Behind a Failure

Ini bukan kali pertama.

Failure is not a final condition in life. It is just a phase, a combination in our colorful journey.

I almost failed an exam, that was the worst day in my life. I cried then called mom and day. And they said a magic sentence, “It’s ok if you fail. The most important thing is you try hard your best.”

Anak kesayangan Ibu mungkin nanti ga akan selalu mendapatkan nilai 100, atau mungkin tidak akan selalu masuk sekolah favorit. I experienced that several times. Mungkin terdengar bullshit, tapi memang proses itu tidak kalah penting dibandingkan hasil.

Yang Pertama Selalu Berkesan

Jika ditilik dari sejarah sekolah, Ibu selalu berada di sekolah cluster menengah. Ini efek kemalasan Ibu nak. Dan kegagalan pertama datang lalu merubah kehidupan Ibu 180 derajat. Saat Ibu gagal masuk SMA favorit, rasa dendam memuncak dan melahirkan cita-cita yang sulit, demi pride untuk membalas kesedihan. Lebay.

Teman Ibu, Intinya Pras bilang, gapapa walau sekolahnya di tempat biasa aja, asal pas SMA lebih bener-bener belajarnya, nanti malah bisa lebih oke prestasinya dan bisa masuk PTN favorit. Wah.. Detik itu, kata-kata pras sangat menginspirasi Ibu nak. “Yeah pokoknya nanti harus masuk jurusan paling favorit.” Pikir Ibu saat itu.

Ibu bertekad untuk masuk PTN favorit. Tentunya tekad ini juga memunculkan semangat belajar. Ibu sadar untuk tembus PTN itu membutuhkan usaha yang luar biasa. Siapa yang menduga anak dari SMA cluster 3 (waktu itu masuk itu cluster 3, sedih masih kek kandang burung) bisa tembus kedokteran Unpad? Believe it, go for it, fight and win!

PTN atau jurusan apapun itu bukan hanya untuk orang-orang dari sekolah unggulan, tapi untuk orang-orang yang bersungguh-sungguh berusaha dan mendapatkan ridha Allah S.W.T tentunya.

Yang Kedua, Pedas Menggelegar

Ujian Sooca, alias ujian lisan one on one di depan penguji selalu membuat Ibu galau bahkan sejak satu bulan menjelang ujian. 8 kasus yang ada, kita akan mendapat 1 kasus random yang nantinya akan dipresentasikan. Waktu itu Sooca kedua di semester pertama. Semester pertama itu saat yang paling berat karena materinya sangat mendasar, dari mulai biokimia, biomolekuler, parasitologi, mikrobiologi, dan yang lainnya.

Ibu mendapat kasus parasitologi, tentang anak cacingan. Kasus yang which is Ibu ga hapal-hapal karena life cycle tiap cacing itu banyak dan bikin pusing. Penguji Ibu, goddestnya parasitologi. Jelas-jelas Ibu dibantai. Mana Ibu pake draft sooca fotokopian punya temen, chaos. Mati banget ga bisa jawab semua pertanyaan beliau. Rasa capek, kurang tidur, dibayar dengan bantaian itu tragis sih. Karena man!!! Gue seabal itu, se ga bisa itu. Dan penguji Ibu itu memang dewa dan ahli banget parasitologi. Freak abis sedihnya. :((((

Nilai Sooca itu menyumbang hampir 50% dari nilai semester. Sedih banget, karena kalau ga lulus itu terancam ga naik tingkat. Uh..Terbayang orang tua, rasanya bersalah banget kalau sampai Ibu ga naik tingkat. Tapi ternyata, waktu Ibu minta maaf karena mungkin ga naik tingkat, orang tua Ibu bilang, “Ga apa-apa Ca. Jangan nangis. Yang penting udah berusaha.”

Waktu itu Ibu berpikir, gila lah masa ga mengubah keadaan buat mereka? Cuma mereka yang Ibu punya, dan Ibu pengen banget ga terpuruk lagi untuk mereka. Beres nangis Ibu tidur, terus bangun, dan belajar buat ujian MDE. The show must go on kan? Kalau ga ada motivasi dari orang tua Ibu, mungkin Ibu ga akan bisa melewati masa-masa sulit di kedokteran.

Tidak apa-apa menunda, karena barangkali masih ada kesempatan untuk meraih yang kita ingin kalau terus berusaha. Tidak apa-apa gagal, atau kalah, atau terlambat atau tidak mendapatkan yang diusahakan. Karena bisa jadi Allah menyiapkan sesuatu yang lebih baik untuk kita di depan, asalkan kita selalu bertakwa dan memohon kepadaNya. Nikmati nak prosesnya, pedihnya. Barangkali Allah sedang rindu dengan kamu, ingin lebih banyak interaksi dengan kamu. Why don’t you come closer?

Kebayang kan kalau Ibu cepet dapet jodoh, mungkin ga akan ada kamu? :p

Advertisements