Pregnancy Story : Beda Orang, Beda Kondisi

Ternyata, mengandung adalah perjuangan.

Saat jaga malam kemarin, perut saya begitu tegang dan mengeras. Kata bidan yang sedang di IGD, “Hati-hati perutnya kenceng banget.” Itu sekitar pukul 10 malam.  Ternyata perut saya terus kencang sampai pukul 6 pagi. Saya yang baru pertama kali merasakan perut tegang yang sangat lama kebingungan dan mulai khawatir. Saya pun kembali masuk ke ruang kebidanan IGD. 

Bu Haji bilang, “Aduh dok.. Khawatir.  Lagi hamil segini rawan banget keluar lagi. Cepet-cepet minum obat antikontraksi terus tiduran.” Baru saja satu hari sebelumnya saya kedatangan pasien yang spontan mengeluarkan bayi saat usia menjelang 5 bulan, usia kandungannya tidak jauh berbeda dengan saya. Ternyata ini kondisi serius.  😰

Jaga malam itu memang cukup ramai. Banyak sekali pasien anak yang harus membuat saya mondar mandir. Biasanya paling tidak saya bisa berbaring 1-2 jam. Malam itu benar-benar saya tidak bisa istirahat. Fisik saya tidak merasa terlalu lelah atau bagaimana karena memang sudah biasa. Tapi ternyata rahim saya memerlukan rebahan agar tidak terlalu tegang.

Sepulang jaga saya langsung istirahat. Saya malah tidak memakan sarapan yang dibeli, karena dipikiran saya hanya ‘pokonya harus segera tidur’. Jadi saya tidak nafsu makan sama sekali.  Barulah siangnya saya makan sebelum kontrol ke dokter kandungan.

Saat sudah menunggu sekitar 30 menit, ternyata dokter yang biasa saya kunjungi tidak ada.  Jadilah saya berkonsultasi dengan dokter lain karena memang ini urgent.  Akhirnya saya diperiksa oleh dokter Wahyudi, dokter kandungan yang juga praktek di rsud Indramayu. Syukurlah saya bisa banyak berkonsultasi dengan beliau dan mendapatkan penjelasan yang dapat dimengerti.

Setelah di USG, ternyata sebagian plasenta saya letaknya rendah, jadi kondisinya disebut dengan low lying plasenta. Mungkin ini yang menyebabkan rahim jadi mudah tegang dan kontraksi, selain karena saya kurang istirahat. Pantas saja dulu saat awak kehamilan saya sempat keluar darah dari jalan lahir. Ternyata karena letak plasentanya memang rendah. Mudah-mudahan posisinya bisa berubah seiring bertambahnya usia kehamilan.

Dokter Wahyudi bilang, “Obatnya cuma bedrest.” Saya pun diminta untuk istirahat tiga hari. Ya Allah, ternyata mengandung itu penuh perjuangan ya. Jangan keluar terlalu dini ya nak, nanti kalau sudah kuat tumbuh sendiri di luar baru boleh. :”

Saya ingat bahwa sejak awal hamil kondisi saya memang berbeda dengan orang lain. Awalnya saya ingin hamil seperti orang biasa, yang tetap aktif dan melakukan aktivitas normal. Saya banyak berjalan kaki. Saya juga aktif bergerak ketika bekerja di RS.  Tapi ternyata kondisi saya berbeda dengan Ibu hamil lainnya yang masih bisa beraktivitas normal. Saya harus bersabar ketika orang lain bilang, “Jangan dibawa males nanti anaknya jadi rewel.” atau banyak yang bilang, “Dulu saya hamil masih jaga sampai hamil tua, masih kuat nyetir motor juga.”

Kondisi saya berbeda.  Rahim saya dibawa jaga, yang menurut saya biasa saja sudah mengeluarkan warning.  Saya harus ikhlas menerima bahwa saya memang harus membatasi aktivitas meski saya ingin. I deserve to fight my pregnancy. 

Alhamdulillah suami dan keluarga mendukung.  Bila terjadi sesuatu lagi saya harus cuti internsip. Jika memang saya tidak diizinkan untuk cuti, jalan satu satunya adalah resign.

Saya berpikir, mengapa Allah memberikan satu persatu ujian kepada saya dan keluarga? Kenapa ya Allah? Lalu saya ingat betapa Allah juga memudahkan kehidupan saya yang lainnya. Betapa Allah memberikan Kasih Sayang, Rahmat, dan Karunia-Nya pada saya dan keluarga.

Saat menaiki becak di perjalanan pulang tadi saya hanya bisa istigfar.  Ampuni kesalah hamba dan keluarga ya Allah. Saya sadar harus sabar dan tetap tawakal. 

Semoga kita ketemu setelah kamu aterm, baby girl. Puas-puasin bobo dan main di perut Bunda ya.  😘

Stop, Buk! 

Nak, Ibu sepertinya tidak bisa memintamu jadi anak yang sholeh.

Bagaimana bisa kita meminta anak-anak menjadi penghapal Al-Quran, sedangkan kita sendiri tidak sedang menghapalkannya.  Bagaimana bisa kita menyuruh anak-anak shalat tepat waktu, sedangkan kita sendiri masih menunda shalat? Buk, anak adalah seorang peniru.  Anak adalah seorang pembangkang bila diberi perintah. Ia melihat dan meniru apapun perilakumu, Buk!

Maka berhentilah sebelum terlambat! Berhentilah sekarang! Berhentilah untuk berharap anakmu jadi begini, jadi begitu! Jadilah apa yang ingin kamu petik dalam anakmu.

Astagfirullah. Saya sendiri jungkir balik rasanya. Istiqamah itu sulittttt sekaliii. Ya, biarkanlah anak-anak tahu bahwa orang tuanya bukan orang tua yang suci, tapi tipe orang tua yang jungkir balik, berusaha untuk belajar dan mendekatkan diri pada Allah.  Biar saja anak-anak melihat setiap proses kita tertatih-tatih karena ternyata ingin jadi sholeh itu banyak sekali godaannya. Ajaklah anak-anak membersamai setiap proses yang “pedih”, semoga usaha ini akan Allah catat sebagai amal baik, dan akan mengumpulkan kita sekeluarga di SurgaNya. Amin..

Maaf tidak bisa menjadi teladan yang baik untuk kamu, Nak. Tapi kamu mengerti kan? Kita akan sama-sama belajar dan jadi partner dalam beribadah. Setuju?

 .

.

.

Indramayu, 26 Juli 2017

Calon Ibukmu 

My Happy Preggo Diary 

Alhamdulillah, mengandung itu rasanya nikmat banget. Setelah melewati fase berat di trimester pertama,  sekarang mulai menikmati fase indah.  Si kecil mulai semakin aktif bergerak, mulai dari gerakan mengetuk perut santai, sampai menendang heboh sahabekna ala pemain bola.

Tendangannya itu juga bentuk komunikasi. Kalau lapar si kecil menendang dalam tempo reguler dan cukup keras. Kalau kesal tendangannya sekali hantam.  😂 Biasanya kalau ditinggal teleponan sama nenek atau ayahnya tanpa loude speaker atau saat saya senggang tapi tidak mengajaknya bicara. Yang paling gemas adalah saat mendengarkan suara rekaman mengaji ayahnya,  Ia bergerak girang heboh, ke kanan dan ke kiri.

Semakin lama baby ibok semakin mirip ayah.  Mulai dari ngambek saat lapar dan juga protes saat mendengar lagu yang Ia tidak suka.  Kadang setelah rekaman ayahnya suka terputar lagu berikutnya, biasanya lagu Indie yang menurut baby, “Naon sih?” Wkwkwk.  Curiga si dia bakal girang banget kalau didengarkan lagu-lagu ayahnya. 😂

Sekarang juga saya sudah enak makan dan enak minum susu hamil. Sayangnya, sekarang mulai tidak bisa makan banyak karena perut semakin terdesak. Jalan kaki juga mulai berat karena bobot saya sudah naik 6kg ++. 😂 Kata suami, langsing saya hanya bertahan selama dua bulan pernikahan.  Malah sekarang suami yang makin ramping dan terlihat semakin sehat. Hihi.

Rasanya nikmat sekali, jalan ngageboy rada ngajegang sembari memegang perut yang semakin terasa teregang dan sesak. Apalagi dua hari ini rasanya otot, kulit, dan jaringan di perut sangat teregang dan ngilu. Tapi ngilunya mengingatkan saya bahwa di kecil berarti sedang tumbuh. Apalagi sekarang sudah memasuki usia 19 minggu.

Sejak menginjak usia 4 bulan saya semakin aktif mengajaknya berbicara dan bercerita. Saya ajak Ia saat hendak shalat wajib atau shalat sunnah. Adanya baby ini membuat saya dan suami lebih bersyukur lagi kepada Allah. Si kecil juga memotivasi kami untuk lebih banyak beribadah. Bukan hanya itu, pekerjaan saya di rumah sakit pun terasa lebih mudah. 

Si kecil jarang sekali mengeluh jika saya cuek atau terlalu sibuk.  Biasanya saat jam makan saya molor terlalu lama saja Ia mulai protes.  Sisanya, saya merasa bebas aktif bergerak dan beraktivitas. Saya juga merasa lebih semangat karena saya ingin menanamkan semangat bekerja dan belajar kepada baby yang ada di dalam kandungan. Rasanya berbeda, semangatnya juga berbeda. Saya jauh lebih ceria meski banyak kesibukan.

Suami pun banyak memberikan support kepada saya dan baby. Ia rutin menghubungi saya baik via telpon ataupun video call. Perhatiannya membuat saya lebih semangat lagi. Pendidikan anak bagi kami bukan hanya tugas Ibu, tapi juga tugas bersama.  Baby harus sejak dini mengenal dan berinteraksi dengan ayahnya.  Maka kami mulai menyalakan loud speaker saat mengobrol via telepon ataupun video call. Saya pun setiap hari memperdengarkan suara ayahnya. Iki lo nak, bapak yang sayang banget sama kamu.  :*

Anak-anak Palestina itu diberi pendidikan Alquran sejak dalam kandungan. Berbeda dengan Ibu Yahudi yang katanya belajar ilmu pengetahuan ataupun matematika saat hamil agar anaknya pintar. Ngitung duit mah nanti juga bisa ya, nak? Wkwk. Jadi yang penting mendidik agar jadi anak sholeh saja dulu. Nanti mau apa saja yang penting bisa bermanfaat. Kalau nanti kamu jadi dokter bedah risiko tidak ditanggung ya. Wkwk. Soalnya baby banyak terpapar kasus bedah selama menemani saya di IGD. Hihi.  

Harus semangat nih hap hap happ!! Tilawah saya masih kendor. Baca buku juga masih kendor. Pokoknya temenin Ibuk ya sayang. Kita sama-sama belajar supaya lebih deket lagi sama Allah. We love you anak Ibukk dan ayah!!  😘 

Kami & Baby A 

Baby A masih tidur.  Biasanya Ia suka sekali menguping Ayah dan Ibunya bicara. Saat saya sedang bersama Ayahnya, geraknya menjadi sangat aktif.

Gerak Baby A selalu saya nantikan, begitu pun suami.  Kami sering mengajaknya berbicara ataupun memintanya menendang. Mungkin kekuatan kaki Baby A saat itu belum cukup untuk membuat getaran yang Ia buat terasa. Sering juga saya menggerakan perut seolah membuat gempa sembari berkata, “Gempa!! Gempa!!” Suami lalu memasang muka cemas, khawatir. Haha.

Tapi ternyata Baby A memberikan kejutan saat tasyakuran 4 bulanan.  Ia menendang untuk pertama kali. Saya pun membisiki suami. Sejak hari itu Baby A sudah mulai aktif bergerak.  Kami pun mulai lebih banyak berbicara dengan Baby A.  

“Assalamualaikum baby A.. Jagain Bunda ya, selama Ayah kerja jauh.” Kata suami, pada rekaman suaranya untuk Baby A. Saya percaya bahwa pendidikan anak sejak dini bukan hanya memerlukan peran Ibu, tapi juga Ayah. Bagaimana pun anak juga perlu merasakan disayangi Ayahnya. Meskipun Ayah Baby A sedang jauh, kami berusaha tetap mencukupi kebutuhan baby A akan ayahnya.  

Baby A adalah keajaiban dan penyejuk dalam rumah tangga saya bersama suami. Allah ternyata menyiapkan rencana yang begitu baik.  Ternyata kehamilan saya dipercepat, sehingga saat suami harus kembali bekerja di tempat jauh, kini ada jagoan yang berusaha menjaga dan menemani Bundanya.

Kehadiran Baby A di keluarga, menjadi pemicu agar saya dan suami semakin giat beribadah. Karena kelak Ia bukan mendengarkan perintah, tetapi melihat teladan dari sikap kami sehari-hari. Saat ini Baby A suka sekali menendang dengan keras bila didengarkan murattal.  Ayahnya begitu senang mendengar cerita saya, “Baby A sholeh.” Kata suami saya terharu. 

Insya Allah jadi anak sholeh ya nak.  Kita sekeluarga akan selalu berusaha jadi keluarga yang sholeh.  Semoga kehadirannya yang masih di dalam kandungan ini dapat terus membuat orang tuanya bersyukur dan lebih mendekatkan diri pada Allah Yang Maha Kuasa. Amin.. 

.

.

.
IGD RSUD Indramayu, 5 Juli 2017 

In 18 weeks of pregnancy 

Drama Ditinggal Ke Proyek

Bombay kali ini cukup panjang. Mengingat baru pertama kali ditinggal jauh oleh suami setelah menikah. Dulu waktu suami masih di Manado, tetapi status kami belum menikah, rasa sedihnya masih dalam batas wajar. Tapi kali ini ditinggal beliau itu benar-benar berat rasanya. 

Saat malam rumah sudah mulai tenang. Tanpa terasa air mata mengalir setelah mendengar kabar suami sudah landing. Apalagi ketika sampai di kosan. Melihat setiap sudut yang berisi kenangan bersama beliau membuat saya menangis. Melihat selimut yang Ia rapihkan saya menangis. Saat sudah reda, melihat piring yang Ia selalu cucikan untuk membantu saya, saya pun menangis. Saat melihat sajadah, yang kami gunakan berjamaah pun mengingatkan saya tentang suami. Kamar mandi dan pewanginya yang baru saja Ia ganti. Bon laundry yang telah Ia bayar, “Yang bonnya Aa taro di sini ya.” Katanya sambil menunjukkan letaknya.  Pakaian bekas pakai pun beberapa sengaja saya sisakan agar saya bisa mencucinya sendiri dengan tangan.

Sambil tiduran dan terisak, saya ajak bicara baby di dalam kandungan, “Bundanya kangen sama Ayah.” Baby pun meresponnya dengan tendangan yang sangat keras. Jedukkkk!!  Baby A pun pasti sudah mulai rindu dengan Ayahnya.

Banyak sekali kebaikan yang telah dilakukan oleh suami. Belum lagi pengorbanan yang diberikan. Sampai sesaat sebelum pulang pun suami selalu berusaha membuat saya bahagai. Alhamdulillah.  Terima kasih banyak ya Allah, atas karunia yang Engkau berikan.  

Ya Allah, semoga perpisahan ini hanya sementara. Semoga kami sekeluarga bisa saling menjaga dan mendoakan. Semoga kelak kami bisa bersama dan tinggal satu rumah. Semoga waktunya segera tiba ya Allah.  Amin..  

Syukurlah hari ini saya sudah mulai jaga malam. Terlalu banyak kenangan di kamar kosan yang membuat saya selalu teringat suami.  Apalagi tempat tidur, tempat saya selalu terbius tidur di ketek suami. Yuk semangat baby!  Bantuin bundanya doain Ayah ya!  

Hari – Hari Spesial Bersama Suamik 

Baper banget rasanya waktu suamik kembali ke Sulawesi. Sejak H-1 lebaran suamik menemani saya di Indramayu karena harus jaga hampir setiap hari ketika libur lebaran. Sekarang suamik harus berjuang lagi di perantauan.  :”

Mamih, atau Ibu mertua, hampir selalu bercerita mengenai kehidupannya bersama Alm. Pak Bambang. Meski belum pernah bertemu rasanya saya mengerti dari mana datangnya sifat baik super romantis yang ada pada suamik saya.

Saat suamik menemani lebaran tanpa libur saya, Ia betul-betul full mendampingi saya.  Ia menemani saya tidur saat post jaga.  Ia memasak nasi dan menyiapkan lauk untuk sarapan atau makan siang. Terkadang suamik juga menyiapkan bekal untuk saya jaga malam.

Betapa senangnya karena suamik bisa menemani saya berangkat dan pergi bekerja.  Saya selalu tidak sabar untuk segera pulang karena suamik akan segera menyambut saya. Kadang suami menjemput ke RS atau menunggu di kosan.

Alhamdulillah Allah memberikan rizki untuk bersama suamik pada 10 hari terakhir ini. Entahlah bagaimana bisa ada orang sebaik dan setulus suami. H-1 lebaran Ia datang, membawa berbagai makanan titipan. Mulai dari ketupat, opor, sampai berbagai macam kue. Setelah sahur suami langsung tancap gas ke Indramayu. 

Rizki dari Allah juga saya mendapat tugas jaga malam saat hari lebaran.  Jadinya saya punya kesempatan shalat Ied bersama dengan suami kesayangan. Pada malam takbiran pun kami keluar untuk melihat pawai di jalan raya.  

Setelah shalat Ied di Alun-Alun Indramayu. Foto diambil di depan Mesjid Agung Indramayu

Suamik benar-benar membantu meringankan beban saya di kosan. Ia membantu saya mencuci piring atau memasak karena saya lebih banyak tidur untuk menyimpan energi. Barulah saat jadwal jaga saya mulai lebih normal pekerjaan rumah tangga seperti mencuci sudah bisa saya lakukan.  Tapi sejak saya hamil suami benar-benar sigap.  Bahkan selimut yang kadang saya tunda untuk dilipat juga seringnya lebih dulu dirapihkan oleh suami.

Suami pun membantu saya membeli oleh-oleh ketika saya masih harus jaga. Saya merasakan betul bagaimana saya dan suami saling bekerja sama agar bisa menyelesaikan pekerjaan. Akhirnya tanggal 30 Juni saya baru bisa libur. Kesempatan itu saya gunakan untuk mudik ditemani suami tercinta.

Kami silaturahmi ke Pamanukan, dilanjutkan silaturahmi ke Lembang. Keesokan harinya kami ada acara Tasyakur 4 bulanan si kecil. Saat pengajian itu pula saya akhirnya bisa merasakan tendangan jagoan di dalam kandungan.  Jedukkk!!! Tiga kali iya memberikan kejutan.

Setelah tasyakur 4 bulanan baby A

Tidak sampai disitu, saat saya menginap di hotel bersama suamik, si kecil sering kali menendang perut saya dengan kencang. Tapi bila dipanggil atau didekati oleh Ayahnya, justru Ia malah diam. Hahaha.  Dasar.
Tibalah saat suamik harus pergi kembali ke Sulawesi.  Sedih sekali rasanya karena selama di Jakarta suami bisa lebih sering pulang. Rasanya berat. Saya pun tak kuasa mewek sedih sambil memeluk suami.  Mudah-mudahan suami dimudahkan dalam pekerjaan dan segala urusannya, dijaga selalu oleh Allah.  Semoga saya dan baby A bisa selalu sehat dan dilindungi oleh Allah.  Aamiinn… 

Sebelum misua kembali ke hutan

Haluuu, Anak Ibu! 

Haluu anak Ibuu!!! Selama baby bala-bala dalam kandungan ini masih suka galau manggilnya Ibu/Bunda/Ibun. 

Sekarang saya mulai sering menyapa Bayik, seperti “Haluu anak Bunda. Kita makan dulu yaa. Kamu lagi bobo enggak?”

Ayahnya mungkin masih malu-malu untuk berbicara dengan baby yang tidak nampak wujudnya itu. Tapi setiap ada kesempatan pulang Ayahnya selalu kiss-kiss perut yang sudah mulai membesar. Berbicara dengan baby ini adalah upaya untuk mendidiknya sejak dini.

Kalau orang Yahudi giat belajar ketika mengandung, orang Palestina rajin membaca Alquran dan menghafalkannya. Berarti, baby itu merespon apa yang dilakukan Ibunya.  Awalnya saya ingin mengajarkan banyak hal, entah itu bahasa atau ilmu pengetahuan sejak dalam kandungan.  Tapi setelah direnungkan, cukuplah saya menanamkan kecintaan Bayik yang tengah di kandung pada Allah dan Alquran. 

Alhamdulillah setelah menikah saya diberi suami yang begitu perhatian dan bertanggungjawab. Allah juga memudahkan suamik dalam mencari nafkah.  Saya pikir, ujian rumah tangga ada pada diri saya sendiri. Mau dibawa kemana pendidikan anak-anak kelak? Jujur ingin punya anak sholeh itu ujiannya sangat berat.

Akhirnya saya menentukan bahwa hal pertama yang harus saya tanamkan pada anak-anak adalah kecintaannya terhadap agama. Walaupun langkahnya berat dan tersendat, tapi inilah pilihan saya. Pelan-pelan, usaha mendidik anak shaleh ini juga membuat saya lebih berusaha meningkatkan amal ibadah dan juga ilmu.  Maka sesulit apapun harus dilewati setiap anak tangganya.

Minggu depan insyaAllah baby ulala akan mulai diberi pendengaran oleh Allah.  Aaaak :”” harus mulai bersiap. Semoga nanti bisa banyak bercerita dan membuat Bayik Bunda mendengar yang baik yaa.  :”” 

Ramadhan Pertama Bersama Suami 

Tulisan kali ini tidak beraturan dan tanpa gagasan, tapi berisi kebahagiaan yang didapat oleh seorang istri biasa dari suaminya yang luar biasa.  
.

.

Ramadhan kali ini spesial pake telor, ada suami, ada juga baby yang lagi glendotan di dalem perut. Awal ramadhan alhamdulillah bisa dijalankan bersama suami. Tiga hari di bulan ramadhan yang ga akan pernah terlupakan. 

Ibuk Hoek, Suamik Siaga

Ternyata menjelang trimester dua ini mual muntah masih ada.  Kalau-kalau telat makan snack atau makan berat, pasti langsung pusing kleyengan dan mual muntah.  Alhamdulillah suamik super baik hati mau terjun membantu istrinya yang cupu ini. Hehe. Saya memutuskan untuk tidak berpuasa, menimbang kondisi yang gampang banget pusing dan mual kalau telat makan.  Well,  nda shaum bukan berarti ga menikmati beribadah di bulan ramadhan juga kan..

Well, ini beberapa kenang-kenangan supaya saya bisa ingat betapa baiknya suami saya. Ini bisa jadi cerita juga kelak buat anak-anak, betapa ayahnya baik banget dan begitu sayang sama anaknya bahkan jauh sebelum dia lahir.  

H-1 Ramadhan

Tadinya saya ingin membuatkan suami es campolay berikut makanan beratnya. Apadaya ternyata kami ketiduran dan bangun di sore hari. Suami saya orangnya ga bisa nahan laper, jadi kasian kan kalau ga ada makanan. Hari itu saya masak nasi, memanaskan lauk yang sudah saya masak sehari sebelumnya.

Suami justru yang membuatkan saya es timun suri pakai susu dan sirup campolay.  Jadi malu.  🙈 Alhamdulillah punya suami sholeh banget.  Waktu itu saya kebagian menggoreng ayam dan tempe tepung, sedangkan suami inisiatif tinggi memotong sayuran. Bangga banget dong, akhirnya yang masak sayur sop malah suami. Mau latihan masak katanya. Bikin sayur sop for the first time, tapi langsung jago. Hihi. 

Akhirnya makanan jadi mepet dengan shalat isya.  Suamik pun berangkat tarawih terburu-buru. Hihi. Saya tarawih di rumah.  Pulang suami tarawih, saya lanjut masak nasi dan memanaskan daging yang telah saya masak sebelumnya dan dimasukkan freezer. Fyuuh tiba-tiba sudah jam 10 malam. Rasanya malam itu chaos. Maklum amatir. 

H 1 Ramadhan

Sahur aman damai karena malamnya nasi dan lauk sudah siap. Jadi hanya perlu manasin lauk aja.

Siangnya saya ada deadline membuat NHW kuliah online IIP.  Jadinya, karena otak saya rempong ga bisa memikirkan hal lain, suami turun tangan mengambil buku catatan saya dan pulpen.  Sembari mengerjakan tugas suami mencatat menu makanan yang akan kita siapkan. (FYI ini menu masak jadi berubah e.c suami datang lebih awal dan tinggal lebih lama.  Jadi perlu belanja dan atur menu lagi). 

Suami mencatat menu buka dan sahur plus bahan yang diperlukan.  (Unchhh pinter banget suami gemeskuu).  Tidak lupa suami membantu mencatat keperluan kosan yang saya sebutkan sembari nugas. Superbbb sekali kesayangku :* . 

Dulu saya selalu mengerjakan semua hal sendiri, memikirkan semua sendiri.  Lalu sekarang saya punya seorang partner yang bisa menyalurkan dan menterjemahkan pikiran rempong saya. Sungguh sesuatu. Belum lagi suami sama-sama intuitif. Diajarkan sekali cara memotong bahan dan bumbu apa saja yang diperlukan Ia langsung bisa. Kerjasama dengan suami benar-benar membuat pekerjaan lebih cepat dan kami bisa makan tepat waktu.

Saya kira jadi perempuan segala bisa itu hebat.  Tapi ternyata bekerja sama dengan suami sangat membahagiakan. Senang sih bisa menyiapkan semua keperluannya. Tapi saat terasa gempor, sungguh bantuan suami luar biasa membantu.  Saya juga senang bisa bekerja bersama sembari berinteraksi dengan suami.

Sore hari, akhirnya saya dan suamik jalan-jalan ke Yogya. Niatnya mau belanja keperluan di kosan dan sayuran buat di masak. Ternyata, ya Allah.. Penuhnya sampai-sampai mulai hipoglikemi. Sebenarnya kami belanja tidak terlalu lama karena sudah ada list. Tapi tetap saja suasana yang ramai membuat saya mabuk. Jadinya, ketika sedang belanja keperluan suami di lantai atas, akhirnya saya sudah kleyengan. Syukurlah segera diselamatkan dengan nasi katsu plus sebotol teh pucuk. Ehehehe.

Pulang ke kosan, kami kesorean untuk menyiapkan makanan berbuka. Jadinya rempong deeh.  Tapi syukurlah setelah rempong suami suka dengan makanan yang dibuat.  Terutama Ia suka martabak telur yang saya buat. Sebelum tarawih suami mengutamakan untuk membelikan saya obat.  Karena hari itu benar-benar mual dan obat saya sudah habis. Unchh suami siaga. ❤

Malam hari saya hendak menyiapkan makanan untuk sahur.  Suami saat itu sedang flu. Karena saya memanaskan minyak di penggorengan yang ada airnya, tiba-tiba muncul percikan minyak dan suara keras, “Ctakkkk!!!”. Suami yang sedang mengerjakan tugas kantor langsung turun tangan, “Mau bikin apa sih yang?” Dengan muka bete karena lagi sakit tapi lelah.  “Matiin dulu kompornya.” 

Saya masak di kamar dengan kompor portable. Mungkin karena apinya terlalu besar jadi minyaknya cepat sekali panas. Hehehe.. Akhirnya setelah dibantu suami saya bisa memanaskan makanan dengan benar. Wkwkwkwk. 

H2 Ramadhan  

Sahur pake daging semur + sop ya mayan lah ya.

Buka masak sayur asem, ayam goreng, tempe mendoan,  plus sambel kecap.  Suami paling suka menu ini.  Katanya paduannya pas.  Lucu deh, saya kebagian masak tempe mendoan, suami yang menggoreng ayam.  Kyaaaaa. Bagi saya, sikap suami saya ini sangat romantis.  Ia ingin selalu meringankan beban saya. :””” Oppa Saranghae ❤❤❤

H3 Ramadhan

Karena suami paling suka gorengan, dan saya lupa beli tahu, jadinya untuk sahur saya membuat martabak mie.  Hehe.  Sebenarnya karena nasi sisa buka tidak terlalu banyak.  Supaya suami bisa tetap kenyang.  Xixi. Maaf ya yang. >< Katanya gapapa, walau martabak mie mah bisa bikin sendiri.  Tapi kalau martabak yang sudah jadi pas baru bangun tidur itu lebih enak.  😂
Tidak terasa setelah subuh suami sudah harus kembali ke Jakarta. Hiks.

Setiap suami harus pergi lagi pasti saya nangis cirambay berkala di kosan.  Setiap pertemuan dengan suami selalu saja ada hal kecil yang begitu berkesan terutama bagi saya yang sering ditinggal pergi.  Perhatiannya, bantuannya,  sikap inisiatifnya, semuanya merecharge energi dan membuat saya lebih bahagia dan semangat di hari berikutnya.

Setelah suami pergi, barulah saya terpikir tentang menu takjil untuk berbuka puasa. Huhuu.  Sedih. Ini jadi pengingat mudah-mudahan kalau suami pulang nanti bisa lebih prepare lagi buat makan sama cemilannya.

Terus kepikiran, betapa bersyukurnya saya punya suami yang berusaha membahagiakan saya dan memenuhi kebutuhan saya.  Ia berusaha menghadirkan dirinya utuh baik ketika jauh ataupun sedang bersama saya. Walau kegiatan yang kami kerjakan bersama di rumah itu sederhana tapi sangat ngena buat saya. Kebayang selama ini setiap pulang suami selalu siap pakai masker kemudian tempur di wc yang mudah sekali bau.  :””  

Cinta itu kata kerja. Ia hadir dari usaha, hadirnya fisik dan hati. Cinta juga dihadirkan suami saya melalui tindakan-tindakan sederhananya yang membuat saya takjub. Akhirnya saya sering tiba-tiba cirambay sendiri. Sesayang itu saya dengan suami. Kali ini cirambaynya saking senengnya.  Hehee. Dasar lebay.

Mungkin kata-kata aja ga bisa membalas kebaikan suami.  Semoga saya bisa membahagiakan suami, mendidik buah hati kami,  dan menjadi istri yang membuat mata dan hatinya tentram. Amin.. 

.

.

.

Indramayu, hari ke 4 Ramadhan

30 Mei 2017

Kepada suami:

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu

Kepada api yang menjadikannya abu


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan

Kepada hujan yang menjadikannya tiada


(Aku Ingin – Sapardi Djoko Damono)

Ayah dan Bahasa Cintanya

Nak, Ayahmu itu punya cara yang berbeda untuk mengungkapkan perasaannya.

Sumber: m.repubblica.it

Mungkin nanti kamu lebih ngefans sama Ayah daripada Ibuk. Tapi nanti kalau Ayahmu sibuk mungkin juga kamu malah menyangka Ayah itu kurang perhatian. Ibuk cuma mau bilang, Ayah sangat sayang dengan kamu bahkan sebelum kamu lahir.
Keinginan Memiliki Buah Hati

Ayahmu itu ingin sekali cepat punya anak.  Pokoknya kami memutuskan untuk tidak menunda kehamilan, dengan harapan dapat segera diberikan momongan.  Usaha kami lakukan dengan menjaga kesehatan, makan suplemen vitamin,  berolahraga, dan juga menjaga bobot tubuh.

Kadang Ibuk ke Jakarta ketemu Ayahmu, kadang Ayah ke Indramayu. Kami seolah kejar setoran. Ayahmu nda pernah bilang kalau Ia tertekan, tapi dari wajahnya Ayah mukanya stres. Beban ingin punya anak ini seolah tanggung jawab Ayah. Akhirnya Ibuk bilang ke Ayah, lebih baik rencana punya anak kami tunda karena target ini justru membuat kami lupa menikmati waktu sebagai pasangan baru.

Tak disangka, dua minggu setelah ikrar kami tidak kejar setoran, Allah memberikan kebahagiaan.  Ternyata Ibuk hamil. :””” Alhamdulillah. Barangkali selama ini kami terlalu stres.

Arti Diamnya Ayah

Cobalah untuk lebih memahami diamnya Ayah. Meski Ayah diam, Ayahlah yang begitu ingin memiliki keturunan. Betapa senangnya Ibuk ketika melihat wajah sumringah Ayah.

Sejak beberapa minggu menikah, Ayah memutuskan untuk menaikkan target amalan yauminya (sambil ajak-ajak Ibuk). Katanya, setelah menikah beban dan tanggung jawab Ayah berubah. Shalat Dhuha setiap hari tidak pernah Ayah lewatkan. Mungkin Anak Ibu adalah rizki dan jawaban dari doa-doa Ayah.  :”

Ayah selalu mendoakan kita dari jauh. Meski Ayah sibuk dan tidak bawel seperti Ibuk, Ayah selalu mengkhawatirkan kita. Tapi Ia harus bekerja untuk Ibu belanja dan untuk membiayai kamu sekolah, Sayang. Semoga kita yang lebih tidak sibuk ini mampu menghargai kesibukan Ayah dan mampu menyambut kedatangannya saat Ia pulang ya, Nak.

Cinta Itu Kata Kerja

Pernah suatu hari Ayah tidak sengaja membuat Ibuk kesal. Entahlah hormonal saat hamil membuat emosi Ibuk meledak-ledak.  Waktu itu Ibuk memilih untuk mengutarakan kekesalan Ibuk, dibandingkan dengan mematikan HP dan memperkeruh suasana. Ayah saat itu sangat sabar mendengarkan, apa yang membuat Ibu marah? Ayah meminta maaf karena tidak peka terhadap Ibuk.  

Saat itu Ibuk bilang, tidak apa-apa karena kita baru menikah. Tentu masih banyak yang belum kita pahami dari pasangan.  Ibuk pun meminta maaf karena Ibuk lebay dan super sensitif. Ayah buru-buru pulang karena takut Ibuk masih marah, padahal Ibu sudah tidak marah. Tapi Ibuk sangat terharu dengan usaha Ayah untuk segera datang dan bertemu Ibuk secara langsung.

Ayah bilang, “I love you.” 

Ibuk saat itu masih gelendotan dipelukan Ayah bilang, “I don’t love you.”

Padahal karena sudah tidak tahu lagi harus bilang apa saking cintanya sama Ayahmu. Hihi. Mungkin karena bahasa cinta kami itu tidak dominan pada kata-kata, kami jarang sekali bicara manis satu sama lain. Dan itu tidak menjadi masalah. 

Bicara dengan Bahasanya

Ayah kamu itu spesial. Ia mungkin jarang sekali bilang sayang. Tapi Ia akan selalu sayang sama kita. Coba perhatikan, Ayahmu kalau sedang di rumah akan mengusahakan mengantar atau menjemput kita.  Ayah juga tidak akan sungkan kerepotan membantu kita.

Saat Ibuk hamil 11 minggu, keluhan mual muntah masih sangat tinggi.  Kosan Ibuk tinggalkan selama hampir 10 hari karena Ibuk harus bedrest di Lembang.  Setelah izin Ibuk habis, Ibuk diantar Ayah ke Indramayu. Perjalanan hari itu begitu melelahkan bagi kami.  Mungkin karena cuaca sedang sangat panas. Sampai di kosan kami sudah sangat kehabisan tenaga.

Tapi ya gitu deh Ayah kamu. Begitu sampai kosan Ia melihat paket reflektor AC. Ia bergegas membuka paket lalu memasangnya. Zzzzz.  Padahal tadi sudah lemes tapi kalau ada “mainan” baru langsung ON. Wkwkwkwk. Ayah sengaja memesan reflektor AC, katanya supaya badan Ibuk nda kena AC langsung. Sweet banget ya Ayah. :” 

Ayah kamu itu super hero banget deh. Ayah bantuin Ibuk cuci piring. Beliau tahu Ibuk muntah-muntah melihat bekas makanan yang menjijikkan. Apalagi flush kloset itu memang sejak awal mampet dan sepertinya sudah perlu sedot wc. Hasilnya, ditinggal seminggu lebih keluar bau yang sangat tidak sedap dari kloset. Padahal tidak nampak kotoran sama sekali.  Tapi baunya….. Ampun!!! 

Bersyukur Ayahmu sangat siaga. Ayah yang pertama kali membuka penutup kloset. Begitu Ibuk mengintip Ayah di kamar mandi, Ibuk langsung mual seketika. Baukkk banget :((((( . Ayah langsung bilang, “Yang jangan kesini. Besok Aa bersihin ya.” Ayah langsung menutup pintu kamar mandi. 

Belum lagi dinding kamar mandi kok cepat sekali kotor dan memunculkan warna kerak kehitaman. Padahal baru ditinggal sebentar dan saat sebelum Ibuk pulang kondisinya masih OK. Luar biasanya Ayah kamu nak.  Esok hari setelah badan Ayah lebih fit, Ia mulai bebersih kamar mandi.

Pagi-pagi setelah sarapan Ayah bergegas ingin membersihkan kamar mandi. Ibuk memberikan Ayah masker. Ibuk memberi tahu mana sikat untuk lantai dan mana sikat untuk kloset. Ayah pun masuk ke kamar mandi, berbekal pembersih kloset dan pewangi lantai. Lama Ayah di kamar mandi. Ibuk pun sedikit-sedikit membersihkan kamar dan mengepel lantai (yang entah kapan terakhir di pel).  Hehe.  Supaya saat Ayah selesai, kamar juga sudah lebih rapih. 

Ayah pun selesai. Kamar mandi jadi super cling. Bahkan Ayah menempelkan pewangi kloset, yang pasangnya itu harus lap-lap kloset dulu baru ditempel.  Super banget deh Ayah kamu. Waktu Ibu tanya, Ini pertama kali Ayah mberesin kamar mandi seumur hidupnya. Dan Ayah totalitas banget bikin kamar mandinya super bersih.  Terharuuuuuu :””””””

Pengorbanan demi anak istri itu bikin Ayah rela melakukan apapun, Nak.  :”””

Tidak lupa Ayah membelikan Ibuk pengharum kamar mandi, pembersih kloset, pengharum kloset, kamper,  dan penyerap bau.  Memang kamar mandinya perlu perhatian yang sesuatu. Pfffft. Ayah juga yang memasangkan semua itu di kamar mandi, Sayang.

“Gimana, puas ga sama service Aa? ” Tanya Ayah.  

Ibuk sampe mewek bombay waktu Ayah pulang saking bahagianya. Terharu banget sama usaha-usahanya Ayah. 

Pasti Ayah ini membuat standar calon pasangan dalam hidup jadi tinggi ya, Ayah yang sangat bertanggung jawab dan mengayomi keluarganya.

Semoga catatan ini bisa menjadi pengingat kita mengenai kebaikan-kebaikan Ayah, membuat kita bisa memahami dan membalas kasih sayang Ayah ya..

.

.

.
Cerita untuk anak Ibu

Indramayu, 15 Mei 2017

Up and Down of The Pregnancy 

Kehamilan saya ini memang bukan termasuk kehamilan anak mahal, baik kehamilan yang dinantikan selama bertahun-tahun, atau kehamilan melalui program hamil puluhan juta rupiah.  Mengingat banyak orang begitu banyak menginginkan kehamilan dan belum Allah berikan, saya dan suami pun tak punya duid puluhan juta, jadi kami memutuskan bahwa kehamilan ini mahal dan harus dijaga sebaik-baiknya.  

Kondisi ini menyebabkan seluruh keluarga berusaha menjaga kehamilan saya agar tetap sehat.  Oleh karena itu saya dibatasi untuk tidak sering bepergian jauh. Hal ini membuat saya bosan setengah mati karena tidak bisa sering pulang ke Lembang atau menemui suami di Jakarta.  😥

Kehamilan ini anugerah yang membolak-balikkan hati anggota keluarga dengan ajaibnya.  Semua orang berbahagia menyambut kedatangan si buah hati. Meskipun begitu, ternyata ujiannya juga sangat besar.

Saat hamil ini saya tengah menghadapi internship di Kabupaten Indramayu. Keseharian ketika bekerja tidak ada masalah sama sekali.  Masalah atau ujian hadir ketika pulang ke kosan. Saya mudah merasa bosan, mudah muntah apabila mencium bau makanan, bosan memakan makanan yang sama, dan saya mudah merasa clueless.

Satu waktu saya muntah-muntah hingga tak bersisa makanan di lambung, saat saya baru mau beristirahat dan berbaring saya merasa sangat lapar. Bersyukur karena ada cemilan yang sudah saya stok.  Tapi saya ingin makan berat.  Di sini tidak banyak pilihan makanan biasanya mengingat rasanya saja saya jadi ingin muntah karena sudah terlalu bosan.

Belum lagi dilema saat di kamar. Saya ingin istirahat tetapi kamar berantakan.  Belum lagi ada bekas cucian piring. Melihatnya saja saya sudah muntah-muntah.  Ya Allah ini benar-benar ujian.  Kelelahan ini membuat episkleritis saya kambuh lagi.  

Saya selalu berusaha membeli makanan di luar sambil jalan kali supaya tidak bosan.  Sambil jalan rasanya ingin menangis, ‘begini ternyata perjuangan ibu hamil’.  Namun saya ingat begitu banyak orang yang mendambakan ada di posisi saya saat ini.  Oleh karena itu saya perbanyak istigfar sambil berjalan dan menahan mual.

Hari ini saya berusaha bangkit sedikit-sedikit.  Saya ikhlaskan jika memang harus muntah.  Saya segera makan jika lapar. Saya mencoba mengingat ada cinta dibalik buah hati yang sedang saya kandung. 

Saya mengingat kebaikan-kebaikan suami.  Betapa Ia sangat menginginkan datangnya buah hati di tengah keluarga kami.  Sejak awal menikah Ia selalu berusaha memahami saya dan memperlakukan saya dengan baik. Kami berusaha mengatur waktu bertemu, mencatat siklus haid di kalender dan mengupayakan kondisi yang sehat untuk bisa hamil.

Suami juga begitu baik hingga Ia mengusahakan untuk menemani saya lebih lama.  Pernah Ia datang pada Sabtu dini hari, lalu kembali ke jakarta pada Senin pagi dari Indramayu.  Saya begitu bahagia ketika pulang suami tengah menunggu di kosan.  Tiba-tiba Ia sudah cuci piring. :”” 

Sekarang pun suami berusaha menyalurkan perubahan hormonal saya yang membuat saya jadi semakin melow. Ia selalu mengusahakan video call dan itu membuat saya lebih tenang dan merasa didukung. Hari ini, perubahan hormon di tubuh saya bukan hanya membuat tubuh saya sakit seperti sedang flu like syndrome berhari-hari, tetapi juga psikologis saya terjun bebas. Syuuuuuu… 

Selepas shalat saya menangis, membiarkan hati bicara pada Allah dan memohon kemudahan dari Allah. Pasti Allah tahu saya mampu melewati ini. Suami pun ternyata sedang galau seperti saya.  Ia bimbang karena tidak tahu harus menghadapi saya seperti apa, Ia juga bimbang karena akan menghadapi perubahan peran.  Saya sadar ketika suami semakin sering mendengarkan ceramah, menghadiri taklim dan meningkatkan amalan yaumi.  😅  Galau juga ternyata ya :*

Ya Allah semoga Engkau memberikan kekuatan dan kemudahan kepada kami.  Amin..