Haluuu, Anak Ibu! 

Haluu anak Ibuu!!! Selama baby bala-bala dalam kandungan ini masih suka galau manggilnya Ibu/Bunda/Ibun. 

Sekarang saya mulai sering menyapa Bayik, seperti “Haluu anak Bunda. Kita makan dulu yaa. Kamu lagi bobo enggak?”

Ayahnya mungkin masih malu-malu untuk berbicara dengan baby yang tidak nampak wujudnya itu. Tapi setiap ada kesempatan pulang Ayahnya selalu kiss-kiss perut yang sudah mulai membesar. Berbicara dengan baby ini adalah upaya untuk mendidiknya sejak dini.

Kalau orang Yahudi giat belajar ketika mengandung, orang Palestina rajin membaca Alquran dan menghafalkannya. Berarti, baby itu merespon apa yang dilakukan Ibunya.  Awalnya saya ingin mengajarkan banyak hal, entah itu bahasa atau ilmu pengetahuan sejak dalam kandungan.  Tapi setelah direnungkan, cukuplah saya menanamkan kecintaan Bayik yang tengah di kandung pada Allah dan Alquran. 

Alhamdulillah setelah menikah saya diberi suami yang begitu perhatian dan bertanggungjawab. Allah juga memudahkan suamik dalam mencari nafkah.  Saya pikir, ujian rumah tangga ada pada diri saya sendiri. Mau dibawa kemana pendidikan anak-anak kelak? Jujur ingin punya anak sholeh itu ujiannya sangat berat.

Akhirnya saya menentukan bahwa hal pertama yang harus saya tanamkan pada anak-anak adalah kecintaannya terhadap agama. Walaupun langkahnya berat dan tersendat, tapi inilah pilihan saya. Pelan-pelan, usaha mendidik anak shaleh ini juga membuat saya lebih berusaha meningkatkan amal ibadah dan juga ilmu.  Maka sesulit apapun harus dilewati setiap anak tangganya.

Minggu depan insyaAllah baby ulala akan mulai diberi pendengaran oleh Allah.  Aaaak :”” harus mulai bersiap. Semoga nanti bisa banyak bercerita dan membuat Bayik Bunda mendengar yang baik yaa.  :”” 

Ramadhan Pertama Bersama Suami 

Tulisan kali ini tidak beraturan dan tanpa gagasan, tapi berisi kebahagiaan yang didapat oleh seorang istri biasa dari suaminya yang luar biasa.  
.

.

Ramadhan kali ini spesial pake telor, ada suami, ada juga baby yang lagi glendotan di dalem perut. Awal ramadhan alhamdulillah bisa dijalankan bersama suami. Tiga hari di bulan ramadhan yang ga akan pernah terlupakan. 

Ibuk Hoek, Suamik Siaga

Ternyata menjelang trimester dua ini mual muntah masih ada.  Kalau-kalau telat makan snack atau makan berat, pasti langsung pusing kleyengan dan mual muntah.  Alhamdulillah suamik super baik hati mau terjun membantu istrinya yang cupu ini. Hehe. Saya memutuskan untuk tidak berpuasa, menimbang kondisi yang gampang banget pusing dan mual kalau telat makan.  Well,  nda shaum bukan berarti ga menikmati beribadah di bulan ramadhan juga kan..

Well, ini beberapa kenang-kenangan supaya saya bisa ingat betapa baiknya suami saya. Ini bisa jadi cerita juga kelak buat anak-anak, betapa ayahnya baik banget dan begitu sayang sama anaknya bahkan jauh sebelum dia lahir.  

H-1 Ramadhan

Tadinya saya ingin membuatkan suami es campolay berikut makanan beratnya. Apadaya ternyata kami ketiduran dan bangun di sore hari. Suami saya orangnya ga bisa nahan laper, jadi kasian kan kalau ga ada makanan. Hari itu saya masak nasi, memanaskan lauk yang sudah saya masak sehari sebelumnya.

Suami justru yang membuatkan saya es timun suri pakai susu dan sirup campolay.  Jadi malu.  🙈 Alhamdulillah punya suami sholeh banget.  Waktu itu saya kebagian menggoreng ayam dan tempe tepung, sedangkan suami inisiatif tinggi memotong sayuran. Bangga banget dong, akhirnya yang masak sayur sop malah suami. Mau latihan masak katanya. Bikin sayur sop for the first time, tapi langsung jago. Hihi. 

Akhirnya makanan jadi mepet dengan shalat isya.  Suamik pun berangkat tarawih terburu-buru. Hihi. Saya tarawih di rumah.  Pulang suami tarawih, saya lanjut masak nasi dan memanaskan daging yang telah saya masak sebelumnya dan dimasukkan freezer. Fyuuh tiba-tiba sudah jam 10 malam. Rasanya malam itu chaos. Maklum amatir. 

H 1 Ramadhan

Sahur aman damai karena malamnya nasi dan lauk sudah siap. Jadi hanya perlu manasin lauk aja.

Siangnya saya ada deadline membuat NHW kuliah online IIP.  Jadinya, karena otak saya rempong ga bisa memikirkan hal lain, suami turun tangan mengambil buku catatan saya dan pulpen.  Sembari mengerjakan tugas suami mencatat menu makanan yang akan kita siapkan. (FYI ini menu masak jadi berubah e.c suami datang lebih awal dan tinggal lebih lama.  Jadi perlu belanja dan atur menu lagi). 

Suami mencatat menu buka dan sahur plus bahan yang diperlukan.  (Unchhh pinter banget suami gemeskuu).  Tidak lupa suami membantu mencatat keperluan kosan yang saya sebutkan sembari nugas. Superbbb sekali kesayangku :* . 

Dulu saya selalu mengerjakan semua hal sendiri, memikirkan semua sendiri.  Lalu sekarang saya punya seorang partner yang bisa menyalurkan dan menterjemahkan pikiran rempong saya. Sungguh sesuatu. Belum lagi suami sama-sama intuitif. Diajarkan sekali cara memotong bahan dan bumbu apa saja yang diperlukan Ia langsung bisa. Kerjasama dengan suami benar-benar membuat pekerjaan lebih cepat dan kami bisa makan tepat waktu.

Saya kira jadi perempuan segala bisa itu hebat.  Tapi ternyata bekerja sama dengan suami sangat membahagiakan. Senang sih bisa menyiapkan semua keperluannya. Tapi saat terasa gempor, sungguh bantuan suami luar biasa membantu.  Saya juga senang bisa bekerja bersama sembari berinteraksi dengan suami.

Sore hari, akhirnya saya dan suamik jalan-jalan ke Yogya. Niatnya mau belanja keperluan di kosan dan sayuran buat di masak. Ternyata, ya Allah.. Penuhnya sampai-sampai mulai hipoglikemi. Sebenarnya kami belanja tidak terlalu lama karena sudah ada list. Tapi tetap saja suasana yang ramai membuat saya mabuk. Jadinya, ketika sedang belanja keperluan suami di lantai atas, akhirnya saya sudah kleyengan. Syukurlah segera diselamatkan dengan nasi katsu plus sebotol teh pucuk. Ehehehe.

Pulang ke kosan, kami kesorean untuk menyiapkan makanan berbuka. Jadinya rempong deeh.  Tapi syukurlah setelah rempong suami suka dengan makanan yang dibuat.  Terutama Ia suka martabak telur yang saya buat. Sebelum tarawih suami mengutamakan untuk membelikan saya obat.  Karena hari itu benar-benar mual dan obat saya sudah habis. Unchh suami siaga. ❤

Malam hari saya hendak menyiapkan makanan untuk sahur.  Suami saat itu sedang flu. Karena saya memanaskan minyak di penggorengan yang ada airnya, tiba-tiba muncul percikan minyak dan suara keras, “Ctakkkk!!!”. Suami yang sedang mengerjakan tugas kantor langsung turun tangan, “Mau bikin apa sih yang?” Dengan muka bete karena lagi sakit tapi lelah.  “Matiin dulu kompornya.” 

Saya masak di kamar dengan kompor portable. Mungkin karena apinya terlalu besar jadi minyaknya cepat sekali panas. Hehehe.. Akhirnya setelah dibantu suami saya bisa memanaskan makanan dengan benar. Wkwkwkwk. 

H2 Ramadhan  

Sahur pake daging semur + sop ya mayan lah ya.

Buka masak sayur asem, ayam goreng, tempe mendoan,  plus sambel kecap.  Suami paling suka menu ini.  Katanya paduannya pas.  Lucu deh, saya kebagian masak tempe mendoan, suami yang menggoreng ayam.  Kyaaaaa. Bagi saya, sikap suami saya ini sangat romantis.  Ia ingin selalu meringankan beban saya. :””” Oppa Saranghae ❤❤❤

H3 Ramadhan

Karena suami paling suka gorengan, dan saya lupa beli tahu, jadinya untuk sahur saya membuat martabak mie.  Hehe.  Sebenarnya karena nasi sisa buka tidak terlalu banyak.  Supaya suami bisa tetap kenyang.  Xixi. Maaf ya yang. >< Katanya gapapa, walau martabak mie mah bisa bikin sendiri.  Tapi kalau martabak yang sudah jadi pas baru bangun tidur itu lebih enak.  😂
Tidak terasa setelah subuh suami sudah harus kembali ke Jakarta. Hiks.

Setiap suami harus pergi lagi pasti saya nangis cirambay berkala di kosan.  Setiap pertemuan dengan suami selalu saja ada hal kecil yang begitu berkesan terutama bagi saya yang sering ditinggal pergi.  Perhatiannya, bantuannya,  sikap inisiatifnya, semuanya merecharge energi dan membuat saya lebih bahagia dan semangat di hari berikutnya.

Setelah suami pergi, barulah saya terpikir tentang menu takjil untuk berbuka puasa. Huhuu.  Sedih. Ini jadi pengingat mudah-mudahan kalau suami pulang nanti bisa lebih prepare lagi buat makan sama cemilannya.

Terus kepikiran, betapa bersyukurnya saya punya suami yang berusaha membahagiakan saya dan memenuhi kebutuhan saya.  Ia berusaha menghadirkan dirinya utuh baik ketika jauh ataupun sedang bersama saya. Walau kegiatan yang kami kerjakan bersama di rumah itu sederhana tapi sangat ngena buat saya. Kebayang selama ini setiap pulang suami selalu siap pakai masker kemudian tempur di wc yang mudah sekali bau.  :””  

Cinta itu kata kerja. Ia hadir dari usaha, hadirnya fisik dan hati. Cinta juga dihadirkan suami saya melalui tindakan-tindakan sederhananya yang membuat saya takjub. Akhirnya saya sering tiba-tiba cirambay sendiri. Sesayang itu saya dengan suami. Kali ini cirambaynya saking senengnya.  Hehee. Dasar lebay.

Mungkin kata-kata aja ga bisa membalas kebaikan suami.  Semoga saya bisa membahagiakan suami, mendidik buah hati kami,  dan menjadi istri yang membuat mata dan hatinya tentram. Amin.. 

.

.

.

Indramayu, hari ke 4 Ramadhan

30 Mei 2017

Kepada suami:

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu

Kepada api yang menjadikannya abu


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan

Kepada hujan yang menjadikannya tiada


(Aku Ingin – Sapardi Djoko Damono)

Ayah dan Bahasa Cintanya

Nak, Ayahmu itu punya cara yang berbeda untuk mengungkapkan perasaannya.

Sumber: m.repubblica.it

Mungkin nanti kamu lebih ngefans sama Ayah daripada Ibuk. Tapi nanti kalau Ayahmu sibuk mungkin juga kamu malah menyangka Ayah itu kurang perhatian. Ibuk cuma mau bilang, Ayah sangat sayang dengan kamu bahkan sebelum kamu lahir.
Keinginan Memiliki Buah Hati

Ayahmu itu ingin sekali cepat punya anak.  Pokoknya kami memutuskan untuk tidak menunda kehamilan, dengan harapan dapat segera diberikan momongan.  Usaha kami lakukan dengan menjaga kesehatan, makan suplemen vitamin,  berolahraga, dan juga menjaga bobot tubuh.

Kadang Ibuk ke Jakarta ketemu Ayahmu, kadang Ayah ke Indramayu. Kami seolah kejar setoran. Ayahmu nda pernah bilang kalau Ia tertekan, tapi dari wajahnya Ayah mukanya stres. Beban ingin punya anak ini seolah tanggung jawab Ayah. Akhirnya Ibuk bilang ke Ayah, lebih baik rencana punya anak kami tunda karena target ini justru membuat kami lupa menikmati waktu sebagai pasangan baru.

Tak disangka, dua minggu setelah ikrar kami tidak kejar setoran, Allah memberikan kebahagiaan.  Ternyata Ibuk hamil. :””” Alhamdulillah. Barangkali selama ini kami terlalu stres.

Arti Diamnya Ayah

Cobalah untuk lebih memahami diamnya Ayah. Meski Ayah diam, Ayahlah yang begitu ingin memiliki keturunan. Betapa senangnya Ibuk ketika melihat wajah sumringah Ayah.

Sejak beberapa minggu menikah, Ayah memutuskan untuk menaikkan target amalan yauminya (sambil ajak-ajak Ibuk). Katanya, setelah menikah beban dan tanggung jawab Ayah berubah. Shalat Dhuha setiap hari tidak pernah Ayah lewatkan. Mungkin Anak Ibu adalah rizki dan jawaban dari doa-doa Ayah.  :”

Ayah selalu mendoakan kita dari jauh. Meski Ayah sibuk dan tidak bawel seperti Ibuk, Ayah selalu mengkhawatirkan kita. Tapi Ia harus bekerja untuk Ibu belanja dan untuk membiayai kamu sekolah, Sayang. Semoga kita yang lebih tidak sibuk ini mampu menghargai kesibukan Ayah dan mampu menyambut kedatangannya saat Ia pulang ya, Nak.

Cinta Itu Kata Kerja

Pernah suatu hari Ayah tidak sengaja membuat Ibuk kesal. Entahlah hormonal saat hamil membuat emosi Ibuk meledak-ledak.  Waktu itu Ibuk memilih untuk mengutarakan kekesalan Ibuk, dibandingkan dengan mematikan HP dan memperkeruh suasana. Ayah saat itu sangat sabar mendengarkan, apa yang membuat Ibu marah? Ayah meminta maaf karena tidak peka terhadap Ibuk.  

Saat itu Ibuk bilang, tidak apa-apa karena kita baru menikah. Tentu masih banyak yang belum kita pahami dari pasangan.  Ibuk pun meminta maaf karena Ibuk lebay dan super sensitif. Ayah buru-buru pulang karena takut Ibuk masih marah, padahal Ibu sudah tidak marah. Tapi Ibuk sangat terharu dengan usaha Ayah untuk segera datang dan bertemu Ibuk secara langsung.

Ayah bilang, “I love you.” 

Ibuk saat itu masih gelendotan dipelukan Ayah bilang, “I don’t love you.”

Padahal karena sudah tidak tahu lagi harus bilang apa saking cintanya sama Ayahmu. Hihi. Mungkin karena bahasa cinta kami itu tidak dominan pada kata-kata, kami jarang sekali bicara manis satu sama lain. Dan itu tidak menjadi masalah. 

Bicara dengan Bahasanya

Ayah kamu itu spesial. Ia mungkin jarang sekali bilang sayang. Tapi Ia akan selalu sayang sama kita. Coba perhatikan, Ayahmu kalau sedang di rumah akan mengusahakan mengantar atau menjemput kita.  Ayah juga tidak akan sungkan kerepotan membantu kita.

Saat Ibuk hamil 11 minggu, keluhan mual muntah masih sangat tinggi.  Kosan Ibuk tinggalkan selama hampir 10 hari karena Ibuk harus bedrest di Lembang.  Setelah izin Ibuk habis, Ibuk diantar Ayah ke Indramayu. Perjalanan hari itu begitu melelahkan bagi kami.  Mungkin karena cuaca sedang sangat panas. Sampai di kosan kami sudah sangat kehabisan tenaga.

Tapi ya gitu deh Ayah kamu. Begitu sampai kosan Ia melihat paket reflektor AC. Ia bergegas membuka paket lalu memasangnya. Zzzzz.  Padahal tadi sudah lemes tapi kalau ada “mainan” baru langsung ON. Wkwkwkwk. Ayah sengaja memesan reflektor AC, katanya supaya badan Ibuk nda kena AC langsung. Sweet banget ya Ayah. :” 

Ayah kamu itu super hero banget deh. Ayah bantuin Ibuk cuci piring. Beliau tahu Ibuk muntah-muntah melihat bekas makanan yang menjijikkan. Apalagi flush kloset itu memang sejak awal mampet dan sepertinya sudah perlu sedot wc. Hasilnya, ditinggal seminggu lebih keluar bau yang sangat tidak sedap dari kloset. Padahal tidak nampak kotoran sama sekali.  Tapi baunya….. Ampun!!! 

Bersyukur Ayahmu sangat siaga. Ayah yang pertama kali membuka penutup kloset. Begitu Ibuk mengintip Ayah di kamar mandi, Ibuk langsung mual seketika. Baukkk banget :((((( . Ayah langsung bilang, “Yang jangan kesini. Besok Aa bersihin ya.” Ayah langsung menutup pintu kamar mandi. 

Belum lagi dinding kamar mandi kok cepat sekali kotor dan memunculkan warna kerak kehitaman. Padahal baru ditinggal sebentar dan saat sebelum Ibuk pulang kondisinya masih OK. Luar biasanya Ayah kamu nak.  Esok hari setelah badan Ayah lebih fit, Ia mulai bebersih kamar mandi.

Pagi-pagi setelah sarapan Ayah bergegas ingin membersihkan kamar mandi. Ibuk memberikan Ayah masker. Ibuk memberi tahu mana sikat untuk lantai dan mana sikat untuk kloset. Ayah pun masuk ke kamar mandi, berbekal pembersih kloset dan pewangi lantai. Lama Ayah di kamar mandi. Ibuk pun sedikit-sedikit membersihkan kamar dan mengepel lantai (yang entah kapan terakhir di pel).  Hehe.  Supaya saat Ayah selesai, kamar juga sudah lebih rapih. 

Ayah pun selesai. Kamar mandi jadi super cling. Bahkan Ayah menempelkan pewangi kloset, yang pasangnya itu harus lap-lap kloset dulu baru ditempel.  Super banget deh Ayah kamu. Waktu Ibu tanya, Ini pertama kali Ayah mberesin kamar mandi seumur hidupnya. Dan Ayah totalitas banget bikin kamar mandinya super bersih.  Terharuuuuuu :””””””

Pengorbanan demi anak istri itu bikin Ayah rela melakukan apapun, Nak.  :”””

Tidak lupa Ayah membelikan Ibuk pengharum kamar mandi, pembersih kloset, pengharum kloset, kamper,  dan penyerap bau.  Memang kamar mandinya perlu perhatian yang sesuatu. Pfffft. Ayah juga yang memasangkan semua itu di kamar mandi, Sayang.

“Gimana, puas ga sama service Aa? ” Tanya Ayah.  

Ibuk sampe mewek bombay waktu Ayah pulang saking bahagianya. Terharu banget sama usaha-usahanya Ayah. 

Pasti Ayah ini membuat standar calon pasangan dalam hidup jadi tinggi ya, Ayah yang sangat bertanggung jawab dan mengayomi keluarganya.

Semoga catatan ini bisa menjadi pengingat kita mengenai kebaikan-kebaikan Ayah, membuat kita bisa memahami dan membalas kasih sayang Ayah ya..

.

.

.
Cerita untuk anak Ibu

Indramayu, 15 Mei 2017

Up and Down of The Pregnancy 

Kehamilan saya ini memang bukan termasuk kehamilan anak mahal, baik kehamilan yang dinantikan selama bertahun-tahun, atau kehamilan melalui program hamil puluhan juta rupiah.  Mengingat banyak orang begitu banyak menginginkan kehamilan dan belum Allah berikan, saya dan suami pun tak punya duid puluhan juta, jadi kami memutuskan bahwa kehamilan ini mahal dan harus dijaga sebaik-baiknya.  

Kondisi ini menyebabkan seluruh keluarga berusaha menjaga kehamilan saya agar tetap sehat.  Oleh karena itu saya dibatasi untuk tidak sering bepergian jauh. Hal ini membuat saya bosan setengah mati karena tidak bisa sering pulang ke Lembang atau menemui suami di Jakarta.  😥

Kehamilan ini anugerah yang membolak-balikkan hati anggota keluarga dengan ajaibnya.  Semua orang berbahagia menyambut kedatangan si buah hati. Meskipun begitu, ternyata ujiannya juga sangat besar.

Saat hamil ini saya tengah menghadapi internship di Kabupaten Indramayu. Keseharian ketika bekerja tidak ada masalah sama sekali.  Masalah atau ujian hadir ketika pulang ke kosan. Saya mudah merasa bosan, mudah muntah apabila mencium bau makanan, bosan memakan makanan yang sama, dan saya mudah merasa clueless.

Satu waktu saya muntah-muntah hingga tak bersisa makanan di lambung, saat saya baru mau beristirahat dan berbaring saya merasa sangat lapar. Bersyukur karena ada cemilan yang sudah saya stok.  Tapi saya ingin makan berat.  Di sini tidak banyak pilihan makanan biasanya mengingat rasanya saja saya jadi ingin muntah karena sudah terlalu bosan.

Belum lagi dilema saat di kamar. Saya ingin istirahat tetapi kamar berantakan.  Belum lagi ada bekas cucian piring. Melihatnya saja saya sudah muntah-muntah.  Ya Allah ini benar-benar ujian.  Kelelahan ini membuat episkleritis saya kambuh lagi.  

Saya selalu berusaha membeli makanan di luar sambil jalan kali supaya tidak bosan.  Sambil jalan rasanya ingin menangis, ‘begini ternyata perjuangan ibu hamil’.  Namun saya ingat begitu banyak orang yang mendambakan ada di posisi saya saat ini.  Oleh karena itu saya perbanyak istigfar sambil berjalan dan menahan mual.

Hari ini saya berusaha bangkit sedikit-sedikit.  Saya ikhlaskan jika memang harus muntah.  Saya segera makan jika lapar. Saya mencoba mengingat ada cinta dibalik buah hati yang sedang saya kandung. 

Saya mengingat kebaikan-kebaikan suami.  Betapa Ia sangat menginginkan datangnya buah hati di tengah keluarga kami.  Sejak awal menikah Ia selalu berusaha memahami saya dan memperlakukan saya dengan baik. Kami berusaha mengatur waktu bertemu, mencatat siklus haid di kalender dan mengupayakan kondisi yang sehat untuk bisa hamil.

Suami juga begitu baik hingga Ia mengusahakan untuk menemani saya lebih lama.  Pernah Ia datang pada Sabtu dini hari, lalu kembali ke jakarta pada Senin pagi dari Indramayu.  Saya begitu bahagia ketika pulang suami tengah menunggu di kosan.  Tiba-tiba Ia sudah cuci piring. :”” 

Sekarang pun suami berusaha menyalurkan perubahan hormonal saya yang membuat saya jadi semakin melow. Ia selalu mengusahakan video call dan itu membuat saya lebih tenang dan merasa didukung. Hari ini, perubahan hormon di tubuh saya bukan hanya membuat tubuh saya sakit seperti sedang flu like syndrome berhari-hari, tetapi juga psikologis saya terjun bebas. Syuuuuuu… 

Selepas shalat saya menangis, membiarkan hati bicara pada Allah dan memohon kemudahan dari Allah. Pasti Allah tahu saya mampu melewati ini. Suami pun ternyata sedang galau seperti saya.  Ia bimbang karena tidak tahu harus menghadapi saya seperti apa, Ia juga bimbang karena akan menghadapi perubahan peran.  Saya sadar ketika suami semakin sering mendengarkan ceramah, menghadiri taklim dan meningkatkan amalan yaumi.  😅  Galau juga ternyata ya :*

Ya Allah semoga Engkau memberikan kekuatan dan kemudahan kepada kami.  Amin..  

Sisi Lain, Cerita Manten Baru 

Namanya Badai, Ia bergulung, bergemuruh, memorakporandakan apapun yang di depannya.

Menikah itu mudah, yang tidak mudah adalah menjalankannya. Menikah itu adalah seni, tidak ada cara yang pasti, tidak ada yang mutlak benar atau salah. 

Baru dua minggu menjadi seorang istri, tapi banyak sekali nikmat yang terasa. Setelah  memiliki pasangan yang sah, hal kecil saja tidak disangka membuat saya begitu bahagia.Kali ini saya tidak ingin bercerita mengenai euforia pasangan baru, tapi mengenai sisi lain yang perlu direnungkan.

Membersamaimu di jalan Allah

1. Banyak Jalan Menuju Surga, Banyak Jalan Menjadi Bahagia

Menikah itu menyempurnakan separuh agama. Separuh itu bukan hal yang sedikit. Maka dari itu proses sebelum dan pada saat pelaksanaannya penuh ujian. Namun, setelah menikah, banyak pintu pahala dibuka. Termasuk ketika suami memberikan candaan pada istrinya atau ketika istrinya melayani suaminya.

Banyak jalan menuju surga, banyak jalan untuk bahagia. Saya tidak menyangka bahwa begitu nikmat bisa memasak untuk suami, mencuci atau menyetrika pakaiannya. Ada kepuasan yang tidak bisa dibayar dengan uang. Melihat suami rapih, bersih, tampan, dan perutnya sudah kenyang itu membuat saya tenang dan merasa bahagia. Sebelum menikah saya tidak tahu bahwa pekerjaan domestik bisa terasa sangat menyenangkan. 

2.  Membersamai di Jalan Allah

Setelah menikah tentu ada euforia, tapi awas jangan terlena! Ingatlah bahwa godaan setelah menikah akan lebih hebat dari biasanya. Maka dari itu, usaha yang dilakukan juga harus ekstra. Segera setelah segala euforia, cepat-cepatlah beristigfar karena ujian yang sebenarnya baru saja dimulai. 

Kita menikah itu bukan untuk jadi loyo dalam beribadah.

Beberapa hari setelah menikah, saya dan suami mulai bebenah. Kami mulai memperbaiki dan meningkatkan amalan yaumi. Kami saling mengingatkan dan saling memotivasi agar semangat dalam beribadah. Setelah menikah memang rasanya hari menjadi lebih tenang. Ada banyak ego yang digantikan dengan ketenangan, sehingga hati menjadi lebih fokus untuk beribadah. 

3. Kacamata Tak Kasat Mata

Saat memutuskan untuk berumah tangga, ada banyak ego yang harus dilunturkan. Menikah itu mengasah kepekaan. Kali ini kita tidak bisa lagi egois memikirkan diri sendiri. Ada banyak perasaan yang harus diperhatikan, ada suami, mertua, orang tua, dua keluarga besar, semua perlu diperhatikan.

Saatnya melatih husnuzon dan saatnya berbuat baik pada semua orang. Karena menikah itu menyatukan silaturahmi dua keluarga. Kita bukan hanya harus bijak, tapi harus bijak-bijak. Tidak semua hal harus diutarakan, tidak semua hal harus diceritakan lagi pada orang lain. 

4. Seni, Sabar, dan Syukur

Menjalankan pernikahan itu banyak seninya. Setiap hari kita belajar untuk mengenal pasangan dan juga untuk selalu memperbaiki diri. Banyak yang harus dipahami dan dimengerti. Hal menyebalkan dan hal yang sebenarnya lucu itu beda tipis, tergantung bijaknya kita meletakkan sudut pandang. Niatkan untuk ikhlas melakukan apapun, karena semua bisa bernilai ibadah. 

Menikah itu seni, dinamis, dan memerlukan pemikiran yang fleksibel. Menjalankannya tidak boleh saklek dan membuat bengkok pasangan. Ikuti kepribadian pasangan, cara kerja pasangan, yang penting kita punya tujuan yang sama, yaitu meraih ridha Allah S. W. T. Bisa dibayangkan jika A harus A, hal kecil saja bisa jadi konflik. Tapi syukurlah saya dan suami merusaha secepat mungkin beradaptasi, agar kami bisa sama-sama bergerak bersama menuju kebaikan. 

Hati harus selalu dibersihkan dan diisi dengan banyak dzikir. Akan ada banyak konflik kecil, bisa dari perbedaan dengan pasangan atau perbedaan antara orang tua dan mertua. Makanya kita harus selalu bersabar, karena ini hanyalah ujian karena kita ingin menanam buah yang manis.

Sabar ketika berpisah dengan suami, sabar ketika menanti hadirnya buah hati, dan sabar-sabar lainnya kini hadir menghadirkan kedekatan yang lebih dengan Allah yang Maha Kuasa. Saat sehabis shalat, atau ketika hujan, rasanya nikmat Allah begitu dekat, nikmat untuk bisa berdoa dan mendekat denganNya. Inilah yang membuat kita harus banyak bersyukur. Bisa lebih dekat dengan Allah, punya temen seperjuangan untuk beribadah, maka nikmat Allah manakah yang engkau dustakan? (QS 55:13)

Belum banyak yang bisa saya ceritakan. Tapi pernikahan ini sangat saya syukuri. Kesabaran dalam penantian ternyata membuahkan hasil yang manis. Punya pasangan yang satu frekuensi dalam beribadah dan punya gairah meningkatkan amalan yang sama itu bagi saya adalah nikmat Allah yang luar biasa. Alhamdulillah..

Semangat bagi yang belum menikah, semoga disegerakan. Isilah hari-hari dengan amalan dan doa, karena Allah kelak akan mempertemukan kita dengan seseorang yang tepat, di waktu yang tepat. Bersiaplah dengan bebenah agar bisa menyambutnya.
Berjuanglah karena perjalanan masih sangat panjang. Semoga kita bisa terus menyalakan letup-letup semangat. Semoga Allah selalu membawa keberkahan dalam setiap detik perjalanan rumah tangga kita.
 Amin.. 

.

.

.

Dari seorang istri, yang sedang belajar menjadi istri sholehah untuk suaminya.

Lembang, 23 Januari 2017   

A Secret Love Story

Untuk Anak Perempuan Ibu : Tentang Jodoh

Ibu cerita jodoh ah, biar kamu kabita sama Ibu. Hahahaha. Ketika Ibu nulis ini, Ibu masih belum boleh mengungkapkan apa-apa ke daddy kamu. Kan masih belum halal. Hehe. First lesson ya, kalau belum halal pastikan perasaan kita hanya untuk Allah. Seberapapun tergoda, jaga hati. Nanti kamu juga akan berkreasi sendiri bagaimana menjaganya.

I’m out of words to tell how glad I am.

Mengapa Ibu akhirnya bersama daddy?

1. Karena daddy kamu, langsung datang ke rumah bertemu dengan ayah ibu. Setelah itu, ia datang dan datang lagi hingga akhirnya bisa meyakinkan ayah jika ia akan menjadi imam yang baik bagi Ibu.

2. Daddy kamu bisa diterima di keluarga besar Ibu, begitupun Ibu di keluarga daddy. Overall semua lancar banget. Pernikahan itu bukan hanya kamu dan si dia, tetapi melibatkan kedua keluarga. Jadi pastikan jika kedua keluarga juga bisa klop satu sama lain.

3. Istikharah menjawab semuanya. Atas ridha Allah, banyak yang Ibu rasakan. Entah kenapa daddy kamu jadi ganteng banget di mata Ibu, entah kenapa Ibu bisa menerima karakter daddy kamu? Entah kenapa yang Ibu rasakan beda dari sebelumnya? Pokoknya kaya intoxicated gitu nak. Ibu takut banget Allah marah setiap perasaan Ibu semakin cenderung sama Daddy. Pokoknya tahan dulu sampai halal. Ish berat ya.

4. Daddy adalah jawaban dari doa-doa Ibu. Sejak dulu Ibu berharap bisa punya pasangan yang cerdas, sholeh, dan juga aktivis. Ibu juga pengen sama orang yang berada di dunia yang beda sama Ibu, ya intinya kalau bisa bukan dokter. Karena Ibu memang udik dan alay, Ibu kebayangnya yang pinter dan sholeh adalah aa Salman. Sampai orang tua Ibu bertahun-tahun mengira Ibu pengen nikah sama orang yang namanya Salman. HAHAHA!! Padahal maunya sama aa ITB yang rajin ke mesjid Salman. :p

Punya cita-cita itu harus, tinggal ikhtiar dan berdoa. Ibu nyangkut kemana-mana dulu sampai akhirnya menemukan seorang partner yang tepat. Dia mungkin tidak sempurna, tapi dia mampu menerima Ibu dengan sempuran. Ahiyyy dangdut!!

Pokoknya anak nehnik (plesetan teknik) dan anak salman. Sampai Ibu sempet request ke sahabat Ibu, “Pang cariin lah aa Salman.” Tapi, berhubung sahabat Ibu sibuk, dia kelupaan. Baru ngasih kabar itu 7 bulan kemudian. Disaat Ibu sudah didatangi Daddy kamu. Ga kebayang ya kalau temen Ibu nawarin duluan sebelum Daddy, Ibu ga kebayang akan bersama orang yang berbeda. Ibu bersyukur banget temen Ibu telat memberi kabar. Hidup Ibu tanpa Daddy bakal hambar banget. Hueeeekk

5. Daddy kamu itu warm. Ibu orangnya itu tegaan, tiis, dan ga perduli kalau ada orang yang ga sesuai sama Ibu ya langsung di cut aja. Lalu Daddy kamu datang, dengan canggung. Gentle banget parah. Bela-belain ke rumah Ibu di kaki gunung. Hahaha. Daddy bilang, siap berjuang buat Ibu. Uuuu.. Lucu banget, gugup-gugup tapi emang Daddy membuktikan itu. Daddy sungguh-sungguh banget kerja, Daddy pengen ngasih mahar dan mas kawin hasil keringat sendiri. Duh rasanya bahagiaaaa banget.

Daddy kamu sangat baik sayang. Di sela kesibukannya bahkan masih sempat lunch atau dinner 1-2 jam dengan Ibu.

6. Ibu bisa menerima Daddy kamu. Alhamdulillah Allah memudahkan perbedaan karakter diantara Ibu dengan Daddy. Buat Ibu, karakter Daddy semua gemesin. Banyak hal yang Ibu baru tahu menjelang pernikahan. Sampai Ibu berpikir, “Ini beneran mau nikah sama orang ini? Siap ga ya nikah?”. Ibu jadi alay banget sayang. Bahkan mau masakin aja degdegan. Gila gila gila! Bukan Ibu banget. Semua percaya diri Ibu hilang, Ibu jadi kikuk dan malu-malu banget. ><

7. Daddy dan Ibu memiliki visi misi yang sama, ingin punya anak-anak sholeh dan membangun keluarga yang aktif dalam dakwah. Masalah cara, Ibu dan Daddy sama-sama intuitif. Jadi mungkin akan banyak mencoba sembari belajar.

Ah mudah-mudahan kamu segera menemukan yang tepat sayang. Jaga perasaan kamu hanya untuk suami kamu nanti ya. Insha Allah Ibu dan Daddy akan menjaga kamu semampu kamu. Semoga Allah selalu melindungi buah hati Ibu.

26 Juni 2016
Malam ke-21 Ramadhan

I’ll post this story when I could whisper to his ear that I love him, and I would say “I’m just thrilled to death to be your wife.”

Foto tepat setelah akad nikah, 10 Januari 2017

Namanya Tesla

Baru kali ini Ibu ngerasa sangat sedih saat kehilangan seseorang.

Kak, namanya Tesla. Teman yang ibu tahu waktu les pas jaman kelas 3 SMA. Tesla itu orangnya welcome sama orang baru. Pas nunggu jam tambahan Ibu sama Tesla ngegeje nyetel video Moymoy palaboy di YouTube dan lagu Sekuntum Mawar Merah. Wkwkwk

Malem-malem Ibu tiba-tiba denger kabar Tesla keseret air bah waktu di proyek..

  1. Shock banget Tesla baru aja keterima kerja dan nraktir keluarha dengan gaji pertamanya
  2. Tesla baru lulus taun ini dan struggle bgt sama TAnya
  3. Tesla harusnya dateng ke nikahan Ibu atau paling enggak dia akan ngucapin di instagram karena Ibu nikah sama temennya Tesla
  4. Tesla baru aja komen kalo dia udah lama nebak calon suami Ibu itu ayah

Kak, gatau kenapa Ibu sedih banget. Tapi kabar meninggal teman Ibu ini semacam jadi bom hidayah untuk semua orang. Om Tesla meninggalnya tenggelam saat menunaikan shalat. Meninggal dalam keadaan tenggelam itu tergolong mati syahid ka. Belum lagi meninggal saat berikhtiar mencari nafkah. Belum lagi meninggal dengan meninggalkan kebaikan-kebaikan. Belum lagi Om Tesla pandai menjaga silaturahmi.  Om Tesla sudah duluan dapat tiket surgaNya Allah ka. 

Ibu juga sedih banget karena Ibu merasa dzalim karena pikiran yang Ibu punya. Ibu cemburuan banget kan orangnya. Kadang ada perasaan takut Ayah suka sama perempuan lain.  Padahal namanya orang kerja selalu banyak risiko ka. Ayah kadang seminggu bisa kerja di Jakarta – Makassar – Manado – terus ke site yang jauh banget itu.  Belum lagi sopir Manado – site yang ngebut setengah mati itu. Makanya dzalim banget kalau Ibu malah khawatir sama hal-hal kecil, bukannya lebih banyak berdoa buat keselamatan Ayah di manapun Ayah ada.

Kematian Om Tesla ini Ka,  indah banget dan membawa banyak kebaikan. Selain Ibu jadi sadar harus banyak-banyak doain Ayah, Ibu juga harus menyiapkan kematian Ibu agar menjalani hidup yang lebih hidup dan dekat dengan Allah. Semoga anggota keluarga kita bisa nabung kebaikan kaya Om Tesla ya Ka.

Tentang Om Tesla: Hidupnya baik dan membawa kebaikan. Meninggalnya juga baik dan membawa kebaikan.

– Selamat jalan Tesla. Kakak harus baik kaya Om Tesla. Dan jangan lupa Kak, silaturahmi.

 

Tulisan ini dikutip oleh temennya Om Tesla. Semoga kita meninggal bisa bahagia kaya Om Tesla ya Kak. 

Foto ini diambil sama temen Om Tesla di kamarnya. Duh Ka, di kamarnya aja targetnya kaya gini ka. Yuk Kak kita buat juga target amal ibadah!

Untuk Anak Ibu: Kepercayaan 

Kak, semoga Kakak bisa kaya Ayah. Ada modal besar yang diberikan dari Ayah ketika melamar Ibu: Kepercayaan. Ayah ga terlalu perduli berapa mantan Ibu?  Atau apa kata orang tentang Ibu? Komitmen kita diawali dengan : “Kan sekarang aku masa depan kamu.” 

Sampai saat ini Ibu juga sama sekali ga ngerti, “Apa yang kamu suka dari aku? ” Rasanya lebih banyak yang lebih baik dari Ibu. Tapi mungkin jodoh ya gitu, punya jalannya sendiri.

Ayah kamu selalu berusaha bilang I love you, walau mungkin itu aga-aga niru teori di buku yang Ibu juga baca. Wkwk. Before he said that, maybe he didn’t realize that I already felt how much he loves me.  Hehe.

Ayah memberikan Ibu kepercayaan, memberikan Ibu banyak “ruang” untuk aktualisasi diri dan berkarya. Ayah kamu banyak bersabar saat mood Ibu Up and Down. He didn’t leave me but he trusted me and waited. Kepercayaan dari Ayah memberikan banyak ruang untuk Ibu bergerak, banyak kesempatan untuk Ibu belajar. 

Ayah tidak banyak menuntut, walau mungkin super kesal karena ternyata makanan favoritnya itu makanan yang ibu blacklist (cireng dan semua yang dari aci). He proved that he loves me.  Ayah membiarkan Ibu makan banyak dan menggendut, walau sesekali bilang “Kalau turun BB nanti ditraktir.” Pinter. 

Semoga Kakak bisa belajar “pinter-pinternya” Ayah ya.

Untuk Anak Ibu: Berkat Ayah

Kak, di setiap perjalanan Kakak, ingatlah selalu bahwa itu adalah nikmat dari doa yang selalu Ibu panjatkan untuk anak-anak Ibu dan generasi selanjutnya.

Di usia Ibu yang ke-23 hampir 24 tahun, Ibu belum pernah ke luar pulau Jawa, belum pernah naik pesawat, dan belum pernah ke terminal Leuwipanjang. Mau ke mana juga? Tapi tenang Kak. Ibu sengaja cari ayah untuk Kakak yang berani untuk bekerja di luar Tatar Sunda.

Ayah Kakak kerja berpindah dari satu pulau ke pulau lain. The good news are : Kita bisa keluar dan keliling pulau di Indonesia. Hihi. Soalnya Enin, nenek Kakak, sekarang bisa tenang karena kita ada yang jagain kalau mau pergi-pergi ke luar pulau. Pokoknya, setiap Kakak sebel sama Ayah, ingat selalu Kakak harus berterima kasih. Karena berkat ayah, keluarga kita memiliki modal paling penting: KEBERANIAN. Kita jadi punya kesempatan untuk menjelajah Indonesia. Doakan Ayah dan Ibu ada rizki untuk kita jalan-jalan ya.

Destinasi pertama kita mau ke mana Kak? Sumatera Barat atau Toraja? Kalo ke Sumbar ada Budev Kak, kita bisa nebeng nginep dan minta ditratrir aneka randang. Hihi.