensi yang sama dalam menggerakkan roda rumah tangga. 

Bagaimana cara mengajak suami tilawah bersama?  Itu adalah pertanyaan yang tidak berani saya tanyakan sebelum menikah, tidak tahu saja bagaimana mengajak dengan tepat. Saya juga berpikir akan malu awalnya tilawah di depan suami. Karena memang saya belum mengenal kebiasaan-kebiasaan kecil pasangan. Lalu di malam ketiga menikah, saya tilawah sendiri di depan suami. Yaudahlah kalau ngaji saya belum bagus ga usah malu.

Setelah saya menyelesaikan tilawah dan suami saya selesai dengan aktivitasnya, saya mengajaknya tilawah bersama, “Ngaji bareng yuk! ” Ini adalah Al-Kahf pertama kami setelah menjadi pasangan. Panjang nafas kami berbeda, berulang kali saya berhenti dan meminta mengulang ayat. Kami tilawah sambil berpegangan tangan. Rasanya sedih, terharu mau nangis saking bahagianya. Saya bisa mendengar setiap dengung ikhfa dari suara suami saya.  Alhamdulillah ya Allah.. Terima kasih untuk limpahan karunia dan rizki-Mu.

“Yang jangan lupa dhuha.”

“Udah masuk jumat jangan lupa Al-Kahf ya. ”

Punya pasangan yang sefrekuensi itu nikmat banget. Sebahagia itu. Apalagi kami memiliki keinginan yang sama. Diri kami rasanya seperti dipecut, katanya punya keinginan. Begitulah, niat baik insha Allah membawa kebaikan yang lain. Kami saling mengingatkan tanpa ada yang merasa tersinggung. Semua terasa nikmat luar biasa. 

Setiap hujan saya ataupun suami sering berseru, “Kita doa yuk mumpung hujan . Semoga berkah.”

Rabbana hab lana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a’yunin waj-‘alna lil-muttaqina imama. Aamin.. 

#2016bestnine

‚ÄčInstagram heboh banget dengan #2016bestnine.  Rasanya foto aja ga cukup untuk mewakili  yang sebenarnya.

Here we go,  The best of 2016 versi pendongeng wordpress.

#1 Dilamar Aa 

Awal taun ternyata beneran ada yang dateng ke rumah nemuin orang tua, cuma modal nekat aja sama kulhu kayanya.

#2 Beres Koass

Akhirnya koass beres dengan segala dramanya.  Sempet dirawat di RS juga pas stase bedah. Tapi Alhamdulillah tetep beres tepat waktu. 

#3 Lulus UKDI

Gila sih bisa lulus UKDI,  ujian super drama seumur hidup. Ternyata keluar FK itu lebih susah dari masuk FK ya.  Tapi Alhamdulillah Allah baik banget, saya dimudahkan untuk lulus UKDI oneshot.

#4 Jerawat Mulai Berkurang

Sejak masuk FK muka saya rusak berjerawat karena faktor stres, pola makan, dan jadwal tidur yang amburadul. Alhamdulillah sekarang kulitnya lebih sehat. Huhuu. Ya ga mulus glowing gitu ga apa lah. Bisa jauh lebih sehat kaya sekarang aja udah Alhamdulillah banget. 

#5 BMI normal

Masuk FK bikin obese banget. Kerjanya makan dan makan. Berkat sindiran Aa + motivasi pengen sehat kalo nanti hamil akhirnya 31 Desember 2016 BMI bisa dibawah 23. Wkwkwkwk.. Yang penting BMI mulai turun dan dapet hadiah novel dari Aa gara-gara udah berhasil nurunin BB.  Ehehehe. 

#6 Sumdok

Bahagia banget sumdok dihadiri orang-orang tersayang yang selalu ngasih support. Alhamdulillah bisa bikin Mama bangga.  Mama, kita harus jadi contoh bahwa keluarga broken home itu bukan berarti harus gagal juga. Masa depan itu kita yang memperjuangkan, bukan judgment publik. 

#7 Ijasah –> Menuju Ijabsah

Setelah lulus koass, keluarlah surat izin menikah dari Mama & Ayah. Alhamdulillah jadi kawin, #eh nikah.

#8 Tahun Silaturahmi

Tahun ini silaturahmi dengan teman-teman, keluarga, dan tetangga alhamdulillah membaik banget. Setelah lulus koass ternyata nikmat banget bisa menikmati dunia di luar RSHS.  ><

#9 Fallin in love with him

Ketemu orang yang klop banget, ga banyak maunya. Pengertian dan sabar banget walau sering kena semprot pas PMS atau stres nyiapin syalalala. Kalo bilang I love you rada hambar karena All he did itu kerasa banget mewakili sayangnya dia. Semoga semua rencana kita lantjar dan dimudahkan oleh Allah ya Aa. 

Semoga segala niat dan usaha yang dilakukan di 2016 bisa jadi berkah. Amin..  

Me Time : Recharging Mind and Soul

Sudah lama saya tidak menikmati me time, ketika hanya ada saya dan media untuk menulis. Banyak nikmat yang Allah berikan pada saya, mulai dari kemudahan akademis sampai nikmat bertetangga.

Allah juga memberikan kemudahan untuk menurunkan ego pribadi agar saya bisa belajar memahami serta membahagiakan orang lain. Mungkin ini yang dimaksud nikmat menjadi lebih peka. 

Saya begitu bahagia karena perlahan bisa mengenal nama tetangga. Saya juga bisa berinteraksi lebih baik dengan teman-teman sebaya saya dulu. Meski pada awalnya saya terlalu acuh dan harus diminta oleh Mama agar lebih banyak menyapa orang lain.

Saat ini juga saya perlu lebih banyak memotivasi diri agar bisa istiqamah dan lebih semangat lagi beribadah . Terutama banyak pritilan-pritilan yang sering saya jadikan excuse. Belum lagi saya perlu menata ulang niat dan doa, agar apa yang saya lakukan bukan hanya baik untuk saya sendiri, tapi untuk keluarga saya kelak. Se – ma – ngat!  

Mau Jadi Apa? (Lanjutan)

“Mau jadi apa nanti?”

Pembahasan mengenai karir yang akan dijalankan di masa depan akan selalu mengisi topik – topik dalam tulisan saya. Hehe. Setelah lulus, nampaknya waktu yang ada memberikan banyak kesempatan untuk berpikir.

  • Apakah ingin jadi klinisi atau non klinisi?
  • Apakah ingin bermain di ranah primer atau sekunder?
  • Apakah ingin jadi dokter dengan pisau atau tidak?

Alhamdulillah sudah makin terbayang pilihan saya nanti.

  1. Klinisi
  2. Primer

Jadi, saya masih mempending beberapa pelatihan atau seminar, karena ingin melihat setelah internship ilmu apa yang betul – betul saya perlukan. Senangnya, karena sudah di rumah saya bisa berpikir jernih tanpa terlalu banyak dipengaruhi pemikiran orang lain. Saya juga tidak hanya memikirkan “gengsi” suatu profesi. Karena kelak saya akan menjalankannya insha Allah sampai mati kan. Jadi harus yang betul – betul bisa dinikmati. Saya sih muluk – muluk banget, pengen yang bisa sambil jaga anak, tapi tetep cukup buat beli lipstick baru. #ehhh.