DSOnya Baby Huiย 

Baby Hui ini selama hamil senang sekali jajan.  Alhamdulillah Ayahnya diberi kemudahan rizki oleh Allah ya, Nak.  Banyak dokter yang berjasa sekali selama kehamilan Baby Hui ini. 

Sejak awal hamil saya kontrol kehamilan di Indramayu dengan dokter Mirza.  Beliau perempuan, nama aslinya Hanifah Mirzani.  Orangnya kalau ditanya sangat responsif dan jawabannya sangat menenangkan.  Saat sempat ngeflek di awal kehamilan, beliau menyuruh saya bedrest 1 minggu.

Sejak harus bedrest, saya pulang dulu ke Lembang. Waktu itu saya dijemput olsh Kakek dan Nenek ke Indramayu. Di Lembang, saya diperiksa oleh dr. Farid. Jajan besar Kakak Hui dimulai.  ๐Ÿ˜†

Akhirnya ujian pertama bisa dilalui.  Saya kembali ke Indramayu dan kontrol dengan dokter Mirza. Masuk kehamilan 23 minggu, tiba-tiba saya kontraksi. Saat itu dokter Mirza sedang tidak praktek.  Jadinya saya periksa sementara ke dokter Wahyudi.  Surprisingly, dokter Wahyudi juga komunikatif,  responsif,  dan asyik. Indramayu punya DSO yang oke-oke ya.  ๐Ÿ˜†

Hanya satu kali saja saya kontrol dengan dokter Wahyudi. Karena kontraksi yang terus berlanjut, saya memutuskan untuk cuti dan pulang ke Lembang. Saya kembali periksa dengan dokter Farid.  Dua tiga hari observasi di rumah, kontraksinya malah memburuk. Akhirnya saya dirawat di RSIA Buah Hati selama satu minggu.

Kontraksinya betul-betul bandel dan sulit hilang. Setelah pulang obat yang diminum pun sangat banyak, mulai dari obat penghilang kontraksi, obat penguat minum, dan obat yang dimasukkan ke dalam anus.  Maknyus sekali, bisa jajan 800rb untuk dua minggu. Padahal sudah dipotong biaya dokter dan usg. ๐Ÿ˜†

Alhamdulillah Baby Hui masih bisa dipertahankan.  Satu kali saya kontrol ke fetomaternal.  Seharusnya saya kontrol ketika kehamilan belasan minggu. Karena berbagai hal, baru bisa kontrol waktu kehamilan 30 minggu. Periksa dengan dokter Setyorini, kondisi baby alhamdulillah baik.  Jadi saya bisa kembali kontrol ke DSO umum.

Menjelang kehamilan 9 bulan, setelah berunding dengan dokter Farid, saya dan keluarga memutuskan untuk bersalin di RSHS. Karena di sana fasilitasnya lengkap, dokter syaraf saya juga ada di sana.  Jadi rasanya cukup tenang kalau bersalin di RSHS.  

Saya akhirnya berkonsultasi dengan dokter obgyn yang waktu saya koass mereka tengah mengambil residensi. Kira-kira, dokter siapa yang bisa oncall bersalin normal di RSHS? Karena sewaktu saya koass, jarang sekali konsulen yang membantu persalinan normal.  Yang direkomendasikan oleh dua orang DSO kenalan saya adalah dokter Anita dan dokter Ruswana.

Dua-duanya adalah dokter konsultan fertilitas.  Mungkin karena sering menangani anak mahal jadi lebih sabar saat harus on call ke RSHS ya. Hihi. Asumtif! Dan akhirnya, saat ingin kontrol ke RSHS, dokter Anita sedang tidak ada. Yasudah, karena dokter Ruswana sedang praktek pada hari itu, bismillah saja periksa dengan beliau. Daripada saya memilih dokter lain dan belum tentu juga dokternya bersedia menolong persalinan secara normal. Periksa ke dokter Anita di lain hari juga membuang waktu dan tenaga, kan? Barangkali takdirnya harus lahiran dengan dokter Ruswana ya.  ๐Ÿ˜†

Nah, dokter Ruswana ini sudah senior ya ternyata. Dulu waktu koass sepertinya saya belum pernah morning report dengan beliau.  Beliau orangnya tenang dan murah senyum. Orangnya juga sangat santai. Kondisi saya dianggap tidak ada penghalang persalinan sama sekali.

Saat diperiksa, berat Baby Hui sudah cukup.  Usia kehamilan juga sebentar lagi masuk aterm atau cukup bulan.  Lalu kepalanya sudah mulai masuk pintu panggul.  Jadi dokternya dengan santai bilang bisa dicoba persalinan normal. Alhamdulillah. Nanti saya kembali kontrol setelah dua minggu.

Sebelumnya ada DSO yang menyarankan persalinan secara caesar. Melahirkan secara caesar lebih rendah tingkat stresnya, juga tidak mengalami nyeri hebat seperti lahiran normal.  Tetapi, nanti proses penyembuhannya akan lebih lama dibandingkan melahirkan normal. Kalau melahirkan normal itu istilahnya, setelah keluar bayi semua nyerinya hilang.

Jadi kita usahakan melahirkan normal dulu ya, Kak!  Walau saya sempat ragu, nanti saya bisa mengedan tidak ya?  Saya bisa mengatur nafas tidak ya? Sekarang jalan kaki sedikit saja sudah engap. Semoga saja nanti kita mendapat pertolongan Allah ya Kak! Kehamilan Kakak saja sudah keajaiban dari Allah. Semoga persalinan nanti juga dimudahkan.

Anak mahalnya Ayah Bunda, sehat-sehat ya!  Sebentar lagi kita ketemu!

.

.

.

.

#30DWC #Jilid9 #Squad9 #Day29 

Advertisements

Kaki Kecil yang Mulai Berlari

Kak, kelak setiap perkembangan Kakak akan selalu kami nantikan.  Saat Kakak bisa mengangkat kepala, kami akan bersorak bertepuk tangan.  Saat Kakak bisa tengkurap, berguling, duduk, semua akan membuat kami bahagia.

Bila Kakak sudah merangkak, pasti kami akan mulai khawatir bila Kakak terkena ujung meja atau terbentur lemari. Tapi melihat Kakak sudah bisa bergerak kesana kemari sudah sangat menyenangkan. Apalagi saat Kakak mulai belajar berjalan. Ayah dan Bunda akan excited sekaligus merasa gugup.

Langkah demi langkah akhirnya Kakak akan bisa berjalan. Mulanya Kakak berusaha sekuat tenaga mengejar kami, hingga nanti Ayah dan Bunda akan dibuat sibuk. Kakak akan berlari, kami akan berpura-pura mengejar Kakak. Lalu akan ada saat dimana Kakak berlari dan sudah tidak sanggup kami kejar.

Jika Kakak nanti seperti Bunda, sepertinya Kakak akan suka berlari. Dulu saat sekolah dasar, Bunda sering ikut lomba lari. Walau tidak sering juara.  Saat kuliah Bunda juga hobi sekali berlari, dengan niat ingin menguruskan badan.  Walau akhirnya gagal ya.  Tapi Bunda tetap suka berlari. Karena lari adalah olahraga paling hemat.

Kakak, Bunda dan Ayah begitu menanti Kakak. Apalagi Ayah, walau diam sebenarnya Ayah begitu perduli dengan Kakak.  Kelak, Ayahlah yang akan memapah Kakak ketika belajar berjalan. Ayah juga akan mengejar Kakak sekuat tenaga saat Kakak berlarian kesana dan kemari.  

Berlarilah, Kak!  Langkahkan kaki kecilmu kemana pun Kakak mau. Ayah dan Bunda akan selalu berada di belakang, mendukung Kakak sepenuh hati.

.

.

.

.

#30DWC #Jilid9 #Squad9 #Day28

Cerita Menjelang Akhir Kehamilanย 

Hi, Kak! Tinggal sebentar lagi loh Kakak tinggal di dalam perut. Alhamdulillah selama kehamilan Kakak, Bunda ngerasa happy.  Ayah juga selalu support, jadi rasanya semua berlalu, ngalir begitu saja.

Kata orang, nanti pas Kakak sudah lahir Bunda akan kangen masa-masa Kakak masih di dalam perut.  Tendangan pertama Kakak itu kerasa banget waktu pengajian 4 bulanan. Kakak juga pemalu banget, sering enggak mau gerak kalau diajak ngobrol sama yang Kakak enggak akrab.

Selama dalam kandungan, Kakak cerdas banget. Bisa diajak main, Kakak bisa diajak ngobrol.  Kalau ada Ayah, sebelum tidur pasti kita berdua main dulu sama Kakak. Ayah akan nempelin tangannya di perut Bunda, ngusap-ngusap, terus nanti Kakak gerak-gerak.

Semakin besar usia kehamilan, Kakak semakin kesulitan bergerak. Dulu Kakak bisa menendang bebas, sekarang Kakak hanya bisa gerak sedikit saja. Kadang Kakak geraknya ritmik, kalau Bunda baca katanya Kakak lagi cegukan. Terasa betul Kakak semakin gendut, tulang rusuk kanan Bunda sering jadi korban.  Lututmu, Nak!!!  Rasanya ngilu-ngilu nikmat.

Semua yang Bunda rasakan hanya akan menjadi kenangan.  Tapi enggak akan pernah terlupakan, Sayang. Rasanya begitu menyenangkan.  Mungkin karena sudah terlewati, jadi yang tersisa adalah kenangan manis. 

Tinggal satu minggu lagi untuk menentukan apakah Kakak Hui punya kesempatan lahir pervaginam atau harus caesar? Bunda masih belum merasa tegang.  Akhir-akhir ini Bunda sering mengajak Kakak ngobrol, “Jangan dulu lahir ya, Kak! Bunda belum selesai beres-beres perlengkapan Kakak.” 

Perlengkapan Kakak semua Bunda yang cuci, Bunda setrika. Tidak pernah Bunda sesemangat ini.  Inginnya semua dikerjakan sendiri. Botol ASI dan pompa ASI juga perlu disterilkan.  Masih banyak sekali PR Bunda, Nak!

Kakak yang sabar ya.  Bertahan sebentar lagi di dalam perut. Kalau sudah 3Kg baru boleh meluncur ya! Sepertinya Kakak sudah mulai ingin keluar ya. Sekarang kontraksi Bunda semakin sering. Ada juga rasa nyeri yang tajam di bagian pelvis, mungkin karena persiapan untuk meregang.

Semoga kita berdua diberi kemudahan oleh Allah ya, Kak. Amin..  

.

.

.

.

#30DWC #Jilid9 #Squad9 #Day25

Cerita (Drama) Kehamilankuย 

“Hamilnya sekali aja ya, Yang.” Kata saya pada Pak Suamik.  Astagfirullah!! Kondisi saya mah ga ada apa-apanya dibandingkan dengan para wanita di luar sana yang sedang berjuang untuk hamil.

Menjelang 30 minggu usia kehamilan, Kakak ternyata posisi kepalanya sudah di bawah. Jengjengggg… Alhasil saya beserta keluarga semakin memperketat pertahanan.  Korset selalu dipakai selain tidur, sementara aktivitas pun harus dibatasi sampai kira-kira usia kehamilan 36 minggu. Melewati usia 28 minggu sudah alhamdulillaah.  Artinya masih ada harapan buat Kakak.  Saat kontrol saya pun diberi obat suntik steroid untuk pematangan paru-paru janin, booster istilahnya.

Alhamdulillah Mama dan Tante saya adalah tenaga kesehatan. Jadi obat suntiknya bisa dibawa dan diberikan di rumah.  Geuning sakit ya disuntik teh. Dulu saat koass saya belajar tentang jenis suntikan ini, pantat kanan pantat kiri 2x per 12 jam selama 2 hari.  Di rumah boleh alay teriak ketakutan.  ๐Ÿ˜†๐Ÿ˜

MasyaAllah.. Kakak makin besar makin aktif.  Jam bangunnya jadi lebih banyak dari biasanya.  Setelah tahu posisi kepalanya di bawah, saya, dokter, dan keluarga jadi was was.  Karena rahim saya masih terus kontraksi, bila ditambah tekanan dari kepala bayi bisa menyebabkan bukaan.  Uuu degdegan tapi harus dibawa senyum aja, dibawa santai cyin!  Pulang kontrol obat penguat kandungannya ditambah.  Kakak semangat!!!!!  Betah-betah ya uyel-uyel dulu aja di peyuut! 

Oh iya, saya selama di Lembang kontrol di dr. Farid, di RSIA Buah Hati.  Saya sudah kenal beliau sejak SD dan sekarang sudah jadi konsultan dan doktor, jadi berasa periksa sama Bapak sendiri. Alhamdulillah karena tempatnya dekat dari rumah, jadi memudahkan saya dan keluarga.

Badai Hampir Berlalu 

Alhamdulillah hari ini Kakak sudah hampir 35 minggu.  Beratnya pun sudah 2,5 Kg. Walau badan rasanya sudah tidak sanggup menahan beban, tapi kita haru optimia ya, Kak?  InsyaAllah kita usahakan untuk melahirkan secara normal. 

Bersyukur sekali bisa memasuki usia 8 bulan.  Berbagai keperluan Kakak sedikit demi sedikit mulai terpenuhi. Alhamdulillah keluarga dan suami membantu menemani saya memenuhi pritilan Kakak yang ternyata buanyak sekali.  ๐Ÿ˜š Tapi bahagia sekali bisa menyiapkan berbagai barang dan oakaian untuk Kakak. ๐Ÿ˜˜

Perjalanan masih panjang. Mudah-mudahan Kakak bisa bertahan minimal 3 minggu lagi, agar organnya sudah siap sempurna untuk hidup di luar rahim Ibuk. Tapi rasanya akhir-akhir ini kontraksi semakin sering. ๐Ÿ˜ฉ๐Ÿ˜– Saya hanya bisa berharap semoga hanya kitik-kitik saja dan tidak mengganggu kehamilan. Amin.

Mudah-mudahan badai segera berlalu. Semoga Kakak bisa lahir sehat sempurna dan cukup bulan.  Kita bertahan beberapa minggu lagi ya! Yang sabar, jangan pengen cepet-cepet keluar!
We love you, Kak!  โค

.

.

.

#30DWC #Jilid9 #Squad9 #Day16

Surat Cinta untuk Kakak

Kak, selamat 34 minggu anak Ibu! Senang sekali Kakak bisa tumbuh sehat dan lincah. Sekarang gerakan anak Ibu sudah membuat ngilu-ngilu.  Kakinya ingin diregangkan, ya? Tapi sudah tidak cukup, Sayang. 

Betapa bersyukurnya Ayah dan Ibu bisa mempertahankan Kakak di dalam kandungan. Tidak ada pengorbanan yang begitu berarti, Kak. Semua tidak ada apa-apanya bagi kami. Rasanya menyentuh dan merasakan gerakkan Kakak saja sudah membayar semua yang diusahakan.

Akhir-akhir ini Ibu semakin berat jika berjalan. Area punggung pun begitu ngilu. Apalagi sekarang area jalan lahir mulai semakin meregang dan rasa sakitnya begitu tajam. Begini lah Ibu Kakak, ambang batas sakitnya rendah. Tidak terbayang nanti Ibu pasti jerit-jerit saat melahirkan. ๐Ÿ˜…

Kakak, Ibu dan Ayah berharap,  semoga nanti Kakak bisa lahir cukup bulan. Nenen yang pinter ya, Nak! Doakan Ibu dan Ayah bisa menemukan pengasuh, supaya Kakak bisa ikut Ibu ke Indramayu. Terima kasih banyak Kakak sudah hadir ke kehidupan pernikahan Ayah dan Ibu.

Oh iya, Kak! Pagi tadi teman seperjuangan Kakak harus gugur.  Adik bayi harus lahir di usia yang terlalu muda, 29 minggu kandungan. Padahal beratnya sudah lumayan, sekitar 1,4 Kg.  Tapi sayang, Ia belum sempat diberi obat penguat paru. Kondisinya terlalu lemah untuk bisa hidup. 

Semoga Kakak jadi anak yang selalu bersyukur ya.  Kakak diberi begitu banyak nikmat oleh Allah.  Ibu sempat flek, sempat kontraksi juga. Tapi Allah masih menjaga Kakak di dalam perut Ibu sampai hari ini, alhamdulillah.

Jadi anak sholeh ya, Sayang!  Ayah dan Ibu sayang sekali sama Kakak.  InsyaAllah kami akan melakukan yang terbaik untuk Kakak.  Doakan agar kami jadi teladan untuk Kakak, ya! Semoga Allah melindungi Kakak di dalam perut.  Amin.. 

.

.

Ibu dan Ayah sayang sekali sama Kakak.  โค

.

.

.

#30DWC #Jilid9 #Squad9 #Day12

Rencana Pendidikan Keluarga Bapak Ariantoย 

Saat mengikuti kelas matrikulasi IIP, saya diminta untuk membuat kurikulum pendidikan keluarga. Berhubung masih bingung, jadilah saya membuat beberapa poin-poin kemudian didiskusikan dengan suami. Ada beberapa poin yang juga diusulkan oleh suami.

Idealnya, anak dididik sesuai dengan fitrahnya. Tapi pendidikan sesuai dengan fitrah ini bahasannya masih terlalu berat dan kurang saya pahami.  Jadilah sementara saya dan suami membuat rancangan ala-ala. Mengekor rancangan Teh Kiki dan buku parenting, kami membaginya sesuai dengan kategori usia.

 .
Pendidikan anak usia kandungan:

– Mengucapkan salam kepada jabang bayi setiap hari.

– Mengajak berbicara mengenai harapan agar kelak menjadi anak yg sholeh, menjadi penyejuk hati orang tua, bermanfaat bagi bangsa dan agama.

– Mengajaknya beribadah, misal mengajaknya ketika Bundanya akan shalat.  Atau mengeraskan suara ketika mengaji dan menjelaskan maksud kita mengaji.  

– Menceritakan mengenai kebaikan Allah dan kemurahanNya.

– Karena LDR dengan suami, jabang bayi diperdengarkan rekaman suara mengaji ayahnya.

 .

Pendidikan Anak 0-2 tahun

– Mengucapkan salam ketika bayi bangun tidur dan membimbing doa sebelum tidur.

– Menyusui selama 2 tahun.

– Memberikan makanan pendamping ASI yang bergizi. 

– Mengontrol screentime dan tidak memberikan gadget untuk bayi. Memilihkan tayangan yang bermutu bagi bayi. 

– Melatih mengucapkan doa ketika hendak melakukan kegiatan sehari-hari.

– Mengajaknya berbicara dan berkomunikasi dan menanggapi setiap ekspresi bayi.

– Memberikan stimulasi anak sesuai dengan panduan SDIDTK.

– Membacakan cerita islami, baik mengenai rasul, sahabat rasul, akhlak yang baik dan cerita hikmah.

– Mengajak anak berbicara dengan bahasa Indonesia. Tidak mengajarkan anak bahasa lain sampai anak mampu berbicara dengan baik dan mampu mengutarakan keinginan atau perasaannya dengan bahasa yang bisa dimengerti.  

– Mengajak anak bermain bersama.

.

Pendidikan anak usia 3-6 tahun

– Mengajak anak agar mencintai Allah dan rasul saat bermain atau saat melakukan aktivitas outdoor.  

– Bermain dengan anak dan memberi stimulasi untuk anak.

– Mengajak, melibatkan anak melakukan aktivitas pekerjaan sehari-hari dan membuatnya senang dan merasa seperti bermain.

– Mengeksplorasi berbagai pengetahuan bersama anak sembari melihat bakat dan potensi anak.

– Mengajak anak ke berbagai tempat, baik tempat wisata alam, museum, kebun binatang, dan wisata edukasi lainnya.  

– Mulai mengajak menghafalkan surat-surat pendek.

– Memberikan nasihat di sela waktu bermain. 

– Menunjukkan kasih sayang pada anak dan mengajarkan anak agar menyayangi keluarga.

– Melakukan aktivitas outdoor atau piknik bersama dengan keluarga sebagai sarana bonding dengan keluarga. 

– Mengajarkan cara bicara dan berkomunikasi yang baik untuk menyampaikan keinginan 

– Mengajak anak dalam aktivitas keagamaan seperti shalat berjamaah, pengajian, mengajaknya belajar bersedekah dan berbagi dengan sesama.

– Mendekatkan anak dengan mesjid. 

– Mengajak anak untuk shalat dan menjelaskan keutamaan dan kewajiban shalat.

– Menjadi teladan dengan rajin membaca ketika bersama anak agar anak suka membaca.

– Mengenalkan anak bahasa Sunda dan bahasa Inggris.

– Melatih anak berenang.

– Memberikan stimulasi agar anak banyak bertanya dan punya rasa ingin tahu. 

– Mengajarkan anak bahwa banyak orang yang lebih kaya dan lebih miskin daripada kita, sehingga anak terhindar dari sikap sombong dan kufur nikmat.

– Membuka pandangan anak bahwa yang keren itu tidak hanya insinyur atau dokter. Tapi kalo mau mengikuti jejak orang tua, alhamdulillah. 

– Mengajarkan anak tentang silsilah keluarga besar dari pihak ayah dan ibu, serta mengajarkan nilai-nilai, dan kebiasaan di masing-masing keluarga besar.

.

Pendidikan anak usia 7-10 tahun

– Menjelaskan kepada anak mengenai perintah dan larangan disertai dengan maksud dan tujuannya. 

– Mulai mendisiplinkan anak shalat sembari menanamkan bahwa shalat itu bukan beban dengan cara menjadi contoh dan mengajak anak shalat berjamaah.

– Mengeksplore bakat anak kemudian memberikan  pilihan mengenai bidang apa yang ingin lebih dikuasai (dengan les misalnya).

– Mulai menggali anak kalau sudah besar mau jadi apa?  Sembari menyemangati dan memberikan nasehat untuk mencapai tujuannya tersebut.

– Membiasakan anak bangun untuk shalat shubuh dan mentrigger anak agar mengulang pelajaran atau membaca saat subuh.

– Membiasakan anak untuk mengisi waktu luang dengan hal yang bermanfaat.  Misal ada yang untuk tilawah, ada bagian membaca, istirahat, atau mengasah hobi.

– Melibatkan anak dalam pekerjaan rumah.  Misal anak mulai belajar mencuci pakaian dalam sendiri. Belajar memotong motong bahan makanan, membuang sampah, merapihkan tempat tidur dan mainan, menyapu. Tidak lupa menjelaskan maksud dan tujuannya.

– Mengajak anak bahwa belajar bukan untuk mengejar nilai saja, tetapi untuk mencapai tujuan. Misalnya untuk jadi bisa, untuk mencari ilmu, sebagai ibadah, dan sebagai kesenangan. 

– Menjelaskan bahwa sebentar lagi anak akan mencapai aqil baligh.  Jadi mulai harus dipersiapkan karena sebentar lagi memiliki kewajiban sebagai individu dan dosa kelak akan dipertanggungjawabkan oleh diri sendiri.  

– Menjadi teman anak bermain, mendampingi anak belajar, dan memotivasi anak

– Membiasakan anak menabung untuk membeli barang yang diinginkan.

– Melatih anak untuk menulis, berbicara menyampaikan pendapat atau resume dengan bahasa yang baik.  Melatih anak untuk berkomunikasi dan berbicara yang baik di depan publik.  

– Melatih rasa percaya diri anak.

– Mengajarkan anak bahwa rumah adalah tempat yang paling kondusif untuk memperdalam ilmu.  Jadi anak seharusnya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dibandingkan les tambahan di luar.

– Melatih anak dengan mengajaknya berbicara bahasa inggris.  Memberikannya media buku, lagu, dan games berbahasa inggris.  Melatih anak menulis berbahasa inggris.

– Mengajarkan anak bahwa kegagalan bukanlah suatu akhir. Anak harus semangat dan terus mencoba. 

– Melatih anak ilmu bela diri.

– Mengajarkan anak berpikir skeptik dalam menelan informasi atau ilmu.

– Mengajarkan anak untuk mempresentasikan kegiatan harian.

.

Pendidikan anak usia 11-14 tahun 

– Menjadi teman curhat anak.

– Mulai mentrigger anak untuk fokus pada bidang yang disukai dan membantunya untuk lebih berkembang.

– Menjadi teman bermain dan teman anak bercerita. 

– Mendampingi anak memasuki usia baligh, menjelaskan kewajiban ketika memasuki usia baligh.

– Memberikan gambaran mengenai pekerjaan atau bidang di masa depan. Mengajak anak untuk tour bidang dan juga meet the expert.

– Memperbolehkan anak untuk menggeluti bidang yang diinginkan dan memperdalam bidang tersebut sejak dini.  (Misal mulai aktif belajar programming, atau mulai memperdalam ilmu yang diminati, atau memperbolehkan anak berjualan jika ia minat.) Intinya mulai memperbolehkan anak memulai titik dalam karirnya.

– Mengajak anak berdiskusi mengenai agama islam, ilmu agama islam, dan kondisi umat islam saat ini dan di masa depan.

– Memberikan anak latihan untuk mengelola uang jajannya (diberi mingguan lalu bulanan).

– Memfasilitasi anak menggeluti passionnya.

– Berdiskusi dengan anak mengenai tujuan penciptaan manusia,termasuk anak kita, di bumi.

– Mengajarkan anak memanah.

– Melatih anak membuat proposal ketika menginginkan sebuah barang atau kunjungan wisata.

– Melatih anak untuk membuat rencana perjalanan.

– Melatih anak untuk bisa naik kendaraan umum sendiri.

– Mendorong anak untuk aktif organisasi di lingkungan terdekatnya.  
.

Pendidikan anak > 15 tahun 

– Menjadi pendengar dan supporter anak.

– Memfasilitasi anak menuju karir yang diminati.

– Menjelaskan tanggungjawabnya sebagai individu dewasa.

– Berdiskusi mengenai pilihan anak di masa depan.

– Berdiskusi mengenai tujuan hidup anak kita di dunia agar anak kita bisa menjadi seorang dewasa yang taat pada Allah, berprestasi,  dan bergairah dalam hidupnya.

– Memberitahu anak batasan-batasan dalam hubungan dengan lawan jenis (do and don’t).

– Melatih anak untuk mandiri mengerjakan pekerjaan rumah tangga. (Menguasai basic skill seperti memasak, mencuci, menyetrika, mengepel lantai, membersihkan kamar mandi, dan merapihkan kamar).

– Melatih anak bersikap kritis dan berpikir skeptik dan berdiskusi dengan baik .

– Memberikan delegasi kepada anak seperti memesan hotel, memesan tiket, dll yg memerlukan ketelitian dan pertimbangan.  

– Melatih anak agar dapat berpenghasilan sejak dini.

– Membangun sense of responsibility anak terhadap kondisi keluarga dan lingkungan.

.

Pendidikan anak usia kuliah

– Mendidik anak agar menyiapkan diri sebagai calon keluarga baru yg memilik tanggung jawab lebih. 

– Mendukung anak agar anak mampu mengamalkan ilmunya setelah kuliah dan menjadi seorang ahli yg bermanfaat.

– Menyiapkan anak mengenai pranikah. 

– Menjelaskan dan mengingatkan anak untuk bisa mandiri secara finansial ketika sudah lulus kuliah.

– Menjadi partner diskusi anak dalam menentukan calon pasangan hidup.
.

.
Ini tentu baru gambaran saja. Tentunya praktek di lapangan akan lebih kompleks nanti ya. Mudah-mudahan Allah selalu membimbing saya dan suami ketika mendidik buat hati kelak. Amin.. 

.

.

.

#30DWC #Jilid9 #Squad9 #Day10

Perjalanan Bersama Kakak

Assalamualaikum Kakak, mungkin sekarang Kakak masih bobo di perut Ibu. Tadi kecapean ya? Seharian Kakak gerak super heboh.

Kak, sudah 22 minggu 4 hari Kakak tinggal di perut Ibu. Kakak senang kan? Banyak sekali hal yang telah dilalui bersama dengan Kakak, mulai dari PP Puskesmas Kedokan,  sampai hectic di IGD RSUD Indramayu. Maaf jika Ibu ternyata masih lalai menjaga diri. Ibu merasa masih menjadi Ibu yang dulu, padahal sekarang sudah ada Kakak di rahim Ibu. Hingga akhirnya Allah menegur Ibu.

Sekarang Kakak semakin aktif, semakin cerdas, dan sholeh. Kakak bisa merespon kata-kata yang Ibu ucapkan ataupun sentuhan yang Ibu berikan di atas perut. Anak Ibu juga senang sekali mendengarkan tilawah.  Betapa bahagianya perasaan Ibu bisa merasakan setiap pertumbuhan Kakak. 

Sayang, malam ini Ibu sadar satu hal. Hidup dan mati itu adalah kehendak Allah. Tugas Ibu dan Ayah adalah membekali Kakak dan mendampingi Kakak agar senantiasa menjadi anak yang sholeh/sholehah. Yang kuat ya sayang. Bantu doa sama Allah. Ibu dan Ayah akan semaksimal mungkin untuk menjaga Kakak.
Salam sayang dari Ibu dan Ayah. 

Ayafluu Kak :*

#Latepost

Halu Trimester Tiga!ย 

Akhir-akhir ini saya jarang menulis, lebih tepatnya tulisan saya tidak ada yang selesai.  Ha!  Saya banyak mencari informasi seputar keperluan bayi newborn dan juga keperluan menyusui.  Rasanya sampai pusing sendiri karena banyak sekali pritilan yang membuat saya jadi idealis. Mungkin karena saya banyak browsing, jadi terjadi pertukaran informasi yang sangat cepat di kepala.

Alhamdulillah sebentar lagi Kakak memasuki usia 29 minggu.  Syukur luar biasa, Allah masih memberikan kesempatan Kakak tumbuh di dalam kandungan, di tempat yang didesain begitu luar biasa oleh Allah. Masih ingat betul saat itu saya masih hamil sekitar 22-23 minggu ketika mulai mengalami kontraksi. Rasanya begitu sedih dan putus asa.  Kakak belum siap lahir di usianya yang masih begitu muda. Tubuhnya belum siap untuk hidup di luar rahim ibunya. ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ
Akhirnya saya diboyong keluarga pulang ke Lembang. Saya pun dirawat hampir satu minggu.  Kontraksi oh kontraksi. Semua obat telah masuk, tetapi kontraksinya sulit sekali kontrol. Diam-diam sayang sering menangis. Harap-harap cemas menanti setiap minggu berlalu, menunggu pematangan tubuh Kakak. Saya, suami, beserta keluarga melakukan upaya yang terbaik yang kami mampu dan berdoa meminta pertolongan Allah.

28 minggu, satu tahap terlewati.  Kakak sudah mulai fase pematangan paru.  Setiap minggu begitu berharga. Sekarang saya dan keluarga hanya bisa berdoa dan menjaga Kakak dengan membatasi aktivitas. Kontrol ke RS saja saya masih takut karena khawatir kontraksi akan terangsang dengan banyaknya gerakan. Semoga Kakak bisa terus kuat dan bertahan sampai 34 minggu, agar saya bisa mulai kontrol ke RS dan mulai berkonsultasi mengenai persiapan persalinan.

Bahagia rasanya merasakan gerakan tubuh Kakak yang mulai membesar. Gerakannya kini tidak lagi penuh ancang-ancang karena space di dalam kandungan tidak lagi seluas sebelumnya. Wkwkwkwk. Kini gerakan Kakak ngilu-ngilu nikmat. Gerak sedikit saja sudah bisa teraba dan sering kali terlihat liukannya pada luar perut saya. Alhamdulillah.. Alhamdulillaah..   Setiap Kakak bergerak saya betul-betul bersyukur. Alhamdulillah Kakak berarti masih baik-baik saja di dalam perut.

Gerakan Kakak juga mengingatkan saya akan suami. Mungkin Allah menghadirkan Kakak agar bisa menemani saya selama suami bekerja di luar. Ingin sekali bisa berbagi setiap gerakan lucu Kakak setiap malam pada suami. Tapi Ayahnya harus berjuang di luar sana.  Semoga nanti ketika Ayahnya pulang Kakak tidak malu-malu bergerak dan bermain di dalam perut seperti biasanya ya, Kak!  

Ketika Pak Suami Pulang Ke Rumah

Waktu off suami adalah masa yang paling dinantikan.  Seperti biasa selalu ada hal manis dan juga pelajaran yang bisa diambil di sela kebersamaan.

Saya tentu saja belum begitu mengenal suami.  Pernikahan seumur jagung tentu baru memperlihatkan sebagian lapisan luar dari karakter dan kepribadian suami. Meskipun kami baru menikah, saya tahu bahwa suami begitu menyayangi istri dan keluarganya dengan sungguh-sungguh, walau Ia tidak pernah mengatakannya.
Cuti panjanganya Ia habiskan lebih banyak menemani saya di Lembang. Awalnya jadwal cutinya mundur karena pekerjaan. Ada rasa kecewa, tapi suami melakukan semua pekerjaannya juga untuk keluarga, kan? Duh, rasanya semakin cinta. ๐Ÿ˜

Saat suami pulang, banyak sekali agenda yang dilakukan suami. Mulai dari menemani keluarga mama karena mertua mama meninggal, suami juga nyekar ke makam bapaknya. Belum lagi suami harus ke Indramayu bersama Aki, untuk mengantarkan surat cuti saya dan juga mengambil barang saya di kosan. Karena saya dan suami memutuskan untuk cuti internsip sampai dengan melahirkan nanti.

7 jam waktu yang dilakukan untuk menyetir PP Lembang – Indramayu. Disentuh kakinya pun suami meraung-raung karena kesakitan.  :” Tapi Alhamdulillah semua barang sekarang sudah di rumah.  Komitmen saya dan suami, saat kehamilan saya terus menerus kontraksi, saya harus istirahat di rumah agar tetap dapat menjaga dan meneruskan kehamilan.

Jadi ingat, bahwa sekarang saya tidak sedang berkompetisi. Tidak ada hadiah jika saya selesai internsip lebih cepat. Banyak pula teman yang menunda internsip karena alasan lain.  Bahkan teman yang lulus UKDI bersama saya baru berencana mengikuti internsip tahun ini. Oh iya, hidup itu tidak seperti menaiki anak tangga. Setiap orang memiliki jalan yang berbeda.  Seperti saya, dulu sempat menunda kuliah 1 tahun. Setelah lulus kuliah saya menikah. Ternyata saat internsip saya hamil dengan kondisi yang mengharuskan saya untuk cuti dalam waktu yang cukup lama. 

Oh iya, tujuan saya hidup bukan untuk mendapatkan satu persatu target yang telah saya buat. Saat ini, kewajiban saya adalah berbakti kepada suami dan juga menjaga amanah berupa baby kutun yang sedang dikandung.  Alhamdulillah.. Alhamdulillah… 

Suami dan Sisi Romantisnya

Alhamdulillah Allah memberikan pasangan yang bukan hanya mampu membuat hati saya tentram, tapi juga membuat saya begitu bahagia.

Saat pulang ke Lembang, bobot saya meningkat drastis akibat keinginan saya akan makanan ini dan itu. Di Indramayu ingin makan Kaefsi saja sulit. Makanya ketika pulang ke Lembang berbagai makanan saya request sampai tidak ada lagi daftar makanan yang membuat saya penasaran. Ternyata eh ternyata.. Berat saya meningkat hampir 4-5 Kg berat sejak satu bulan tinggal di Lembang. Syukurlah sebelum suami cuti, mulai dari Mbiw, Ayah, Mama, dan Adik saya membantu untuk membelikan makanan atau minuman yang saya idamkan. 

Saat suami pulang, seluruh keluarga di lembang melemparkan tugas membelikan makanan ngidam si kutun pada suami. Hahahaha.  Ketika suami ada kegiatan di Bandung, saya selalu memesan makanan dan minuman yang enak-enak, dan tentu saja tinggi kalori.  ๐Ÿ˜ Mulai dari donut JCo dan minumannya, chatime, sushi, dan juga recheese. Tapi setelah gangguan pencernaan akhirnya saya mulai minta dibelikan buah. 
Tiba saatnya menimbang berat badan, muncul angka 14kg lebih banyak dari timbangan sebelum hamil.  Maaakkk!!!!  Suami saya hanya ketawa-ketawa saja. “Kalau hamil gendut ga apa-apa, kalau ga hamil ga boleh.” Katanya. Baju banyak sekali yang sudah tidak bisa dipakai. Rasanya kurang pede. Tapi suami menenangkan, “Kalau lagi hamil gendutnya cantik.” selain itu, suami juga membelikan beberapa pakaian dan kerudung yang senada supaya tampilan saya bisa lebih modis walau badan bleber-bleber.  Alhamdulillah suami super baik.  ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜š

Tidak jarang, setiap malam saya sulit tidur atau mengalami pegal-pegal pada kedua kaki.  Melihat suami mudah sekali tidur, saya selalu mengganggu suami, hihi. Pernah saking sakitnya kaki saya tidak bisa tidur sampai jam 12 malam, dan saya membangunkan suami, minta dipijat kakinya. Biar ada kenangan nanti suami bangun tengah malam diganggu istri. Hihi. Pagi harinya saya dan suami menertawakan kaki saya dan juga jari-jari kaki yang sudah berubah menjadi jempol semua.  ๐Ÿ˜‚

Ada Cinta dalam Tawa dan Makanan

Setiap malam selalu spesial bersama suami.  Biasanya menjelang tidur, kami menonton youtube bersama.  Ada saja video “super penting” yang membuat kami tertawa-tawa.  Mulai dari AFI, yang lagunya Menuju Puncak itu lho. Kadang kami menonton stand up comedy.  Kami juga iseng membuka artikel “penting” di LINE today atau detik.com. Yang tidak kalah penting adalah kami begadang hanya untuk membaca drama ojol di instagram sampai ingin pipis.  ๐Ÿ˜‚ Momen sederhana seperti itulah yang membuat saya mengenal mengetahui karakter suami. Syukurlah saya bisa punya teman hidup yang bisa membuat keseriusan saya lebih balance. ๐Ÿ˜‰ 

Momen makan juga selalu spesial bagi saya.  Walau tidak bisa memasak masakan ribet seperti biasanya, paling tidak saya selalu berusaha menyiapkan makanan untuk dimakan bersama suami.  Walau lebih sering beli lauk di luar.  Tapi selalu saya yang menyiapkan, dan kami akan makan bersama.

Berbeda saat PDKT dulu, sekarang yang terpenting adalah bisa memenuhi kebutuhan suami dan suami bisa tidur dengan nyaman tanpa terganggu karena lapar.  Jadinya kami sering cule-cule makan malam bersama, sepiring berdua. Niatnya supaya tidak makan terlalu banyak.  Tapi kok nikmat ya. Jadinya kami pun menambah nasi dan makan dengan porsi sendiri-sendiri. ๐Ÿ˜‚

Begitulah.  Yang biasa pun jadi luar biasa karena dijalankan bersama dengan suami tercinta. ๐Ÿ˜š

Catatan untuk pribadi:

  1. Selalu ingat dan catat setiap kebaikan suami
  2. Selalu hargai usaha suami
  3. Selalu syukuri setiap pemberian suami
  4. Selalu nikmati momen kebersamaan dengan suami, seperti saat menemani suami makan
  5. Isi rumah tangga dengan humor supaya suami dan istri makin kompak.  Selain itu supaya bisa saling mencair dan terbuka satu sama lain
  6. Syukuri setiap kesempatan bersama. Selesaikan masalah ataupun luruskan kesalahpahaman agar waktu bersama tidak diisi dengan bertengkar dan saling diam satu sama lain
  7. Selalu doakan suami karena setiap hari Ia di luar berjuang melawan godaan dan nafsu dunia

Pregnancy Story : Beda Orang, Beda Kondisi

Ternyata, mengandung adalah perjuangan.

Saat jaga malam kemarin, perut saya begitu tegang dan mengeras. Kata bidan yang sedang di IGD, “Hati-hati perutnya kenceng banget.” Itu sekitar pukul 10 malam.  Ternyata perut saya terus kencang sampai pukul 6 pagi. Saya yang baru pertama kali merasakan perut tegang yang sangat lama kebingungan dan mulai khawatir. Saya pun kembali masuk ke ruang kebidanan IGD. 

Bu Haji bilang, “Aduh dok.. Khawatir.  Lagi hamil segini rawan banget keluar lagi. Cepet-cepet minum obat antikontraksi terus tiduran.” Baru saja satu hari sebelumnya saya kedatangan pasien yang spontan mengeluarkan bayi saat usia menjelang 5 bulan, usia kandungannya tidak jauh berbeda dengan saya. Ternyata ini kondisi serius.  ๐Ÿ˜ฐ

Jaga malam itu memang cukup ramai. Banyak sekali pasien anak yang harus membuat saya mondar mandir. Biasanya paling tidak saya bisa berbaring 1-2 jam. Malam itu benar-benar saya tidak bisa istirahat. Fisik saya tidak merasa terlalu lelah atau bagaimana karena memang sudah biasa. Tapi ternyata rahim saya memerlukan rebahan agar tidak terlalu tegang.

Sepulang jaga saya langsung istirahat. Saya malah tidak memakan sarapan yang dibeli, karena dipikiran saya hanya ‘pokonya harus segera tidur’. Jadi saya tidak nafsu makan sama sekali.  Barulah siangnya saya makan sebelum kontrol ke dokter kandungan.

Saat sudah menunggu sekitar 30 menit, ternyata dokter yang biasa saya kunjungi tidak ada.  Jadilah saya berkonsultasi dengan dokter lain karena memang ini urgent.  Akhirnya saya diperiksa oleh dokter Wahyudi, dokter kandungan yang juga praktek di rsud Indramayu. Syukurlah saya bisa banyak berkonsultasi dengan beliau dan mendapatkan penjelasan yang dapat dimengerti.

Setelah di USG, ternyata sebagian plasenta saya letaknya rendah, jadi kondisinya disebut dengan low lying plasenta. Mungkin ini yang menyebabkan rahim jadi mudah tegang dan kontraksi, selain karena saya kurang istirahat. Pantas saja dulu saat awak kehamilan saya sempat keluar darah dari jalan lahir. Ternyata karena letak plasentanya memang rendah. Mudah-mudahan posisinya bisa berubah seiring bertambahnya usia kehamilan.

Dokter Wahyudi bilang, “Obatnya cuma bedrest.” Saya pun diminta untuk istirahat tiga hari. Ya Allah, ternyata mengandung itu penuh perjuangan ya. Jangan keluar terlalu dini ya nak, nanti kalau sudah kuat tumbuh sendiri di luar baru boleh. :”

Saya ingat bahwa sejak awal hamil kondisi saya memang berbeda dengan orang lain. Awalnya saya ingin hamil seperti orang biasa, yang tetap aktif dan melakukan aktivitas normal. Saya banyak berjalan kaki. Saya juga aktif bergerak ketika bekerja di RS.  Tapi ternyata kondisi saya berbeda dengan Ibu hamil lainnya yang masih bisa beraktivitas normal. Saya harus bersabar ketika orang lain bilang, “Jangan dibawa males nanti anaknya jadi rewel.” atau banyak yang bilang, “Dulu saya hamil masih jaga sampai hamil tua, masih kuat nyetir motor juga.”

Kondisi saya berbeda.  Rahim saya dibawa jaga, yang menurut saya biasa saja sudah mengeluarkan warning.  Saya harus ikhlas menerima bahwa saya memang harus membatasi aktivitas meski saya ingin. I deserve to fight my pregnancy. 

Alhamdulillah suami dan keluarga mendukung.  Bila terjadi sesuatu lagi saya harus cuti internsip. Jika memang saya tidak diizinkan untuk cuti, jalan satu satunya adalah resign.

Saya berpikir, mengapa Allah memberikan satu persatu ujian kepada saya dan keluarga? Kenapa ya Allah? Lalu saya ingat betapa Allah juga memudahkan kehidupan saya yang lainnya. Betapa Allah memberikan Kasih Sayang, Rahmat, dan Karunia-Nya pada saya dan keluarga.

Saat menaiki becak di perjalanan pulang tadi saya hanya bisa istigfar.  Ampuni kesalah hamba dan keluarga ya Allah. Saya sadar harus sabar dan tetap tawakal. 

Semoga kita ketemu setelah kamu aterm, baby girl. Puas-puasin bobo dan main di perut Bunda ya.  ๐Ÿ˜˜