Perjalanan Bersama Kakak

Assalamualaikum Kakak, mungkin sekarang Kakak masih bobo di perut Ibu. Tadi kecapean ya? Seharian Kakak gerak super heboh.

Kak, sudah 22 minggu 4 hari Kakak tinggal di perut Ibu. Kakak senang kan? Banyak sekali hal yang telah dilalui bersama dengan Kakak, mulai dari PP Puskesmas Kedokan,  sampai hectic di IGD RSUD Indramayu. Maaf jika Ibu ternyata masih lalai menjaga diri. Ibu merasa masih menjadi Ibu yang dulu, padahal sekarang sudah ada Kakak di rahim Ibu. Hingga akhirnya Allah menegur Ibu.

Sekarang Kakak semakin aktif, semakin cerdas, dan sholeh. Kakak bisa merespon kata-kata yang Ibu ucapkan ataupun sentuhan yang Ibu berikan di atas perut. Anak Ibu juga senang sekali mendengarkan tilawah.  Betapa bahagianya perasaan Ibu bisa merasakan setiap pertumbuhan Kakak. 

Sayang, malam ini Ibu sadar satu hal. Hidup dan mati itu adalah kehendak Allah. Tugas Ibu dan Ayah adalah membekali Kakak dan mendampingi Kakak agar senantiasa menjadi anak yang sholeh/sholehah. Yang kuat ya sayang. Bantu doa sama Allah. Ibu dan Ayah akan semaksimal mungkin untuk menjaga Kakak.
Salam sayang dari Ibu dan Ayah. 

Ayafluu Kak :*

#Latepost

Advertisements

Halu Trimester Tiga!Β 

Akhir-akhir ini saya jarang menulis, lebih tepatnya tulisan saya tidak ada yang selesai.  Ha!  Saya banyak mencari informasi seputar keperluan bayi newborn dan juga keperluan menyusui.  Rasanya sampai pusing sendiri karena banyak sekali pritilan yang membuat saya jadi idealis. Mungkin karena saya banyak browsing, jadi terjadi pertukaran informasi yang sangat cepat di kepala.

Alhamdulillah sebentar lagi Kakak memasuki usia 29 minggu.  Syukur luar biasa, Allah masih memberikan kesempatan Kakak tumbuh di dalam kandungan, di tempat yang didesain begitu luar biasa oleh Allah. Masih ingat betul saat itu saya masih hamil sekitar 22-23 minggu ketika mulai mengalami kontraksi. Rasanya begitu sedih dan putus asa.  Kakak belum siap lahir di usianya yang masih begitu muda. Tubuhnya belum siap untuk hidup di luar rahim ibunya. 😭😭😭😭😭😭
Akhirnya saya diboyong keluarga pulang ke Lembang. Saya pun dirawat hampir satu minggu.  Kontraksi oh kontraksi. Semua obat telah masuk, tetapi kontraksinya sulit sekali kontrol. Diam-diam sayang sering menangis. Harap-harap cemas menanti setiap minggu berlalu, menunggu pematangan tubuh Kakak. Saya, suami, beserta keluarga melakukan upaya yang terbaik yang kami mampu dan berdoa meminta pertolongan Allah.

28 minggu, satu tahap terlewati.  Kakak sudah mulai fase pematangan paru.  Setiap minggu begitu berharga. Sekarang saya dan keluarga hanya bisa berdoa dan menjaga Kakak dengan membatasi aktivitas. Kontrol ke RS saja saya masih takut karena khawatir kontraksi akan terangsang dengan banyaknya gerakan. Semoga Kakak bisa terus kuat dan bertahan sampai 34 minggu, agar saya bisa mulai kontrol ke RS dan mulai berkonsultasi mengenai persiapan persalinan.

Bahagia rasanya merasakan gerakan tubuh Kakak yang mulai membesar. Gerakannya kini tidak lagi penuh ancang-ancang karena space di dalam kandungan tidak lagi seluas sebelumnya. Wkwkwkwk. Kini gerakan Kakak ngilu-ngilu nikmat. Gerak sedikit saja sudah bisa teraba dan sering kali terlihat liukannya pada luar perut saya. Alhamdulillah.. Alhamdulillaah..   Setiap Kakak bergerak saya betul-betul bersyukur. Alhamdulillah Kakak berarti masih baik-baik saja di dalam perut.

Gerakan Kakak juga mengingatkan saya akan suami. Mungkin Allah menghadirkan Kakak agar bisa menemani saya selama suami bekerja di luar. Ingin sekali bisa berbagi setiap gerakan lucu Kakak setiap malam pada suami. Tapi Ayahnya harus berjuang di luar sana.  Semoga nanti ketika Ayahnya pulang Kakak tidak malu-malu bergerak dan bermain di dalam perut seperti biasanya ya, Kak!  

Ketika Pak Suami Pulang Ke Rumah

Waktu off suami adalah masa yang paling dinantikan.  Seperti biasa selalu ada hal manis dan juga pelajaran yang bisa diambil di sela kebersamaan.

Saya tentu saja belum begitu mengenal suami.  Pernikahan seumur jagung tentu baru memperlihatkan sebagian lapisan luar dari karakter dan kepribadian suami. Meskipun kami baru menikah, saya tahu bahwa suami begitu menyayangi istri dan keluarganya dengan sungguh-sungguh, walau Ia tidak pernah mengatakannya.
Cuti panjanganya Ia habiskan lebih banyak menemani saya di Lembang. Awalnya jadwal cutinya mundur karena pekerjaan. Ada rasa kecewa, tapi suami melakukan semua pekerjaannya juga untuk keluarga, kan? Duh, rasanya semakin cinta. 😍

Saat suami pulang, banyak sekali agenda yang dilakukan suami. Mulai dari menemani keluarga mama karena mertua mama meninggal, suami juga nyekar ke makam bapaknya. Belum lagi suami harus ke Indramayu bersama Aki, untuk mengantarkan surat cuti saya dan juga mengambil barang saya di kosan. Karena saya dan suami memutuskan untuk cuti internsip sampai dengan melahirkan nanti.

7 jam waktu yang dilakukan untuk menyetir PP Lembang – Indramayu. Disentuh kakinya pun suami meraung-raung karena kesakitan.  :” Tapi Alhamdulillah semua barang sekarang sudah di rumah.  Komitmen saya dan suami, saat kehamilan saya terus menerus kontraksi, saya harus istirahat di rumah agar tetap dapat menjaga dan meneruskan kehamilan.

Jadi ingat, bahwa sekarang saya tidak sedang berkompetisi. Tidak ada hadiah jika saya selesai internsip lebih cepat. Banyak pula teman yang menunda internsip karena alasan lain.  Bahkan teman yang lulus UKDI bersama saya baru berencana mengikuti internsip tahun ini. Oh iya, hidup itu tidak seperti menaiki anak tangga. Setiap orang memiliki jalan yang berbeda.  Seperti saya, dulu sempat menunda kuliah 1 tahun. Setelah lulus kuliah saya menikah. Ternyata saat internsip saya hamil dengan kondisi yang mengharuskan saya untuk cuti dalam waktu yang cukup lama. 

Oh iya, tujuan saya hidup bukan untuk mendapatkan satu persatu target yang telah saya buat. Saat ini, kewajiban saya adalah berbakti kepada suami dan juga menjaga amanah berupa baby kutun yang sedang dikandung.  Alhamdulillah.. Alhamdulillah… 

Suami dan Sisi Romantisnya

Alhamdulillah Allah memberikan pasangan yang bukan hanya mampu membuat hati saya tentram, tapi juga membuat saya begitu bahagia.

Saat pulang ke Lembang, bobot saya meningkat drastis akibat keinginan saya akan makanan ini dan itu. Di Indramayu ingin makan Kaefsi saja sulit. Makanya ketika pulang ke Lembang berbagai makanan saya request sampai tidak ada lagi daftar makanan yang membuat saya penasaran. Ternyata eh ternyata.. Berat saya meningkat hampir 4-5 Kg berat sejak satu bulan tinggal di Lembang. Syukurlah sebelum suami cuti, mulai dari Mbiw, Ayah, Mama, dan Adik saya membantu untuk membelikan makanan atau minuman yang saya idamkan. 

Saat suami pulang, seluruh keluarga di lembang melemparkan tugas membelikan makanan ngidam si kutun pada suami. Hahahaha.  Ketika suami ada kegiatan di Bandung, saya selalu memesan makanan dan minuman yang enak-enak, dan tentu saja tinggi kalori.  πŸ˜ Mulai dari donut JCo dan minumannya, chatime, sushi, dan juga recheese. Tapi setelah gangguan pencernaan akhirnya saya mulai minta dibelikan buah. 
Tiba saatnya menimbang berat badan, muncul angka 14kg lebih banyak dari timbangan sebelum hamil.  Maaakkk!!!!  Suami saya hanya ketawa-ketawa saja. “Kalau hamil gendut ga apa-apa, kalau ga hamil ga boleh.” Katanya. Baju banyak sekali yang sudah tidak bisa dipakai. Rasanya kurang pede. Tapi suami menenangkan, “Kalau lagi hamil gendutnya cantik.” selain itu, suami juga membelikan beberapa pakaian dan kerudung yang senada supaya tampilan saya bisa lebih modis walau badan bleber-bleber.  Alhamdulillah suami super baik.  πŸ˜˜πŸ˜š

Tidak jarang, setiap malam saya sulit tidur atau mengalami pegal-pegal pada kedua kaki.  Melihat suami mudah sekali tidur, saya selalu mengganggu suami, hihi. Pernah saking sakitnya kaki saya tidak bisa tidur sampai jam 12 malam, dan saya membangunkan suami, minta dipijat kakinya. Biar ada kenangan nanti suami bangun tengah malam diganggu istri. Hihi. Pagi harinya saya dan suami menertawakan kaki saya dan juga jari-jari kaki yang sudah berubah menjadi jempol semua.  πŸ˜‚

Ada Cinta dalam Tawa dan Makanan

Setiap malam selalu spesial bersama suami.  Biasanya menjelang tidur, kami menonton youtube bersama.  Ada saja video “super penting” yang membuat kami tertawa-tawa.  Mulai dari AFI, yang lagunya Menuju Puncak itu lho. Kadang kami menonton stand up comedy.  Kami juga iseng membuka artikel “penting” di LINE today atau detik.com. Yang tidak kalah penting adalah kami begadang hanya untuk membaca drama ojol di instagram sampai ingin pipis.  πŸ˜‚ Momen sederhana seperti itulah yang membuat saya mengenal mengetahui karakter suami. Syukurlah saya bisa punya teman hidup yang bisa membuat keseriusan saya lebih balance. πŸ˜‰ 

Momen makan juga selalu spesial bagi saya.  Walau tidak bisa memasak masakan ribet seperti biasanya, paling tidak saya selalu berusaha menyiapkan makanan untuk dimakan bersama suami.  Walau lebih sering beli lauk di luar.  Tapi selalu saya yang menyiapkan, dan kami akan makan bersama.

Berbeda saat PDKT dulu, sekarang yang terpenting adalah bisa memenuhi kebutuhan suami dan suami bisa tidur dengan nyaman tanpa terganggu karena lapar.  Jadinya kami sering cule-cule makan malam bersama, sepiring berdua. Niatnya supaya tidak makan terlalu banyak.  Tapi kok nikmat ya. Jadinya kami pun menambah nasi dan makan dengan porsi sendiri-sendiri. πŸ˜‚

Begitulah.  Yang biasa pun jadi luar biasa karena dijalankan bersama dengan suami tercinta. 😚

Catatan untuk pribadi:

  1. Selalu ingat dan catat setiap kebaikan suami
  2. Selalu hargai usaha suami
  3. Selalu syukuri setiap pemberian suami
  4. Selalu nikmati momen kebersamaan dengan suami, seperti saat menemani suami makan
  5. Isi rumah tangga dengan humor supaya suami dan istri makin kompak.  Selain itu supaya bisa saling mencair dan terbuka satu sama lain
  6. Syukuri setiap kesempatan bersama. Selesaikan masalah ataupun luruskan kesalahpahaman agar waktu bersama tidak diisi dengan bertengkar dan saling diam satu sama lain
  7. Selalu doakan suami karena setiap hari Ia di luar berjuang melawan godaan dan nafsu dunia

Pregnancy Story : Beda Orang, Beda Kondisi

Ternyata, mengandung adalah perjuangan.

Saat jaga malam kemarin, perut saya begitu tegang dan mengeras. Kata bidan yang sedang di IGD, “Hati-hati perutnya kenceng banget.” Itu sekitar pukul 10 malam.  Ternyata perut saya terus kencang sampai pukul 6 pagi. Saya yang baru pertama kali merasakan perut tegang yang sangat lama kebingungan dan mulai khawatir. Saya pun kembali masuk ke ruang kebidanan IGD. 

Bu Haji bilang, “Aduh dok.. Khawatir.  Lagi hamil segini rawan banget keluar lagi. Cepet-cepet minum obat antikontraksi terus tiduran.” Baru saja satu hari sebelumnya saya kedatangan pasien yang spontan mengeluarkan bayi saat usia menjelang 5 bulan, usia kandungannya tidak jauh berbeda dengan saya. Ternyata ini kondisi serius.  πŸ˜°

Jaga malam itu memang cukup ramai. Banyak sekali pasien anak yang harus membuat saya mondar mandir. Biasanya paling tidak saya bisa berbaring 1-2 jam. Malam itu benar-benar saya tidak bisa istirahat. Fisik saya tidak merasa terlalu lelah atau bagaimana karena memang sudah biasa. Tapi ternyata rahim saya memerlukan rebahan agar tidak terlalu tegang.

Sepulang jaga saya langsung istirahat. Saya malah tidak memakan sarapan yang dibeli, karena dipikiran saya hanya ‘pokonya harus segera tidur’. Jadi saya tidak nafsu makan sama sekali.  Barulah siangnya saya makan sebelum kontrol ke dokter kandungan.

Saat sudah menunggu sekitar 30 menit, ternyata dokter yang biasa saya kunjungi tidak ada.  Jadilah saya berkonsultasi dengan dokter lain karena memang ini urgent.  Akhirnya saya diperiksa oleh dokter Wahyudi, dokter kandungan yang juga praktek di rsud Indramayu. Syukurlah saya bisa banyak berkonsultasi dengan beliau dan mendapatkan penjelasan yang dapat dimengerti.

Setelah di USG, ternyata sebagian plasenta saya letaknya rendah, jadi kondisinya disebut dengan low lying plasenta. Mungkin ini yang menyebabkan rahim jadi mudah tegang dan kontraksi, selain karena saya kurang istirahat. Pantas saja dulu saat awak kehamilan saya sempat keluar darah dari jalan lahir. Ternyata karena letak plasentanya memang rendah. Mudah-mudahan posisinya bisa berubah seiring bertambahnya usia kehamilan.

Dokter Wahyudi bilang, “Obatnya cuma bedrest.” Saya pun diminta untuk istirahat tiga hari. Ya Allah, ternyata mengandung itu penuh perjuangan ya. Jangan keluar terlalu dini ya nak, nanti kalau sudah kuat tumbuh sendiri di luar baru boleh. :”

Saya ingat bahwa sejak awal hamil kondisi saya memang berbeda dengan orang lain. Awalnya saya ingin hamil seperti orang biasa, yang tetap aktif dan melakukan aktivitas normal. Saya banyak berjalan kaki. Saya juga aktif bergerak ketika bekerja di RS.  Tapi ternyata kondisi saya berbeda dengan Ibu hamil lainnya yang masih bisa beraktivitas normal. Saya harus bersabar ketika orang lain bilang, “Jangan dibawa males nanti anaknya jadi rewel.” atau banyak yang bilang, “Dulu saya hamil masih jaga sampai hamil tua, masih kuat nyetir motor juga.”

Kondisi saya berbeda.  Rahim saya dibawa jaga, yang menurut saya biasa saja sudah mengeluarkan warning.  Saya harus ikhlas menerima bahwa saya memang harus membatasi aktivitas meski saya ingin. I deserve to fight my pregnancy. 

Alhamdulillah suami dan keluarga mendukung.  Bila terjadi sesuatu lagi saya harus cuti internsip. Jika memang saya tidak diizinkan untuk cuti, jalan satu satunya adalah resign.

Saya berpikir, mengapa Allah memberikan satu persatu ujian kepada saya dan keluarga? Kenapa ya Allah? Lalu saya ingat betapa Allah juga memudahkan kehidupan saya yang lainnya. Betapa Allah memberikan Kasih Sayang, Rahmat, dan Karunia-Nya pada saya dan keluarga.

Saat menaiki becak di perjalanan pulang tadi saya hanya bisa istigfar.  Ampuni kesalah hamba dan keluarga ya Allah. Saya sadar harus sabar dan tetap tawakal. 

Semoga kita ketemu setelah kamu aterm, baby girl. Puas-puasin bobo dan main di perut Bunda ya.  πŸ˜˜

Stop, Buk!Β 

Nak, Ibu sepertinya tidak bisa memintamu jadi anak yang sholeh.

Bagaimana bisa kita meminta anak-anak menjadi penghapal Al-Quran, sedangkan kita sendiri tidak sedang menghapalkannya.  Bagaimana bisa kita menyuruh anak-anak shalat tepat waktu, sedangkan kita sendiri masih menunda shalat? Buk, anak adalah seorang peniru.  Anak adalah seorang pembangkang bila diberi perintah. Ia melihat dan meniru apapun perilakumu, Buk!

Maka berhentilah sebelum terlambat! Berhentilah sekarang! Berhentilah untuk berharap anakmu jadi begini, jadi begitu! Jadilah apa yang ingin kamu petik dalam anakmu.

Astagfirullah. Saya sendiri jungkir balik rasanya. Istiqamah itu sulittttt sekaliii. Ya, biarkanlah anak-anak tahu bahwa orang tuanya bukan orang tua yang suci, tapi tipe orang tua yang jungkir balik, berusaha untuk belajar dan mendekatkan diri pada Allah.  Biar saja anak-anak melihat setiap proses kita tertatih-tatih karena ternyata ingin jadi sholeh itu banyak sekali godaannya. Ajaklah anak-anak membersamai setiap proses yang “pedih”, semoga usaha ini akan Allah catat sebagai amal baik, dan akan mengumpulkan kita sekeluarga di SurgaNya. Amin..

Maaf tidak bisa menjadi teladan yang baik untuk kamu, Nak. Tapi kamu mengerti kan? Kita akan sama-sama belajar dan jadi partner dalam beribadah. Setuju?

 .

.

.

Indramayu, 26 Juli 2017

Calon Ibukmu 

My Happy Preggo DiaryΒ 

Alhamdulillah, mengandung itu rasanya nikmat banget. Setelah melewati fase berat di trimester pertama,  sekarang mulai menikmati fase indah.  Si kecil mulai semakin aktif bergerak, mulai dari gerakan mengetuk perut santai, sampai menendang heboh sahabekna ala pemain bola.

Tendangannya itu juga bentuk komunikasi. Kalau lapar si kecil menendang dalam tempo reguler dan cukup keras. Kalau kesal tendangannya sekali hantam.  πŸ˜‚ Biasanya kalau ditinggal teleponan sama nenek atau ayahnya tanpa loude speaker atau saat saya senggang tapi tidak mengajaknya bicara. Yang paling gemas adalah saat mendengarkan suara rekaman mengaji ayahnya,  Ia bergerak girang heboh, ke kanan dan ke kiri.

Semakin lama baby ibok semakin mirip ayah.  Mulai dari ngambek saat lapar dan juga protes saat mendengar lagu yang Ia tidak suka.  Kadang setelah rekaman ayahnya suka terputar lagu berikutnya, biasanya lagu Indie yang menurut baby, “Naon sih?” Wkwkwk.  Curiga si dia bakal girang banget kalau didengarkan lagu-lagu ayahnya. πŸ˜‚

Sekarang juga saya sudah enak makan dan enak minum susu hamil. Sayangnya, sekarang mulai tidak bisa makan banyak karena perut semakin terdesak. Jalan kaki juga mulai berat karena bobot saya sudah naik 6kg ++. πŸ˜‚ Kata suami, langsing saya hanya bertahan selama dua bulan pernikahan.  Malah sekarang suami yang makin ramping dan terlihat semakin sehat. Hihi.

Rasanya nikmat sekali, jalan ngageboy rada ngajegang sembari memegang perut yang semakin terasa teregang dan sesak. Apalagi dua hari ini rasanya otot, kulit, dan jaringan di perut sangat teregang dan ngilu. Tapi ngilunya mengingatkan saya bahwa di kecil berarti sedang tumbuh. Apalagi sekarang sudah memasuki usia 19 minggu.

Sejak menginjak usia 4 bulan saya semakin aktif mengajaknya berbicara dan bercerita. Saya ajak Ia saat hendak shalat wajib atau shalat sunnah. Adanya baby ini membuat saya dan suami lebih bersyukur lagi kepada Allah. Si kecil juga memotivasi kami untuk lebih banyak beribadah. Bukan hanya itu, pekerjaan saya di rumah sakit pun terasa lebih mudah. 

Si kecil jarang sekali mengeluh jika saya cuek atau terlalu sibuk.  Biasanya saat jam makan saya molor terlalu lama saja Ia mulai protes.  Sisanya, saya merasa bebas aktif bergerak dan beraktivitas. Saya juga merasa lebih semangat karena saya ingin menanamkan semangat bekerja dan belajar kepada baby yang ada di dalam kandungan. Rasanya berbeda, semangatnya juga berbeda. Saya jauh lebih ceria meski banyak kesibukan.

Suami pun banyak memberikan support kepada saya dan baby. Ia rutin menghubungi saya baik via telpon ataupun video call. Perhatiannya membuat saya lebih semangat lagi. Pendidikan anak bagi kami bukan hanya tugas Ibu, tapi juga tugas bersama.  Baby harus sejak dini mengenal dan berinteraksi dengan ayahnya.  Maka kami mulai menyalakan loud speaker saat mengobrol via telepon ataupun video call. Saya pun setiap hari memperdengarkan suara ayahnya. Iki lo nak, bapak yang sayang banget sama kamu.  :*

Anak-anak Palestina itu diberi pendidikan Alquran sejak dalam kandungan. Berbeda dengan Ibu Yahudi yang katanya belajar ilmu pengetahuan ataupun matematika saat hamil agar anaknya pintar. Ngitung duit mah nanti juga bisa ya, nak? Wkwk. Jadi yang penting mendidik agar jadi anak sholeh saja dulu. Nanti mau apa saja yang penting bisa bermanfaat. Kalau nanti kamu jadi dokter bedah risiko tidak ditanggung ya. Wkwk. Soalnya baby banyak terpapar kasus bedah selama menemani saya di IGD. Hihi.  

Harus semangat nih hap hap happ!! Tilawah saya masih kendor. Baca buku juga masih kendor. Pokoknya temenin Ibuk ya sayang. Kita sama-sama belajar supaya lebih deket lagi sama Allah. We love you anak Ibukk dan ayah!!  πŸ˜˜ 

Kami & Baby AΒ 

Baby A masih tidur.  Biasanya Ia suka sekali menguping Ayah dan Ibunya bicara. Saat saya sedang bersama Ayahnya, geraknya menjadi sangat aktif.

Gerak Baby A selalu saya nantikan, begitu pun suami.  Kami sering mengajaknya berbicara ataupun memintanya menendang. Mungkin kekuatan kaki Baby A saat itu belum cukup untuk membuat getaran yang Ia buat terasa. Sering juga saya menggerakan perut seolah membuat gempa sembari berkata, “Gempa!! Gempa!!” Suami lalu memasang muka cemas, khawatir. Haha.

Tapi ternyata Baby A memberikan kejutan saat tasyakuran 4 bulanan.  Ia menendang untuk pertama kali. Saya pun membisiki suami. Sejak hari itu Baby A sudah mulai aktif bergerak.  Kami pun mulai lebih banyak berbicara dengan Baby A.  

“Assalamualaikum baby A.. Jagain Bunda ya, selama Ayah kerja jauh.” Kata suami, pada rekaman suaranya untuk Baby A. Saya percaya bahwa pendidikan anak sejak dini bukan hanya memerlukan peran Ibu, tapi juga Ayah. Bagaimana pun anak juga perlu merasakan disayangi Ayahnya. Meskipun Ayah Baby A sedang jauh, kami berusaha tetap mencukupi kebutuhan baby A akan ayahnya.  

Baby A adalah keajaiban dan penyejuk dalam rumah tangga saya bersama suami. Allah ternyata menyiapkan rencana yang begitu baik.  Ternyata kehamilan saya dipercepat, sehingga saat suami harus kembali bekerja di tempat jauh, kini ada jagoan yang berusaha menjaga dan menemani Bundanya.

Kehadiran Baby A di keluarga, menjadi pemicu agar saya dan suami semakin giat beribadah. Karena kelak Ia bukan mendengarkan perintah, tetapi melihat teladan dari sikap kami sehari-hari. Saat ini Baby A suka sekali menendang dengan keras bila didengarkan murattal.  Ayahnya begitu senang mendengar cerita saya, “Baby A sholeh.” Kata suami saya terharu. 

Insya Allah jadi anak sholeh ya nak.  Kita sekeluarga akan selalu berusaha jadi keluarga yang sholeh.  Semoga kehadirannya yang masih di dalam kandungan ini dapat terus membuat orang tuanya bersyukur dan lebih mendekatkan diri pada Allah Yang Maha Kuasa. Amin.. 

.

.

.
IGD RSUD Indramayu, 5 Juli 2017 

In 18 weeks of pregnancy 

Drama Ditinggal Ke Proyek

Bombay kali ini cukup panjang. Mengingat baru pertama kali ditinggal jauh oleh suami setelah menikah. Dulu waktu suami masih di Manado, tetapi status kami belum menikah, rasa sedihnya masih dalam batas wajar. Tapi kali ini ditinggal beliau itu benar-benar berat rasanya. 

Saat malam rumah sudah mulai tenang. Tanpa terasa air mata mengalir setelah mendengar kabar suami sudah landing. Apalagi ketika sampai di kosan. Melihat setiap sudut yang berisi kenangan bersama beliau membuat saya menangis. Melihat selimut yang Ia rapihkan saya menangis. Saat sudah reda, melihat piring yang Ia selalu cucikan untuk membantu saya, saya pun menangis. Saat melihat sajadah, yang kami gunakan berjamaah pun mengingatkan saya tentang suami. Kamar mandi dan pewanginya yang baru saja Ia ganti. Bon laundry yang telah Ia bayar, “Yang bonnya Aa taro di sini ya.” Katanya sambil menunjukkan letaknya.  Pakaian bekas pakai pun beberapa sengaja saya sisakan agar saya bisa mencucinya sendiri dengan tangan.

Sambil tiduran dan terisak, saya ajak bicara baby di dalam kandungan, “Bundanya kangen sama Ayah.” Baby pun meresponnya dengan tendangan yang sangat keras. Jedukkkk!!  Baby A pun pasti sudah mulai rindu dengan Ayahnya.

Banyak sekali kebaikan yang telah dilakukan oleh suami. Belum lagi pengorbanan yang diberikan. Sampai sesaat sebelum pulang pun suami selalu berusaha membuat saya bahagai. Alhamdulillah.  Terima kasih banyak ya Allah, atas karunia yang Engkau berikan.  

Ya Allah, semoga perpisahan ini hanya sementara. Semoga kami sekeluarga bisa saling menjaga dan mendoakan. Semoga kelak kami bisa bersama dan tinggal satu rumah. Semoga waktunya segera tiba ya Allah.  Amin..  

Syukurlah hari ini saya sudah mulai jaga malam. Terlalu banyak kenangan di kamar kosan yang membuat saya selalu teringat suami.  Apalagi tempat tidur, tempat saya selalu terbius tidur di ketek suami. Yuk semangat baby!  Bantuin bundanya doain Ayah ya!  

Hari – Hari Spesial Bersama SuamikΒ 

Baper banget rasanya waktu suamik kembali ke Sulawesi. Sejak H-1 lebaran suamik menemani saya di Indramayu karena harus jaga hampir setiap hari ketika libur lebaran. Sekarang suamik harus berjuang lagi di perantauan.  :”

Mamih, atau Ibu mertua, hampir selalu bercerita mengenai kehidupannya bersama Alm. Pak Bambang. Meski belum pernah bertemu rasanya saya mengerti dari mana datangnya sifat baik super romantis yang ada pada suamik saya.

Saat suamik menemani lebaran tanpa libur saya, Ia betul-betul full mendampingi saya.  Ia menemani saya tidur saat post jaga.  Ia memasak nasi dan menyiapkan lauk untuk sarapan atau makan siang. Terkadang suamik juga menyiapkan bekal untuk saya jaga malam.

Betapa senangnya karena suamik bisa menemani saya berangkat dan pergi bekerja.  Saya selalu tidak sabar untuk segera pulang karena suamik akan segera menyambut saya. Kadang suami menjemput ke RS atau menunggu di kosan.

Alhamdulillah Allah memberikan rizki untuk bersama suamik pada 10 hari terakhir ini. Entahlah bagaimana bisa ada orang sebaik dan setulus suami. H-1 lebaran Ia datang, membawa berbagai makanan titipan. Mulai dari ketupat, opor, sampai berbagai macam kue. Setelah sahur suami langsung tancap gas ke Indramayu. 

Rizki dari Allah juga saya mendapat tugas jaga malam saat hari lebaran.  Jadinya saya punya kesempatan shalat Ied bersama dengan suami kesayangan. Pada malam takbiran pun kami keluar untuk melihat pawai di jalan raya.  

Setelah shalat Ied di Alun-Alun Indramayu. Foto diambil di depan Mesjid Agung Indramayu

Suamik benar-benar membantu meringankan beban saya di kosan. Ia membantu saya mencuci piring atau memasak karena saya lebih banyak tidur untuk menyimpan energi. Barulah saat jadwal jaga saya mulai lebih normal pekerjaan rumah tangga seperti mencuci sudah bisa saya lakukan.  Tapi sejak saya hamil suami benar-benar sigap.  Bahkan selimut yang kadang saya tunda untuk dilipat juga seringnya lebih dulu dirapihkan oleh suami.

Suami pun membantu saya membeli oleh-oleh ketika saya masih harus jaga. Saya merasakan betul bagaimana saya dan suami saling bekerja sama agar bisa menyelesaikan pekerjaan. Akhirnya tanggal 30 Juni saya baru bisa libur. Kesempatan itu saya gunakan untuk mudik ditemani suami tercinta.

Kami silaturahmi ke Pamanukan, dilanjutkan silaturahmi ke Lembang. Keesokan harinya kami ada acara Tasyakur 4 bulanan si kecil. Saat pengajian itu pula saya akhirnya bisa merasakan tendangan jagoan di dalam kandungan.  Jedukkk!!! Tiga kali iya memberikan kejutan.

Setelah tasyakur 4 bulanan baby A

Tidak sampai disitu, saat saya menginap di hotel bersama suamik, si kecil sering kali menendang perut saya dengan kencang. Tapi bila dipanggil atau didekati oleh Ayahnya, justru Ia malah diam. Hahaha.  Dasar.
Tibalah saat suamik harus pergi kembali ke Sulawesi.  Sedih sekali rasanya karena selama di Jakarta suami bisa lebih sering pulang. Rasanya berat. Saya pun tak kuasa mewek sedih sambil memeluk suami.  Mudah-mudahan suami dimudahkan dalam pekerjaan dan segala urusannya, dijaga selalu oleh Allah.  Semoga saya dan baby A bisa selalu sehat dan dilindungi oleh Allah.  Aamiinn… 

Sebelum misua kembali ke hutan

Haluuu, Anak Ibu!Β 

Haluu anak Ibuu!!! Selama baby bala-bala dalam kandungan ini masih suka galau manggilnya Ibu/Bunda/Ibun. 

Sekarang saya mulai sering menyapa Bayik, seperti “Haluu anak Bunda. Kita makan dulu yaa. Kamu lagi bobo enggak?”

Ayahnya mungkin masih malu-malu untuk berbicara dengan baby yang tidak nampak wujudnya itu. Tapi setiap ada kesempatan pulang Ayahnya selalu kiss-kiss perut yang sudah mulai membesar. Berbicara dengan baby ini adalah upaya untuk mendidiknya sejak dini.

Kalau orang Yahudi giat belajar ketika mengandung, orang Palestina rajin membaca Alquran dan menghafalkannya. Berarti, baby itu merespon apa yang dilakukan Ibunya.  Awalnya saya ingin mengajarkan banyak hal, entah itu bahasa atau ilmu pengetahuan sejak dalam kandungan.  Tapi setelah direnungkan, cukuplah saya menanamkan kecintaan Bayik yang tengah di kandung pada Allah dan Alquran. 

Alhamdulillah setelah menikah saya diberi suami yang begitu perhatian dan bertanggungjawab. Allah juga memudahkan suamik dalam mencari nafkah.  Saya pikir, ujian rumah tangga ada pada diri saya sendiri. Mau dibawa kemana pendidikan anak-anak kelak? Jujur ingin punya anak sholeh itu ujiannya sangat berat.

Akhirnya saya menentukan bahwa hal pertama yang harus saya tanamkan pada anak-anak adalah kecintaannya terhadap agama. Walaupun langkahnya berat dan tersendat, tapi inilah pilihan saya. Pelan-pelan, usaha mendidik anak shaleh ini juga membuat saya lebih berusaha meningkatkan amal ibadah dan juga ilmu.  Maka sesulit apapun harus dilewati setiap anak tangganya.

Minggu depan insyaAllah baby ulala akan mulai diberi pendengaran oleh Allah.  Aaaak :”” harus mulai bersiap. Semoga nanti bisa banyak bercerita dan membuat Bayik Bunda mendengar yang baik yaa.  :””